BerandaSosial BudayaBahasa DaerahLa Galigo, Sutranya Sastra

La Galigo, Sutranya Sastra

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Related Post:  National Treasure, Ekspedisi Wilkes dan La Galigo

PALONTARAQ.ID – Bahasa, tatkala melampaui fungsinya sebagai media komunikasi, ia menampakkan wujud manusia pada tataran martabat yang sesungguhnya, yakni: Makhluk berperadaban.

Sastra, demikian kita menyebut pencapaian maqom bahasa itu, ibarat tenunan kain bermotif yang memadukan keselarasan aneka warna, jika dibandingkan dengan tenunan kain polos yang merupakan “bahasa” menurut fungsi komunikasi-nya belaka.

Sastra, sebagaimana tenunan kain, menampakkan motif beraneka warna yang indah, lebih dari itu warna-warni yang dijalinnya membentuk motif berestetika, menyimpan makna sedalam jangkauan nurani penggubahnya. Ia merupakan busana yang men-tabir-i realitas bahasa, ataupun perhiasan realitas sehingga sungguh benarlah jika Plato menyebut sastra sebagai perhiasan realitas.

Semua bangsa dan suku memiliki sastra dalam khazanah bahasanya. Membaca dan menyelami karakter adat istiadat suatu suku bangsa, akan lebih mudah dengan memahami sastra bahasanya.

Semakin tinggi taraf peradaban suatu suku bangsa, semakin halus pula sastra bahasanya. Bukan sekedar mendeklamasikan dalam bentuk tutur ataupun nyanyian, dikolaborasikannya dengan tulisan.

Dalam hal ini, Bugis memiliki itu semua. Mereka bersastra dengan memadukan pemilihan kata yang dipermaknakan berlapis hingga membentuk ibarat benang sutra yang halus, kemudian dijalinnya dalam untaian kalimat bersayap, hingga lebih jauh lagi diikatnya dengan perhitungan jumlah huruf dalam penulisannya.

Galigo, antara lain orang Bugis menyebut syair-syair sastranya. Penamaan yang didasari dari epos asal muasal kelahiran sukunya, yakni: Sure’ I La Galigo dari Tana Luwu. Tatkala mereka menyanyikannya dengan bersenandung dalam berbagai irama, syair-syair itupun disebutnya: Elong kElong (nyanyian).

Bernyanyi dengan suara lirih dalam kesendiriannya, seraya berharap ada yang mendengarnya agar ada yang “tahu” curahan hati yang dicetuskannya, meski agak tersipu malu.

Demikian itulah, syair I La Galigo yang merupakan magma dari dasar relung nurani yang terdalam, diletupkan demi sekedar meringankan iba hati yang menggelegak dari dalam.
Namun tetap aspirasi itu tetap jua terbingkai oleh kehalusan budi sehingga dibatasi oleh jumlah huruf dalam setiap baitnya dan dapat diketahui dengan tanpa mesti “membaca tulisannya” dari jumlah suku katanya, yaitu: 876.

Bahwa dalam setiap bait terdiri dari 3 baris, hal mana baris pertama berjumlah 8 huruf (suku kata), baris kedua terdiri 7 huruf (suku kata) dan baris ketiga berjumlah 6 huruf (suku kata).

Lihat pula: Nurhayati Rahman, Membawa pulang La Galigo ke Negeri Asalnya

Meski tidak semua syair klasik Bugis diatur 876, namun pengaturan ini dapat menjadi kodefikasi orisinil syair yang sesungguhnya. Hal mana kemudian, Galigo yang dinyanyikan sebagai Elong kElong ini dijeniskan menurut ruang maknanya, antara lain: Elong Massimang (permulaan/permohonan perkenan syair).

Ada pula Elong DimEng (syair kerinduan), Elong Melle’ (syair asmara), Elong Mabacci (syair sengsara/sakit hati), Elong ParErE (syair sindiran), Elong Toto (syair takdir), Elong Pangaja (syair nasehat) dan yang lainnya.

Syair klasik gubahan 876 yang seketika dapat dimengerti makna yang dikandungnga, antara lain sebagai berikut :

Sagala aja’ mupinra
(sa – ga – la a – ja’ mu – pin – ra = 8 huruf /suku kata)
Tudang tengnga sowokeng
(tu – dang teng – nga so – wo – keng = 7 huruf / suku kata)
Rilaleng atikku
(ri – la – leng a – ti – ku)

Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut :

Duhai kekasih, janganlah engkau sampai berubah
Senantiasa-lah duduk ditengah balairung
Dalam ruang hatiku

Bahkan syair-syair klasik yang kemudian dilagukan Abdullah Alamudi dalam suatu lagu daerah yang terkenal, yaitu : Bulu Alauna TEmpE, tak lain mengikut pada sistem 876 ini.

Meskipun kemudian, demi untuk menyesuaikannya dengan irama lagu, kadang-kadang baris ke-3 ditambahkannya dengan : Alla, yakni berupa berupa kata imbuhan penegasan dari baris sebelumnya. Namun tentu saja “alla” ini tidak terhitung bagian syair. Untuk mengetahuinya, diuraikan berikut ini:

Bulu alauna tEmpE
(bu – lu a – la – u – na tE – mpE = 8)
MadEcEng ricokkongi
(ma – dE – cEng ri – co – kko – ngi = 7)
ALLA, mattiro waliE
(ma – tti – ro wa – li – E = 6)

Kutiro toni lagosi
(ku – ti – ro to – ni la – go – si = 8)
Kulira’ mata toni
(ku – li – ra’ ma – ta to – ni = 7)
ALLA, tengngana tosora
(teng – nga – na to – so – ra = 6)

Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut :

Gunung disebelah timurnya negeri TEmpE
Sungguh baik didaki hingga pada puncaknya
Untuk menerawang jauh ke segala arah

Nampaklah olehku negeri Lagosi
Samar-samar di tatapan mataku pula
Yakni pusat kota Tosora

Dinamika cinta sepasang sejoli yang dirundung rindu dendam karena terpisah oleh takdir rantau nun jauh diseberang lautan, tergambar indah sekaligus menyayat hati dengan syair-syair Galigo Elong kElong ini.

Tentang seorang wanita yang menunggu kekasih pujaan hatinya dari perantauannya, “membunuh” waktu dan jenuhnya dengan menenun sutera. Sang lelaki berjuang menggapai perbaikan nasib di perantauan dengan dada sesak dan berharap cemas menunggu balasan “pesannya” yang terkirim kepada Sang kekasih yang menenun asa penantiannya. “Apakah ia tabah menantiku ?”, demikian tanya hatinya yang tak kunjung terjawab.

Gambaran ini diuraikan dalam syair 876 berikut ini :

Sagala aja’ mupinra
Tudang tengnga sowokeng
Rilaleng atikku

ToriwElaimmu ronnang
Tudang rilalempola
Mappaseng naterri

Toripaseng tEa mettE’
TonapolEi paseng
TEa makkuta

PEkkogana’ makkutana
Rilaleng tennungnga’
NapolE pasengta

Mau rilaleng tennungka’
NapolEro pasengta
Ulullung kulao

Muddanika’ tekkulao
Apa’ allalengengngE
Tekku bettu nawa

Nabettusi nawanawa
Iyasi masagala
RibokongngE lao

Engkasi ribokong lao
Iyasi masukkara’
Patiwi’E nrEwe’

Iyya’ arE’ iko arE’
MattEkka ri manipi
Tajengnga’ ri sEwo

Temmutajengnga’ ri sEwo
Kuwapi ri manipi
Sita bajabaja

Terjemahan bebasnya :

Duhai kekasih, janganlah engkau sampai berubah
Senantiasa-lah duduk ditengah balairung
Dalam ruang hatiku

Orang yang telah dikau tinggalkan ini
Duduk di dalam rumah
Mengirim pesan seraya menangis

Orang yang dipesan tak mau menjawab
Jua orang yang disampaikan pesan
Tak mau pula bertanya

Bagaimana bisa aku bertanya
Tatkala aku sedang menenun
Lalu pesanmu tiba

Meski aku sedang menenun
Tatkala pesanmu tiba
Kugulung lalu beranjak menyambutnya

Sungguh aku rindu namun tak dapat berangkat
Karena sesungguhnya perjalanan
Tak dapat kutembus pikiran (ragu)

Telah kutembus pikiranku pula
Namun yang menjadi kesukaran
Yakni bekal untuk perjalanan

Adalah pula bekal perjalanan
Namun yang menjadi kesukaran pula
Yakni bekal perjalanan pulang nanti

Entah aku ataukah engkau
Jikalau menyeberang ke Manipi (Akhirat)
Tunggulah aku di SEwo

Andai engkau tak menanti di SEwo
Nantilah di Manipi (Akhirat)
Kita bertemu kelak pada akhirnya

Pemilihan kata tertentu oleh penyair Galigo terkadang didapati pemaknaan yang melibatkan teka-teki, sebagaimana syair berikut ini :

Tellongnga’ pEmagga kampong
NajEnnE’ temmanasu
Lawangnga’ matakku

Terjemahan :

Aku menjenguk keluar menatap perkampungan
Namun jua “air yang tak dimasak”
Menghalangi pandanganku

Bahwa “jEnnE’ temmanasu” (air yang tak masak/diseduh) tak lain pengertiannya adalah : Air Mata.

Maka pengertian bait syair diatas adalah: ia menjenguk diluar jendela, menerawan perkampungan yang ramai, seraya air matanya berlinang.

Pada banyak syair itu, terdapat teka-teki yang lucu meski pemaknaannya sesungguhnya sangat miris, antara lain :

Anculung temmolatoni
Minanga nasorEi
Kappala’ Balanda

Terjemahan :

Bahkan ikan Anculung takkan dapat melaluinya
Yakni muara yang dilabuhi
Kapal Belanda

Anculung adalah sejenis ikan terkecil seukuran ikan teri yang kerap didapati di pinggir sungai. Bahwa perairan yang tak dapat dilalui ikan sekecil ini pastilah sangat sempit. Namun ternyata “perairan” itu bahkan dilabuhi Kapal Belanda yang dalam artian : kapal besar.

Makna syair ini adalah: seorang pemuda yang menyampaikan lamaran pada seorang gadis, namun gadis itu menolak dengan halus seraya berkata : saya belum berniat untuk menikah.

Namun berselang beberapa hari kemudian, pemuda lain mengajukan lamaran dan diterima. Maka disampaikanlah syair lucu yang memanifestasikan kekecewaan dan kepedihan hatinya. Bukankan engkau tadinya menyatakan belum mau memikirkan jodoh? Tapi kenapa?

Terdapat pula syair lain yang berteka-teki, yakni pesan seorang pemuda kepada pemudi yang dicintainya, namun meminta agar hubungan mereka dirahasiakan. Maka dinyatakannya sebagai berikut:

Mauni pada rikapang
Topada makkatenni
Riwiring tennungngE

Tapada matutuiwi
Pattimang riyawana
Bakkaweng nipaE

Terjemahan:

Meski sesungguhnya sudah saling memaklumi rasa
Namun kita mesti sama berpegang
Pada pinggiran tenunan

Kita sama menjaga
Pelimpahan dibawah
Atap nipah

“Riwiring tennungengngE” (pada pinggiran (alat) tenun) adalah suatu peralatan yang disebut: sakka’.

Sementara sinonim “sakka’” lainnya adalah : menyangkal. Olehnya itu, makna syair diatas adalah: meskipun kita sudah tahu sama tahu tentang rasa cinta masing-masing, namun sebaiknya kita merahasiakannya dengan menyangkal jika ditanya.

Tak lain disebabkan kita harus sama menjaga: “pattimang riyawana // bakkaweng nipaE” (pelimpahan dibawah atap nipah). Pelimpahan atap nipah ini disebut: passiring, yakni sindiran kata dari “siri’” (harkat malu). Maka pemaknaannya adalah: kita harus menjaga harkat/martabat malu keluarga.

Ada kalanya seorang gadis menerima penyampaian rasa cinta dari seorang pemuda yang gemar merayu perempuan, dijawabnya dengan nyanyian :

Engkao manguju melle’
Aja’ mutabbangkangngi
Toddangnaro wagE

Iyapamai mugiling
Tongengpi mutettongi
Maniyangna Tancung

Terjemahan :

Engkau datang membawa kasih
Namun janganlah terkejut
Karena disebelah selatannya WagE

Nantilah engkau menoleh kemari
Jika benarlah engkau berdiri pada,
Negeri disebelah utara Tancung

Bahwa disebelah selatan negeri WagE terdapat suatu kampung bernama : CeppiE. Hal mana pengertian katanya dimaknai: miskin papa (tidak punya apa-apa). Maka pengertiannya kemudian, engkau datang membawa cinta, namun jangan sampai terkejut karena aku tak lain adalah orang miskin yang tak punya apa-apa.

Meskipun demikian ia-pun punya rasa yang sama, namun khawatir jika pemuda itu akan berpindah cinta lagi setelahnya. Maka ia berkata: Nantilah engkau benar-benar dapat menerima cintaku, sekiranya engkau “berjanji” untuk “berdiri di sebelah utara Tancung”.

Tak lain maksudnya, bahwa disebelah utara kampung Tancung terdapat suatu kampung bernama: PajalElE (berhenti berpindah). Maknanya adalah: setia (tak berpindah lagi ke lain hati).

Sungguh tidak cukup dengan sekedar kilasan tentang sastra Bugis yang bernama Galigo ini jika hendak menyelaminya dengan catatan kecil ini. Karya agung para orang bernurani yang menghaluskan interaksi sosial dengan sastra selembut sutra ini, semestinya diapresiasi oleh generasi masa kini.

Menutup uraian ini, kuhaturkan syair Galigo 876 yang menggambarkan cintaku pada CEnrana Luwu berikut ini:

Ininnawa mappatakko
Alai pakkawaru
Kalawing AtiE

Ciddai galungna Luwu
Sedding tennaEsa’na
Turungeng Tomaru’

Bunga-bunga tonrongsalo
Macenning masEngereng
Sagalana Luwu

Pulu pole ri CEnrana
Santang To Lalengtonro’
PEsau To WagE

Maddakko masE-masEa’
Gangkanna Luwu SoppEng
Nasanrang masEku

Malleppi masE-masEa’
SittanrE Latimojong
Leppina MasEku

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT