Laporan: Etta Adil
Tulisan sebelumnya: Menikmati Sop Kaki Kambing di Kawasan Kuliner Sabang
PALONTARAQ.ID, JAKARTA – Tiga hari berada di Hotel Mercure Sabang (16-18 Desember 2019), dari Pukul 08.30 WIB sampai Pukul 17.00 WIB, menghabiskan waktu dengan Teman-teman NGO di Ruang Sabang 7 dalam suatu acara bertajuk EYW (Empower Youth for Work) Annual Meeting, mata penulis selalu tertuju pada potret lelaki berkopiah hitam bertuliskan Si Pitung pada salah satu sisi dinding ruang meeting itu.
Penulis punya memori kuat tentang sosoknya yang ‘laki banget’ dan beberapa kali difilmkan, yang pernah penulis nonton dan dikisahkan sebagai Jawara Betawi, Pembela rakyat kecil dan pejuang anti Belanda.
Benarkah Si Pitung pernah ada dalam Sejarah, dan tak hanya sekadar Legenda? Ada pula yang mengisahkan Si Pitung benar pernah ada, tetapi sebagai bandit, sebagaimana ditulis sejarawan Margreet van Till dalam Buku “Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api”.

Banyak yang menentang pelabelan Si Pitung sebagai ‘Bandit’. “Bandit itu kategori premanisme. Si Pitung, kumpi (moyang, red.) saya, berjuang membela Rakyat. Khususnya di Rawa Belong (kampung di Jakarta Barat, red.),” ujar seorang Tokoh Betawi, MH, saat Bedah Buku karya Margreet van Till itu di Universitas Indonesia (UI), 6 Februari 2019 lalu. MH sendiri mengaku sebagai keturunan generasi kelima Si Pitung.
MH tidak sendiri. Ada begitu banyak tokoh masyarakat Betawi yang meyakini kisah Kepahlawanan Si Pitung dan beberapa diantaranya menganggap punya hubungan kekerabatan dan perguruan silat. Kisah Si Pitung ini tak pernah berhenti diwariskan secara lisan, menjadi tradisi lisan yang melekat sebagai bagian dari Sejarah Betawi.
Narasi kepahlawanan yang menempatkan Si Pitung sebagai pembela petani dan buruh di Rawa Belong. Musuh Si Pitung adalah tuan tanah dan orang Belanda, dua kelompok yang kerap memeras dan menindas petani dan buruh.
Kisah Si Pitung diwariskan dalam aneka bentuk. Ada yang lewat Rancak, dan ada pula yang lewat Pertunjukan Drama Tradisional dengan iringan alat musik, syair, dan pantun. Dalam kajian akademis, pengetahuan demikian disebut Folklore (cerita rakyat).

Kajian sejarah memasukkan Folklore sebagai salah satu bentuk tradisi lisan dan mengakuinya sebagai salah satu sumber penulisan sejarah. Tetapi penggunaannya memerlukan sumber pembanding, semisal dokumen dan media massa sezaman. Begitu pula sebaliknya dengan penggunaan sumber tertulis.
Bagaimanakah sebenarnya sosok Si Pitung dan Kisah Kepahlawanannya? Ada begitu banyak versi tradisi lisan, kajian akademis, dan termasuk film tentang Kepahlawanan Si Pitung.

Sejarawan Margreet van Till dari Belanda sendiri juga terbuka mendialogkan ‘Si Pitung’ itu dalam berbagai versi cerita yang didapatkannya dari mukimin tua di Marunda, Jakarta Utara. Tak jauh dari Museum Si Pitung.
Karena sumber kisah Si Pitung dari Tradisi Lisan, dan itu diakui sebagai salah satu sumber sejarah, penulis merasakan gelora perjuangan menentang Belanda dari potretnya. Bukankah ada ungkapan yang mengatakan, “Setiap bandit adalah jago, tapi tidak setiap jago adalah bandit.”
Mari mencermati potret Si Pitung ini! (*)
(* Etta Adil, Jurnalis dan Penikmat Sejarah


