Narasi Sejarah Nama Papua - Irian

Nama Papua – Irian

-

- Advertisment -

dan bukunya
Dr. J.V.de Bruijn dan bukunya, “Het Verdwenen Volk (1978). (foto: wimpoli/*)

Oleh: Wim Poli, Guru Besar UNHAS

Tulisan sebelumnya: Adat Istiadat dan Sepakbola?

PALONTARAQ.ID – Dulu namanya “Papua”. Kemudian berubah menjadi “Irian.” Dan kini kembali menjadi “Papua.” Perubahan nama ini ada sejarahnya, yang melibatkan berbagai pihak, dengan peranan yang berbeda-beda.

Di bawah ini dikemukakan peristiwa perubahan nama dari “Papua” menjadi “Irian” dengan mengacu pada tiga buku dalam bahasa Belanda.

Pertama, buku “Vergeten Aarde” (Bumi yang dilupakan, 1953), oleh J.P.K. van Eechoud.

Kedua, buku “Verdwenen Volk” (Bangsa yang Hilang, 1978), oleh J.V. de Bruijn.

Ketiga, buku “Bapa Papoea” (1987) oleh Jan Derix.

Dari ketiga penulis itu, hanya Jan Derix yang mungkin masih hidup sekarang ini.

Sehubungan dengan politik Pemerintah Belanda terhadap Indonesia, oleh Letnan Gubernur Jenderal Hubert van Mook diadakan sebuah konperensi di Malino, Sulawesi Selatan, pada 15-25 Juli 1946.

Salah seorang peserta konperensi tersebut adalah Frans Kaisiepo dari Biak, Papua. Residen J.P.K. van Echoud menugaskan anak buahnya, Dr. J.V de Bruijn, mendampingi Kaisiepo sebagai penasehat.

Dalam pidatonya Kaisiepo antara lain mendesak agar nama “Papua” tidak lagi digunakan, karena di Papua nama itu identik dengan “bodoh, malas, dan kotor.”

Sebagai penggantinya dianjurkannya “Irian,” yang dalam bahasa Biak berarti “tanah beriklim panas.” Pidato Kaisiepo berlangsung selama satu jam dan lima menit, direkam, dan disiarkan langsung lewat radio.

Hadirin menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah. Demikian kesaksian de Bruijn.

Kata de Bruijn di dalam “Verdwenen Volk”: “Op de Malinoconferentie werd voor het eerst door Frans Kaisiepo de naam Irian geintroduceerd. Hij heeft toen zeker niet vermoed nog eens gouverneur te worden van een Indonesisch Irian Barat of Irian Jaya”. (halaman 273).

Terjemahan bebasnya: Untuk pertama kalinya di Konperensi Malino diperkenalkan nama “Irian” oleh Frans Kaisiepo. Ia tentunya tidak menduga bahwa di kemudian hari ia menjadi gubernur Irian Barat atau Irian Jaya.

Perlu dicatat bahwa sebagian orang memlesetkan “Irian” menjadi: “Ikut Repulbik Indonesia, Anti Nederland.” Ini hanyalah sebuah lelucon yang cukup mengecoh sebagian orang.

Penggantian nama “Papua” juga menjadi perhatian Residen J.P.K. van Eechoud. Walaupun Pemerintah Belanda di Jakarta sudah turut populerkan nama “Irian,” ia enggan menggunakannya. Alasannya, dalam bahasa Kei “iri” berarti “budak,” sehingga “Irian” dapat diartikan “kumpulan budak.”

Van Eechoud mengusulkan sebuah nama lain, yaitu “Peretas.” Nama ini dengan gembira diterima sejumlah orang Papua di Hollandia. Kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Segera muncul sebuah telegram protes dari Merauke.

Dalam beberapa bahasa setempat di Merauke “peretas” berarti “vagina” (Jan Derix, “Bapa Papoea,” halaman 156). Apa pelajarannya?

“What’s in a name?” Apa artinya sebuah nama? Demikian tulis William Shakespeare di dalam karyanya “Romeo and Juliet.” Bunga mawar, katanya, tetap harum baunya walaupun namanya diganti dengan nama lain.

Ungkapan Shakespeare ini tampaknya tidak berlaku di dalam kebudayaan lain, di mana nama adalah lambang yang sangat bermakna, seperti di Indonesia.

Ada tradisi di mana anak yang sakit-sakitan digantikan namanya oleh orang tuanya agar ia menjadi sehat. Di Tapanuli, misalnya, nama seorang ayah sangat sakral sehingga tidak boleh disebut dengan seenaknya.

Renungan: Sebuah kata tidak berarti sebelum diartikan. Pembangunan adalah ungkapan pikiran ke dalam kata, yang bemuara pada tindakan dan hasilnya.  Apa pendapatku dan dimana posisiku? (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you