Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Do’a untuk Palestina, Rohingnya dan Uyghur
PALONTARAQ.ID – Myanmar, yang secara historis dikenal sebagai Burma, merupakan negara dengan akar tradisi Buddha Theravada yang sangat kuat. Namun, di balik dominasi budaya tersebut, Islam telah menjadi bagian integral dari mozaik sejarah Myanmar selama lebih dari seribu tahun.
Kehadiran Islam di Myanmar bukan sekadar hasil dari migrasi pada masa kolonial Inggris, melainkan buah dari jaringan perdagangan maritim kuno, diplomasi lintas benua, dan asimilasi budaya di pusat-pusat kerajaan Burma. Sejarah Islam di Myanmar adalah narasi tentang ketahanan sebuah komunitas minoritas yang mencoba bertahan di tengah perubahan politik yang drastis—dari masa keemasan kerajaan monarki, tekanan kolonialisme, hingga krisis identitas di era negara-bangsa modern.
A. Asal-Usul dan Sejarah Masuknya Islam (Abad ke-9 – ke-13 M)
Masuknya Islam ke Myanmar terjadi melalui dua jalur utama: jalur laut di sepanjang pesisir Arakan (Rakhine) dan jalur darat melalui perbatasan utara. Sejak abad ke-9 Masehi, Teluk Benggala merupakan wilayah yang sangat aktif dalam jaringan perdagangan Samudera Hindia. Para pelaut Arab, Persia, dan India Muslim menjadikan pesisir Arakan sebagai pelabuhan transit utama sebelum menuju Malaka atau Cina.
Berdasarkan catatan sejarah lokal dan catatan musafir Arab, komunitas Muslim awal menetap di wilayah Akyab (Sittwe) dan Sandoway. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga menikah dengan penduduk lokal, membentuk kelompok etno-religius yang kini dikenal sebagai akar dari komunitas Muslim di pesisir barat.
Di wilayah utara Myanmar, Islam masuk melalui jalur darat dari Yunnan, Cina. Komunitas ini dikenal sebagai Muslim Panthay (atau Chin Haw). Mereka adalah keturunan dari prajurit dan pedagang Muslim Cina yang bermigrasi karena aktivitas ekonomi dan pergolakan politik di daratan Cina. Kehadiran mereka membawa warna unik bagi Islam di Myanmar, dengan arsitektur masjid dan tradisi kuliner yang bercorak Tionghoa-Muslim.
B. Islam di Jantung Kerajaan Burma (Abad ke-14 – ke-18 M)
Berbeda dengan narasi umum yang menyebut Muslim sebagai pendatang baru, sejarah mencatat bahwa kaum Muslim memiliki kedudukan terhormat di istana-istana Raja Burma. Pada masa Kerajaan Pagan hingga dinasti-dinasti berikutnya, banyak orang Muslim diangkat menjadi pasukan kavaleri elit karena keahlian mereka dalam berkuda dan menggunakan senjata api.
Raja-raja Burma, seperti Raja Anawratha, diketahui memiliki pengawal pribadi Muslim. Di wilayah tengah (Ava dan Amarapura), komunitas Muslim dikenal sebagai Zerbadi—keturunan campuran pria Muslim (biasanya keturunan India atau Persia) dengan wanita lokal Burma. Mereka fasih berbahasa Burma dan mengadopsi banyak budaya lokal, menjadikannya kelompok Muslim yang paling terintegrasi secara budaya.
Mungkin babak paling menarik adalah hubungan antara Kerajaan Arakan (Mrauk-U) dengan dunia Islam. Meskipun raja-rajanya beragama Buddha, mereka menggunakan gelar-gelar Islam (seperti “Syah”) pada koin-koin mereka sebagai bentuk diplomasi dengan Kesultanan Bengal di barat. Pada masa ini, kebudayaan Islam-Buddha mengalami sinkretisme yang harmonis, di mana administrasi negara banyak dipengaruhi oleh sistem birokrasi Muslim.
C. Era Kolonial Inggris dan Perubahan Demografi (1824–1948)
Penjajahan Inggris atas Burma yang dimulai setelah Perang Anglo-Burma I membawa transformasi drastis bagi populasi Muslim. Inggris mengelola Burma sebagai provinsi dari India Britania. Hal ini memicu migrasi besar-besaran tenaga kerja, pedagang, dan pegawai sipil dari India (terutama dari wilayah Bengal dan Madras) ke Burma, khususnya ke kota Rangoon (Yangon). Banyak dari migran ini adalah Muslim. Hal ini menyebabkan populasi Muslim di kota-kota besar meningkat tajam secara instan.
Kehadiran migran India Muslim yang mendominasi sektor ekonomi dan administrasi di bawah Inggris memicu kecemburuan sosial dari penduduk asli Burma yang beragama Buddha. Inilah titik awal munculnya narasi bahwa Islam adalah “agama pendatang” (Kala), sebuah stigma yang terus berlanjut hingga masa kemerdekaan. Konflik komunal pertama yang signifikan pecah pada tahun 1930-an, dipicu oleh sentimen nasionalisme Burma yang mengaitkan agama Buddha dengan identitas nasional.
***
Setelah merdeka pada 1948, Myanmar berusaha merumuskan identitas nasionalnya. Namun, kudeta militer oleh Ne Win pada 1962 mengubah segalanya. Di bawah pemerintahan militer, kebijakan “Burmanisasi” dijalankan secara ketat. Islam dipandang sebagai elemen asing yang mengancam persatuan nasional. Penutupan organisasi-organisasi Muslim, pembatasan pembangunan masjid, dan diskriminasi dalam sektor pendidikan dan militer menjadi pemandangan umum.
Masalah paling kompleks muncul di negara bagian Rakhine. Kelompok Muslim di sana, yang mengidentifikasi diri sebagai Rohingya, menghadapi krisis kewarganegaraan setelah diberlakukannya Burma Citizenship Law 1982. Undang-undang ini tidak mengakui Rohingya sebagai salah satu dari 135 “etnis asli” Myanmar, sehingga membuat jutaan orang kehilangan kewarganegaraan (stateless). Hal ini memicu rangkaian kekerasan komunal dan krisis kemanusiaan yang menjadi perhatian internasional hingga hari ini.
Muslim di Myanmar bukanlah kelompok tunggal, melainkan komunitas yang sangat beragam, diantaranya ada Muslim Burma (Zerbadi) yang berbahasa Burma, berpakaian seperti orang Burma (menggunakan longyi), dan merasa sepenuhnya sebagai putra daerah, Muslim India (Chulia/Kaka) yang merupakan keturunan migran era kolonial yang masih mempertahankan kedekatan budaya dengan India Selatan atau Utara.
Selain itu, ada pula Muslim Panthay yang terkonsentrasi di wilayah Shan dan Mandalay dengan latar belakang budaya Tionghoa, serta Muslim Rohingya yang terkonsentrasi di pesisir Rakhine dengan dialek dan kedekatan budaya dengan wilayah Chittagong (Bangladesh).
Jadi, Sejarah Islam di Myanmar memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya inklusivitas dalam pembangunan negara-bangsa. Selama berabad-abad, Islam dan Buddha mampu hidup berdampingan di bawah kedaulatan raja-raja Burma. Ketegangan yang muncul di era modern lebih banyak dipicu oleh konstruksi politik kolonial dan nasionalisme sempit yang mengabaikan fakta sejarah bahwa kaum Muslim telah berkontribusi bagi tanah Burma jauh sebelum garis perbatasan modern ditarik.
Sejarah masuknya Islam di Myanmar merupakan perjalanan panjang dari asimilasi damai menuju tantangan integrasi politik. Dari para pelaut Arab di pesisir Arakan hingga para kavaleri Muslim di istana Ava, Islam telah mewarnai sejarah Myanmar dengan kontribusi intelektual, ekonomi, dan militer. Meskipun saat ini komunitas Muslim Myanmar menghadapi tantangan sosio-politik yang berat, pemahaman sejarah yang objektif dan jujur sangat diperlukan untuk merajut kembali harmoni di Negeri Pagoda ini. Islam di Myanmar adalah bukti bahwa iman mampu bertahan dan beradaptasi dalam kondisi paling sulit sekalipun.
Bahan Bacaan:
Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana. (Membahas jaringan ulama di sepanjang pesisir Teluk Benggala).
Charney, Michael W. (1999). Where Jambudipa and Islam Dominated: The Case of Arakan. Journal of Southeast Asian Studies.
Forbes, Andrew D.W. (1987). The “Panthay” (Yunnanese Chinese) Muslims of Burma. Journal of Institute of Muslim Minority Affairs.
Harvey, G.E. (1925). History of Burma: From the Earliest Times to 10 March 1824. London: Longmans, Green and Co.
Luce, G.H. (1985). Phases of Pre-Pagan Burma: Languages and History. Oxford University Press.
Zarni, Maung. (2019). The Slow-Burning Genocide of Myanmar’s Rohingya. London: Pacific Affairs.
Yegar, Moshe. (1972). The Muslims of Burma: A Study of a Minority Group. Wiesbaden: Otto Harrassowitz. (Buku otoritas utama sejarah Islam di Burma).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.



jalur masuk utama barat arakan dan tanintharyi sejak abad ke 9 perdagangan arab persia dan arab dan pengaruh kerajaan kolonial dan muslim panthy
Islam masuk ke Myanmar melalui dua jalur: jalur laut di sepanjang pesisir arakan dan jalur darat dari perbatasan Utara. Para pelaut arab, indi, dan persia menjadikan arakan sebagai transit pelabuhan utama sebelum menuju Malaka atau China. Di wilayah Utara Islam masuk melalui para pedagang dari Yunnan. Mereka bermigrasi karena aktivitas ekonomi dan pergolakan politik di daratan China. Mereka membawa warna unik bagi Islam di Myanmar.
Masuknya islam dimyammar pada bad ke 9 hingga ke 13 memalui jalur laut disepanjang pesisir arakn (rakhine) dan jalur darat oerbatasan utara.
islam masuk ke myanmar sekitar abad ke 9 lewat jalur perdagangan arab india lalu berkembang di pesisir arakan/ rakhine dan menyebar lewat interaksi dagang, pernikahan dan imigrasi
Raisatuzzakinah
Kelas 12
Tanggapan : Sejarah islam di Myanmar menujukkan bahwa islam sudah hadir sejak lama melalui perdagangan.
Namun saat ini, umat islam mnghadapi tantangan besar, terutama terkait masalah kewarganegaraan seperti yang di alami oleh komunitas Rohingya.
Menurut saya, penting adanya sikap toleransi dan keadilan agar semua masyarakat bisa hidup damai.