Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Mandzhumah Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah Bait 1-10 (1)
PALONTARAQ.ID – Salah satu jalan mengenal Rasulullah ﷺ adalah membaca sejarah hidup beliau. Bagi santri, mengenal sirah Nabi bukan sekadar mengetahui urutan peristiwa masa lalu, tetapi juga belajar memahami keteladanan, perjuangan, akhlak, kepemimpinan, kesabaran, dan cara Rasulullah ﷺ menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Dalam tradisi pendidikan Islam, khususnya pesantren, kajian sirah nabawiyah memiliki tempat yang penting. Rasulullah ﷺ tidak hanya dipelajari sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai uswatun hasanah—teladan terbaik yang kehidupan dan perjuangannya menjadi sumber pembelajaran bagi umat Islam.
Salah satu teks yang menarik untuk dikenalkan kepada santri dalam pembelajaran sirah adalah Mandzumah Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah, sebuah nazham ringkas yang menghimpun perjalanan kehidupan Rasulullah ﷺ dalam rangkaian bait-bait yang relatif singkat.
Judul lengkap yang banyak beredar adalah الأرجوزة الميئية في ذكر حال أشرف البرية, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai nazham seratus bait mengenai keadaan atau perjalanan hidup makhluk termulia, yakni Nabi Muhammad ﷺ. Teks tersebut disusun dalam bentuk syair/nazham sehingga berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Nabi dirangkai secara padat dan mudah diikuti.
Mengapa Berbentuk Nazham? Tradisi keilmuan Islam sejak dahulu mengenal metode penyampaian ilmu melalui nazham. Pengetahuan yang panjang diringkas menjadi bait-bait yang memiliki irama dan pola tertentu sehingga lebih mudah dibaca, diulang, bahkan dihafalkan.
Metode seperti ini sangat relevan dengan tradisi pendidikan pesantren. Santri terbiasa berinteraksi dengan matan, syarah, hafalan, dan pengulangan. Sebuah ilmu tidak hanya dibaca sekali, tetapi dipelajari secara bertahap, diulang, dijelaskan oleh guru, kemudian dihubungkan dengan sumber-sumber lainnya.
Dalam konteks tersebut, Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah menarik karena sirah Nabi yang begitu luas diringkas dalam bentuk nazham. Pembaca diajak mengikuti perjalanan Rasulullah ﷺ sejak kelahiran, masa muda, pernikahan, turunnya wahyu, dakwah di Makkah, hijrah ke Madinah, berbagai peristiwa penting selama periode Madinah, hingga wafatnya beliau.
Dengan demikian, santri tidak hanya memperoleh potongan-potongan cerita tentang Rasulullah ﷺ, tetapi dapat mencoba melihat alur kehidupan beliau sebagai sebuah perjalanan yang utuh.
***
Salah satu kekuatan nazham ini adalah cara penyusunannya yang bersifat kronologis. Dari Kelahiran hingga Wafat. Bait-baitnya membawa pembaca mengikuti berbagai fase kehidupan Rasulullah ﷺ.
Di antara yang dibicarakan adalah kelahiran Nabi, kehidupan keluarga, masa sebelum kenabian, peristiwa pembangunan kembali Ka’bah dan peletakan Hajar Aswad, kemudian pengangkatan beliau sebagai rasul.
Selanjutnya, nazham bergerak kepada fase dakwah Islam, hijrah, kehidupan di Madinah, pembangunan masjid, persaudaraan Muhajirin dan Anshar, berbagai peperangan dan peristiwa penting, hingga perjalanan menuju akhir kehidupan Rasulullah ﷺ.
Bagi santri, susunan seperti ini memiliki nilai pedagogis. Sejarah tidak lagi sekadar kumpulan tanggal, nama, dan tempat. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat dilihat sebagai rangkaian sebab-akibat dan perjalanan perjuangan.
Misalnya, hijrah tidak berdiri sendiri sebagai sebuah peristiwa perpindahan dari Makkah ke Madinah. Ia dapat dipahami sebagai bagian dari perjalanan dakwah yang panjang. Demikian pula kehidupan Rasulullah ﷺ di Madinah tidak hanya berisi peperangan, tetapi juga pembangunan masjid, pembentukan persaudaraan, kehidupan bermasyarakat, pendidikan umat, dan penguatan fondasi kehidupan Islam.
Ada perbedaan antara mengetahui sejarah Nabi dan mengenal Nabi melalui sejarahnya. Seorang santri mungkin mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ lahir di Makkah, menerima wahyu pada usia empat puluh tahun, berhijrah ke Madinah, dan wafat pada usia enam puluh tiga tahun.
Tetapi mengenal Rasulullah ﷺ membutuhkan lebih daripada sekadar mengetahui fakta-fakta tersebut. Santri perlu diajak bertanya: Bagaimana beliau menghadapi penolakan? Bagaimana beliau memperlakukan keluarga? Bagaimana beliau berinteraksi dengan para sahabat? Bagaimana beliau menghadapi masyarakat yang berbeda keyakinan? Bagaimana beliau memimpin? Bagaimana beliau bersikap ketika menghadapi kesulitan? Bagaimana beliau menunjukkan kasih sayang, kesabaran, keberanian, dan keteguhan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat sirah menjadi hidup. Karena itu, mempelajari Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan menghafalkan bait. Hafalan dapat menjadi pintu masuk, tetapi pemahaman dan penghayatan harus menjadi tujuan yang lebih jauh.
***
Dalam pembelajaran santri, matan memiliki fungsi penting. Matan adalah teks dasar yang dapat dipelajari secara bertahap melalui penjelasan guru dan rujukan lainnya. Demikian pula Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah dapat ditempatkan sebagai salah satu pintu masuk pembelajaran sirah.
Santri dapat membaca bait Arabnya, memahami kosakatanya, menerjemahkan maknanya, kemudian mencari penjelasan lebih luas dalam kitab-kitab sirah. Dengan metode demikian, pembelajaran menjadi lebih kaya.
Misalnya, ketika nazham menyebut hijrah, guru dapat membawa santri mendalami sebab-sebab hijrah, perjalanan Rasulullah ﷺ, peran Abu Bakar r.a., peristiwa di Gua Tsur, kedatangan di Quba, hingga terbentuknya masyarakat Madinah.
Ketika membicarakan Badar, Uhud, Khandaq, Fathu Makkah, atau Tabuk, santri dapat diajak melihat bukan hanya aspek militernya, tetapi juga nilai-nilai kesabaran, strategi, kedisiplinan, persaudaraan, kepemimpinan, dan ketawakalan.
Dengan cara itu, teks yang ringkas justru dapat membuka pintu menuju pembelajaran yang luas. Semangat menghadirkan pembelajaran Islam dalam bentuk tulisan telah penulis lakukan melalui ruang Blog Guru di situs Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep. Blog Guru bukan sekadar ruang publikasi tulisan, tetapi dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar mendokumentasikan proses pembelajaran.
Materi pelajaran, catatan keislaman, sejarah, pengalaman pendidikan, dan berbagai refleksi dapat diolah menjadi tulisan yang dapat dibaca kembali oleh santri maupun masyarakat. Dalam konteks itulah, menjadi menarik untuk ditempatkan dalam tradisi literasi pesantren: apa yang dipelajari tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat didokumentasikan dan dibagikan melalui media digital.
Semangat tersebut relevan dengan pembelajaran sirah. Sirah Rasulullah ﷺ merupakan materi yang sangat kaya. Ia dapat dipelajari melalui kitab, diajarkan di kelas, didiskusikan di halaqah, dihafalkan melalui nazham, kemudian ditulis kembali dalam bahasa yang lebih mudah dipahami generasi sekarang.
Dengan demikian, Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah dan aktivitas menulis di Blog Guru dapat dipertemukan dalam satu semangat: menghidupkan pengetahuan melalui pembelajaran, dokumentasi, dan berbagi. Santri Perlu Mengenal Rasulullah ﷺ
Mengapa santri perlu memahami matan seperti Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah? Jawabannya sederhana: karena mencintai Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan menyebut nama beliau dalam shalawat. Cinta perlu tumbuh melalui pengenalan.
Bagaimana seseorang dapat meneladani seseorang yang tidak dikenalnya? Karena itu, semakin baik seorang santri mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ, semakin terbuka pula kesempatan baginya untuk memahami keteladanan beliau.
Sirah memberikan gambaran tentang Rasulullah ﷺ sebagai seorang manusia yang menjalani berbagai fase kehidupan: yatim sejak kecil, tumbuh dalam lingkungan masyarakat Makkah, berdagang, berkeluarga, menerima amanah kenabian, menghadapi penolakan, mengalami tekanan, berhijrah, membangun masyarakat, memimpin umat, dan menghadapi berbagai ujian hingga akhir hayat.
Di situlah sirah menjadi sangat manusiawi sekaligus sangat mendidik. Santri dapat belajar bahwa perjuangan tidak selalu mudah. Dakwah membutuhkan kesabaran. Kepemimpinan membutuhkan tanggung jawab. Ilmu membutuhkan ketekunan. Persaudaraan membutuhkan kepedulian. Dan kehidupan seorang Muslim membutuhkan keteguhan dalam menjalankan nilai-nilai Islam.
Pembelajaran Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah hendaknya tidak berhenti pada kemampuan santri melafalkan bait-baitnya. Hafalan penting, tetapi pemahaman lebih penting. Pemahaman penting, tetapi penghayatan lebih jauh lagi. Dan penghayatan yang baik diharapkan melahirkan keteladanan dalam kehidupan.
Santri yang mengetahui kisah kesabaran Rasulullah ﷺ diharapkan belajar bersabar. Santri yang mengetahui kasih sayang beliau diharapkan belajar menyayangi. Santri yang mempelajari kejujuran beliau diharapkan belajar menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Santri yang mempelajari perjuangan dakwah beliau diharapkan memahami bahwa menuntut ilmu dan menyampaikan kebaikan membutuhkan kesungguhan.
Dengan demikian, sirah tidak menjadi pelajaran sejarah semata. Ia menjadi pendidikan karakter. Pada akhirnya, mempelajari Mandzumah Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah bukan sekadar mengenal sebuah kitab atau menghafalkan seratus bait nazham. Lebih daripada itu, ia adalah salah satu jalan untuk mendekatkan santri kepada kehidupan Rasulullah ﷺ.
Membaca kelahiran beliau mengajarkan kita tentang awal sebuah perjalanan. Membaca masa muda beliau mengajarkan pentingnya kejujuran dan kepercayaan. Membaca turunnya wahyu mengajarkan tentang amanah kenabian. Membaca dakwah Makkah mengajarkan kesabaran.
Membaca hijrah mengajarkan keberanian mengambil langkah untuk mempertahankan kebenaran. Membaca kehidupan Madinah mengajarkan bagaimana membangun masyarakat. Membaca berbagai ujian yang beliau hadapi mengajarkan keteguhan. Dan membaca akhir kehidupan beliau mengingatkan bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah.
Karena itu, pengenalan terhadap Rasulullah ﷺ perlu menjadi bagian penting dalam pendidikan santri. Bukan hanya agar mereka mengetahui siapa Nabi Muhammad ﷺ, tetapi agar mereka mengenal perjalanan hidup beliau, memahami keteladanannya, mencintainya, dan berusaha mengikuti akhlaknya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kitab-kitab klasik seperti Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah justru dapat memperoleh ruang baru. Matan dapat dibaca di pesantren, dijelaskan guru, didiskusikan santri, ditulis kembali dalam bentuk artikel, dan didokumentasikan melalui blog pendidikan.
Inilah pertemuan menarik antara tradisi keilmuan pesantren dan literasi digital. Apa yang dahulu diwariskan melalui lembaran-lembaran kitab, halaqah, pengajian, dan hafalan, kini dapat diperluas jangkauannya melalui tulisan digital—tanpa harus kehilangan akar tradisinya.
Pada akhirnya, mengenal Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah berarti membuka salah satu pintu untuk mengenal sirah Rasulullah ﷺ. Dan bagi seorang santri, mengenal sirah bukan sekadar mempelajari masa lalu. Ia adalah usaha menemukan teladan untuk menjalani masa kini dan menyiapkan diri menghadapi masa depan.
Sebab semakin kita mengenal perjalanan hidup Rasulullah ﷺ, semakin banyak pula pelajaran yang dapat kita bawa pulang: tentang ilmu, iman, kesabaran, kasih sayang, perjuangan, kepemimpinan, dan akhlak. Dan barangkali, di situlah salah satu tujuan utama mempelajari sirah: bukan hanya agar kita tahu bagaimana Rasulullah ﷺ hidup, tetapi agar kita belajar bagaimana seharusnya seorang Muslim menjalani kehidupan. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.



