Tantangan Penulisan Sejarah Daerah Sulawesi Selatan

by Penulis Palontaraq | Selasa, Des 25, 2018 | 349 views
Ilustrasi-Perang Makassar (foto: KITLV)

Ilustrasi-Perang Makassar 1667 (foto: KITLV)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – SEJARAH sebagai  peristiwa masa lampau  menyangkut manusia dan kebudayaannya, perlu terus menerus dikaji, dipelajari dan diteliti. Sejarah disusun berdasarkan peninggalan (artefak), sumber lisan dan mengonfirmasikannya dengan tradisi tutur dari berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Menggeledah sejarah penting dilakukan, termasuk bidang kepenulisan sejarah daerah, selayaknya dilaksanakan atas kemauan pemerintah dan masyarakatnya untuk mendapatkan gambaran wajah daerah di masa lampau.

Tantangan Kepenulisan Sejarah Daerah

Upaya penulisan dan penyusunan sejarah perlu terus menerus dilakukan, walaupun pembahasan nampak sederhana, namun menjadi penting bagi perkembangan Sejarah di Sulawesi Selatan.

Pengungkapan sejarah dapat dimulai dari pengumpulan sumber-sumber sejarah yang layak dipercaya,  bisa berupa berupa dokumen tertulis, prasasti, manuskrip, sumber tutur seperti lontara’ dan lain sebagainya. Juga dapat diungkap keterangan dari para pelaku sejarah (sumber lisan). Terhadap sejarah yang pelakunya masih bisa ditemui, penggunaan sumber lisan dirasa cukup menunjang.

Melalui wawancara intensif, sumber sejarah yang mula-mula diperoleh, dapat diangkat menjadi fakta sejarah. Pengumpulan sebanyak mungkin informasi, kemudian melakukan komparasi (perbandingan) dan kombinasi (penyesuaian) terhadap fakta sejarah yang ditemukan.

Fakta-fakta sejarah yang terkumpul, diklasifikasi atau digolongkan, misalnya menurut periode waktu tertentu di daerah dan atau kelompok tertentu. Ada pula fakta sejarah, yang oleh berbagai pertimbangan, apalagi bila disesuaikan dengan tujuan penulisan, kurang serasi, terpaksa disisihkan.

Penyisihan suatu fakta, selama tidak merusak obyektifitas, merupakan tuntutan sejarah pragmatis. Harus diakui bahwa fakta sejarah, sesuatu yang jumud, tidak dinamis. Suatu informasi sejarah dapat menjadi bias dan mengalami kebohongan karena ketidak-sanggupan memahami maksud yang sebenarnya serta adanya asumsi yang tidak beralasan terhadap kebenaran suatu hal.

Sebuah informasi sejarah dapat mengalami kebohongan, antara lain karena:

(1) Keterlibatan pendapat/argumentasi yang berlebih-lebihan sehingga menutup analisis tajam terhadap sumber sejarah.

(2) Sikap dan pemikiran yang terlalu percaya kepada sumber yang menukilkan (menuliskan ulang) peristiwa dan informasi sejarah tersebut. Tidak paham maksud sebenarnya serta adanya asumsi yang tidak beralasan.

(3) Ketidak-tahuan tentang realitas kondisi dan situasi akibat masuknya ambisi dan distorsi artifisial, kemungkinan penulisnya berupaya mengambil hati sumber  yang berpredikat besar dan berkedudukan tinggi dengan jalan memuji-muji, menyiarkan kemasyhuran, dan membuat penafsiran yang selalu menguntungkan semua tindakan mereka.

(4) Ketidak-tahuan penulis tentang watak berbagai kondisi yang muncul dalam peradaban sehingga menyimpan dari fakta sejarah.

(5) Kondisi psikologis dan sosiologis penulisnya hingga membuat ulasan yang meragukan, khususnya kepenulisan sejarah yang berhubungan dengan masalah agama dan kepercayaan.

Diakui bahwa sejarah selalu dipertanyakan obyektifitasnya, sehingga perlu berhati-hati dalam membicarakan sejarah. Sejarah juga tidak pernah statis. Justru itu perlu pengumpulan fakta sebanyak-banyaknya.

Masa lampau penting karena pencipta sejarah adalah manusia. Sebab  sejarah baru bisa terjadi kalau dimasuki manusia. Keunikan manusia, reaksi kehidupannya untuk merubah dunia. Sebagai peristiwa yang banyak menggambarkan tentang perilaku sosial dan budaya di masa lampau.

Sejarah juga memberikan kearifan kepada manusia untuk melangkah dengan penuh kepercayaan diri pada kehidupan masa kini. Dengan bekal yang sama, penulisan Sejarah Sulawesi Selatan dapat dibenahi dengan baik dan benar dengan rekonstruksi perjalanan sejarah dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Penulis di Barru (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla, Tanete Riaja, Kab. Barru, Sulsel (foto: ist/palontaraq)

Masa Gelap dalam Sejarah Daerah Sulawesi Selatan

Mas’ud (1977) mengakui, masa antara Abad I-X merupakan masa gelap bagi Sejarah Sulawesi Selatan. Kondisi yang ada di Sulawesi Selatan pada masa tersebut hingga kini belum terungkap sama sekali.

Hal ini jika dibandingkan dengan daerah lain, maka terasa terdapat banyak kekurangan sumber sejarah tentang Sulawesi Selatan.  Tidak seperti Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Sanjaya, dan lain sebagainya yang meninggalkan banyak peninggalan purbakala.

Mas’ud (1977) melihat sejumlah faktor yang menjadi sebab belum terungkapnya masa gelap tersebut :

(1) Pengaruh kebudayaan dan Agama Hindu yang masih sangat  kurang terungkap.

(2) Belum didapatkan suatu tradisi menulis terhadap suatu peristiwa sejarah diatas batu berupa batu tertulis dan prasasti.

(3) Belum terdapatnya sebuah kepingan batu atau poecahan batu dari sebuah bangunan dan patung yang dapat memberikan petunjuk tentang agama, hubungan dengan raja yang memerintah, serta tanda – tanda yang dapat dihubungkan dengan  kemungkinan adanya suatu kerajaan.

(4) Belum terungkapnya catatan atau Kronik Cina, India tentang Sulawesi Selatan, misalnya dalam naskah Ramayana dan Mahabharata, serta catatan dari pelayaran yang menyebut daerah ini pada masa lalu lintas perdagangan jaman Ptolemeus.

(5) Belum adanya usaha positif dan maksimal dalam menyusun dan menginventarisasikan penemuan dan penulisan Orang-orang China tentang Sulawesi Selatan, secara kronologis di daerah ini.

(6) Belum terungkapnya cerita yang mungkin terdapat di dalam Babad Jawa, Babad Bali, Babad Sunda, dan Babad Sumatera, tentang hubungan daerah-daerah ini dengan Sulawesi Selatan pada  masa silam.

Minimnya Sumber dalam Penulisan Sejarah

Tak ada satupun penulis sejarah yang bisa melepaskan diri dari naskah kuna I La Galigo tatkala harus mengupas Sejarah dan Kebudayaan Sulawesi SelatanI La Galigo merupakan mahakarya sastra kuna terbesar, sejenis karya sastra lisan epik mitik yang diyakini lebih panjang dari kisah Mahabharata dan Ramayana di India, dituliskan sejak sekurang-kurangnya pada Abad XIV.

Begitu pula lontaraq, karya tulis generasi kedua yang diwarisi orang Bugis Makassar, banyak mengungkap tentang kronik dinasti/kerajaan yang pernah tumbuh dan jaya di semenanjung barat dan timur jazirah Sulawesi Selatan.

La Galigo sebagai sumber teks sejarah. (foto: kkss_nunukan)

La Galigo sebagai sumber teks sejarah. (foto: kkss_nunukan)

Sumber-sumber teks sejarah yang dihasilkan dari tangan sejarawan asing ternyata jauh melampaui  daripada apa yang kita ketahui tentang diri kita sendiri, “Manusia Bugis Makassar dan Kebudayaannya”.

Memang kita patut ‘berduka’ karena  ternyata warisan orang Bugis Makassar berupa mahakarya sastra La Galigo dan Lontaraq  ternyata lebih menarik perhatian orang luar dibandingkan dari bangsa kita sendiri. Disisi lain, penulis dan peneliti sejarah memiliki keterbatasan dalam mengakses dan membaca teks masa lampau, khususnya Lontaraq dan Galigo.

Sumber sejarah Kerajaan Siang, salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan yang berasal dari sumber lokal teks sejarah (Lontaraq Patturioloang) misalnya sudah sukar ditemukan, sedang sumber sejarah  dan informasi lainnya juga sudah langka.

Almarhum Prof Dr A Zainal Abidin Farid, budayawan dan mantan Rektor Universitas ’45 Makassar, pernah berupaya menyusuri jejak Sejarah Kerajaan Siang. Sayang, beliau gagal memperoleh informasi lebih rinci dan menyeluruh karena kurangnya bahan-bahan tertulis ataupun peninggalan sejarah yang berhubungan dengan kelahiran, pertumbuhan dan kejatuhan Siang.

Salah satu Lontaraq Siang pernah dimiliki oleh (Alm) Andi Burhanuddin, karaeng dan residen di Pangkajene pada masanya, tetapi sungguh disayangkan sebab lontara’ itu dipinjamkan kepada Mr. Cia Kok Cia dan tidak dikembalikan sampai beliau mangkat.

Literatur atau sumber tertulis paling berharga yang banyak dicari-cari penulis sejarah, sejarawan lokal, dan pemerhati budaya adalah Tulisan-tulisan BF Matthes. Benyamin Frederich Matthes adalah seorang sejarawan dan budayawan yang pernah menetap lama di Makassar sejak zaman VOC mulai menapakkan cenkeraman kuku kekuasaannya di Makassar. Tulisan-tulisan Matthes selama di Makassar inilah yang banyak dicari-cari orang sebagai salah satu sumber sejarah dan budaya yang paling berharga.

Penulis sejarah, budayawan dan sastrawan lainnya yang perlu kita kenal adalah Colliq PujiE Arung Pancana Toa, tokoh yang berhasil mengumpulkan, menyusun dan menyalin naskah kuno I La Galigo sebanyak 12 jilid, tebalnya mencapai 2851 halaman, itupun baru sepertiga dari seluruh cerita yang seharusnya ada.

Colliq PujiE juga dikenal sebagai sosok pembaharu dalam aksara Bugis. Beliaulah yang menambahkan tanda bunyi ngka’, mpa’, ntja serta nra’ pada aksara lontara sehingga keseluruhannya menjadi 24 aksara. Aksara itu kemudian dikenal dengan Uki Ugi’ yang masih dipakai hingga kini (Marzuki, 1995: 39)

Colliq PujiE bertemu BF. Matthes pada tahun 1852.  Salinan Naskah kuna I La Galigo karya Colliq PujiE sebanyak 300.000 bait inilah yang dibawa B.F. Matthes kembali ke negerinya dan sampai sekarang tersimpan rapi di Perpustakaan Leiden, Belanda.

Saat ini kita patut berbangga karena beberapa bagian dari naskah kuna I La Galigo yang terpendam di Perpustakaan Leiden Belanda tersebut sudah diterjemahkan dan dibukukan. Buku I La Galigo-II (Jilid II) diterbitkan Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (LEPHAS)  setelah sebelumnya R. A. Kern berhasil menyusun buku I La Galigo-I (Jilid I) yang diterbitkan oleh Gajah Mada University Press (UGM Press).

Sejarawan dan Penulis lainnya adalah Dr. Christian Pelras dan Dr. Leonard Y Andaya. Pelras banyak menulis Sejarah Sulawesi Selatan dari abad XVI dan XVII. Tulisan Pelras yang menyinggung tentang Kerajaan Siang berdasarkan sumber-sumber barat, termasuk informasi Antonio de Payva dan Manuel Pinto banyak dijadikan rujukan oleh penulis barat dan penulis sejarah lokal lainnya dalam konteks  Kesejarahan Sulawesi  Selatan .

Sejarawan Leonard Y Andaya, penulis buku, “The Heritage of Arung Palakka – A History of South Sulawesi (Celebes) in The Seventeenth Century” banyak memberikan gambaran obyektif tentang Sejarah Sulawesi Selatan pada Abad XVII.

Andaya melakukan penelusuran sumber sejarah berupa bahan tertulis, arsip kompeni dan manuskrip lama (naskah lontara’) serta tinggal beberapa lama di Makassar, berguru pada beberapa ahli lontara’, sejarawan dan pakar Budaya Sulawesi Selatan.

Sebagai catatan awal dari tulisan ini, demikianlah tantangan kepenulisan sejarah Daerah Sulawesi Selatan.

Semoga bermanfaat adanya. (*)

 

(*   M. Farid W Makkulau, pemerhati dan penulis Sejarah Sulawesi Selatan. Penulis dapat dihubungi via email: palontaraq@gmail.com atau penulissulsel@gmail.com

Like it? Share it!

Leave A Response