BerandaKulinerLebih dari Sekadar Takjil: Rahasia Kejujuran di Balik Manisnya Barongko dan Gurihnya...

Lebih dari Sekadar Takjil: Rahasia Kejujuran di Balik Manisnya Barongko dan Gurihnya Jalangkote

Oleh: M. Farid W Makkulau

Related Post: 10 Menu Buka Puasa dan Takjil khas Makassar, Citarasanya Mantap!

PALONTARAQ.ID – Apa dan bagaimana itu kuliner jalangkote dan barongko sebagai kuliner khas Bugis Makassar? Mengapa dua kue khas ini selalu hadir di Bulan Ramadhan dan banyak yang meminatinya? Apa filosofi dari pembuatan dua kue khas tersebut, dan bagaimana proses pembuatannya?

Ya, Jalangkote dan Barongko adalah pilihan kuliner yang sangat autentik! Kedua kue khas Bugis Makassar ini selalu menjadi “bintang tamu” wajib di meja buka puasa. Keduanya bukan sekadar pengganjal perut, tapi punya nilai budaya yang dalam.

1. Jalangkote

Secara visual Jalangkote ini mirip pastel, bedanya jalangkote punya kulit yang lebih tipis dan garing (bertekstur gelembung). Penamaan “Jalangkote” berasal dari kata Jalan dan Kote (bunyi berisik/teriakan). Dahulu, kue ini dijajakan oleh Anak-anak sambil berjalan kaki dan berteriak “kote-kote” untuk menarik perhatian. Ia melambangkan kegigihan dan etos kerja masyarakat Sulawesi Selatan sejak usia muda.

Jalangkote. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Jalangkote. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Jalangkote memiki teksturnya yang gurih dan isiannya yang padat (wortel, kentang, tauge, soun, telur). Hal inilah salah satu alasannya yang menjadikannya favorit untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.

Bagaimana proses pembuatannya? Jalangkote, untuk kulitnya terbuat dari tepung terigu, minyak panas (agar renyah), dan air garam, dibuat adonan hingga sangat tipis. Untuk isiannya, sayuran yang ditumis dengan bawang putih, merica, dan pala. Saat disajikan, wajib bersama dengan Saos Sambal Cair yang asam, pedas, dan encer (campuran cabai, bawang putih, cuka, dan sedikit gula). Tanpa saus ini, jalangkote dianggap “kurang sah”.

Lihat pula: Bukber, Jalangkote dan Keseruan Berburu Takjil

2. Barongko

Jika jalangkote adalah camilan rakyat, Barongko dahulunya adalah hidangan penutup eksklusif bagi raja dan bangsawan Bugis Makassar. Barongko dibungkus daun pisang dengan cara tertentu sehingga isinya (pisang yang dihaluskan) tidak terlihat dari luar. Ini melambangkan kejujuran dan harga diri (Siri’).

Ngeteh dengan Barongko. (foto: mfaridwm)
Ngeteh dengan Barongko. (foto: mfaridwm)

Barongko, isiannya pisang yang dihaluskan, sama dengan bungkusnya (daun pisang), bermakna “Barongko na jannang” yang berarti menjaga perilaku agar tetap manis dan baik. Sifatnya yang lembut, dingin (enak disajikan dari kulkas), dan sangat manis karena kandungan glukosa alami pisang, sangat efektif untuk memulihkan kadar gula darah secara cepat saat berbuka.

Bagaimana proses pembuatannya? Bahan Utama Barongko adalah Pisang kepok yang sangat matang dibuang bagian tengahnya (biji hitamnya), lalu dihaluskan. Untuk adonannya, Pisang yang telah dihaluskan dicampur dengan santan kental, telur, dan gula pasir. Selanjutnya Pengukusan. Adonan dibungkus daun pisang berbentuk tum (punden) lalu dikukus. Teknik membungkusnya harus rapi agar tidak bocor, mencerminkan ketelitian sang pembuat.

Lihat pula: Ini Dia Kesukaan Etta: Barongko

***

Jadi, soal rasa, jika Jalangkote gurih, asam, pedas, maka barongko itu manis, legit dan gurih bersantan. Dari segi tekstur, jalangkote itu garing (crunchy), maka barongko itu lembut layaknya puding. Saat penyajian, jalangkote lebih nikmat jika masih hangat, sedang barongko paling enak saat dingin.

Dalam masyarakat Bugis dan Makassar, membuat kedua kue ini saat Ramadhan seringkali melibatkan kebersamaan, dilakukan secara bersama-sama antar tetangga atau keluarga besar (terutama saat membungkus Barongko). Ini mempererat silaturahmi, sipakatau yang juga merupakan inti dari bulan suci Ramadhan, saling berbagi.

Demikian ulasan singkat tentang Rahasia Kejujuran di Balik Manisnya Barongko dan Gurihnya Jalangkote yang lebih dari sekedar takjil di Bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum, Salamakki Tapada Salama’. (*)

(* M. Farid W Makkulau, Penikmat Jalangkote dan Barongko’/Pemerhati Budaya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT