Oleh: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – PENULIS tertarik dengan sosok Ustadz Abdul Somad (UAS), jauh sebelum beliau diusulkan namanya sebagai Cawapres RI berpasangan dengan Prabowo berdasarkan hasil ijtima’ ulama beberapa waktu lalu.
Banyak sekali ceramahnya yang penulis ikuti, salah satunya adalah pembelaan diri UAS terhadap tuduhan terhadap dirinya, terkait fisik, gaya penyampaian dakwahnya serta kompetensi keilmuannya.
Yang menarik adalah ungkapan seorang Ketua ormas besar Islam di Indonesia, yang mengaku tidak tahu terhadap sosok UAS dan apakah UAS dapat disebut ulama?
Secara pribadi, penulis sepakat bahwa kesombongan seseorang harus dibalas dengan kesombongan, biar semua orang dapat memahami batasannya ketika berbicara.
Karena itu, dalam hal tertentu penulis juga sepakat bahwa sesekali kita perlu membuka identitas dan perjuangan yang telah kita lakukan untuk menyadarkan kekeliruan seseorang itu dalam memfitnah atau mengungkapkan ujaran kebencian.
Terhadap sosok UAS, penulis sangat yakin dan mengagumi kompetensi keilmuan UAS. Beliau sangat layak untuk disebut Ulama, seorang yang ‘alim, dan telah melalui perjuangan yang panjang dan berdarah-darah dalam menekuni ilmu agamanya.
UAS bukanlah seorang otodidak, jelas guru dan syekhnya. Beliau pernah kuliah di Universitas Islam terkemuka (S1 di Universitas Al-azhar, Mesir dan S2 di Universitas Darul Hadits, Maroko).
Kefasihan UAS menghafal ribuan hadits beserta riwayatnya tak diragukan lagi, sanad keilmuannya jelas, serta kesungguhannya terhadap dakwah sangat luar biasa.
Dalam salah satu ceramahnya, UAS mengungkapkan bahwa beliau mengungkapkan bahwa dirinya adalah 1 diantara 100 penerima beasiswa untuk belajar/kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir.
UAS juga 1 diantara 20 beasiswa yang diperebutkan untuk kuliah di Darul Hadits, Maroko. 15 diantaranya untuk pelajar Maroko, sedang 5 diantaranya diperebutkan pelajar seluruh dunia.
Berkat ketekunannya dalam menuntut ilmu, diantara 20 mahasiswa seangkatannya tersebut, UAS adalah yang pertama kali menyelesaikan studinya.
“Saya lagi bersedeqah ini. Karena sombong kepada orang sombong adalah sedeqah”, ujarnya diiringi tawa jamaah. Mereka yang mengejek-ejek saya, inilah, itulah!”
“Mereka yang hanya mengandalkan sepatah dua kata dari google, tidak level-lah,” ujar UAS yang terdengar kelihatan sombong disambut tawa hadirin.
“Ya, Sombong kepada Orang Sombong, itu Sedekah!” Ungkapan ini sebenarnya bukanlah hadits nabi, tapi hanya ungkapan bijak manusia saja, namun ungkapan tersebut juga benar secara makna.
Kata Syaikh Muhammad bin Darwisy bin Muhammad:
هو من كلام الناس قاله الرازى
Artinya:
Ini adalah termasuk perkataan manusia, seperti dikatakan oleh Ar Razi. (Asnal Mathalib, No. 519).
Perkataan “Sombong kepada orang sombong adalah sedeqah, diakui oleh Imam Ali al-Qariy bahwa benar secara makna.
قال الرازى هو كلام مشهور قلت لكن معناه مأثور
Ar Razi berkata ini adalah perkataan terkenal. Aku (Ali Al Qariy) berkata: Tetapi maknanya ma’tsur (sesuai Sunnah) sebagaimana pula disebutkan dalam Al Asrar Al Marfu’ah, no. 142.
Jadi, secara makna benar, bahwa bersikap sombong kepada orang sombong adalah sedekah buat dia, yaitu agar dia tidak terus-menerus berbuat sombong.
Sebagaimana kesombongan tukang sihir Fir’aun yang ditumbangkan oleh mu’jizat Nabi Musa a.s, sehingga membuat mereka tersadar.
Sebagaimana dikutip dari Kitab “Bariqah Mahmudiyah, Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizahullah mengatakan:
التكبر على المتكبر صدقة، لأنه إذا تواضعت له تمادى في ضلاله وإذا تكبرت عليه تنبه،
ومن هنا قال الشافعي تكبر على المتكبر مرتين، وقال الزهري التجبر
على أبناء الدنيا أوثق عرى الإسلام، وعن أبي حنيفة رحمه الله تعالى
أظلم الظالمين من تواضع لمن لا يلتفت إليه، وقيل قد يكون التكبر لتنبيه المتكبر
لا لرفعة النفس فيكون محموداً كالتكبر على الجهلاء والأغنياء، قال يحيى بن معاذ
التكبر على من تكبر عليك بماله تواضع
Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, sebab jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dia terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong kepadanya maka dia akan sadar.
Imam Syafi’i berkata, “Bersikap sombonglah kepada orang sombong sebanyak dua kali”, sedang Imam Az-Zuhri mengatakan, “Bersikap sombong kepada pecinta dunia adalah bagian dari ikatan Islam yang kokoh”.
Imam Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Bersikap sombong kepada orang yang sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan”. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 73436)
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)



[…] Baca juga: UAS: Sombong kepada Orang Sombong, itu Sedekah! […]