Menulis sebagai Interaksi Sosial

Menulis sebagai kebutuhan interaksi sosial (foto: nhany_rk)

Menulis sebagai kebutuhan interaksi sosial (foto: nhany_rk)

Tulisan Sebelumnya:

Yuk, Menulis Setiap Hari!

Agupena Pangkep Gelar Workshop Kepenulisan

SEBAGAIMANA halnya dalam pergaulan sosial, menulispun merupakan bentuk interaksi sosial. Dalam pergaulan sosial, kita berhadapan dan berbicara dengan banyak orang. Dalam interaksi sosial, kita berhadapan dengan beragam karakter. Tentu dalam berkomunikasi dengan banyak orang tersebut, mereka ingin dipahami seperti halnya kita pun ingin dipahami, paling tidak pada apa yang kita bahasakan.

Salah memahami umumnya terjadi karena salah mengomunikasikan sesuatu, entah karena salah bahasa ataupun sesuatu itu terbahasakan tidak pada tempatnya. Demikian pula halnya dalam menulis, karena itu berhati-hatilah. Menulis itu bisa kita anggap sebagai pekerjaan mudah yang sulit. Mudah karena kita bisa bebas saja menuliskan apa yang kita lihat, alami dan rasakan. Sulitnya karena sering terbentur pada kemampuan mengomunikasikannya. Apa tulisan kita bisa dipahami orang lain (pembaca) seperti kita memahaminya ketika menuliskannya?

Sampai disini, kita tentu akan berpikir betapa perlunya ‘ilmu menulis’, minimal mengetahui dimana harus menempatkan titik, koma, tanda petik, tanda tanya, dan tanda baca lainnya. Seorang penulis juga harus terlebih dahulu memahami apa maksud dan tujuan tulisannya, jangan setelah dibaca orang malah berkata, “Ini tulisan apa? Ini tulisan maksudnya apa? Ini tulisan mau kemana?”

Pekerjaan menulis sebenarnya sama saja ketika kita berada dalam pergaulan sosial. Menulis adalah berbicara dalam bahasa tulis. Menulis adalah pekerjaan berkomunikasi dan suatu komunikasi dapat dianggap sukses ketika dapat dipahami pesannya. Komunikasi berhasil jika apa yang disampaikan oleh komunikator dapat dimengerti oleh komunikan, serta ada feedback (umpan balik) yang saling memahami.

Sebagaimana halnya berbicara yang harus mengenali lawan bicaranya, begitu pula dengan menulis. Seorang penulis harus mengetahui pembacanya. Artinya, setiap tulisan harus mengenali segmen pembacanya. Itulah sebabnya mengapa dalam menulis, perlu membahasakan sesuatu dengan lugas agar mudah dipahami. Buat apa kita menulis dengan bahasa ilmiah yang tinggi kepada pembaca yang pengetahuan bahasanya belum sampai disitu.

Tulisan yang gagal adalah tulisan yang hanya dimengerti oleh penulisnya sendiri. Mengenali pembaca sama pentingnya dengan mengenali tulisan yang akan kita publish (terbitkan). Ini tentu tidak berlaku bagi tulisan yang hanya untuk diri sendiri, misalnya diary (catatan harian). Karena itu, Tips menulis yang ampuh adalah mulailah menulis ”apa yang paling diketahui”, bisa dimulai dengan apa yang kita lihat, rasakan dan alami. Intinya, ”ketahuilah apa yang kita tulis”.

Menulis adalah kebutuhan untuk mengenal dan dikenal banyak orang. (foto: ist/nhany_rk)

Menulis adalah kebutuhan untuk mengenal dan dikenal banyak orang. (foto: ist/nhany_rk)

Banyak penulis yang sukses karena berangkat dari pemahaman tentang obyek tulisan yang paling diketahuinya. Itulah sebabnya banyak penulis sering menuliskannya apa yang paling terdekat dengan dirinya, misalnya: Anda dari jurusan ekonomi, tulislah tentang ekonomi. Anda berasal dari Papua, tulislah tentang Papua. Anda hobi bersepeda dan menganggap bersepeda olahraga yang menyehatkan, tulislah tentang itu. Anda suka traveling, tuliskanlah laporan perjalanan anda, dimana lokasinya, berapa jarak perjalanan yang ditempuh, bagaimana anda merasakan perjalanan itu, apa yang dilihat, berapa budget yang dikeluarkan, dan lain sebagainya. Tentu pembaca akan lebih senang lagi jika ada foto yang menyertainya sekaligus membuktikan bahwa anda benar-benar pernah menjalaninya.

Jika anda pemula, persoalan tanda baca bisa diatasi sambil terus menerus latihan menulis. Pekerjaan menulis tidak mengenal batasan umur dan status sosial. Semua orang bisa menulis, karena itu kepercayaan diri perlu ada. Jangan minder karena anda misalnya, sudah tua. Pendidikannya misalnya hanya setingkat Diploma atau Sarjana (S1), sementara pembacanya banyak yang Magister (S2) atau berpengalaman kerja dimana-mana.

Kepercayaan diri itu perlu dipupuk, percayalah bahwa pekerjaan menulis adalah pekerjaan berinteraksi (sharing and connecting). Dengan tulisan kita, orang lain bisa belajar dari kita dan pada saat yang sama kitapun bisa belajar dari pembaca kita. Yang salah itu adalah kalau kita menganggap diri kita mengetahui segala-galanya dan orang lain harus belajar dari kita. Justru dengan banyak menulis, kita pun akan semakin kaya pengetahuan (dari orang lain) dan pada saat yang sama kitapun harus menyadari kekurangan kita.

Jangan pernah ragu menulis. Menulis, menulis dan menulislah terus. Semakin banyak kita menulis, harus semakin menemukan karakter tulisan kita dimana. Pelajarilah suatu saat apa yang seharusnya menjadi ‘spesialisasi’ tulisan kita. Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh menulis bidang pengetahuan lainnya, tapi penulis yang baik adalah yang mengetahui bidang pengetahuan yang paling diminati dan dikuasainya.

Waktu kita tidak memadai untuk menguasai banyak ilmu, waktu kita tidak cukup untuk menuliskan tentang semua hal, tapi kita tetap dapat menguasai banyak pengetahuan dengan banyak membaca buku. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Good writer is a good reader. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response