BerandaNarasi SejarahKerajaan yang Pernah Berjaya di Sulawesi Selatan dari Abad XV s.d. Abad...

Kerajaan yang Pernah Berjaya di Sulawesi Selatan dari Abad XV s.d. Abad XX

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Sulawesi Selatan memiliki sejarah politik yang sangat dinamis dan kompleks. Sejak abad ke-15, wilayah ini menjadi panggung bagi kerajaan-kerajaan besar yang memiliki peradaban maritim dan agraris yang maju. Kekuatan kerajaan-kerajaan ini berakar pada hukum adat yang kuat, kemampuan navigasi laut yang ulung, serta diplomasi yang cerdas.

Berikut adalah uraian mengenai kerajaan-kerajaan utama yang pernah berjaya di Sulawesi Selatan dari abad ke-15 hingga abad ke-20:

1. Kerajaan Gowa-Tallo (Kesultanan Makassar)

Gowa dan Tallo awalnya adalah dua kerajaan yang berbeda, namun kemudian membentuk persekutuan yang dikenal sebagai Keraeng Dua tapi Satu Rakyat (Rua Karaeng Se’re Ata). Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan rempah-rempah internasional di Nusantara bagian timur. Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin. Keunggulan utamanya terletak pada kekuatan armada laut dan benteng pertahanan yang tangguh, seperti Benteng Somba Opu.

Masa Kejayaan Kesultanan Makassar: Abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-17. Salah satu kontribusinya adalah Menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1605 dan mengembangkan hukum laut yang diakui secara luas.

2. Kerajaan Bone

Bone adalah kerajaan Bugis yang paling dominan di wilayah pedalaman dan pesisir timur Sulawesi Selatan. Bone awalnya merupakan kerajaan agraris yang kuat. Setelah memenangkan Perang Makassar (bekerja sama dengan VOC) untuk melepaskan diri dari hegemoni Gowa, Bone menjadi kekuatan politik utama di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini dikenal memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dengan dewan pertimbangan yang disebut Ade’ Pitu.

Masa Kejayaan Kerajaan Bone adalah Abad ke-17, khususnya di bawah pemerintahan La Tenritta Arung Palakka. Salah satu kontribusinya adalah Pengembangan sistem ketatanegaraan Bugis, sebagaimana tertuang dalam Kitab Latoa.

3. Kerajaan Luwu

Luwu dianggap sebagai “Kerajaan Ibu” bagi masyarakat Bugis-Makassar karena nilai sejarah dan mitologisnya yang tinggi. Dalam epik Sureq Galigo, Luwu digambarkan sebagai pusat peradaban tertua. Meskipun secara politik kekuatannya mulai tersalip oleh Gowa dan Bone pada abad ke-17, Luwu tetap memegang otoritas moral dan spiritual yang dihormati oleh raja-raja lain di Sulawesi.

Masa Kejayaan Kerajaan Luwu adalah Abad ke-14 hingga ke-16 (sebagai kekuatan pemersatu awal) dan salah satu kontribusinya adalah menjadi gerbang masuknya Islam pertama di Sulawesi Selatan melalui Dato ri Pattimang.

4. Konfederasi Ajatappareng

Ini bukan satu kerajaan tunggal, melainkan persatuan lima kerajaan (Sidenreng, Rappang, Sawitto, Alitta, dan Suppa) yang terletak di wilayah barat Sulawesi Selatan. Masa Kejayaan Konfederasi ini adalah pada Abad ke-16 dimana berjaya karena penguasaan sumber daya pangan (beras) yang melimpah dan posisi pelabuhan Suppa yang strategis. Mereka menjadi penyeimbang kekuatan antara Gowa dan Bone di masa itu.

5. Kerajaan Wajo

Wajo dikenal sebagai kerajaan yang memiliki sistem pemerintahan paling demokratis pada masanya di Nusantara. Masa Kejayaan Kerajaan Wajo adalah pada Abad ke-18. Kekuatan Wajo memuncak di bawah kepemimpinan Arung Matowa La Maddukelleng. Wajo dikenal dengan prinsip Maradeka To Wajoe, Najaji To Wajoe, Sangadinna Ade’e (Orang Wajo itu merdeka, hanya tunduk pada adat). Mereka aktif dalam perdagangan hingga ke Singapura dan Filipina.

Akhir Masa Kerajaan (Abad ke-20)

Kejayaan kerajaan-kerajaan ini mulai meredup seiring dengan kebijakan Pax Nederlandica yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Melalui serangkaian ekspedisi militer (seperti Ekspedisi Bone 1905), satu per satu kerajaan ini dipaksa menandatangani perjanjian pendek (Korte Verklaring) yang menghapus kedaulatan politik mereka secara praktis.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, raja-raja di Sulawesi Selatan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia, dan bekas wilayah kerajaan tersebut kemudian bertransformasi menjadi kabupaten-kabupaten di bawah Provinsi Sulawesi Selatan. (*)

 

(* Etta Adil, Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT