Orang Baik dan Penyeru Kebaikan

by Penulis Palontaraq | Senin, Des 24, 2018 | 184 views
Orang yang lebih mengutamakan menolong orang lain dibanding dirinya sendiri dipandang sebagai orang baik. (foto: myedisi)

Orang yang lebih mengutamakan menolong orang lain dibanding dirinya sendiri dipandang sebagai orang baik. (foto: myedisi)

Oleh:  Ummu ‘Adil

BAGAIMANA seseorang itu sehingga dipandang sebagai “Orang Baik”? Jika seseorang datang padamu untuk minta nasehat atau ingin berhutang, umumnya dapat dipastikan orang yang datang meminta tolong tersebut memandang kita sebagai orang baik. Ya, orang baik dapat dimaknai sebagai orang yang peduli dengan orang lain.

Orang baik didatangi dan disayangi, untuk tidak mengatakan bahwa “orang baik” itu mudah dimanfaatkan. Orang Baik juga jarang diganggu orang, karena “Orang Baik” sibuk dengan kebaikannya, sudah merasa cukup dengan kebaikan yang ada pada dirinya, dan hormat orang lain terhadap kebaikan yang diperbuatnya. Jika demikian diatas disebut sebagai “Orang Baik”, lantas bagaimana dengan yang dimaksud “Penyeru Kebaikan”?

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan orang yang menyeru kepada kebaikan? Dimana perbedaannya orang baik dengan penyeru kebaikan?

Penyeru Kebaikan sudah pasti orang yang baik, sementara orang baik belum tentu punya keberanian menyeru kepada kebaikan. Orang Baik adalah orang yang beramar ma’ruf, sedang penyeru kebaikan adalah orang yang beramar ma’ruf (menyeru kebaikan) dan bernahi mungkar (mencegah kemungkaran) sekaligus.

Sebagai orang yang baik, sudah pasti banyak teman. Orang Baik tidak akan menyakiti temannya, dan karena itu dia disukai. Orang Baik tidak akan mencela temannya, sekalipun yang dilakukan temannya itu hal yang tidak baik, dan karena itu dia disenangi dan tetap dapat hidup tenang dalam lingkungannya.

Berbeda halnya dengan Penyeru Kebaikan, yang jalannya sering berseberangan dengan lingkungannya jika dipandang secara nilai, apa yang terjadi dan dilihatnya sebagai hal yang tercela. Penyeru kebaikan cenderung untuk tidak disenangi oleh lingkungannya, khususnya lingkungan yang buruk dan jahat.

Jadilah Penyeru Kebaikan, karena itu sebaik-baik jalan hidup. (foto: ist/palontaraq)

Jadilah Penyeru Kebaikan, karena itu sebaik-baik jalan hidup. (foto: ist/palontaraq)

Imam Ibnu Qudamah pernah ditanya, “Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)?” Beliau menjawab:

 

الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره

الصالح تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس

 

Artinya:
“Orang Baik (Shalih), melakukan kebaikan untuk dirinya, sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain. Orang Baik itu dicintai manusia, sedang Penyeru Kebaikan seringkali dimusuhi manusia.

Imam Ibnu Kudamah ditanya lagi oleh muridnya, “Kenapa demikian?” Jawabnya:

 

الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه لأنه صالح

ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.

لأن المصلح يصطدم بصخرة

أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم

 

Rasulullah SAW sebelum diutus sebagai Rasul, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik. Namun ketika Allah Subhanahu wa ta’ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya sebagai Tukang sihir, Pendusta, Gila, dan lain-lain.

Karena Penyeru Kebaikan menyingkirkan batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan.

Penyeru Kebaikan, Beramar Ma'ruf dan Bernahi mungkar sekaligus, karena itu seringkali dicaci, difitnah, disingkirkan, dan bahkan dikriminalisasi. (foto: ist/palontaraq)

Penyeru Kebaikan, Beramar Ma’ruf dan Bernahi mungkar sekaligus, karena itu seringkali dicaci, difitnah, disingkirkan, dan bahkan dikriminalisasi. (foto: ist/palontaraq)

Hal ini pulalah yang dijelaskan Allah SWT, tentang mengapa Luqman al Hakim menasihati anaknya agar bersabar ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan.

Disebutkan dalam Al Quranul Kariim:

 

يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك.

Artinya:
“(Lukman berkata) Hai anakku tegakkan shalat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabar lah atas apa yang menimpamu.”

Berkata Ahlul Ilmi:

 

مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين.

 

Artinya:
“Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang baik (yang tidak menyerukan kebaikkan).”

Penyeru Kebaikan seringkali ditentang dan tidak disenangi. (foto: ist/palontaraq)

Penyeru Kebaikan seringkali ditentang dan tidak disenangi. (foto: ist/palontaraq)

Sesungguhnya melalui penyeru kebaikan itulah, Allah SWT menjaga umat ini dengan ulama-ulama yang baik, yang senantiasa istiqamah dalam melakukan kerja-kerja dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar. Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri.

Maka marilah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi penyeru kebaikan, dengan ilmu, dengan jabatan dan kuasa, ataupun dengan harta. Jika tidak demikian, sesuatu kemungkaran tidak diseru untuk dihentikan, tapi hanya cukup dengan membencinya dalam hati, maka itulah selemah-lemahnya iman.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response