Oleh: M. Farid W Makkulau
PALONTARAQ.ID – TORAJA tidak hanya terkenal karena tempat wisatanya yang eksotik dan aroma kematian di setiap penyelenggaraan upacara adatnya.
Kekhasan Rumah Adat Tongkonan pada setiap sudut kota dan desa serta keterbukaan masyarakatnya juga menjadi nilai tambah mengapa Pariwisata Toraja tetap bertahan dengan kultur yang tetap terjaga.
Satu hal yang terkadang terlupakan wisatawan saat mengunjungi Toraja, yaitu kenyataan bahwa sebenarnya Toraja adalah penyedia kopi terbaik dan nikmat.
Sebagai kabupaten yang wilayahnya didominasi daerah pegunungan, dengan lokasi yang basah dan lembab, memang sangat cocok untuk pengembangan budidaya kopi dengan kualitas yang sangat prima.
Hal ini sudah diketahui sejak penjajahan Belanda ratusan tahun silam. Wilayah Toraja juga dikenal sebagai wilayah penghasil kopi dengan aroma wangi, dari dahulu sudah memikat selera para penikmat kopi berselera tinggi.


Itulah sebabnya, kunjungan penulis beberapa waktu lalu di Rantepao, Ibukota Kabupaten Toraja Utara tidak lengkap tanpa menikmati racikan Kopi Toraja, yang umum diakronimkan orang luar Toraja sebagai “Kotor”.
Lihat juga: Ngopi, Tradisi Orang Saleh
Penulis menyempatkan waktu sehari, khusus untuk merasakan cita-rasa ngopi di Toraja, di warung kopi terbaik dengan citarasa kopi terbaik. Tak sempurna rasanya kunjungan ke Toraja tanpa belum menikmati Kopi Arabica asli Toraja.
Di setiap kopi nikmat, ada beragam variabel yang membuatnya istimewa: lokasi, variasi, metode pengolahan, ketinggian, dan lainnya. Penulis memilih menikmati Kopi Arabica asli Toraja di Café Aras, berada di ruas jalan poros Pusat Kota Rantepao.
“Rasanya nendang dan aroma kopinya bertahan lama di mulut, pikiran dibawa berselancar ke bagian selatan Pulau Sulawesi yang didominasi dengan kontur dataran tinggi pada ketinggian lebih dari 1.200 mdpl,” ujar seorang travel blogger tentang kopi khas Toraja.


Kopi Arabica asli Toraja memang berasal dari pegunungan dengan jenis tanah endapan liat. Mungkin inilah salah satu keunggulan yang membuat kualitas Kopi Toraja unik dari segi karakteristik rasa dan aroma.
Sangat disayangkan, ternyata penulis mendapatkan informasi bahwa Kopi Toraja ini tidak ada yang mempatenkannya, dan justru Jepang sebagai penggemar Kopi Toraja yang mempatenkannya, lewat perusahaan bernama Key Coffe pada tahun 2005.
Di Jepang, Kopi Toraja dianggap komoditas mahal, sekitar 40 persen kopi yang beredar di Jepang adalah kopi Toraja.
Penikmat Kopi di Negeri Matahari Terbit tersebut harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk menikmati secangkir Kopi Toraja, sementara penulis di Café Aras, Rantepao hanya mengeluarkan Rp.50 ribu sudah mendapatkan suguhan kopi istimewa dengan latar budaya khas Toraja dalam Café.

Kopi Toraja umumnya menampilkan karakter rempah-rempah atau kacang-kacangan, seperti kayu manis, cardamom (sejenis jahe) dan sedikit lada hitam.
Rasa manis kopi terkait kekentalannya. After taste-nya menyelubungi langit-langit mulut di akhir minum kopi, halus dan lembut.
Blogger kenamaan Pangkep, Andi Hasbi yang penulis temani ngopi mengungkapkan bahwa Kopi yang dinikmatinya sesuai harganya. “Memang nikmat tawwa, sesuai harganya,” ungkapnya.
Demikianlah Kopi Toraja, telah penulis nikmati langsung dari tempat asalnya sendiri. Penulis tidak memperhatikan cara pengolahannya, karena yakin rasa nikmat itu memang berasal dari Kopinya, beraroma khas dengan tingkat keasaman yang rendah, halus, lembut, citarasa floral dan fruity.
Sensasi rasa kopi Toraja memang kuat, menembus lidah. Juga ada rasa kecut. Pahitnya muncul di ujung lidah tak lama setelah diteguk.
Penampilan kopinya tampak lebih bening setelah dituang ke dalam cangkir, mirip teh pekat. Itulah “Kotor”, Kopi Toraja, kopi yang pantas mendapatkan julukan “Queen of Coffee”. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Penikmat Kopi/Traveler



[…] Lihat pula: Menikmati “Kotor” di Rantepao dan Cerita Kopi Toraja di Jepang […]