Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Ke Paris untuk Membaca Ulang Ingatan: Lontaraq, Seni, Teknologi, dan Masa Depan Kebudayaan Bugis-Makassar
PALONTARAQ.ID – Perlukan di masa kekinian membaca ulang Lontaraq sebagai produk sejarah dan ingatan kolektif masyarakat Bugis Makassar dalam menata norma adat, budaya dan jejak tradisinya di masa lalu? Dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut, maka penulis menawarkan alternatif, khususnya bagi generasi muda agar mengenali ulang dan memahami apa isi dan konteks Lontaraq itu sendiri sebagai khazanah sejarah dan budaya masyarakat Bugis-Makassar.
Lontaraq bukan sekadar kumpulan teks yang ditulis dalam aksara Lontaraq. Ia adalah ruang tempat masyarakat Bugis-Makassar menyimpan ingatan tentang dirinya: tentang asal-usul, kerajaan, manusia, perjalanan hidup, nilai-nilai sosial, pengetahuan keagamaan, hubungan antarmanusia, hingga cara suatu masyarakat memahami waktu dan perubahan. Karena itu, membaca Lontaraq sesungguhnya bukan hanya membaca teks, melainkan membaca kembali cara sebuah masyarakat memandang dunia.
Persoalannya, Lontaraq hari ini berhadapan dengan dunia yang berubah secara radikal. Manuskrip yang dahulu dibaca dalam ruang-ruang terbatas kini berada di tengah masyarakat yang terbiasa dengan layar, gambar bergerak, media sosial, kecerdasan buatan, dan budaya visual. Generasi muda mungkin mengenal Lontara sebagai aksara tradisional, tetapi belum tentu memahami bahwa di balik aksara tersebut terdapat khazanah pengetahuan dan ingatan budaya yang sangat luas.
Dalam konteks inilah diperlukan sebuah pembacaan ulang: Reading Lontaraq. Tulisan ini, “Reading Lontaraq: Reimagining Bugis-Makassar Cultural Memory in the Digital Age” sebagai salah satu upaya Membaca Ulang Lontaraq dan Merawat Ingatan Budaya Bugis-Makassar di Era Digital. Biar kelihatan keren dibaca generasi muda di kekinian, tidak hanya diperlukan “Reading” tetapi juga “Up Reading”, meningkatkan pembacaan dan selanjutkan mengembangkan pemahaman terhadap Lontaraq itu sendiri.
Membaca Lontaraq tidak cukup berhenti pada upaya transliterasi, penerjemahan, atau digitalisasi manuskrip. Yang lebih penting adalah menghadirkan kembali makna dan konteksnya ke dalam ruang kebudayaan kontemporer. Digitalisasi dapat menjadi pintu masuk untuk menyelamatkan teks, sedangkan seni pertunjukan dapat menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali pesan-pesan budaya tersebut dalam imajinasi masyarakat masa kini.
Dengan demikian, Reading Lontaraq bukan sekadar proyek konservasi, tetapi sebuah usaha reimagining cultural memory: membayangkan kembali bagaimana ingatan budaya Bugis-Makassar dapat hidup, dibaca, ditafsirkan, dan diwariskan dalam dunia baru.
***
Hal paling penting dipahami adalah Lontaraq sebagai Memori Budaya. Bahwa dalam tradisi Bugis-Makassar, pengetahuan tidak selalu dipisahkan secara tegas antara sejarah, sastra, agama, etika, genealogis, dan pengalaman sosial. Berbagai bentuk pengetahuan tersebut dapat ditemukan dalam khazanah Lontaraq. Karena itu, Lontaraq memiliki kedudukan penting sebagai salah satu sumber untuk memahami perjalanan masyarakat Sulawesi Selatan.
Di dalamnya terdapat berbagai narasi tentang attoriolong, silsilah, kerajaan, peperangan, hubungan antarkerajaan, perjalanan tokoh, adat-istiadat, hingga petuah kehidupan. Berbagai teks juga memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu memahami hubungan antara manusia, alam, kekuasaan, agama, dan komunitas.
Nilai penting Lontaraq justru terletak pada kemampuannya menghubungkan masa lalu dan masa kini. Ia menjadi semacam jembatan ingatan. Akan tetapi, sebuah ingatan budaya dapat mengalami pelupaan apabila tidak lagi dibaca. Manuskrip yang hanya tersimpan di lemari, perpustakaan, museum, atau koleksi keluarga, tetapi tidak dibaca dan dipahami, pada akhirnya berpotensi kehilangan fungsi sosialnya.
Karena itu, pelestarian Lontaraq tidak boleh hanya dimaknai sebagai menyelamatkan benda fisiknya. Yang perlu diselamatkan adalah teks sekaligus konteksnya, aksara sekaligus maknanya, manuskrip sekaligus ingatan kolektif yang dikandungnya. Nah, Digitalisasi membuka kemungkinan baru bagi keberlangsungan Lontaraq.
Manuskrip dapat dipindai, difoto dalam resolusi tinggi, diberi metadata, ditransliterasi, diterjemahkan, dan disimpan dalam repositori digital. Dengan demikian, akses terhadap Lontaraq tidak lagi sepenuhnya bergantung pada keberadaan fisik manuskrip. Namun, digitalisasi sebaiknya tidak berhenti pada proses scanning.
Sebuah manuskrip yang telah menjadi file digital tetapi tidak dapat dibaca, dicari, dipahami, atau digunakan kembali sesungguhnya baru mengalami perubahan bentuk, bukan transformasi pengetahuan. Karena itu, digital Lontaraq perlu dikembangkan sebagai ekosistem pengetahuan.
Setiap manuskrip idealnya memiliki dokumentasi visual, informasi asal-usul, konteks sejarah, transliterasi aksara Lontara, terjemahan, catatan filologis, kata kunci, serta informasi mengenai konteks sosial-budayanya. Lebih jauh lagi, teknologi digital dapat menghadirkan pengalaman membaca yang baru. Misalnya, pengguna dapat melihat foto halaman manuskrip sekaligus membaca transliterasinya.
Kata tertentu dalam Manuskrip digital seharusnya dapat diklik untuk memperoleh penjelasan. Tokoh yang disebutkan dalam teks dapat dihubungkan dengan peta sejarah. Tempat yang disebut dalam Lontaraq dapat ditampilkan melalui peta digital. Bahkan fragmen teks tertentu dapat dikembangkan menjadi visualisasi, animasi, audio, atau pertunjukan.
Dengan cara demikian, teknologi tidak menggantikan Lontaraq. Teknologi justru membantu masyarakat mendekati kembali Lontaraq. Inilah pembacaan ulang yang dikehendaki zaman. Bahwa Pembacaan ulang terhadap Lontaraq membutuhkan kehati-hatian, ya itu jelas. Namun, Kita juga tidak dapat mengambil sebuah teks lama kemudian langsung menerapkannya kepada masyarakat masa kini tanpa mempertimbangkan konteks sejarahnya.
Lontaraq perlu dibaca sebagai produk kebudayaan pada zamannya. Di dalamnya terdapat nilai yang mungkin tetap relevan, tetapi juga terdapat konteks politik, sosial, keagamaan, dan struktur masyarakat yang berbeda dari kehidupan sekarang. Karena itu, Reading Lontaraq bukan sekadar kegiatan membaca literal, tetapi sebuah proses hermeneutik: memahami teks, konteks, dan hubungan keduanya dengan kehidupan masa kini.
Nilai seperti siri’, pesse/pacce, getteng, lempu’, ade’, reso, dan taro ada taro gau dapat dibaca kembali dalam konteks masyarakat modern. Pertanyaannya bukan semata-mata, “Apa yang dikatakan Lontaraq?” tetapi juga, “Apa yang dapat kita pelajari dari Lontaraq untuk menghadapi persoalan manusia hari ini?” Dengan pertanyaan semacam itu, Lontaraq tidak ditempatkan sebagai benda masa lalu yang harus disakralkan, tetapi sebagai sumber dialog antara generasi.
***
Salah satu kemungkinan paling menarik dari pembacaan ulang Lontaraq adalah menjadikannya sumber penciptaan seni pertunjukan. Ya, dari Teks menjadi Seni Pertunjukan. Isi dan konteks Lontaraq dapat menjadi bahan kajian seru dan menarik untuk kemudian ditampilkan ulang menjadi seni pertunjukan dan itu kemudian menjadi milik publik.
Teks sejarah dan manuskrip tradisional memiliki potensi dramatik yang sangat besar. Kisah kerajaan, konflik kekuasaan, perjalanan tokoh, hubungan antarmanusia, tragedi, kepahlawanan, migrasi, ritual, dan perubahan sosial dapat ditransformasikan menjadi teater, tari, musik, sendratari, pertunjukan multimedia, film, maupun bentuk seni kontemporer lainnya.
Proses tersebut bukan berarti mengubah Lontaraq secara sembarangan. Sebaliknya, seniman perlu melakukan riset terlebih dahulu. Fragmen teks dibaca, dibandingkan dengan sumber lain, dipahami konteksnya, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa artistik. Misalnya, sebuah fragmen tentang seorang tokoh dalam Lontaraq dapat menjadi dasar penciptaan karakter panggung.
Sebuah kisah perjalanan dapat diterjemahkan menjadi koreografi. Ungkapan atau pappaseng dapat menjadi dialog. Struktur narasi dapat menjadi dramaturgi. Bunyi aksara Lontaraq dapat menjadi elemen visual dalam tata panggung. Musik tradisional dapat dipadukan dengan teknologi audio-visual kontemporer. Dengan pendekatan tersebut, panggung tidak hanya menjadi tempat hiburan. Ia menjadi ruang pembacaan sejarah.
Penonton tidak harus membaca puluhan halaman manuskrip untuk mengenal sebuah kisah. Mereka dapat mengalami narasi tersebut melalui tubuh penari, suara aktor, musik, visual digital, cahaya, dan dramaturgi. Inilah salah satu cara membuat Lontaraq kembali “berbicara”.
***
Generasi muda memiliki cara yang berbeda dalam menerima pengetahuan. Mereka hidup dalam budaya visual, audiovisual, interaktif, dan singkat. Kondisi ini sering dianggap sebagai ancaman bagi tradisi membaca manuskrip. Namun, persoalan tersebut dapat dibalik menjadi peluang.
Lontaraq dapat diperkenalkan melalui video pendek, podcast, digital storytelling, komik digital, animasi, dokumenter, pertunjukan virtual, hingga instalasi seni berbasis teknologi.
Aksara Lontara dapat diperkenalkan melalui permainan digital. Kisah-kisah dalam Lontaraq dapat dikembangkan menjadi serial animasi. Peta perjalanan tokoh dapat menjadi interactive map. Bahkan pertunjukan seni dapat direkam dan disebarluaskan melalui platform digital sehingga penonton tidak lagi terbatas pada masyarakat Sulawesi Selatan.
Di sinilah terjadi perubahan penting: dari Lontaraq sebagai arsip menjadi Lontaraq sebagai pengalaman. Tujuan akhirnya bukan membuat generasi muda sekadar mengenal aksara Lontara, melainkan membuat mereka merasa bahwa warisan tersebut memiliki hubungan dengan kehidupan mereka.
Transformasi digital juga menghadirkan tantangan etis. Tidak semua manuskrip dapat diperlakukan sebagai objek bebas yang dapat diunggah tanpa konteks. Ada persoalan mengenai kepemilikan koleksi, hak komunitas, kesakralan pengetahuan tertentu, akurasi transliterasi, serta kemungkinan komersialisasi yang mengabaikan sumber budaya.
Karena itu, digitalisasi Lontaraq harus melibatkan komunitas pemilik pengetahuan, filolog, sejarawan, budayawan, seniman, akademisi, lembaga kebudayaan, dan generasi muda.
Keterlibatan komunitas sangat penting agar proses digitalisasi tidak menjadi bentuk baru dari pengambilalihan pengetahuan. Sebaliknya, teknologi harus digunakan untuk memperkuat hak masyarakat atas ingatan budayanya.
Hal yang sama berlaku dalam seni pertunjukan. Seniman memiliki kebebasan kreatif, tetapi kebebasan tersebut idealnya berjalan bersama tanggung jawab kultural. Adaptasi boleh dilakukan, interpretasi boleh berkembang, tetapi sumber dan konteks budaya tetap perlu dihormati.
***
Reading Lontaraq pada akhirnya bukan proyek untuk mengembalikan masyarakat kepada masa lalu. Ia adalah usaha membawa masa lalu berdialog dengan masa kini dan masa depan. Lontaraq perlu diselamatkan dari kerusakan fisik, tetapi ia juga harus diselamatkan dari kemungkinan yang lebih sunyi: tidak lagi dibaca.
Digitalisasi memberi kesempatan untuk memperpanjang usia manuskrip. Transliterasi membuka pintu pemahaman. Riset memberi kedalaman konteks. Teknologi memberikan bentuk baru bagi penyebaran pengetahuan. Sementara seni pertunjukan memberikan tubuh, suara, emosi, dan pengalaman kepada ingatan budaya.
Di titik inilah Lontaraq dapat hadir kembali dalam kehidupan masyarakat bukan sebagai artefak yang berjarak, melainkan sebagai sumber inspirasi. Membaca Lontaraq berarti membaca siapa kita, dari mana kita datang, dan nilai apa yang ingin kita bawa ke masa depan.
Menghidupkan Lontaraq di ruang digital berarti memastikan bahwa ingatan budaya Bugis-Makassar tidak berhenti sebagai koleksi masa lalu. Mengalihwahanakannya menjadi seni pertunjukan berarti memberikan kemungkinan baru agar kisah-kisah itu kembali didengar, dilihat, dirasakan, dan diperdebatkan.
Dengan demikian, Reading Lontaraq bukan hanya tentang membaca sebuah manuskrip. Ia adalah sebuah gerakan kebudayaan: membaca, mendokumentasikan, memahami, menafsirkan, menghidupkan, dan mewariskan kembali ingatan Bugis-Makassar kepada dunia. Sebab kebudayaan yang hidup bukanlah kebudayaan yang sekadar disimpan, melainkan kebudayaan yang terus dibaca dan diberi makna baru oleh setiap generasi. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Cultural Practitioner, Traditional Arts Writer, Performing Arts Scriptwriter, Cultural Researcher


