Perintah dan Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

by Etta Adil | Kamis, Nov 29, 2018 | 33 views
Santri Perempuan dalam suatu taklim di Mesjid. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Santri Perempuan dalam suatu taklim di Mesjid. (foto: mfaridwm/palontaraq)

 

PARA PENUNTUT ILMU  adalah mereka yang pernah meninggalkan kehangatan dekapan kasih-sayang orang tua di rumah, dan bergabung hidup di lingkungan keilmuan (akademis) bersama pembina, pengasuh, kyai, ustadz-ustadzah,  dan saudara-saudara penuntut ilmu lainnya. Setiap hari,  disibukkan dengan kegiatan  mengaji banyak kitab (buku-buku), belajar tata-laku (adab) serta berbagai keterampilan hidup dari para ulama (kiyai) dan pembina lainnya.

Dengan hidup bersama para penuntut ilmu dan pengejar hikmah, seseorang akan banyak faham nilai-nilai personal yang dimiliki setiap orang, dia akan mudah memahami bahwa setiap orang memiliki sisi perbedaan dengan dirinya, sehingga dia akan mudah berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua orang. Hidup di pesantren, mengajarkan sikap kemandirian, tanggungjawab, ketulusan, ketawadhuan, istiqomah, kebersamaan, kepedulian, kerjasama, kesederhanaan, dan banyak lagi nilai kehidupan.

Memposisikan ulama, kiyai dan pembina lainnya di banyak lingkungan ilmu sebagai pengganti orang tua, menjadikan seorang pelajar atau santri akan selalu hormat dan menghargai ulama/kiyai, bukan saja saat mereka mondok, tetapi juga saat mereka telah keluar pondok dan beraktifitas dalam masyarakat.  Menghargai dan memuliakan ulama (kiyai), adalah nilai yang tertanam dalam diri seorang santri, sebagai bentuk ta’dzhim atas ilmu dan ketulusan mereka, bukan menjadikan ulama (kiyai) sebagai komoditas dan jualan untuk mewujudkan hasrat pribadi dan kelompok.

Menuntut Ilmu Agama. (foto: ist/palontaraq)

Menuntut Ilmu Agama. (foto: ist/palontaraq)

Mengaji dan belajar banyak berbagai sumber ilmu agama, berbagai pandangan ulama dari kiyai di pesantren, menjadikan sosok santri memiliki pandangan keagamaan yang luas dan luwes. Seorang santri tidak mudah menyalahkan pandangan orang lain karena dia paham dasar dan pijakannya, dia tidak mudah mengkafirkan orang dan kelompok lain, karena dia faham kaidah dan perspektif yang digunakan orang dan kelompok tersebut.

Keluasan wawasan seorang santri atau pelajar  menjadikannya  sebagai penebar rahmat, kasih-sayang dan kedamaian di mana saja dia berada. Seorang santri adalah mujahid yang menekuni dan memperdalam ilmu agama. Perintah memperdalam Ilmu Agama ini ada disebutkan dalam Al-qur’an Surah At Taubah ayat 122, Qs. Al-An’am ayat 125, Qs. Al-Mujadilah ayat 11:

 

وما كان المؤمنون لينفروا كافّة فلولا نفر من كلّ فرقة منهم طائفة ليتفقّهوا

في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلّهم يحذرون

 

Artinya:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam agama dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ”. (QS. At-Taubah: 122)

 

من يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ومن يرد أن يضلّه يجعل

صدره ضيّقا حرجا كأنّما يصعّد في السماء

 

Artinya:

“Barang siapa yang Allah SWT menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangnkan dadanya untuk (mempelajari, memeluk, mengamalkan dan menda’wahkan) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah SWT kesesatannya, niscaya Allah SWT menjadikan dadanya sesak lagi sempit (untuk mempelajari, memeluk, mengamalkan dan menda’wahkan Islam), seolah-olah ia sedang mendaki ke langit”. (Qs. Al-An’am: 125)

 

يرفع الله الّذين أمنوا منكم والّذين أوتوا العلم درجات

Artinya:

“Niscaya Allah SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Qs. Al-Mujadilah: 11)

Dalam suatu riwayat dari Mu’awiyah Radhiyallahu anhu disebutkan, disebutkan bahwa  Rasulullah SAW bersabda:

 

من يرد الله به خيرا يفقّهه في الدين

 

Artinya:

“Barang siapa dikehndaki Allah SWT dengan kebaikan (dunia dan akhirat) maka Allah akan memahamkannya dalam (urusan) agama”. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 2948 dan Muslim, no. 1037).

Termasuk golongan yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال:

سبعة يُظلّهم الله في ظلّه يوم لا ظلّ إلاّ ظلّه :

إمام عادل، و شابّ نشأ في عبادة الله تعالى، ورجل قلبه معلّق بالمساجد،

ورجلان تحابّا في الله اجتمعا عليه وتفرّقا عليه،

ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال، فقال إنّي أخاف الله،

ورجل تصدّق بصدقة فأخفاها حتّى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه،

ورجل ذكر اللهَ خاليا ففاضت عيناه”. (رواه متفق عليه) .

Artinya:

Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “ Ada 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah SWT pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta-mencintai karena Allah SWT dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan lalu menjawab:’Sesungguhnya saya takut kepada Allah SWT!’, seseorang yang mengeluarkan sedekah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah SWT di tempat yang sunyi kemudian menenteskan air mata”. ( Riwayat Bukhari dan Muslim).

Termasuk golongan yang dimaksud Rasulullah SAW dalam Hadits:

من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله حتّى يرجع

(أخرجه الدارمي و الصياء المقدسي)

 

Artinya:

“Barang siapa yang keluar dalam rangka menuntut ilmu maka ia dalam jalan-Nya Allah SWT hingga ia kembali”.

Termasuk golongan yang dimaksud Rasulullah dalam hadits:

 

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَبْتَغِي فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَريْقاً إِلَى الجَنَّةِ،

وَإنَّ الملَاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضاً بِمَا يَصْنَعُ،

وَإنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّماوَاتِ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ حَتَّى الْحِيْتَانُ فِي الْمَاءِ،

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ،

وَإنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، وَإنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يَوَرِّثُوْا دِيْنَاراً

وَلاَ دِرْهَماً وَإنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ.

Artinya:

“Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga. Dan sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayap-sayap mereka kepada pencari ilmu sebagai keridhaan atas apa yang ia perbuat. Dan sesungguhnya penghuni langit dan di bumi, sampai ikan-ikan di laut pun memohonkan ampun untuk orang-orang yang berilmu. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 3641 dan ini adalah lafazhnya. (Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; Ahmad 4/196; Darimi, 1/98. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 2/470, hadits no. 1388).

Termasuk golongan yang dimaksud oleh Sahabat Rasul, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan Ulama Salafus Sholih, diantaranya sebagaimana disebutkan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:

  • مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ،

  • وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

Artinya:

“Barangsiapa yang menghendaki dunia, hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki akherat, hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (dunia dan akherat), maka hendaknya dia berilmu.

Penulis dalam suatu Ta'lim yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Darud Da'wah wal Irsyad. (foto: munsyir/palontaraq)

Penulis dalam suatu Ta’lim bersama Himpunan Mahasiswa Darud Da’wah wal Irsyad (DDI), para penuntut ilmu-ilmu keislaman. (foto: munsyir/palontaraq)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, “Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah”. (Shahih Jami’ Al-Bayan 31/48, Hilyatul Auliya’ 9/119).

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Tidak ada suatu amal perbuatan yang lebih utama daripada menuntut ilmu kalau ia niatnya benar”. (Miftah Daaris Saa’dah I/212).

Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya mempelajari ilmu merupakan karena Allah adalah takwa kepada-Nya, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menelitinya adalah jihad dan mengajarkan kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah.” Beliau juga mengatakan, “Ilmu adalah penghibur hati di saat sendiri dan sahabat karib di saat sunyi.”

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ilmu itu lebih baik daripada harta, sebab ilmu akan selalu menjagamu, sedangkan engkau yang selalu menjaga harta.” (Faqih wal Mutafaqqih 1/50, Ittiba’ milik Ibnu Abdil ’Izz hal. 86, Bidayah wa Nihayah 9/47 dan I’tishom 2/358).

Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh berkata, “Kebutuhan manusia terhadap ilmu itu melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum. Yang demikian itu karena seseorang terkadang membutuhkan makanan dan minuman sekali atau dua kali, adapun kebutuhannya terhadap ilmu itu sebanyak tarikan nafasnya”. (Tahdzib Madarijis Saalikiin, Ar-Rusydy rahimahulloh).

Hasan Al Bashri rahimahulloh mengatakan, “Beramal tanpa ilmu itu seperti berjalan di luar jalurnya. (Apabila seseorang) beramal tanpa ilmu maka kerusakan yang ditimbulkan itu lebih banyak daripada kebaikan yang diraih. Maka carilah ilmu dengan tidak mengganggu ibadah, dan beribadahlah dengan tidak mengganggu mencari ilmu. (Miftaah Daaris Sa’aadah 1/83, Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh).

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berpesan, “Jadilah alim (orang yang berilmu), muta’allim (orang yang menuntut ilmu), mustami’ (orang yang mendengar ilmu), atau muhibb (orang yang mencintai ilmu), dan janganlah menjadi orang yang kelima sehingga kamu celaka. Dia adalah orang tidak berilmu, tidak belajar, tidak mendengar, dan tidak pula mencintai orang yang berilmu.” (Al-Kabaair hal. 20, oleh Imam Adz-Dzahabi). (Wardan/ Abu Ezzat El Wazira).

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response