Oleh: Etta Adil *)
Related Post: Let’s Learning and Writing of the History
PALONTARAQ.ID – Banyak jalan menghibur dan menyenangkan diri, namun sedikit diantaranya yang mendatangkan manfaat dan pelajaran. Satu diantara yang sedikit itu ialah jalan-jalan ke Situs Prasejarah.
Kedengarannya terlalu serius jika menyebut situs prasejarah. Bukankah itu seharusnya domain bagi peneliti dan penikmat sejarah? Tak banyak yang tahu bahwa banyak situs prasejarah dalam wilayah Kabupaten Pangkep satu lokasi dengan obyek wisata alam dan permandian di pinggir pegunungan yang sejuk.

Ya, akhir pekan ini, penulis memilih untuk menghibur dan menyenangkan diri di situs prasejarah Leang Lompoa. Nampaknya situs prasejarah ini kurang mendapatkan perawatan dan penjagaan, terbukti saat penulis memasuki kawasan yang menjadi jejak manusia purba “To Alla” ini tampak tidak ada penjagaan. Ke depan, hal ini harus menjadi perhatian serius Balai Perlindungan Cagar Budaya (BPCB) Sulsel, bersama situs prasejarah lain di sekitarnya.
Situs Prasejarah Leang Lompoa berada dalam lingkup wilayah Kampung Lesang, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep. Keberadaan penulis kali ini di Lokasi Situs Leang Lompoa bersama puluhan pelajar/santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Ahad (23/01/2022) sebagai upaya mempelajari dan melihat langsung wilayah jejak purba “To Alla” (Manusia Gua) yang disebut-sebut sebagai manusia pertama yang mendiami kawasan ini.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Situs Prasejarah Leang Lompoa dan Kawasan Karst yang melingkupinya, dapat dilihat pada link berikut ini:
Prehistoric Site of Leang Lompoa in Pangkep
Berwisata ke Gua Prasejarah: Leang Kassi
Keindahan dan Nilai Sejarah Budaya Kawasan Karst Maros-Pangkep
‘World Heritage’ yang Menyimpan Potensi Konflik
Sejarah akan selalu menyisakan ruang diskusi, paling tidak bagi pewarisan cerita dan nilai-nilai untuk menjadi pelajaran bagi generasi di masa kini. Ya, daripada mager atau bete’ di rumah atau asrama sekolah, memang akan lebih kita jalan dan melihat banyak dunia, termasuk dunia masa lampau.

Semoga link yang disisipkan dalam tulisan ini dapat menjadi pembelajaran dan pelajaran, bagi pewarisan cerita dan nilai sejarah. Semoga bermanfaat adanya. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
(* Etta Adil, adalah nama pena sekaligus nama panggilan dari M. Farid W Makkulau, penulis buku Sejarah dan Kebudayaan Pangkep/Tim Ahli Penyusunan Pokok-pokok Pemajuan Kebudayaan Daerah (PPKD) Pemerintah Kabupaten Pangkep.



