Oleh: Etta Adil *)
Related Post: Serunya Wisata Kuliner Tiram Bakar di Barru dan Pangkep
PALONTARAQ.ID – Kabupaten Barru merupakan salah satu daerah pesisir di Provinsi Sulawesi Selatan yang menyimpan pesona alam, sejarah, dan kekayaan kuliner yang belum banyak diketahui wisatawan. Terletak di jalur strategis Trans-Sulawesi yang menghubungkan Pangkep, Parepare, dan berbagai daerah di kawasan Ajatappareng, Barru sering menjadi tempat persinggahan para pelancong. Namun sesungguhnya, Barru bukan sekadar daerah yang dilewati. Barru adalah destinasi yang layak disinggahi untuk menikmati kekayaan rasa yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Bugis Barru (Ugi’ To Berru)
Kabupaten yang memiliki garis pantai panjang menghadap Selat Makassar ini dianugerahi hasil laut yang melimpah. Di sisi lain, wilayah pegunungan dan persawahannya menghasilkan berbagai bahan pangan yang memperkaya tradisi kuliner masyarakat. Perpaduan hasil laut, hasil pertanian, rempah-rempah, serta tradisi memasak yang diwariskan dari generasi ke generasi melahirkan berbagai hidangan khas yang sederhana, tetapi kaya cita rasa.

Bagi seorang pendatang, mengenal Barru akan terasa belum lengkap apabila belum mencicipi kuliner-kuliner khasnya. Kuliner Barru tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari tradisi kuliner Bugis yang berkembang di wilayah pesisir barat Sulawesi Selatan. Namun masyarakat Barru memiliki karakter tersendiri dalam mengolah makanan. Rasa gurih, penggunaan rempah yang seimbang, kesegaran bahan baku, dan cara memasak yang masih mempertahankan resep tradisional menjadi kekuatan utamanya.
Kuliner yang paling sering disebut dan dipasarkan sebagai makanan khas Kabupaten Barru, salah satunya adalah Tiram Bakar Lajari.
Salah satu kuliner paling identik dengan Barru, khususnya dari kawasan Lembae–Lajari, Kelurahan Coppo. Tiram segar dibakar secara tradisional menggunakan arang atau daun kelapa kering, kemudian dinikmati bersama sambal jeruk nipis atau recca pao—mangga muda yang dicacah dan diberi cabai.
Beberapa kuliner Barru yang sangat dikenal Pallu Basa, Nasu Likku, Ikan bakar segar, Bandeng tanpa duri dan olahan bandeng, Pallumara, Gogoso, Burasa’, Songkolo’, Baruasa, Kue cucuru’, dan berbagai olahan hasil laut seperti cumi, kepiting, udang, kerang, dan ikan laut segar. Sebagian besar kuliner tradisi tersebut mudah ditemukan di Barru, baik di rumah makan tradisional maupun di warung-warung keluarga yang telah puluhan tahun mempertahankan resep warisan leluhur.
Yang menarik, banyak rumah makan di Barru tetap mengutamakan bahan baku yang baru dipanen atau baru ditangkap nelayan pada hari yang sama. Inilah yang membuat cita rasa makanan di daerah ini terasa lebih segar. Sebagai daerah pesisir, Barru sangat terkenal dengan hasil lautnya. Setiap pagi, nelayan mendaratkan berbagai jenis ikan seperti kakap merah, baronang, kerapu, cakalang, tuna, kuwe, hingga cumi-cumi dan udang segar.
Banyak rumah makan memberi kesempatan kepada pelanggan untuk memilih langsung ikan yang ingin dimasak. Setelah itu, ikan akan dibakar, digoreng, dimasak kuah asam, atau diolah menjadi pallumara sesuai selera. Bagi pendatang yang baru pertama kali berkunjung ke Barru, dapat jalan-jalan ke Pusat Kota Barru sebagai tempat yang paling mudah dijangkau.

Di sepanjang jalan utama dan kawasan pusat kota terdapat banyak rumah makan yang menyajikan hidangan khas Bugis Barru, seperti Gogos Bakar Jalange yang terbuat dari beras ketan yang dibungkus daun pisang lalu dipanggang di atas bara. Sentra yang terkenal berada di Kampung Jalange, Mallawa, Kecamatan Mallusetasi. Gogos biasanya disantap hangat bersama telur asin.
Barru juga terkenal dengan Telur Asin Bakar-nya. Oleh-oleh khas yang banyak diproduksi di Desa Pao-Pao, Kecamatan Tanete Rilau. Dibandingkan telur asin biasa, proses pembakarannya memberikan aroma yang lebih kuat dan cita rasa gurih. Telur ini kerap dipasangkan dengan gogos bakar. Ada pula Bacaki, yaitu kudapan dari jagung ketan yang diserut, kemudian disajikan dengan bumbu bercita rasa asin dan pedas. Jagung ketan yang digunakan memiliki tekstur lebih pulen dibandingkan jagung biasa.

Barru juga termasuk mudah mencari Nasu Palekko, yaitu Masakan ayam atau bebek yang dipotong kecil dan dimasak dengan cabai, bawang, jahe, lengkuas, merica, serta rempah lainnya. Rasanya pedas, gurih, dan kuat. Palekko sebenarnya merupakan kuliner Bugis yang cakupannya lebih luas, tetapi sangat populer dan mudah ditemukan di Barru, termasuk kawasan Tanete Rilau.
Lihat pula: Nasu Palekko: Masakan Bugis dengan Sensasi Pedas Menggigit
Pada siang hingga malam hari, Pusat Kota Barru ini menjadi pusat aktivitas kuliner masyarakat, selain kawasan pantai Sumpang BinangaE’. Berbagai menu seperti Sop Saudara, Pallu Basa, ikan bakar, dan aneka makanan laut juga tersedia dengan harga yang relatif terjangkau. Sumpang Binangae bukan hanya menjadi salah satu ikon wisata Barru, tetapi juga kawasan favorit menikmati makanan laut. Perpaduan semilir angin laut, panorama pantai, dan aroma ikan bakar menciptakan pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.
Di sekitar kawasan pelabuhan dan pesisir Barru, terdapat pula banyak warung makan sederhana yang justru menjadi favorit masyarakat lokal.Di tempat-tempat seperti inilah wisatawan dapat merasakan cita rasa yang autentik. Bahan baku yang digunakan umumnya berasal dari tangkapan nelayan setempat pada hari yang sama. Kesederhanaan tempatnya sering kali justru berbanding lurus dengan kelezatan masakannya.
Kabupaten Barru dilintasi jalan nasional yang menghubungkan Makassar dan Parepare. Di sepanjang jalur ini berdiri banyak rumah makan, warung tradisional, dan kedai keluarga yang menjadi tempat singgah para pelintas. Banyak pengemudi antarkota sengaja berhenti di Barru untuk menikmati hidangan hangat sebelum melanjutkan perjalanan.
Selain menikmati makanan di tempat, wisatawan juga dapat membawa pulang berbagai oleh-oleh khas, diantaranya: Baruasa, Bolu Cukke’, Barongko, Beppa janda, Aneka kerupuk ikan, Abon ikan, Bandeng olahan, Kue-kue tradisional Bugis, Produk olahan hasil laut, Aneka sambal khas pesisir. Produk-produk tersebut banyak dijual di pusat oleh-oleh, pasar tradisional, maupun toko UMKM yang tersebar di Kota Barru. (*)
(* Etta Adil, Blogger dan Gastronom/Foodies



