Budaya Kuliner dalam Pandangan Islam

by Etta Adil | Jumat, Jun 1, 2018 | 689 views
Syukuri dan Nikmati. Jangan ribetkan soal penyajian. (foto: istimewa)

Syukuri dan Nikmati. Jangan ribetkan soal penyajian. (foto: istimewa)

Banyak orang yang meribetkan soal makanan dan penyajiannya. Hingga melahirkan satu disiplin ilmu tersendiri yang disebut Tata Boga. Yang dimaksud Tata boga ialah pengetahuan di bidang boga (seni mengolah masakan) yang mencakup ruang lingkup makanan, mulai dari persiapan pengolahan sampai dengan menghidangkan makanan itu sendiri yang bersifat tradisional maupun Internasional.

Di Indonesia, Arab, China, India, dan Belanda mesti diakui punya kontribusi besar dalam membentuk wajah kuliner Indonesia. Khusus penyajian makanan ala Barat, tak bisa dilepaskan dari jejak kolonialisme Belanda di Indonesia sejak abad ke-16 hingga paruh pertama abad ke-20. Meski pengaruh budaya Eropa terhadap kuliner Indonesia saat ini memang tampak jelas, tak bisa disangkal lingkungan alam, adat dan budaya pribumi turut pula memengaruhi dunia kuliner Eropa, khususnya Belanda.

Budaya makan di hotel mengikuti gaya penyajian makanan ala Erofah. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Budaya makan di hotel mengikuti gaya penyajian makanan ala Erofah. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Jejak kolonialisme di nusantara telah meninggalkan pengaruh budaya makan kolonial Belanda yang paling mengemuka pada paruh kedua abad ke-19, bagaimana melalui rijsttafel pencitraan budaya makan ideal sebagaimana dikenal kini setidaknya mulai dibangun, juga cerita di balik rijsttafel yang terselip dalam karya sastra kolonial, majalah rumah tangga kolonial, fotografi kolonial, hingga buku resep masakan kolonial yang mampu  menampilkan karakter penyajian hidangan nasi yang disepadankan dengan seni penyajian makanan gaya Eropa.

Dalam pandangan Islam, seni meribetkan makanan dan cara penyajiannya dikhawatirkan akan melalaikan umat Islam dalam beribadah, muamalat sampai masalah daulah dan khilafah.  Masih banyak hal penting yang perlu diperhatikan dan diurus dibanding meributkan tata hidang makanan. Bagi seorang muslim, melihat makanan yang halal dan baik, hanya boleh ada dua sikap, yaitu syukuri dan nikmati. Tidak menyukai makanan itu atau tidak berselera, tinggalkan. Jangan makan, tapi juga jangan menyumpahi makanan itu.

Harus tetap ada pengendalian diri saat berbuka puasa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prasmanan – Penyajian makanan ala Erofah  (foto: mfaridwm/palontaraq)

Intinya, jangan berlebihan, terutama harus mempersoalkan “budaya kuliner” dan meribetkan penyajiannya. Sikap yang harus dijaga sebetulnya adalah cara seorang muslim menikmati makanan itu, diantaranya ialah disunnahkan makan harus dengan duduk (tidak boleh makan berdiri) dan makan dengan tangan kanan. Selain itu, berdoa sebelum dan sesudah makan, berdzikir dalam hati saat makan, mengucap syukur atas segala nikmat dan karunia Allah dalam bentuk makanan sehat yang tersaji, halal, sehat dan baik dikonsumsi.

Masih banyak hal penting yang harus diurus untuk kepentingan umum dibanding mengurus tata hidang makanan. Di setiap komunitas dan tempatnya, kini nampaknya punya gaya dan teknik penyajian tersendiri. Lucunya, kesemua bentuk penyajian makanan tersebut menjadi satu kebanggaan tersendiri dan dipublikasikan sebagai bagian dari gaya hidup. Dalam Islam, tentu yang penting halal dan tayyib, selanjutnya silakan disyukuri, dinikmati, dan diingatkan agar “Berhenti makan sebelum kenyang!” karena sebagian besar penyakit datang karena pola dan gaya makan yang tidak teratur.

Gaya penyajian makanan di Cafe. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Gaya penyajian makanan di Cafe. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Di sisi lain, Rasulullah SAW menganjurkan untuk bersedekah makanan atau berbagi makanan kepada keluarga, kerabat, sahabat,  tetangga atau kepada siapa saja yang membutuhkan.

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ *عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ*

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Khalid berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari Abu Al Khair *Dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW, “Islam manakah yang paling baik?” Nabi SAW menjawab, “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (Sahih Bukhari)

***

 

Ketika Aisyah r.a menghidangkan makanan kesukaan Rasulullah yaitu paha domba (kambing), Rasulullah bertanya, ”Wahai Aisyah, apakah sudah engkau berikan kepada Abu Hurairah tetangga kita? Aisyah menjawab, “Sudah, Ya Rasulullah.”  Kemudian Rasulullah bertanya lagi, ”Bagaimana dengan Ummu Ayman?” Aisyah kembali menjawab, “Sudah ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bertanya lagi tentang tetangga-tetangganya yang lain, adakah sudah di beri masakan tersebut, sampai Aisyah merasa penat menjawab pertanyaan Rasulullah.

Kisah diatas merupakan tanda bahwa Rasulullah tidak pernah bosan untuk memberi dan tidak pernah kesal dan marah saat diminta. ‘Aisyah kemudian menjawab, “Sudah habis ku berikan, Ya Rasulullah. Yang tinggal apa yang ada di depan kita saat ini!”  Rasulullah tersenyum dan dengan lembut menjawab, ”Engkau keliru Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah SAW bersabda, “Kelak di hari akhirat manusia akan berkata, ‘Inilah harta bendaku! Padahal tidak ada harta benda yang di perolehnya di dunia kecuali tiga hal:  (1) Apa yang ia makan akan keluar dari tubuhnya menjadi kotoran. (2) Apa yang ia pakai akan menjadi rusak. (3) Apa yang disedekahkan akan menjadi kebaikan yang kekal baginya.” (HR. Muslim).

Demikian, Mari makan tidak berlebihan, tidak untuk gaya hidup tapi untuk hidup yang sehat. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response