Dari To Ugi, Toraja, To Luu’ hingga Turunan Tomanurung

Istana Kedatuan Luwu. (foto: ist/palontaraq)

Istana Kedatuan Luwu. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

PALONTARAQ.ID – Bahwa kata “To” adalah berarti “orang” bagi segenap suku di Sulawesi Selatan. Jauh diujung selatan, yakni Selayar hingga Tanjung Bira, Ara sampai Kajang, penutur bahasa “konjo” tatkala menyebut “To”, maka itu berarti “orang”.

Terkhusus pada keyakinan dan kepercayaan “patuntung” di Kajang, bahkan menyebut Tuhan YME sebagai “To RiyE’ A’ra’na” (Orang Yang Memiliki Kehendak).

Demikian pula di Jeneponto, menyebut orang dengan sebutan yang sedikit lebih “tipis”, sehingga menyebut kawasannya sebagai “TUratEa” (orang-orang yang bermukim di ketinggian).

Perjalanan kemudian tiba di Gowa, yakni bekas kerajaan terbesar suku Makassar. Tiada beda dengan orang TuratEa, mereka menyebut “Tu” pula bagi masyarakat manusia, satu-satunya species makhluk Allah yang memiliki kemampuan mencipta peradaban di dunia fana ini.

Lihat juga: Tana Luwu, Negeri terbit Fajar Peradaban I La Galigo dan Islam

Demikian pula dengan seluruh kerajaan penutur Bahasa Bugis, EnrEkang, Duri, Pattinjo hingga Toraja, semuanya menyebut “To” bagi yang dimaksudkannya sebagai “orang”.

Namun ketika yang dimaksudkannya itu adalah “manusia”, mereka sama menyebutnya sebagai “Tau”, yakni mahluk semulia-mulianya mahluk dengan segenap keluhuran adab sopan santunnya serta ketinggian pribudinya.

Maka dalam hal ini, “Tau” pastinya adalah “To”, namun “To” belum tentulah “Tau”. Kurang lebih sama halnya jika “permata” pastilah “batu” dan sebongkah “batu” tidaklah mesti itu sebiji “permata”.

***

Menelisuri wilayah pesisir teluk Makassar hingga ujung teluk Bone, dimana didapati suatu kota kecil yang dibelah sungai berarus deras bernama Malili. Inilah ibukota Kerajaan Luwu pertama sehingga pada suatu Lontara Attoriolong Luwu menyebutnya sebagai “Ware’ Pammulang” (Ibukota Pertama).

Disebutkan kemudian bahwa “ware’” (ibukota) ini bermula tatkala Opu TopapoataE Batara Guru menunjuk kawasan itu seraya menyatakan : “Kuwanimai topada mpare’ mallili’” (disinilah kita sekalian bersama-sama melintang untuk membuat keliling batas negeri).

Bahwa “mpare’” adalah kata kerja yang berasal dari induk kata “ware’” yang berarti “melintang”, lawan kata dari “mabbujuu’” (membujur), dalam pemaknaannya sebagai kawasan menetap.

Selanjutnya masyarakat Ibukota Luwu pertama ini disebut “To Ware’” (orang yang melintang/menetap = masyarakat ibukota), serta bahasa yang dituturkannya sehari-hari disebut pula sebagai “Bicara Toware’” (bahasa Orang Ware’).

Lihat juga: Falsafah Luwu yang Hilang

Sebagaimana Jakarta sebagai ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan suku Betawi sebagai masyarakat asli Ibukota, demikian pula halnya dengan Kerajaan Luwu dari masa ke masa, penduduk ibukotanya disebutnya sebagai “Toware’”.

Bahwa Indonesia terdiri dari ribuan suku bangsa, begitu pula halnya dengan Luwu yang terdiri dari belasan suku bangsa. Masyarakat Luwu selain Toware’ itu antara lain adalah: Toala’, To Rongkong, To SEko, To Wotu, To Limolang, To Pamona, To PadoE, To Limolang, To Bajo, To MEngkoka, To KondE serta ada pula dari kalangan Toraja.

Mereka adalah suku-suku bangsa yang memiliki bahasa dan kekhasan istiadat sebagai pemilik asli ulayat pada kawasannya masing-masing yang bertebaran diseluruh kedaulatan adat kerajaan Luwu dengan tetap menjunjung identitas kebangsaannya sebagai To Luwu.

Tatkala seseorang di Luwu ditanya, “Anda orang apa?”. Maka dapat saja diterima suatu jawaban yang panjang: “Saya orang Luwu yang berbahasa Pamona”.

Namun kemudian hari, seorang penutur bahasa Toraja bisa saja mengajukan protes ketika membaca uraian ini, bahwa, “Toraja tidak pernah menjadi bagian kerajaan Luwu!”. Tentunya itu ada benarnya pula, namun ada pula khilafnya. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Syahdan, statistik penduduk Provinsi Kalimantan Timur (1977) mencantumkan suku Bugis sebagai salah satu suku yang menghuni provinsi paling timur pulau Kalimantan tersebut. Demikian pula dengan pemerintah Kerajaan Malaysia yang juga menyebut suku Bugis sebagai salah satu suku bangsanya.

Namun hingga hari ini, belum didapati seorang Bugis yang memprotes peryataan data tersebut. Tentu saja, kondisi diatas sama halnya dengan suku Toraja yang menghuni wilayah territorial Luwu, otomatis haruslah disebut sebagai “Orang Luwu yang berasal dari Suku Toraja”.

Sejarah lokal beberapa kawasan adat di kerajaan Luwu dituturkan secara turun temurun tentang masyarakat Toraja yang menghuni wilayah kerajaan Luwu menampakkan secara jelas tentang fenomena ini, antara lain adalah “Koro-Korona Jambu”.

Lihat juga: La Temmamala dan Usia Kedatuan Soppeng

Cerita rakyat ini adalah suatu riwayat tentang migrasi masyarakat Toraja dari Sangalla’ ke wilayah Luwu (Jambu) dibawah pimpinan saudara Puang Sangalla’ sendiri. Wilayah tersebut hingga kini dihuni secara turun temurun oleh masyarakat suku Toraja, namun mengidentitaskan diri sebagai “To Luwu”.

Riwayat lainnya dituturkan pula perihal putera-putera Puang Tandilino di Banua Poong yang berpindah ke wilayah kerajaan Luwu. Mereka adalah antara lain Pata’ba’ ke Pantilang lalu terus ke wilayah selatan Tana Luwu dan mendirikan Arruan Tinti ri Ado.

Selanjutnya adalah Pote Malia ke Rongkong hingga merambah wilayah Luwu bagian utara untuk menebarkan anak turunannya. Tentunya mereka adalah orang-orang Toraja yang kemudian terintegrasi sebagai masyarakat Luwu karena tinggal dan bermukim dalam wilayah territorial kerajaan Luwu.

Olehnya itu, “Toraja” adalah suku (people), hal yang berbeda dengan sebutan “Tana Toraja” (negeri orang Toraja) yang dulunya dikenal sebagai “Banua Poong” (Banua Puang) ataupun LEpongan Bulan ataupun kemudian “Tallu LEmbangna” adalah berarti suatu wilayah territorial.

Berbeda halnya dengan Kabupaten Bone, Wajo dan Soppeng yang dulunya bulat sebagai suatu kerajaan, Tana Toraja yang kini terbagi dalam 2 kabupaten, terdiri dari banyak “LEmbang” (struktur hadat).

Beberapa diantaranya terintegrasi sebagai “Lili’na Luwu” (Anak Federasi Luwu), sehingga memang keliru sekiranya ada statement yang menyatakan “Tana Toraja adalah Bagian dari Luwu”.

Wilayah yang masuk dalam struktur itu adalah: Sangalla’, Pantilang dan BassEsan TEmpE masuk dalam koordinasi Kemaddika’an Bua, serta RantEballa’ terkoordinasi dalam Kemaddika’an Ponrang.

Lihat juga: Perang dalam Khazanah Budaya Makassar

Keempat wilayah Tana Toraja tersebut terintegrasi dengan Tana Luwu pada masa pemerintahan Opu TopapoataE La DEwa Raja To SEngereng Batara Lattu La Rajalali (TokElali) Petta MatinroE ri Bajo Datu/Pajung Luwu XIII dalam abad XV.

Terkhusus Sangalla’, negeri ini mendapatkan keutamaan tersendiri sebagai “Lili PassEajingeng” (wilayah kekerabatan) dengan beberapa hak keistimewaan, yaitu :

1. Puang Sangalla’ yang memakaikan jubah kebesaran pada Datu Luwu pada saat penobatannya sebagai Pajung Luwu,

2. Hanya panji Sangalla’ yang boleh tegak berkibar bersama “BandEra TelluE” didalam kawasan Lalengbata (kompleks Istana) Luwu,

3. Hanya Puang Sangalla’ yang boleh “mappasitanjEng arajang” dengan Opu TopapoataE Datu/Pajung Luwu sendiri.

Ketiga keistimewaan tersebut diperuntukkan khusus bagi Puang Sangalla’, hal mana jika di Luwu disebut sebagai “Maddika Sangalla’”. Keistimewaan ini bahkan tidak berlaku kepada semua “Balibocco” (kerajaan sahabat) Kedatuan Luwu.

Olehnya itu, konteks pengertian “Lili” (anak wilayah) dalam Wari Pangadereng Luwu sesungguhnya bukanlah berarti wilayah taklukan maupun jajahan sebagaimana dalam persepsi kerajaan lainnya seperti Gowa.

Konteks Lili PassEajingeng dalam pranata adat istiadat adalah kerelaan untuk bersatu dalam harkat saling melindungi dan mengayomi satu sama lainnya.

Olehnya itu, sebagian besar personal Dewan Adat XII dan Adat IX Kedatuan Luwu dari masa ke masa memiliki pertautan darah dengan kebangsawanan Toraja.

Sebagai misal disini dapat dikemukakan silsilah Puetta La Maddeppungeng Maddika Ponrang Opu Matindo di Salu Kayyang (putera La Mappaselli Datu Pattojo Opu Matindo Duninna), menikahi salah seorang puteri Puang Sangalla’, hingga melahirkan La TenriEsa’ Maddika Ponrang (Ex Pabbicara Luwu).

Turunannya bertebaran di wilayah Ponrang hingga kini. Namun halnya dengan wilayah Tana Toraja lainnya sebagaimana MEngkEndEk, MakalE, Nonongan dan lain-lain tetap dipandang sebagai kerabat yang dimuliakan, meskipun tidak terikat sebagai Lili’.

Olehnya itu, tidak benar juga jika ada yang menyatakan bahwa Tana Toraja adalah Lili Luwu secara keseluruhan.  Berkat keistimewaan tersebut, dalam lingkup kekerabatan Puang Sangalla’ mengungkapkan suatu istilah, yaitu “Appa’ Pada-Pada: Payung ri Luwu, Somba ri Gowa, Mangkau’ ri Bone, Matasa’ ri Sangalla’”.

Meskipun sesungguhnya, penambahan unsur pada “Tellu BoccoE” tersebut adalah berbeda konteks dari sebenarnya. Karena istilah itu adalah sebutan bagi tiga kerajaan puncak yang memiliki pengaruh politik paling kuat di Sulawesi dan sekitarnya pada abad XVII.

Lihat juga:  Menikmati “Kotor” di Rantepao dan Cerita Kopi Toraja di Jepang

Siapa To Ugi?

Kembali ke topik yang menjadi judul tulisan ini, siapakah yang dimaksud dengan “To Ugi”? Bermula dari perantauan Sawerigading Opunna Ware’ ke Cinna untuk menikahi We Cudai’ Daeng Risompa, puteri La Sattumpugi Datunna Cinna.

Perantauan itu disertai dengan para sepupu sekalinya dan para pengikutnya yang kebanyakan terdiri dari “To Ware’”. Hingga kemudian, setelah menempuh suka duka yang beraneka macam sehingga terpaksa memerangi dan menaklukkan Kerajaan Cinna, perjodohan itu akhirnya terwujud dalam pernikahan.

Sawerigading yang kala itu dipandang sebagai “Opunna Cinna” (pertuanan kerajaan Cinna) membangun suatu limpo (pemukiman) dipusat ibukota Cinna bernama “Ugi”. Pemilihan nama itu tak lain adalah penghormatannya pada mertuanya, yaitu: La Sattumpugi.

Sesungguhnya pengertian yang terkandung pada nama Raja Cinna ini adalah: Wadah (sattung) dan Ari-Ari (campugi) sehingga bermaknakan: Simpul Kekerabatan.

Olehnya itu, Sawerigading kiranya memilih nama Limpo yang dihuni oleh para pengikutnya berdasarkan nama mertuanya tersebut dengan maksud pengintegrasian Luwu dan Cinna sebagai suatu kesatuan.

Masyarakat Limpo Ugi yang terdiri dari para pengikut Sawerigading dari Ware’ Luwu itu berbahasa To Ware’.  Sebagaimana diketahui bahwa bahasa To Ware’ adalah bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Malili, CErEkang, Burau, Pattimang (MalangkE’) hingga dalam kompleks Lalengbata Ware’ (ibukota) terakhir Luwu pada saat ini, yaitu Palopo.

Maka bahasa Ware’ itu pulalah yang dituturkan oleh masyrakat Limpo Ugi di Cinna, sehingga kemudian disebut sebagai: Bicara Ugi (bahasa Ugi) dan penduduknya disebut sebagai To Ugi (orang Ugi).

Sampai saat ini, Limpo tersebut masih ada dan tetap bernama Ugi didalam wilayah kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo. Dialek bahasanya persis sama dengan di Malili, CErEkang, Burau dan Pattimang (MalangkE’) hingga kini. Maka To Ugi sesungguhnya berasal Ware’ di Luwu.

Lihat juga: Tantangan Penulisan Sejarah Daerah Sulawesi Selatan

Pada paruh akhir abad XVII, kekuasaan VoC mulai menancapkan kuku di Sulawesi Selatan. Bangsa asing itu menilai bahwa bahasa yang dituturkan masyarakat dalam kawasan TellumpoccoE (Bone, Wajo dan Soppeng), LimaE ri Ajatappareng (Sidenreng, Sawitto, Suppa’, Rappeng dan Alitta) serta kawasan lainnya di Sinjai beserta PangkajEnE, Tanete dan Barru adalah bahasa yang sama dengan sebutan “Bicara Ugi”.

Olehnya itu, mereka menggolongkannya sebagai suatu suku berdasarkan pula sebutan orang-orang Makassar dan Mandar kepada masyarakat penutur “Bicara Ugi” itu sebagai Bugisi’.

Pada akhirnya disebutlah mereka sebagai orang Bugis ataupun Bogi. Hingga dalam akhir abad XVII, Arung Palakka Petta MalampE’E Gemme’na yang berjuang keras untuk menghimpun kesadaran patriotisme dan kekerabatan bagi seluruh territorial dalam pengaruh kekuasaannya, mempersebutkan wilayah dalam perlindungannya itu sebagai kawasan “Tana Sempugi” yang kerap disingkat sebagai “Tana Ugi”.

Namun pemaknaan istilah ini melampaui batas kesukuan (ethnic), melainkan sebagai istilah kawasan regional yang meliputi Sulawesi Selatan, Barat hingga tengah. Bahkan Donggala dan Toli-Toli termasuk dalam kawasan Tana Sempugi.

Hingga pada masanya, dikenallah Bugis Mandar bagi orang suku Mandar, Bugis EnrEkang bagi orang EnrEkang, Bugis Makassar bagi orang Makassar, Bugis Luwu bagi orang Luwu dan lainnya.

Olehnya itu sehingga VoC menjuluki Raja keturunan Soppeng dan Bone ini sebagai “De Koning der Boegies” (Raja Bugis).

Sulawesi Selatan memasuki era Pax Nederlandica dalam tahun 1905, jauh setelah wafatnya Arung Palakka Petta MalampE’E Gemme’na, kawasan regional “Tana Sempugi” telah pupus pula mengikuti penggagasnya ke liang lahat di Bontoala.

Terlebih kemudian pada masa kemerdekaan, Bugis kemudian diperkecil kembali batas pemaknaannya sebagai suatu suku (etnik) di Sulawesi Selatan hingga kini.

Lihat juga: Raja dan Sistem Pemerintahan Kerajaan Bone

Demikian pula halnya di kalangan Masyarakat Tana Luwu kini, To Ugi yang sesungguhnya adalah To Ware’, dipandang sebagai suku pendatang yang identik sebagai orang Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng ataupun lainnya.

Meskipun kenyataannya memiliki bahasa yang persis sama dengan induknya di Malili, CErEkang, Burau dan Pattimang (MalangkE’). Namun hal ini tak terlepas dari akibat riak sejarah sebelumnya tatkala kiprah turunan To Ware’ tersebut sempat memetakan Sulawesi dalam kawasan regional yang menyertakan induknya yakni To Luu’ didalamnya.

Sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan beserta masyarakatnya terus bergulir seiring waktu yang berputar tanpa henti sampai hari ini.  Satu demi satu kerajaan besar runtuh dan menjadi peninggalan sejarah, terkecuali Kedatuan Luwu. Itulah kenyataan yang dapat dibaca pada hari ini.

Meskipun tidak lagi memegang supremasi politik pemerintahan, Kedatuan Luwu yang menjunjung Opu TopapoataE Datu Luwu XL adalah nyata sebagai sosok pemimpin adat yang dicintai rakyat Luwu yang terdiri belasan suku yang berbeda.

Hal ini tergambar pada perhelatan Mattemmu Taung yang diselenggarakan pada tanggal 18 s.d 20 Januari 2018 kemarin. Tidak kurang dari 2000 masyarakat adat Se-Tana Luwu dari utara, timur dan selatan melakukan pawai lalu berkhidmat dihadapan Raja Tunggal Pemersatunya, yaitu Opu TopapoataE Datu Luwu XL.

Mereka sama menunjukkan cinta dan belas kasihnya kepada rajanya dengan semangat ketulusan pengabdian yang tak lekang oleh zaman. Sama berbangga dan terhormat dengan identitas “To Luwu” dalam sanubarinya, dengan tetap menyandang adat dan budaya suku dipundaknya.

Hingga dalam suatu kesempatan, saya menyatakan kepada Yang Mulia Adindaku Andi Bau Erwing Arung Malolo ri Belawa Alau, bahwa inilah para To Luu’, Ana’ Bau’.

Mereka mengenakan busana adat yang yang beraneka bentuk dan model serta bahasa daerah yang beraneka ragam, namun senantiasa menyatakan diri sebagai “To Luu’” dengan dagu terangkat.

Mereka ada sebagai kenyataan hari ini, bukan sebagai kebanggaan semu akan peninggalan sejarah masa lalu belaka.  Mereka bangga dengan perannya masing-masing sebagai masyarakat Luwu sehingga setinggi apapun jabatan mereka, namun tak satupun dari kalangan masyarakat To Luu’ yang tidak tahu diri menyatakan diri sebagai “RajaA Luwu” sebagaimana halnya di Gowa.

Hingga hati bertanya-tanya, bagaimana tipe kepemimpinan Opu TopapotaE PajungngE Datu Luwu sehingga mendapatkan perhatian dan cinta kasih masyarakatnya dari masa kemasa?

Tak lain adalah ketulusan mengayomi dan cinta tak terbatas kehidupan Opu TopapoataE PajungngE kepada masyarakatnya. Tatkala Raja Gowa berwujud “Tunisomba” (orang yang disembah) dan Raja Bone berwujud “Petta Mangkau’E” (pertuanan kita yang berdaulat penuh).

Datu Luwu justru sebagai “PajungngE” yang memayungi rakyatnya Se-Luwu. Ialah yang kepanasan terpapas terik matahari dan basah kuyup tatkala hujan lebat, asalkan rakyatnya merasa sejuk ataupun tak kehujanan dibawah naungannya.

Hingga dalam kenyataannya, tak satupun Datu/Pajung Luwu yang kaya raya dengan harta benda berlimpah dalam sejarah hingga kini. Semangat mengayomi dalam pengorbanannya ini berbalas kasih yang tulus dari segenap rakyatnya yang terdiri dari belasan suku bangsa itu.

Pada prakteknya, Opu TopapoataE Datu/Pajung Luwu tidak memandang wilayah dalam lili’ kekuasaannya sebagai hamba ataupun bawahan yang rendah.

Mereka para pemuka suku itu disebutnya sebagai “Tumakaka” (kakak), ParEngE’ (yang menggendongnya), PalEmpang (yang memikulnya) ataupun Macoa (yang sulung), sementara dirinya yang mulia menyebut diri sebagai adik belaka.

Tatkala “Sang Adik” ini membutuhkan Istana Langkana sebagai kediamannya, kakaknya di Wotu yang membangunkan untuknya. Tatkala beliau meringkuk kedinginan di malam hari pada proses penabalannya sebagai “Pajung Luwu”, “kakaknya” Tomakaka Posi yang memeluknya.

Hingga ketika saatnya ujian penderitaannya sebagai “Orang Luwu” yang paling menderita di Tana Luwu itu berakhir, Maddika Sangalla’ yang memasangkan jubah kebesarannya sebagai pertanda kasih pada Pertuanan Se-Luwu yang bersahaja ini.

Lihat juga:  Demokrasi yang Merana: Terabaikannya Nilai-nilai Lokal dalam Pengembangan Demokrasi di Indonesia

Inilah Raja yang memiliki kebesaran jiwa. Tatkala beliau sebagai tokoh adat/budaya pertama yang memprakarsai pendirian organisasi “Kerukunan Keluarga Tomanurung” pada tanggal 27 Januari 2018 di Hotel Singgasana Makassar.

Namun justru nama Luwu dicantumkan pada deretan nomor 2 setelah Raja Gowa dihadapan Raja-Raja tamu dari luar Sulawesi Selatan. Padahal Raja Gowa baru resmi bergabung dengan organisasi ini beberapa hari menjelang acara pengukuhan.

Demikian pula dengan tokoh-tokoh adat Kedatuan Luwu sebagaimana Cenning Luwu dan Ana’ TelluE ditempatkan jauh pada deretan bawah, dibawah nama-nama bangsawan bekas kerajaan lainnya, utamanya kerajaan Gowa.

Hati segenap pengikut Kedatuan Luwu merasa sakit dan berang dengan perlakuan yang tidak menuruti etika normatif organisasi ini. Bahwa terlepas siapa yang lebih mulia diantara Luwu ataupun Gowa, namun bagaimana bisa Raja Gowa yang sebenarnya baru saja ikut bergabung, tiba-tiba ditempatkan urutan pertama sebagai pendiri diatas Datu Luwu yang memprakarsai sejak awal?

Namun dengan raut wajah tenang dan sabar, Opu TopapoataE Datu Luwu berkata, “Urutan bukanlah suatu hal yang penting. Namun yang paling penting adalah apa yang telah kita perbuat dan bagaimana caranya kita melakukannya, haruslah bermanfaat bagi semuanya, itulah kemuliaan dan kehormatan yang sesungguhnya”.

Bahwa Sejarah Kerajaan Luwu sampai hari ini menampakkan bahwa keikhlasan berbuat dengan sikap adil dan istiqomah, bukan dengan niat pencitraan semu, itulah kunci untuk bertahan pada panggung sejarah yang sesungguhnya.

Kerajaan Luwu ini didirikan dan dibesarkan memang bukan oleh kekasaran dan keberangasan atas nama keberanian penaklukan, melainkan dengan kehalusan adab pribudi saling memanusiakan.

Menutup uraian ini, dengan penuh takzim saya menghimbau kepada segenap To Luwu dan PassEajingeng Luwu yang mencintai Opu TopapoataE: Cintai dan kasihi Datu kita dengan pemuliaan adab kita.

Adanya Kedatuan yang kita junjung bersama adalah berkah dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap Luwu, hal yang semestinya kita syukuri dengan memandang perbedaan adalah berkah yang menyatukan kita semua. Kebesaran Luwu tak lain karena kesatuan dalam keberagaman kita.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response