Sekilas Sejarah dan Budaya Biringere

Sanggar Seni "Budaya Turiolo" Biringere saat upacara adat menre baruga. (foto: mfaridwm)

Sanggar Seni “Budaya Turiolo” Biringere saat upacara adat menre baruga. (foto: mfaridwm)

SECARA harfiah “Biringere”, dari Bahasa Makassar berarti pinggir air atau tepi air. Biring berarti Pinggir atau Tepi, sedang Ere berarti air. Penamaan Biringere ini mengacu kepada kondisi wilayah desa yang terletak di depan Kantor dan Pabrik PT. Semen Tonasa ini, masih berada di pinggir pegunungan dan dikelilingi oleh sungai. Kata “Ere” yang secara bahasa berarti air, makna yang dimaksudkan sebenarnya adalah sungai.

Berdasarkan data monografi desa, Biringere yang luas wilayahnya 923,767 km2 ini berbatasan dengan Desa Mangilu di sebelah utara dan timurnya, dengan Kelurahan Bontoa di sebelah selatannya, dan dengan Desa Taraweang di sebelah Baratnya. Masyarakat Biringere yang berpenutur Bugis dan Makassar ini tinggal di empat Kampung, yaitu Borong Untia, Palattae, Balang dan Biringere dalam wilayah dua dusun, yaitu Dusun Borong Untia dan Dusun Biringere.

Batu Labboro (Batu Berbentuk Payung) di Sungai Biringere. (foto: mfaridwm)

Batu Labboro (Batu Berbentuk Payung) di Sungai Biringere. (foto: mfaridwm)

Desa Biringere masuk dalam lingkup wilayah Kecamatan Bungoro dengan jumlah penduduk 3.962 jiwa atau 966 KK. Jarak dari ibukota kecamatan adalah 12 km, sedangkan dari Pangkajene, ibukota Kabupaten sekitar 13 km. Desa yang masih setia memelihara identitas lokal budayanya ini berada pada ketinggal 100 mdpl dengan suhu udara 29-35’C. Sebagai sebuah identitas budaya lokal, Biringere tak hanya dikenal sebagai nama desa, tapi juga sebagai entitas tradisi lokal. Hal ini ditegaskan Simpuang Ago, tokoh adat Masyarakat Biringere. “Meski masih satu lingkungan dengan Kantor Pusat dan Pabrik PT. Semen Tonasa, Biringere tidaklah boleh tergerus arus industrialisasi.

Masih lestarinya pranata adat dan seni tradisional di Desa Biringere tidak terlepas dari jejak sejarahnya yang masih hidup dalam narasi tutur masyarakatnya, khususnya yang berada di Dusun Borong Untia. Ketokohan Simpuang Ago atau yang akrab disapa Puang Ago tersebut sebagai tokoh sentral yang disegani dan pewaris kekuasaan adat “Puang Tellue ri Borong Untia”.

Sanggar Seni "Budaya Turiolo" di Borong Untia Biringere saat masih tahap pembangunan. (foto: mfaridwm)

Sanggar Seni “Budaya Turiolo” di Borong Untia Biringere saat masih tahap pembangunan. (foto: mfaridwm)

Pada zaman kerajaan masih berlangsung, di wilayah Borong Untia pernah memerintah tri tunggal penguasa, yang dikenal dengan sebutan “Puang Tellue ri Borong Untia”, tiga bersaudara yang memerintah di satu wilayah yang berdaulat dan otonom. Wilayah kekuasaan kekaraengan adat Borong Untia ini tidak dipengaruhi Kekaraengan Pangkajene ataupun Kekaraengan Bungoro yang lebih terkenal sebagai wilayah adatgemeenschap dibawah Pemerintahan Hindia Belanda.

Tak banyak yang mengetahui Sejarah Borong Untia di Biringere dalam konteks sejarah kekaraengan (kekuasaan adat) di Kabupaten Pangkep, terlebih lagi memang sangat kurang referensi tertulis dan penelitian sejarah mengenai Borong Untia sampai kemudian sebagian besar wilayah Borong Untia ditetapkan sebagai wilayah Pabrik Semen Tonasa II, III, IV dan V setelah Pabrik Semen Tonasa I dalam wilayah Kecamatan Balocci ditutup secara resmi oleh Pemerintah.

Tokoh Adat Masyarakat Biringere, AS Simpuang Ago. (foto: mfaridwm)

Tokoh Adat Masyarakat Biringere, AS Simpuang Ago. (foto: mfaridwm)

Bentuk rumah adat pada masa kekuasaan “Puang Tellue” telah diadopsi secara sederhana dalam bentuk bangunan pintu gerbang dan sanggar seni “Budaya Turiolo”. Bangunan Sanggar Seni ini merupakan bangunan rumah kayu sebagaimana umumnya rumah adat Bugis Makassar, hanya saja arsitektur sedikit berbeda, terdiri atas satu ruang penyimpanan perlengkapan dan alat seni tradisional serta satu ruang pertemuan.

Bangunan Sanggar Seni yang berdiri diatas lahan seluas 9×6 meter mencerminkan jejak rekam kekuasaan “Puang Tellue ri Borong Untia. Bangunan ini dicirikan dengan tiga tangga yang berdampingan pada bagian depannya dan bubungan atapnya juga bersusun tiga. Ruang pertemuan dalam Sanggar Seni dipenuhi dengan walasuji sebagai simbol bangunan kebangsawanan.

Kesenian Tradisional di Biringere mash lestari. (foto: mfaridwm)

Kesenian Tradisional di Biringere mash lestari. (foto: mfaridwm)

Masyarakat Biringere bertekad mempertahankan budaya khasnya. (foto: mfaridwm)

Masyarakat Biringere bertekad mempertahankan budaya khasnya. (foto: mfaridwm)

Pelestarian seni tradisi dan kepedulian terhadap budaya lokal ini, seperti Seni Mappadendang, Mangngaru, Tari Paduppa, Genrang atau Gendang, serta Seni Musik Gambus-Mandoling, Kepala Desa Biringere, Andi Alam mengungkapkan bahwa kesenian tradisional masih lestari di wilayah pemerintahannya. “Usai panen padi biasanya masyarakat melaksanakan upacara adat Mappadendang (pesta panen padi), ada tradisi Angngaru atau Mangngaru (melakukan pernyataan sumpah setia kepada pemimpin), ada Seni Tari Paduppa sebagai tari penyambutan tamu penting dan tamu kehormatan adat, ada Seni Musik Tradisional Genrang sebagai kesenian musik asli khas bugis Makassar, dan juga Seni Musik Gambus sebagai seni musik tradisional dengan nuansa islami.

Ke depan, Seni Tradisional dan Budaya Lokal ini berpotensi sebagai obyek wisata budaya di Biringere. Keinginan untuk tetap mengembangkan lingkungannya sebagai masyarakat adat di tengah lingkungan industri yang mengelilinginya menjadi harapan masyarakat Desa Biringere pada umumnya untuk mengembalikan identitas lokal dengan pesona budaya khasnya.

Like it? Share it!

Leave A Response