Nurhayati Rahman, Membawa Pulang La Galigo ke Negeri Asalnya

Sureq Galigo. (sumber foto: wikipedia)

Sureq Galigo. (sumber foto: wikipedia)

 

Tulisan Terkait:

‘Dewata Seuwae’, Tuhan dalam Pemahaman Turiolo Bugis Makassar

National Treasure, Ekspedisi Wilkes dan La Galigo

Koleksi Digital Naskah La Galigo

SIAPA yang tidak kenal La Galigo? Beberapa waktu lalu, UNESCO menetapkannya sebagai “memories of world”. La Galigo merupakan karya sastra epik mitik yang lebih panjang dari karya sastra dunia sejenisnya, seperti karya epik Mahabarata di India dan Homerus di Yunani. Selama ini ratusan tahun karya asli La Galigo ini tersimpan dalam bentuk gulungan lontaraq  di Perpustakaan Leidin, Belanda.

Melalui usaha puluhan tahun, dunia akademik kemudian bisa menikmati karya sastra dunia warisan literasi etnik Bugis ini dalam bentuk buku. Adalah Guru Besar Filologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Nurhayati Rahman yang melanjutkan upaya transliterasi dan penerjemahan La Galigo, yang sebelumnya sudah dirintis oleh Drs Muhammad Salim dan Prof Dr Fachruddin Ambo Enre.

Saat launching digitalisasi La Galigo di Aula Prof Mattulada, FIB UNHAS, Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Saat launching digitalisasi La Galigo di Aula Prof Mattulada, FIB UNHAS, Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prof Nurhayati Rahman merupakan anak sulung pendiri Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI), Anre Gurutta Haji (AGH) Abdurahman Matammeng. Beliau sudah berkenalan dengan teks-teks La Galigo ketika masih kuliah sarjana tahun 1983 di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Hasanuddin. Teks-teks La Galigo ketika itu telah dijadikannya obyek penelitian skripsinya yang berjudul “Sureq Panrita Sulesanae”.

Pada Tahun 1985, Nurhayati Rahman terangkat menjadi dosen di jurusan sastra Asia Barat, namun bersamaan dengan itu dibuka pula jurusan Sastra Bugis Makassar yang SDM-nya masih terbatas di UNHAS, karena itu pada tahun yang sama dia ikut pengkaderan tenaga ahli di bidang filologi yang sangat diperlukan di jurusan sastra Bugis Makassar. Akhirnya pada Tahun 1987, Nurhayati Rahman mengikuti Program S2 di Universitas Pajajaran Bandung dengan mengambil konsentrasi studi filologi. Tesisnya tentang salah satu episode La Galigo yaitu Meong Paloe, salah satu episode La Galigo yang bercerita tentang kucing loreng kehitam-hitaman dan bertugas sebagai pengawal putri Sangiang Serri, sang dewi padi. Naskah ini salah satu episode La Galigo dengan jumlah 8 suku kata setiap penggal frasenya.

Prof Nurhayati Rahman saat berbincang-bincang dengan Eka, mantan Bissu di Segeri dalam Seminar Launching Digitalisasi La Galigo. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prof Nurhayati Rahman saat berbincang-bincang dengan Eka, mantan Bissu di Segeri dalam Seminar Launching Digitalisasi La Galigo. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Sepulang dari Bandung, Nurhayati Rahman langsung mengajar di jurusan Sastra Bugis Makassar, dan pada tahun yang 1994 mengikuti kuliah S3 di Universitas Indonesia, dengan mengambil jurusan filologi dan lagi-lagi tema utama kajiannya adalah salah satu episode La Galigo, yaitu Episode “Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina” dan selesai tahun 1998 dengan predikat Cumlaude.

La Galigo sendiri merupakan maha karya sastra dunia yang terdiri dari 360 ribu bait, tiap bait terdiri dari lima pasang kalimat. La Galigo pernah dipentaskan dalam bentuk teater kontemporer di berbagai Negara dengan sutradara teater asal Inggris Robert Wilson.  Bandingkan La Galigo dengan Odyssei yang berisi kisah dewa dewa Yunani kuno yang hanya 70 ribu bait atau Mahabarata dan Ramayana sebanyak 150 ribu bait.

Penulis bersama Prof Nurhayati Rahman. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulis bersama Prof Nurhayati Rahman. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Upaya Nurhayati Rahman untuk menggeluti La Galigo terus dilakukan, sampai kemudian ia dilibatkan oleh Dr. Mukhlis Paeni untuk memimpin proyek penyelamatan naskah-naskah di Sulawesi Selatan serta dalam Proyek Kerjasama Studi Kebudayaan Belanda-Indonesia, bersama Dr. Roger G Tol, dengan program utamanya menerbitkan 12 jilid La Galigo yang ada di Belanda.

Penerjemahan Jilid III Buku La Galigo itu dibiayai oleh Yayasan La Galigo yang didirikan Yusuf Kalla dan Tanri Abeng, penerbitannya dalam bentuk buku digarap oleh Yayasan Obor Indonesia. Total transkrip La Galigo yang sudah  dikerjakan sebanyak 12 jilid dan kini oleh pihak KITLV, perwakilan Universitas Leiden di Jakarta telah pula dimuat dalam website digitalisasi La Galigo sehingga La Galigo kini sudah dapat dipelajari meski tidak ke Belanda.

Pembacaan La Galigo. Generasi Muda Bugis Makassar tak ada lagi yang mewarisi kemampuan membaca karya besar ini. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pembacaan La Galigo. Generasi Muda Bugis Makassar tak ada lagi yang mewarisi kemampuan membaca karya besar ini. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kita berharap ini proyek peradaban, bukan soal biaya. Kalau orang seperti Ibu Nurhayati Rahman sudah tidak ada, khawatir tidak ada yang peduli karya adi luhungnya budaya orang Bugis. Kini melalui UNESCO, La Galigo  telah ditetapkan sebagai mahakarya warisan dunia (world heritage), sehingga bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Bugis Makassar di Sulawesi Selatan, tapi juga menjadi kebanggaan dunia. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response