Tana Luwu, Negeri terbit Fajar Peradaban I La Galigo dan Islam

by Kontributor Palontaraq | Sabtu, Mar 16, 2019 | 169 views
Sureq Galigo. (foto: ist)

Sureq Galigo. (foto: ist)

 

Oleh:  La Oddang Tosessungriu, Opu Matoa Cenrana Kedatuan Luwu

Related Post:  La Galigo, Sutranya Sastra

PALONTARAQ.ID – INILAH  sekilas geliat hidup mereka, para Anak Bangsa ini yang kupersebutkan baginya, jika sekiranya sebutan “bangsawan” terkesan menjauhkan dirinya dari ridha Tuhannya.

Kututurkan dengan santun, baginya yang mencintai Allah SWT, melebihi atas segala atribut duniawi, tempatnya menjejak sejarah.

Baginya yang senantiasa merindu Rasululullah SAW, dengan segenap rasa dalam sukmanya. Baginya yang bangga terhadap agamanya, risalah pusaka para Nabi dan diwasiatkan para anbiyaa’, mustika yang dilekatkannya bersanding dengan jiwanya, hingga takdir Allah SWT memanggil menghadap keharibaan-Nya.

Baginya pula yang menebarkan kedamaian sebagai amanah Rohmatan lil Alamien, yang didalamnya adalah segenap cucu Nabi Adam alaihissalam dan segenap ciptaan Allah SWT yang wajib dipelihara kemaslahatannya.

Ini bukanlah suatu penuturan tentang ilmu sejarah, hingga tidak banyak angka tahun yang disematkan diantaranya. Namun sesungguhnya ini adalah penuturan tentang catatan-catatan lama yang bersinar, sehingga lembaran permukaan sejarah terang benderang oleh kilau cahayanya.

Semogalah kiranya, dengan penuturan sekilas ini, sudilah kiranya menggugah rasa dan terima kasih kepada mereka yang meletakkan obor sepanjang perjalanan waktu, dimana langkah kita menapakinya pada jalan-jalan yang kita lewati hari ini.

Syahdan, Pulau Sulawesi yang bentuknya menyerupai bunga anggrek itu mendapat curahan taufiq dan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dengan limpahan nurul Islam, melalui syiar yang dirintis oleh ketiga Muballig dari Minangkabau.

Berbeda halnya dengan di Pulau Jawa yang terlebih dahulu mendapat curahan hidayah itu, risalah Nabi SAW lebih cepat tersebar di negeri pelaut perkasa ini.

Kalaulah di Jawa, risalah Islam awalnya diperkenalkan kepada kawula negerinya yang kemudian secara bertahap menebar, hingga akhirnya diterima pula oleh Raja-Rajanya.

Pada beberapa negeri di Jawa, turunan para Muballig itu haruslah memegang tampuk kekuasaan terlebih dahulu, barulah Islam dapat diterima oleh kaum penguasa pribuminya.

Namun sebaliknya di Sulawesi Selatan, Islam mulai diperkenalkan kepada Raja-Rajanya yang kemudian menerimanya, hingga kemudian diikuti oleh rakyatnya.

Telah kubaca dan kusimak perihal kehidupan para tokoh sejarah yang datang dan pergi keluar Sulawesi Selatan dari masa ke masa, kiranya tidak ada yang lebih berjasa daripada ketiga Mujahid Islam dari Tanah Melayu terhadap negeri ini.

Berbekal niat “Jihad fii Sabilillah” serta keutamaan ahlaq tawadlu yang melekat dalam sanubarinya, mereka merambah Pulau Sulawesi bagian selatan dan barat yang kacau balau itu dengan satu tujuan, yakni: Syiar Islam.

Berkat perjuangan mereka yang tidak mengharap pamrih itulah sehingga pada hari ini kita semua dapat merasakan nilmat Islam. Hanya Allah semata yang dapat membalas jasa besar itu dengan pahala yang layak baginya, Amin.

Tulisan ini saya uraikan sebagaimana dapatnya untuk memenuhi titah Pertuanan dan Junjunganku terkasih, Opu TopapoataE H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau’ Datu Luwu XL sebagai wujud pengabdian yang tak bertepi, beserta cinta yang tak terhingga kepada Tana Luwu.

Bahwa Luwu adalah suatu kerajaan yang menghimpun rakyatnya menjadi suatu bangsa besar. Kerajaan ini adalah satu dari sedikit bangsa di dunia yang memiliki kemampuan peradabannya sendiri yakni Peradaban I La Galigo.

Inilah suatu karya sastra kepahlawanan yang oleh Kern (1992) dinyatakannya sebagai sejarah purba suku Bugis yang berawal dari Luwu, menyebar hingga mendirikan kerajaan-kerajaan di bagian selatan Tana Luwu.

Berdasarkan I La Galigo ini sehingga mereka mengetahui dan meyakini jejak leluhurnya di Luwu sehingga senantiasa memandang kerajaan itu sebagai asal muasal leluhur dan menjadi patron kemuliaan dari segala sisi.

Lihat juga: National Treasure, Ekspedisi Wilkes dan La Galigo

Antara lain, hingga pertengahan abad XIX,  Kerajaan Tanete dan Soppeng mendasari kandidat Datu-nya dari kadar darah turunan Datu/Pajung Luwu yang mengalir dalam diri calon Datu itu.

Maka siapapun yang terpilih menjadi Datu Soppeng ataupun Datu Tanete, dapat dipastikan jika ialah yang paling kental darah turunan Luwu-nya.

Berkat pengaruh peradaban I La Galigo sehingga legitimasi kemurnian darah kebangsawanan di kerajaan-kerajaan Bugis dihitung dari persentase darah raja-raja Luwu yang mengalir dalam diri person itu.

Itulah sebabnya sehingga alur silsilah raja-raja Bugis, terlebih pada kerajaan Luwu, tidak didapati silsilah dari kerajaan dari luar Sulawesi, sebagaimana trah dari Sriwijaya, Majapahit ataupun bahkan Sayyid dari Arabiyah, seperti halnya di Tanah Melayu dan Jawa.

Karena sedemikian kuatnya pengaruh peradaban I La Galigo yang diyakini oleh masyarakat Luwu dan kerajaan-kerajaan Bugis sehingga menyerupai suatu agama.

Sementara itu,  Agama Katolik sudah merambah pesisir barat Sulawesi Selatan sehingga dapat membaptis Datu Suppa, Addatuang Sawitto, Arung Alitta, Arung Bacukiki dan KaraEng Siang.

Namun upaya misionaris itu berhenti, hal mana salahsatu sebabnya adalah terbentur dengan peradaban I La Galigo yang telah mengakar sedemikian kuatnya ditengah masyarakat.

Dapatlah dibayangkan, betapa berat perjuangan para muballig untuk menanamkan syiar risalah Islam pada negeri yang berperadaban asli ini.

Dalam tahun 1593 Masehi, bertepatan dengan tahun 1013 Hijriah, tibalah 3 orang Muballiq di Negeri Bua, salahsatu dari ketiga anak negeri utama Kerajaan Luwu yang disebut “Ana’ TelluE”. Para Mujahid itu masing-masing bernama:

1. Khatib Sulaiman, bergelar Dato’ Pattimang (Khatib Sulung);

2. Abdul Makmur Khatib Tunggal, bergelar Dato’ ri Bandang;

3. Abdul Jawad Khatib Bungsu, bergelar Dato’ ri Tiro

Mereka adalah orang Minangkabau yang datang dari Kerajaan Johor dan sebelumnya tinggal beberapa waktu di Makassar.

Suatu sumber menyatakan bahwa Khatib Sulaiman Dato’ Pattimang sesungguhnya adalah peranakan Luwu-Minangkabau. Ayahnya adalah seorang Luwu yang merantau ke pulau Sumatera dan ibunya adalah seorang dari rumpun keluarga terkemuka di Minangkabau.

Mengingat perhubungannya dengan Kesultanan Aceh, diduga bahwa beliau mestilah memiliki perhubungan erat dengan seorang Luwu perantauan bernama Daeng Mansyur, yakni ayah mertua Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636).

Bahwa putri Daeng Mansyur bernama Putri Sendi adalah permaisuri pertama Sultan Aceh tersebut. Dari pernikahan itu, terlahirlah Sultana Tajul Alam Syafiatuddin Syah Cut Maharani Aceh (1641 – 1675).

Olehnya itu, dapatlah dipahami jika Dato’ Pattimang sedemikian fasihnya berbahasa Luwu To Ware’, terbukti dari tulisan risalahnya yang bertajuk Aqidah Islam, dinamai sebagai “Lamatoa” di Bua.

Sumber lainnya pula menyebut jika ketiga Muballiq ini adalah murid-murid Sunan Bonan, yakni salahseorang Walisongo di Pulau Jawa, dimana sebelumnya telah menuntut ilmu pula di Makkah Al Muqorramah.

Kedatangan mereka di Bua adalah dengan berbekal rekomendasi dari penguasa kerajaan Makassar (Gowa-Tallo), yakni : I Mangngurangi Daeng Mangrabia Somba Gowa.

Raja Gowa muda belia yang senantiasa didampingi oleh mangkubuminya, yakni KaraEng Matoaya (Karaeng Tallo’) tatkala menerima ketiga muballigh yang menghadapkan surat rekomendasi dan penghaturan salam dari Sultan Johor, menyarankan bahwa misi mereka sebaiknya dimulai pada Kerajaan Luwu.

Mengingat bahwa kerajaan tersebut dipandang sebagai negeri paling mulia dan tertua diantara kerajaan lainnya di jazirah Sulawesi.

Lihat juga: Nurhayati Rahman, Membawa Pulang La Galigo ke Negeri Asalnya

Atas rekomendasi yang dibawanya dari Raja Gowa, ketiganya berlayar menelusuri pesisir barat Sulawesi Selatan menuju pesisir timur hingga mendarat di Pandoso’, yakni muara Sungai Pa’baresseng dalam wilayah Bua.

Dengan diantar seorang nelayan bernama La Tiwajo, ketiganya menghadap Maddika Bua Tandipau Opunna Ware’ beserta perangkat hadatnya.

Mengetahui jika ada 3 orang asing yang hendak menghadapnya, seketika itu Maddika Bua teringat mimpinya yang aneh beberapa malam sebelumnya.

Dalam mimpinya itu, beliau melihat ada 3 matahari yang bersinar gemilang menyinari daerah Bua. Maka timbullah ilham dalam pemikirannya, bahwa kedatangan ketiga orang dari jauh ini pastilah berhubungan dengan petunjuk dalam mimpinya tersebut.

Maka diterimalah mereka dengan sebaik-baiknya dengan sambutan jamuan sebagai laiknya tamu kehormatan dari jauh.

Mereka berhadapan langsung dengan Maddika Bua beserta perangkat adat Bua, yaitu: Pabbicara Bua, AnrEguru To MaggawE, Pabunture, Opu Tomalompo, Ampu LEmbang Tomaroa, Tomakaka Posi, Baju-Baju Seppulo Dua dan juga cendekiawan Bua bernama Langkai Buku-Buku.

Melalui Langkai Buku-Buku sebagai juru pembuka bicara, ditanyalah ketiga Muballiq itu mengenai maksud kedatangannya. Maka dijawablah oleh Khatib Sulaiman Dato Sulung bahwa mereka hendak menyampaikan risalah kebenaran sejati bernama Dinul Islam, yakni suatu jalan yang menjamin keselamatan dunia dan akhirat.

Maka terjadilah dialoq panjang yang disertai dengan debat paham (mappasilolongeng Pahang) dan adu pertunjukan kesaktian. Ini merupakan suatu prosesi ujian yang dalam tradisi Luwu dinamai sebagai “Singkarume’”.

Suatu adu kesaktian dan diskusi kebatinan yang dilaksanakan dengan tata cara “makkiade’” (bertata krama) sehingga berlangsung dalam suasana yang baik dan santun antar kedua belah pihak.

Atas izin Allah, ketiga Muballiq itu berhasil lulus dari ujian satu demi satu hadat dan cendekiawan Maddika Bua. Bahwa hal yang perlu dikemukakan disini, bahwa kedua belah pihak yang mengadakan Singkarume’ tidak ada yang dinyatakan menang ataupun kalah.

Tujuan mengadakan prosesi ini adalah tak lain mempertemukan kebenaran dari sisi kesamaannya, sehingga kebenaran suatu sisi dapat dirasakan dengan jujur dari nurani setulus-tulusnya.

Pada akhirnya, Maddika Bua Tandipau Opunna Ware dan segenap hadatnya menyatakan kebenaran Islam dengan bersyahadat melalui bimbingan Khatib Sulaiman. Kedua muballiq lainnya menyerukan takbir “Allahu Akbar!”

Peristiwa itu diabadikan dalam Lontara Bua, yakni bertarikh Senin, 12 Rabiulawwal 1013 Hijriah, bertepatan dengan Milad Baginda Nabi Shollahu Alaihi Wassalam.

“Kita harus segera menyampaikan ajaran selamat ini kepada Baginda PajungngE..”, kata Maddika Bua. Karena sesungguhnya adat yang berlaku di Luwu sesuai nilai peradaban I La Galigo, adalah: “Sitang dEcEng, Tessitang jaa’” (saling menunjukkan kebenaran, tanpa saling menunjukkan keburukan). Maka sesungguhnya inilah yang diharap ketiga mujahid itu.

Pada tanggal 12 Ramadhan 1013 H, dengan menggunakan perahu yang dinamai “Kimara”, Tandipau Opunna Ware’ Maddika Bua bersama ketiga Penyiar Islam itu bertolak ke MalangkE’, kotaraja Kerajaan Luwu.

Disanalah Opu Topapoatanna PapoataE PajungngE La Patiware’ Sangaji Daeng Parabbung Datu Luwu bersemayam. Setelah merapat di pelabuhan MalangkE, mereka langsung menuju ke Istana. Dihadapan Baginda PajungngE, menghaturkan sembah baktinya kepada junjungan Negeri Luwu itu.

” Aga karEbatu mai, Maddika ?” (Bagaimana khabar anda, Maddika ?), sapa Sang PajungngE.

“Usompai PajungngE, karEba makessing mua ipangolo ri cappa’ ajEna datuE..”

Artinya:  Sembah bakti kepada PajunggE, khabar baik jua yang patik haturkan di ujung kaki paduka,”-   jawab Maddika Bua dengan sepenuh takzimnya.

Kemudian Maddika Bua memperhadapkan maksud serta tujuan para Muballiq yang ditemaninya itu, yakni menyampaikan risalah Islam yang ajarkan oleh Rasulullah SAW.

Mendengar ajakan itu, PajungngE tertarik hingga melalui Patunru’ Luwu mempersilahkan ketiga Muballigh untuk menjelaskan maksud kedatangannya.

Maka bertuturlah Khatib Sulaiman mewakili kedua temannya, menjelaskan seluk beluk agama Islam dengan penuh rendah hati dihadapan matahari tunggal  Tana Luwu ini.

Melihat tindak tanduk Khatib Sulaiman yang santun namun sewajarnya, PajungngE semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak mengenai agama ini.

Olehnya itu, Sribaginda memerintahkan agar diadakan “Singkarume’ “ dihadapannya, sebagaimana sebelumnya diadakan di Bua. Namun kali ini, baginda menghendaki agar Maddika Bua sendiri yang menjadi penguji dipihaknya.

Maka dilaksanakanlah tatacara itu dengan sungguh-sungguh.

Dihadapan ketiga Muballiq, Maddika Bua mengajukan pertanyaan-pertanyaannya.

“Dari mana anda sekalian berasal?”

“Kami berasal dari Minangkabau dan bermukim di Kerajaan Johor”, jawab Khatib Sulung.

“Apakah maksud kedatangan anda?”

“Kami datang dengan maksud mengembangkan agama Allah SWT yang telah disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.”

“Apakah saudara tidak mengetahui bahwa di Luwu ada kayu yang sangat kuat dari pada yang kuat, direndam air takkan lapuk, tidak termakan rayap, bahkan jika dibakarpun tak akan terbakar? Kayu itu bernama Aju Tabu'”, – ujar MaddikaE menimpali pertanyaannya seraya mendeklamasikan syair Lontara, sebagai berikut:

Aju tabu’ tekkE tabu’

Tuo ri tengnga tasi’

TekkE wajo-wajo.

Artinya:

Kayu lapuk namun tidaklah lapuk

Tumbuhnya ditengah laut

Tanpa bayangan adanya.

Ketiga Muballiq berpikir sejenak, lalu bertanya: “Bagaimana warna kayu tersebut?”
“Warna kayu itu tidak dapat dinyatakan karena bahkan justru bayangannya pun tidak diketahui pula”, jawab MaddikaE.

Maka menjawablah Khatib Sulung seraya mengucap: “Al Qawtu Kulluhuw Dulumaat'”, segala sesuatu itu hanyalah bayangan belaka”.

PajungngE mengangguk-angguk membenarkan dengan takjub. Sebagaimana diketahui bahwa pada syair I Lagaligo ada dijelaskan perihal “kayu” ketika We Tenri Abeng I LaloElona Batari Bissu ri Langi WalinonoE Daeng Manuttek berkata kepada saudara kembarnya (Sawerigading), bahwa:

Engka aju tuo ri Mangkutu

Aju bEtao bettawengngE
Napolangkana ula minrEli
Nabuai sawa SinEppe lE balipenna
NassarangiE lE manu’-manu’ tessirupaE.

Artinya:

Ada pohon kayu yang tumbuh di Mangkutu
Yakni kayu bEtao yang tumbuh tunggal
Kediaman agung Sang Ular MinrEli
Serta tempat bersarangnya Ular Phyton dan tak terhitung kelabang
Tempat bersarang berbagai macam jenis burung.

Lafaldz “Alkawtu” yang diucapkan Khatib Sulung terdengar mirip dengan kata “Mangkutu” dalam syair I Lagaligo.

Kemudian pengertian kalimat Arab itu persis pula yang dimaksud dengan pertanyaan Maddika Bua.

Kayu “Tabu'” yang dimaknai sebagai kayu yang sangat keras itu sesungguhnya adalah “ADAT”.

Suatu norma aturan yang dibuat oleh manusia, namun sesungguhnya hanyalah merupakan “bayangan” belaka.

Tak lain dari suatu karya Budaya adanya. Sesuatu yang Non-Permanen serta tidak memiliki eksistensi kemandirian.

Hakikatnya, hanya Allah Azza Wajalla yang NYATA dan Abadi keberadaan-Nya. Demikian pula dengan konsep pengertian MaddikaE dan PajungngE tentang keberadaan segala sesuatu selain  Dewata SeuwwaE, Tuhan yang Maha Tunggal. ” Iya MakkEloo, Iyato PaullE..”

Artinya: “Dia yang Menginginkan, Dia pula yang memiliki Kekuatan..”, sama persis dengan “Laa hawlaa wa laa Quwwata Illa Billah..” dalam konsep Islam.

Hingga kemudian Maddika Bua melanjukkan pertanyaannya dengan syair selanjutnya:

Makkutanawa’ lE, Topanrita
Aga mulanna mancaji AlEpu’?”

Artinya:
Saya bertanya, wahai Alim Ulama
Apakah permulaan terciptanya alif itu?

Menjawablah Khatib Sulaiman:

“Monro ri Langi’i na “Nun”
Monro ri Tanai na “Ba”.

Artinya:
Tatkala di langit ia dinamai “Nun”
Ketika di bumi disebut “Ba”

Selanjutnya Tomakaka Posi melancarkan pertanyaan pula dengan lantunan syair berbahasa TaE’ Luwu,

Bangnga’na upEnawai tasi’ taE’ randanna
DEnni randanna tobang tamatangngana.

Artinya:
Sungguh aku tertegun memikirkan lautan yang tak bertepi
Sekali bertepi justru jatuh ditengah samudera.

Khatib Sulaiman menimpalinya dengan Ilmu Tauhid namun dengan tetap suara rendah. Perihal lautan dalam bahasan tentang ke-Tuhan-an, itulah yang dimaksud Sunnah Nabi.

Bahwa Nabi Shollalahu Alaihi Wasallama bersabda, “Kalau sudah tenggelam di lautan bagi para pencari, maka tiada lagi perhatian selain lautan itu sendiri (Allah)”.

Itulah yang dimaksud sebagai istiqomah, yakni segala panca indera tak lain adalah pemberian Allah semata. Tiada lain yang menjadi Pemilik Sesungguhnya, kecuali Allah SWT.

Selanjutnya para Hadat yang hadir silih berganti mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab ketiga muballiq dengan amat memuaskan, disaksikan dan disimak sepenuhnya oleh Sang Pajung sendiri.

Hal menarik yang kembali dikemukakan disini, bahwa ketiga Muballiq dari Tanah Melayu itu tidak sekalipun “mengeritik” atau berusaha menumbangkan nilai kepercayaan orang-orang Luwu yang didelegasikan kepada Maddika Bua.

Bahwa I La Galigo yang merupakan suatu kepercayaan yang bagi masyarakat Luwu dan kerajaan-kerajaan Bugis disekelilingnya justru diyakini sebagai suatu agama. Lebih dari itu, I La Galigo adalah leluhurnya sendiri sehingga teramat peka untuk dicela, apalagi jika dihujat.

Demikian pula halnya dengan Maddika Bua dan PajungngE sendiri. Sikap santun ketiga tamunya itu dapat dimakluminya dengan menganalisa secara jujur perihal nilai-nilai persamaan yang justru diakuinya pula sebagai sesuatu yang mutlak kebenarannya.

Mereka dapat melihat sendiri “celah” pada kepercayaannya sendiri tanpa ditunjukkan oleh ketiga Muballiq itu. Kehalusan makna tenggang rasa terurai dengan halusnya tanpa tanda kutip.

Setelah dialog dirasa sudah cukup, Maddika Bua meminta 10 butir telur pada “pattumaling” (Kepala Protokoler Istana) atas perkenan PajungngE.

Telur-telur itu disusun, bertumpuk satu demi satu tanpa sebutir pun yang jatuh. Kemudian dipersilahkanlah kepada ketiga Muballiq itu untuk mengimbangi kemampuan itu.

Khatib Sulung menghampiri susunan telur itu, lalu membaca “Bismillaahirrohmanirrohiim..” seraya mengambil sebutir telur yang paling dibawah susunan itu.

Atas izin dan kuasa Allah, 9 telur yang lainnya masih tersusun dalam keadaan melayang, tanpa menyentuh lantai karena sebutir telur yang menjadi tumpuannya telah diambil (dicabut) oleh Khatib Sulung.

Kemudian bergantianlah kedua Khatib lainnya mengambil telur-telur itu mulai dari susunan paling bawah tanpa memecahkan sebutirpun diantaranya.

Maddika Bua meminta pula sebuah Balubu (guci) yang penuh terisi air. Balubu itu diangkatnya lalu dibaliknya hingga mulut balubu itu menghadap kebawah. Namun air didalamnya tidak setetespun yang tumpah ke lantai. Lalu dipersilahkan pulalah kepada ketiga Muballiq itu untuk melakukan hal yang sama.

Dengan mengucapkan Basmalah, salah seorang Khatib memukul pecah balubu yang terbuat dari keramik itu. Namun air yang didalam Balubu yang pecah berkeping-keping itu tidak tumpah, tetap membulat sebagaimana bentuk balubu yang pecah itu.

Akhirnya Maddika Bua menghaturkan sembah kepada PajungngE, “Demikian Singkarume yang hamba sekalian lakukan di Bua, Tuanku. Selanjutnya AtaE serahkan segala sesuatunya atas kebijaksanaan Puekku DatuE”.

Maka PajungngE membuka sebentuk cincin pusaka kerajaannya di jari manisnya seraya berkata kepada ketiga Dato’ dari Negeri Minangkabau itu. “Bawalah oleh kalian cincin ini ketengah laut, lalu buanglah. Jika kalian mampu mengembalikannya kepada kami, maka saya berjanji untuk memenuhi ajakan kalian untuk memeluk Agama Islam. Ampun beribu ampun, Tuanku. Hamba sekalian memohon waktu selama 3 hari. Semoga kiranya dalam waktu itu, Allah Yang Maha Kuasa mengembalikan cincin itu sebagaimana tuan inginkan,” kata Khatib Sulung.

Maka PajungngE setuju dengan syarat waktu itu. Dengan dikawal 9 orang pendayung suruhan PajungngE, ketiga Muballiq itu berkayuh ke tengah laut.

Setelah dirasa sudah cukup jauh dari garis pantai, dilemparnya cincin itu yang langsung tenggelam ke dasar lautan yang dalam. Kemudian mereka berkayuh kembali serta diterima dalam jamuan Istana Luwu yang megah itu.

Dua hari telah berlalu, seisi LangkanaE Luwu menunggu dengan harap-harap cemas. “Jangan-jangan cincin pusaka kerajaan benar-benar hilang ditelan lautan. Itu adalah pertanda buruk..!”, pikir mereka. Namun halnya dengan ketiga Khatib, mereka nampak tenang-tenang saja.

Segalanya telah dipasrahkan kepada Allah SWT dengan sikap Tawakkal sepenuhnya.

“Allahumma innii andzilu bika haajatiyy, wa’in do’fa ro’yii’, wa qollat hilatiyy, wa qoshuro amaliiyy, Waftaqortu ‘ilaa Raohmatika, Fa’ashaluwka yaa Qofiyal umuwriyy”.

Artinya:

Ya Allah, kuhaturkan hajatku sepenuhnya kepada-Mu, walau lemah akalku, walau lemah dayaku, walau sedikit amalku.. Namun kutetap berharap pada rahmat-Mu, duhai Tuhanku yang mencukupi segala keperluan”.

Hari ketiga telah tiba. Matahari pagi telah menebarkan jaring-jaring emasnya yang hangat. Seorang nelayan berjalan memasuki gerbang istana, seraya bermohon pada penjaga agar diperkenankan untuk melaksanakan “Makkasiwiang”.

Suatu tradisi pengabdian pada masyarakat Luwu yang membawa persembahan khusus kepada Raja yang dicintainya. Persembahan itu dapat berupa benda pusaka, hewan ternak, hasil kebun atau hasil tangkapan ikan.

Nelayan itu datang sambil menenteng seekor ikan besar yang dikailnya semalam. Ikan besar itu diambil oleh seorang abdi lalu membawanya ke dapur istana melalui tangga bagian belakang Istana.

Namun, salah seorang khatib yang sedang berada dibagian teras istana meminta agar ikan itu dibawa ke Balairung.

Dihadapan PajungngE dan Maddika Bua beserta para pejabat istana, Khatib Sulung meminta agar ikan besar itu dibelah perutnya. Atas perkenan PajungngE, salah seorang abdi membelahnya.

Maka nampaklah seberkas sinar yang bercahaya dalam usus ikan itu. Setelah diperiksa dan dibersihkan dengan seksama, nampaklah sebentuk cincin bertatahkan permata yang berkilauan, cincin pusaka Kerajaan Luwu yang dilemparkan ke laut pada 3 hari yang lalu.

Pada hari itu adalah moment yang sangat bersejarah pada Kerajaan Luwu dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Opu Topapoatanna PapoataE PajungngE La Patiware’ Sangaji Daeng Parabbung Datu Luwu XV mengikrarkan Dua Kalimah Syahadat, memeluk Agama Islam dengan sepenuh jiwa dan raganya.

Seketika itu pula, dimulai pada seisi istana hingga seluruh rakyat Kerajaan Luwu diperintahkan untuk turun ke sungai untuk berwudlu sebagaimana diajarkan ketiga Khatib, lalu bersama-sama mengucapkan Syahadatain.

Hari itu ditandai dalam lontara, yakni : Jum’at 15 Ramadhan 1013 Hijriah bertepatan pada tahun 1593 Masehi.

Setelah memeluk Agama Islam, Khatib Sulaiman menabalkan sebuah gelar baru kepada baginda PajungngE, yakni : Sultan Muhammad Waliyul Muthoharuddin. Gelar lainnya adalah “Pati Arase’” yang bermaknakan sebagai penjaga Arasy, Singgasana Allah.

Sebagian kalangan berpendapat bahwa gelar lainnya yakni “Daeng Parabbung” juga adalah suatu gelar Sribaginda pasca Islamnya yang bermaknakan : Pertuanan Yang Mengenalkan Tuhan (Rabb) kepada rakyatnya.

Adapun halnya dengan Tandipau Opunna Ware’ Maddika Bua, beliau dianugerahi pula gelar baru oleh PajungngE, yaitu : Tandi Pau Maddika Bua “Pong AssalengngE” Opunna Ware’ karena terlebih dahulu masuk Islam.

Namun karena dianggap mendahului Baginda PajungngE masuk Islam, Maddika Bua diberikan “Sangsi Kewajiban”, sebagai berikut :

1. Mengembangkan Agama Islam di wilayahnya;

2. Memberikan pelaporan kepada PajungngE pada setiap waktu memasuki bulan puasa.

Dinul Islam kini menjadi agama kerajaan, berkembang semakin pesat dalam bimbingan Dato’ Sulung Khatib Sulaiman yang merupakan gurunda Sribaginda PajungngE sendiri. Selain itu, beliau pula diangkat sebagai Puang Kali Luwu (Qadhi Kerajaan Luwu).

Hingga pada generasi kedua penguasa Islam di Luwu, seorang Patunru’ Luwu bernama Mustafa atas restu Opu Topapoatae La Sumange’rukka Patimpa’saung To Appanangnge Daeng Mangawing “Sultan Abdullah Muhyiddin” Petta Matinroe ri Malangke Datu/Pajung Luwu XVI, menetapkan suatu konstitusi yang menegaskan peran Ade’ sebagai Undang-Undang Bernegara dalam hubungannya dengan Sara’ (syariat Islam) sebagai azas hukum Pangadereng Luwu, sebagai berikut :

“Naripasanrena ade’e ri sara’e

Sarekkuammengngi nasitamang bicaranna

Naripattulekkeng sara’e ri ade’e

Sarekkuammengngi namatedde’ atudangenna”

Artinya:

Maka disandarkanlah adat pada syariat // Agar kiranya berkesesuaian maklumat hukumnya // Lalu bertelakanlah syariat pada adat // Agar kiranya kuatlah kedudukannya).

Statement inilah yang kemudian dipersingkat menjadi himbauan, yaitu :

“Pattuppui ri Ade’E, PasanrE’i ri Sara’E”

Artinya:

Tumpukan pada adat, sandarkan pada syariat.

Bahwa Ade’ yang merupakan Undang-Undang/Peraturan Bernegara dimana sebelumnya berdasarkan nilai-nilai murni peradaban Attoriolong I La Galigo, kini haruslah diselaraskan dengan Syariat Islam sebagai azas mutlak sehingga dapat dikategorikan sebagai suatu Kerajaan Islam.

Meski demikian, mengingat masyarakat Luwu yang terdiri dari keaneka ragaman suku dan kepercayaan pada masa itu, maka pemberlakuan Hukum Syariat Islam tetap dalam kerangka Ade’ yang berkesesuaian dengan Piagam Madinah pada masa Rasulullah saw.

Masuknya unsur Sara’ (syariat Islam) dalam kerangka Ade’ (Undang-Undang/Peraturan), maka Pangadereng Luwu diibaratkan sebagai suatu bangunan yang ditopang oleh 5 pilar utama, yaitu: Wari (tatanan), Tuppu (keselarasan), Rapang (sejarah), Bicara (hukum tertulis) dan Sara’ (syariat Islam).

Bahwa lima kesatuan unsur berazaskan “Duae temmassarang; Siri na Pesse” (dua hal yang tak terpisahkan, yakni : Harkat/Martabat dan Solidaritas Rasa Kemanusiaan). Azas Dwi Tunggal inilah yang kemudian menjadi dasar philosofi regalia Utama Kerajaan Luwu, yaitu: Bessi Pakkae (tombak bercagak dua).

Dalam penyelenggaraannya, Ade’ diterapkan menurut kesenyawaan antara dua lapisan masyarakat, yaitu: “Massolompawo, Mangelle’ Waepasang”. (Air yang tercurah dari atas akan menggenang hingga permukaannya meninggi hingga tempat pencurahannya)

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

——-

Sumber Rujukan:

1. Andaya Leonard Y, 1977. Arung Palakka and Kahar Muzakkar; A Study of The Hero Figur In Bugis Makassar Society, dalam People and Society in Indonesia; A Biblegraphycal Aproach University.

2. Andi Sulolipu Opu To Tadampali, (tanpa tahun). Mengenal Sawerigading, (tidak dipublikasikan).

3. H. Siodja Opu Daeng Mallonjo’, 2004. Kerajaan Luwu, Catatan Tentang Sawerigading, Sistem Pemerintahan dan Masuknya Islam; Komunitas Kampung Sawerigading dan Pemerintah Kota Palopo.

Like it? Share it!

Leave A Response