Keutamaan Mempelajari Ilmu (Agama)

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Des 22, 2018 | 63 views
Cahaya Ilmu hanya didapatkan dalam mempelajari ilmu agama (Islam). (foto: kesatuanulamaislamsedunia)

Cahaya Ilmu hanya didapatkan dalam mempelajari ilmu agama (Islam). (foto: kesatuanulamaislamsedunia)

 

Tulisan Sebelumnya:

Perintah dan Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

SEGALA  puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karuniaNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah ke hadapan Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah membawa ummatnya dari kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar: 9

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya:

“Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran” [Qs Az Zumar 39:9].

Di sekeliling kita, ada begitu banyak yang punya rentetan gelar, punya kuasa dan jabatan yang tinggi, namun sayangnya ibadahnya tidak beres. Ilmu agamanya masih sangat minim. Ditambah lagi tak punya keinginan untuk menambah ilmu akhirat, beda dengan ilmu dunianya yang terus ia kejar. Pahamilah! Ilmu yang mendapatkan pujian dan memiliki banyak keutamaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an dan Hadits adalah ilmu syar’i (ilmu agama)

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Artinya:
“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaaha: 114)

Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Firman Allah Ta’ala (yang artinya), ’Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali (tambahan) ilmu.

Yang dimaksud dengan (kata) ilmu di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang muslim yang terbebani syari’at mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan.” (Fath Al-Bari, 1: 141).

Juga terdapat dalil-dalil yang menunjukkan celaan bagi orang yang hanya pandai dalam ilmu duniawi, namun lalai terhadap urusan akhirat (ilmu syar’i). Inilah kondisi mayoritas kaum muslimin saat ini ketika ilmu syar’i sudah benar-benar terlupakan dari perhatian mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7).

Maksudnya, sebagian besar manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali ilmu tentang dunia, dan segala yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akhirat mereka. Jadi, dalam Islam ditegaskan bahwa kebaikan hanya datang melalui pintu pemahaman yang baik terhadap ajaran Agama.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya:
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan pahamkan padanya dalam urusan agama” [HR Al Bukhari 3116 dan Muslim 1037].

Jadi, Menuntut  ilmu syar’i yaitu ilmu tentang syari’at islam sesungguhnya jalan untuk mendapatkan adalah cahaya atau petunjuk, sedangkan kebalikannya, hanyalah kebodohan, kegelapan dan kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Qs. Al-an’am: 122

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

 

Artinya:

“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?” [Qs Al An-‘am 6:122].

Tuntutlah ilmu yang Allah Ta’ala turunkan kepada RasulNya SAW berupa wahyu, sebab para ahlul ilmu (ulama) adalah pewaris para Nabi, sedangkan mereka tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi hanya ilmu, barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya:

“Para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka telah mengambil bagian yang banyak” [HR Abu Dawud 3641, At Tirmidzi 2682, dan Ibnu Majah 223].

Tuntutlah ilmu syar’i karena dengannya diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah SWT, sebagaimana firmanNya dalam Qs. Al-Mujadilah: 11

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:

Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kalian kerjakan” [Qs Al Mujadilah 58:11].

Tuntutlah ilmu syar’i yang bermanfaat dan ajarkanlah sebab pahalanya akan mengalir meskipun pemiliknya telah meninggal dunia, Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya:

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” [HR Al Bukhari 1337 dan Muslim 1631]

Perhatikanlah apa yang telah ditinggalkan oleh ahlu ilmu -yang telah meninggal dunia- dari ilmu mereka, mereka mengajarkan kepada murid-muridnya dan menuliskan ilmu sehingga sampai saat ini kita masih merasakan ilmu mereka, seakan-akan mereka masih hidup.

Mari, tuntutlah ilmu sedikit demi sedikit dan setahap demi setahap agar ilmu yang kita perolah dapat tertanam dengan baik di hati kita, itulah sebab mengapa Al-quranul Kariim tidak turun sekaligus kepada Rasulullah SAW, tapi sedikit demi sedikit dan setahap demi setahap, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Qs. Al-furqan: 32

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Artinya:

“Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)”. [Qs Al-Furqan 25:32].

Tuntutlah ilmu itu terus menerus, dan jangan lupa mengamalkannya semampunya, karena sungguh buruk perumpamaan yang berilmu tanpa beramal, firman Allah Ta’ala dalam Qs. Al-Jumuah: 5

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya:

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [Qs Al-Jumu’ah 62:5]

Orang-orang yang berilmu tapi tidak beramal, mereka seperti Yahudi yang Allah Ta’ala murkai, dan beramal tanpa berilmu seperti Nasrani yang sesat, sebagaimana dalam Qs. Al-fatihah: 7

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Artinya:

“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yahudi berilmu tanpa beramal), dan bukan mereka yang sesat (nasrani beramal tanpa ilmu)”. [Qs Al-Fatihah 1:7]

Demikian sedikit pemahaman tentang keutamaan mempelajari ilmu, sedang ilmu yang dimaksud seutama-utamanya adalah ilmu syar’i atau ilmu agama, karena darisanalah pintu mengenali kebaikan. Wallahi ‘alam bish-shawab. (*)

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Like it? Share it!

Leave A Response