BerandaLiterasiMengenal Lebih Dekat Museum Lapawawoi Bone

Mengenal Lebih Dekat Museum Lapawawoi Bone

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Palontaraq ajak Studi Wisata Sejarah Sulsel

PALONTARAQ.ID – “Jika ke Bone, sempatkanlah berkunjung ke Museum Lapawawoi Bone” – Demikian pesan penulis saat mengupload foto berada di depan Museum Lapawawoi Bone. Maka sangat merugilah pelajar dan mahasiswa Bone, dan warga Bone pada umumnya jika belum mengunjungi Museum ini sebagai salah satu jalan mengakrabkan diri dengan Sejarah Daerah sendiri.

Museum Lapawawoi merupakan milik atau aset Pemerintah Kabupaten Bone dengan pengelolanya disebut Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Museum Lapawawoi. Museum ini terdaftar dengan Nomor Pendaftaran Nasional Museum (NPNM): 73.08.K.06.0079 dan dikategorikan sebagai Museum Umum  bertipe C.

Pembentukan Museum La Pawawoi diprakarsai oleh Kepala Daerah Tingkat II Bone H. Suaib dan Kepala Kebudayaan Andi Muh. Ali Petta Nompo. Pada tanggal 5 Januari 1971 dibentuklah Museum La Pawawoi berdasarkan keputusan Kepala Daerah Tingkat II Bone Nomor: 1/DN.K/KPTS/1/1971. Museum La Pawawoi menggunakan gedung Saoraja Andi Mappanyukki sebagai bangunan utama museum.

Penulis di depan Museum Lapawawoi Bone. (foto: ist/*)
Penulis di depan Museum Lapawawoi Bone. (foto: ist/*)

Penamaan Museum La Pawawoi diinisiasi oleh Bapak H. Suaib selaku Kepala Daerah Tingkat II Bone bersama Kepala Kebudayaan Bone Andi Muhammad Ali Petta Nompo. Museum ini menjadi museum pertama dan hingga kini menjadi museum utama yang mengisahkan perjalanan sejarah Kabupaten Bone. Bapak H. Suaib yang baru saja tiba dari Jakarta dalam rangka penetapan La Pawawoi sebagai pahlawah nasional terinspirasi atas jasa dan sepak terjang La Pawawoi ketika berperang melawan Belanda pada Tahun 1905. Oleh karena itu nama La Pawawoi kemudian dijadikan nama museum yang baru saja diresmikan.

Nama “La Pawawoi” dipilih bukan tanpa alasan. Nama tersebut diambil dari tokoh penting Kerajaan Bone, La Pawawoi Karaeng Sigeri, yang dikenal sebagai raja terakhir Bone yang melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda pada tahun 1905. Penamaan museum dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap jasa perjuangannya sekaligus sebagai simbol semangat mempertahankan martabat dan identitas masyarakat Bone.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa penamaan La Pawawoi digunakan sebagai nama museum dikarenakan koleksi-koleksi kerajaan yang dipamerkan di museum ini merupakan koleksi yang dulunya berada di Saoraja La Pawawoi (Bola Subbi’e). Banguan Museum La Pawawoi yang saat itu telah berusia 48 tahun diputuskan akan dipugar untuk menjaga kondisinya.

Penulis menjelaskan secara singkat Sejarah Kerajaan Bone di depan Museum Lapawawoi Bone. (foto: ist/*)
Penulis menjelaskan secara singkat Sejarah Kerajaan Bone di depan Museum Lapawawoi Bone. (foto: ist/*)

Bangunan Museum Lapawawoi sebenarnya jauh lebih tua daripada usia lembaga museumnya sendiri. Gedung yang kini difungsikan sebagai Museum La Pawawoi pada awalnya dibangun pada tahun 1929 oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Saoraja Andi Mappanyukki, istana resmi bagi Raja Bone ke-32, Andi Mappanyukki.

Sesudah Indonesia merdeka, bangunan tersebut mengalami beberapa kali perubahan fungsi. Pernah digunakan sebagai Gedung DPRD Gotong Royong Kabupaten Bone, kemudian menjadi gedung pengadilan, selanjutnya menjadi Kantor Polisi Militer. Baru pada tahun 1971 pemerintah daerah menetapkannya sebagai museum sehingga bangunan bersejarah itu memperoleh fungsi baru sebagai pusat pelestarian sejarah Bone.

Gedung Museum La Pawawoi dipugar pada proyek pemugaran dan pemeliharaan peninggalan sejarah dan purbakala Sulawesi Selatan. Proyek tersebut membutuhkan dua tahun anggaran untuk penyelesaian yaitu tahun 1979/1980 sampai dengan 1980/1981. Setelah pemugaran selesai, Museum La Pawawoi diresmikan Kembali oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Daud Yusuf pada tanggal 14 April 1982. Hingga kini bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Bone melalui Keputusan Bupati Bone Nomor 610 Tahun 2022.

***

Lihat pula: Riwayat Raja Bone (31): La Pawawoi Karaeng Segeri

Ketika memasuki Museum La Pawawoi, sesungguhnya ia sedang memasuki dua sejarah sekaligus: sejarah koleksi yang tersimpan di dalamnya dan sejarah bangunan yang menaunginya. Karena itu sangat penting mengakrabi Museum Lapawawoi ini. Sejarah Bone harus “diakrabi” dan salah satu cara terbaik mengakrabinya adalah dengan menyaksikan secara langsung peninggalan sejarah yang masih tersimpan rapi di Museum La Pawawoi.

Penulis dan Rombongan Stukom Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep saat mengunjungi Museum Lapawawoi Bone. (foto: ist/*)
Penulis dan Rombongan Stukom Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep (29/7/2026) saat mengunjungi Museum Lapawawoi Bone. (foto: ist/*)

Museum ini bukan hanya milik masyarakat Bone, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia. Di sinilah jejak perjalanan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara dirawat, diteliti, dan diperkenalkan kepada generasi sekarang. Setiap koleksi di museum ini seolah memiliki suara. Keris yang dipajang bukan sekadar sebilah senjata. Ia pernah menjadi saksi sumpah kesetiaan para bangsawan Bugis. Sebuah piring porselen bukan hanya alat makan, melainkan bukti hubungan dagang Bone dengan dunia internasional berabad-abad silam.

Naskah Lontaraq dalam museum misalnya, bukan hanya lembaran tulisan tua, tetapi merupakan rekaman kecerdasan intelektual masyarakat Bugis yang diwariskan lintas generasi. Museum mengajarkan bahwa sejarah bukanlah hafalan tanggal, melainkan perjalanan kebudayaan. Itulah sebabnya penulis mendorong para pelajar, mahasiswa, guru, peneliti, wisatawan, bahkan masyarakat Bone pada khususnya agar menyempatkan diri mengunjungi Museum La Pawawoi. Satu jam di museum seringkali lebih berkesan daripada berjam-jam menjelajahi media sosial.

Penulis di depan Patung Arung Palakka, Raja Bone ke-15 dalam Kompleks Lapangan Merdeka, Bone. (foto: ist/*)
Penulis di depan Patung Arung Palakka, Raja Bone ke-15 dalam Kompleks Lapangan Merdeka, Bone. (foto: ist/*)

Mengunjungi Museum La Pawawoi bukan sekadar kegiatan wisata. Ia merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur Bugis dan Kerajaan Bone yang telah membangun peradaban besar di jazirah timur Sulawesi Selatan. Dari museum inilah kita belajar bahwa identitas suatu bangsa tidak lahir dalam sehari, melainkan dibentuk oleh perjalanan panjang yang patut dikenali, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Penulis/Peneliti Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT