Islam Hukum Berqurban dalam Islam

Hukum Berqurban dalam Islam

-

- Advertisment -

Hewan Qurban. (foto: wahdah)
Hewan Qurban. (foto: wahdah)

Oleh:  M. Farid Wajdi, S.H.i

Related Post: Khutbah Idul Adha 1438 H: Teladan Ibrahim, Menjadi Hamba Allah Seutuhnya

PALONTARAQ.ID – Qurban adalah binatang yang disembelih dengan tujuan ibadah kepada Allah SWT pada Hari Raya Idul Adha (Hari Raya Haji) sampai tiga hari kemudian (tanggal 11 sampai 13 Dzulhijjah).

Qurban itu disyaria’atkan pada tahun kedua hijrah seperti juga shalat Id (Idul Fitri dan Idul Adha), zakat maal (harta) dan zakat fitrah.

Hukum Wajib Qurban

Sebagian ulama berpendapat bahwa qurban itu wajib, sedangkan sebagian yang lain berpendapat sunnah. Alasan yang berpendapat wajib, yaitu firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah SAW:

 

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Artinya:
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (Q.S. 108 Al Kautsar 1-3)

Di antara ulama yang berpendapat bahwa hukum berqurban adalah wajib adalah diantaranya Abu Yusuf dalam salah satu pendapatnya, Rabi’ah, Al-Laits bin Sa’ad, Al-Awza’i, Ats-Tsauri, dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Dalam Qs Al-Kautsar ayat 2 diatas menggunakan kata perintah dan asal perintah adalah wajib. Jika Nabi diwajibkan oleh Allah SWT akan hal ini, maka begitu pula dengan umatnya (Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1529).

 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Artinya:
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami. (H. R. Ahmad no. 8496, Ibnu Majah no. 3242)

Hukum Sunnah Qurban

Alasan yang berpendapat bahwa Qurban hukumnya sunnah adalah berdasarkan hadits berikut:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُتِبَ عَلَىَّ النَّحْرُ وَلَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكُمْ

 

Artinya:
Dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw beliau bersabda: Diwajibkan kepadaku berkurban dan tidak diwajibkan atas kamu. (H. R. Ahmad no. 2974, Baihaqi no. 19504 dan lainnya)

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ بِالنَّحْرِ وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ

 

Artinya:
Dari Ibnu Abbas ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Aku diperintahkan berkurban, tetapi tidak diwajibkan. (H. R. Daruqthni no. 4812)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyembelih qurban adalah sunnah mu’akkadah. Pendapat ini dianut oleh ulama Syafi’iyyah, ulama Hambali, pendapat yang paling kuat dari Imam Malik, dan salah satu pendapat dari Abu Yusuf (murid Abu Hanifah).

Pendapat ini juga adalah pendapat Abu Bakar, ‘Umar bin Khattab, Bilal, Abu Mas’ud Al-Badriy, Suwaid bin Ghaflah, Sa’id bin Al-Musayyab, ‘Atha’, ‘Alqamah, Al-Aswad, Ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.

Sabda Rasulullah SAW:

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِيَّ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ

Artinya:
“Jika masuk awal bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.”(HR. Muslim no. 1977, dari Ummu Salamah.)

Hadits ini mengatakan, “dan salah seorang dari kalian ingin”, hal ini dikaitkan dengan kemauan. Seandainya menyembelih qurban itu wajib, maka cukuplah Nabi mengatakan, “maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya”, tanpa disertai adanya kemauan.

Begitu pula alasan tidak wajibnya karena Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu anhum pernah tidak menyembelih selama setahun atau dua tahun karena khawatir jika dianggap wajib (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra.

Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Al Irwa’ no. 1139). Mereka melakukan semacam ini karena mengetahui bahwa Rasulullah sendiri tidak mewajibkannya.

Ditambah lagi tidak ada satu pun sahabat yang menyelisihi pendapat mereka.(Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1529)

Shaikh Abdurrahman Al-Jaziri dalam kitabnya menegaskan:

وقال الشافعية : إنها سنة عين للمنفرد لا لأهل البيت الواحد

Artinya:
Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa kurban itu hukumnya sunnah ain bagi perorangan, bukan bagi keluarga satu rumah. (Kitab Al-Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah, Juz I, halaman 643)

***

Dari dua pendapat di atas, pendapat kedua merupakan pendapat mayoritas ulama, yang menyatakan bahwa menyembelih qurban hukumnya sunnah dan tidak wajib.

Di antara alasannya adalah karena pendapat ini didukung oleh perbuatan Abu Bakar dan Umar yang pernah tidak berqurban (dalam satu atau dua tahun).

Seandainya tidak ada dalil dari hadits Nabi yang menguatkan salah satu pendapat di atas, maka cukup perbuatan mereka berdua sebagai hujjah (argumentasi) yang kuat bahwa qurban tidaklah wajib namun sunnah (dianjurkan).

Dalam satu perkataan disebutkan:

 

فَإِنْ يُطِيعُوْا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوْا

 

Artinya:
“Jika mereka mengikuti Abu Bakar dan Umar, pasti mereka akan mendapatkan petunjuk.” ( HR. Muslim no. 681)

Namun, sudah sepantasnya seorang yang telah berkemampuan, agar menunaikan ibadah qurban ini (meskipun ia sunnah) agar ia terbebas dari tanggung jawab dan perselisihan yang ada.

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Janganlah meninggalkan ibadah qurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi SAW sendiri memerintahkan, “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu.”

Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan.” (Adhwa-ul Bayan fii Iidhohil Qur’an bil Qur’an, hal. 1120, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah Beirut, cetakan kedua, tahun 2006.)

Hewan Qurban

Hewan yang sah untuk qurban ialah hewan (Domba, Kambing, Unta, dan Sapi) yang setelah melalui pemeriksaan didapatkan hasil bahwa hewan tersebut tidak cacat, misalnya pincang, sangat kurus, sakit, putus telinganya, putus ekornya, matanya tidak buta dan telah berumur, sebagai berikut:

1. Domba yang berumur 1 tahun lebih atau sudah berganti giginya

2. Kambing yang telah berumur 2 tahun lebih

3. Unta yang telah berumur 5 tahun lebih

4. Sapi, kebau yang telah berumur 2 tahun lebih

 

عُبَيْدَ بْنَ فَيْرُوْزَ قَالَ قُلْتُ لِلْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ حَدِّثْنِى بِمَا كَرِهَ

أَوْ نَهَى عَنْهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْأَضَاحِىِّ

فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

هَكَذَا بِيَدِهِ وَيَدِى أَقْصَرُ مِنْ يَدِهِ أَرْبَعٌ لاَ تُجْزِئُ
فِى الأَضَاحِىِّ الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا

وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيْرَةُ الَّتِى لاَ تُنْقِى

 

Artinya:
Ubaid bin Fairuz berkata, Saya berkata kepada Al-Barra’ bin Azib, Bacakanlah kepadaku hadits tentang apa yang dibenci atau dilarang oleh Rasulullah saw dari hewan kurban! Al-Barra’ menjawab, Rasulullah saw bersabda seperti ini -sambil memperagakan dengan tangannya, dan tanganku lebih pendek dari tangan beliau- beliau katakan: Empat jenis yang tidak bisa dijadikan hewan kurban, hewan yang matanya buta sebelah dan kebutaannya itu nampak jelas, hewan yang jelas-jelas sakit, yang jelas-jelas pincangnya dan yang patah sumsumnya (kurus). (H. R. Ibnu Majah no. 3264, Nasa’i no. 4381 dan lainnya)

Syaikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi dalam kitabnya menegaskan:

 

(وتُجْزِئُ اْلبَدَنَةُ عَنْ سَبْعَةٍ) إِشْتَرَكُوْا فِى التَّضْحِيَةِ بِهَا (وَ) تُجْزِئُ (اْلبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ) كَذَلِكَ

(وَ) تُجْزِئُ (الشَّاةُ عَنْ) شَخْصٍ (وَاحِدٍ) وَهِيَ أَفْضَلُ مِنَْ مُشَارَكَتِهِ فِى بَعِيْرٍ

Artinya:
Dan mencukupilah seekor unta untuk menjadi kurban bagi tujuh orang yang berserikat dalam berkurban dengan binatang unta tersebut. Juga mencukupi seekor lembu (sapi) untuk berkurban bagi tujuh orang yang berserikat dan demikian juga mencukupi seekor kambing untuk kurban seorang saja. Hal ini (kambing satu untuk kurban seseorang) adalah lebih utama dari pada dengan perserikatan dalam hal berkurban unta (untuk tujuh orang). (Kitab Fathul qarib, halaman 63)

Ahli Fikih, H. Sulaiman Rasyid dalam bukunya. “Fikih Islam” menegaskan bahwa seekor kambing hanya untuk kurban satu orang, diqiaskan dengan denda meninggalkan wajib haji. Sedangkan seekor unta, kerbau dan sapi boleh buat kurban tujuh orang. (Buku Fiqih Islam, halaman 476)

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

 

Artinya:
Dari Jabir bin Abdullah ia berkata : Kami telah menyembelih kurban bersama-sama Rasulullah saw pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. (H. R. Muslim no. 3247)

Untuk distribusinya, daging kurban disunahkan disedekahkan dalam keadaan mentah (belum dimasak).

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you