Cerita Rakyat Tradisi Membuang Orangtua

Tradisi Membuang Orangtua

-

- Advertisment -

ObasuteyamaObasuteyama
Cerita rakyat Obasuteyama, pembuangan orangtua ke gunung jika sudah berusia lanjut adalah tradisi paling durhaka manusia. (foto: ist)

Oleh: Penjaga Putri IMMIM

PALONTARAQ.ID – Dahulu di Jepang dikenal tradisi membuang orangtua ke hutan atau ke wilayah pegunungan terpencil.

Mereka yang dibuang adalah orangtua yang sudah tidak berdaya dan tak dapat lagi melakukan apa sehingga harus dibuang dan tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Tradisi ini dikenal dengan nama “Obasute”, dengan beragam plot cerita.  Lihat: Obasuteyama

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya.

Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Lihat juga: Cinta Diujung Badik

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata, “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa, Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku.

Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah”.

Mendengar ucapan ibunya tersebut, sang anak menangis sejadi-jadinya. Ia terus saja menangis dengan sangat keras memeluk ibunya, sampai kemudian memutuskan langsung  menggendong kembali  si Ibu pulang ke rumah.

Obasute adalah cerita rakyat tentang tradisi membuang orangtua ke dalam hutan adalah tradisi paling durhaka di dunia. (*)
Obasute adalah cerita rakyat tentang tradisi membuang orangtua ke dalam hutan adalah tradisi paling durhaka di dunia. (sumber: ist/palontaraq) (*)

Lihat juga: Jerit Pilu Sang Mantan Preman

Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal. Orangtua bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya.

Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya orangtua yang mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah.

Orang tua kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kepadanya.

Mari kita merenungkan, apa yang telah kita berikan untuk orangtua kita,  nilai berapapun itu pasti dan pasti tidak akan sebanding dengan pengorbanan ayah ibu kita.

Lihat juga: Setia Berkhianat

Seorang Pengusaha baja,  Pemilik PT. Artha Mas Graha Andalan, ketika ditanya rahasia suksesnya menjadi Pengusaha, jawabnya singkat: “Jadikan orang tuamu Raja, maka rezekimu seperti Raja”.

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orangtuanya seperti Raja.

“Mereka yang menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya seperti Raja, maka posisi, kedudukan, rezeki, dan jabatannya akan seperti raja.”

“Seseorang itu dimuliakan karena memuliakan orangtuanya.  Jangan perlakukan Orangtua seperti Pembantu atau meminta mereka merawat anak kita saat kita sibuk bekerja.  Bila ini yang terjadi maka rezeki orang itu adalah rezeki pembantu.”

Lihat juga: Tips Bahagia Haji Tajuk: Titik Harta Dibawakan ke Akherat!

Menurut sebuah lembaga survey yang mengambil sampel pada 700 keluarga di Jepang, Anak-anak yang sukses adalah: mereka yang memperlakukan dan melayani orang tuanya seperti seorang Kaisar.

Dan anak-anak yang sengsara hidupnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan kurang perduli pada orang tuanya.

Mari terus berusaha keras agar kita bisa memperlakukan orangtua seperti raja. Buktikan dan jangan hanya ada di angan-angan. Beruntunglah bagi yang masih memiliki orangtua, masih belum terlambat untuk berbakti.

Uang dan harta bisa dicari, ilmu bisa digali, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua kita takkan terulang kembali. (*)

 

Penulis: Penjaga Putri IMMIM

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you