Ramadan berlalu, Ketaatan menetap!

by Kontributor Palontaraq | Senin, Jun 10, 2019 | 71 views
Presiden Bill dan putrinya hadir di acara dialog antar agama kami di NYC (sometime ago).

Imam Shamsi Ali, suatu waktu saat bersama Presiden Bill Clinton dan putrinya hadir di acara dialog antar agama di New York City (foto: dok.pribadi imam shamsi ali)

Oleh: Imam Shamsi Ali, President Nusantara Foundation

PALONTARAQ.ID – Beberapa hari lalu Ramadan berlalu, seolah mengatakan: “goodbye, see you again” (Selamat tinggal, hingga jumpa lagi)!

Kita yang mengenalnya sebagai bulan kebaikan, datang dengan segala kebaikan, tentunya bersedih dan berat hati ditinggalkan. Berat hati untuk melambaikan tangan seraya berucap, “goodbye, hope to see you again”.

Tapi Itulah kenyataan. Berlalunya Ramadan sekaligus mengindikasikan bahwa segala sesuatunya pasti berlalu. Tiada yang tetap dan abadi. Bagusnya, sebagian yang berlalu itu masih ada harapan untuk kembali.

Ramadan salah satunya. Kali ini telah berlalu. Tapi masih ada harapan untuk kembali. Hanya sebuah harapan. Karena bukan kepastian. Jangan-jangan sebelum masanya kembali, dunia sementara ini telah berakhir abadi.

Lihat juga: Catatan Utteng (5)

Ramadan memang telah berlalu. Tapi semangat Ramadan menetap bersama kehidupan kita. Sebagaimana disebutkan oleh seorang ulama:

 

رمضان ليس شهرا فحسب بل أسلوب حياة وبداية التغيير. لا تدعوه….بل افسحوا المجال ليحيا معكم دوما..

عيد كريم، تقبلًالله منا اجمعين!

Ramadan bukan sekedar sebuah bulan. Melainkan gaya hidup dan sebuah awal dari transformasi hidup. Karenanya jangan tinggalkan. Tapi perluas ruangnya dalam hidupmu untuk bersamamu selamanya.

Dengan berlalunya bulan Ramadan, ada beberapa prinsip dasar Islam yang harus diingat oleh kita semua.

Pertama, Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya dalam melakukan (ibadah), dalam arti pengabdian atau aktifitas hidup secara umum Islam tidak mengenal “retirement” (masa pensiun).

Runyamnya lagi, dalam bahasa Arab kaya pensiun disebut “تقاعد”  (Taqaa’ada) yang jika diinggriskan bermakna: “in capable of doing anything” (ketidakmampuan dalam melakukan sesuatu).

Taqaa’ada juga bisa bermakna “terduduk”, yang bisa melahirkan konotasi negatif, seperti kelemahan, tiadanya kekuatan, dan juga kemalasan.

Lihat juga: Do’a Rasulullah SAW ketika berpisah dengan Ramadan

Untuk menghindari semua konotasi negatif itu, Al-Quran menekankan bahwa seorang Mukmin tidak pernah berhenti dalam aktifitas (amal). Jika selesai di sebuah aktifitas maka dia akan segera menuju kepada aktifitas lainnya. Dan semua itu menjadi bagian dari jalan menuju Tuhannya.

Itulah yang disimpulkan oleh ayat Al-Quran:

 

فإذا فرغت فانصب والي ربك فارغب.

 

Kedua, pengabdian kita kepada Allah itu seumur hidup. Tidak dibatasi oleh batas waktu dan ruang. Pengabdian berakhir di saat hidup itu telah berakhir.

Inilah yang ditegaskan oleh Al-Quran:

 

واعبد ربك حتي يأتيك القين

 

Artinya:
“Dan sembahlah Tuhanmu hingga keyakinan itu (kematian) tiba kepadamu”.

Lihat juga: Siapa yang Merugi di Bulan Ramadan?

Imam Hasan al-Basri pernah berkata, “Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah membatasi amal seorang Mukmin kecuali dengan kematiannya”.

Ketiga, keberhasilan sebuah ibadah itu tidak saja dilihat pada saat pelaksanaannya. Justeru indikasi keberhasilan sebuah ibadah akan terlihat pasca pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Satu contoh yang kongkrit dalam Al-Quran adalah sholat. Saya ambil penyebutan itu di dua tempat. Pertama, di surah Al-Mukminuun. Kedua, di surah Al-Maa’uun.

Al-Mu’minun menggambarkan kesuksesan Orang-orang sholat: قدافلح المؤمنون

Sementara di Al-Maa’uun Allah SWT mengancam Orang-orang yang sholat: فويل للمصلين

Poin yang saya ingin sampaikan adalah penggunaan kata “في” di Al-Mu’minuun dan “عن” di Al-Maa’uun. Apa bedanya?

Ternyata kata “fii” di Al-Mu’minuun menunjukkan bahwa kekhusyu’an yang dimaksud itu harus ada dalam sholat, ketika sholat dilaksanakan.

Sebaliknya kata “‘an” di Al-Maa’uun menunjukkan bahwa “kelalaian dari sholat” (saahuun” dimaksudnya tidak ketika sholat. Tapi melupakan apa yang pernah dilaksanakan (sholat).

Dengan demikian Shalat yang sukses itu adalah khusyu’ dalam pelaksanaan. Tapi juga tidak terlupakan “Makna-maknanya” dalam kehidupan ril manusia. Demikianlah juga seharusnya puasa.

Keberhasilan puasa dan amaliah lainnya di Bulan Ramadan, bukan saja dilihat pada Bulan Ramadan saja.  Tapi harusnya teridentifikasi setelah Ramadan berlalu. Apa dan bagaimana dampak puasa dalam kehidupan riil pelakunya?

Lihat juga: Tadabbur Al-Qur’an sebelum Berpisah dengan Ramadan

Keempat, Islam itu adalah agama yang selain memang sempurna, juga bersifat integratif (saling berkaitan). Ibadah ritual itu terkait, langsung atau tidak, dengan prilaku pelakunya.

Maka ibadah-ibadah semuanya dilihat kesuksesannya pada karakter moral pelakunya. “Sesungguhnya sholat itu mencegah kekejian dan kemungkaran”.

Mengenai puasa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan buruk dan perbuatannya maka tidak ada hajat bagi Allah untuk dia meninggalkan makan dan minum”.

Ibadah-ibadah ritual yang dilakukan tanpa kelanjutan moralitas dalam karakter melahirkan “double standard personality” (kepribadian mendua). Kepribadian seperti ini yang disebut dalam bahasa agama sebagai “nifaaq”.

Akhirnya, Semoga berakhirnya bulan bukanlah sebuah tanda berakhirnya pula ketaatan. Bulan datang dan pergi. Tapi ketaatan menetap sepanjang hayat masih dikandung badan. Semoga!

Imam Shamsi Ali, New York City, 10 Juni 2019

Like it? Share it!

Leave A Response