Oleh: Etta Adil
Related Post: (Cerpen) Perempuan Muda Berdaster
PALONTARAQ.ID – Cerita Pendek (Cerpen) merupakan jenis cerita fiksi tentang seluk beluknya kehidupan seseorang, yang ceritanya terpusat pada suatu pokok peristiwa.
Cerpen diartikan pula sebagai salah satu cerita fiksi yang berisi kisah singkat yang berfokus pada satu pemeran tokoh. Keringkasan yang dimaksud, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mencakup 10 ribu kata dan kesana hanya berfokus pada satu tokoh dalam cerita tersebut.
Membaca cerita ‘pendek’ berjudul Perempuan Muda Berdaster karya Sri Hastuti dibawah ini membuat penulis perlu memberikan beberapa catatan, baik secara teks maupun konteks.
Secara teks, cerita yang mengambil nama pemeran utama sama dengan nama depan penulisnya ini hanya berjumlah 697 kata, sangat jauh dari ukuran 10 ribu kata sebagaimana dimaksudkan pengertian Cerpen menurut KBBI. Di Blog Sosial Kompasiana, jumlah kata 697 itu dalam cerita dimasukkan dalam kategori Cermin atau Cerita Mini.
Secara teks pula, penulis menandai beberapa kata yang menjadi tidak efektif jika disambungkan kata yang bermakna jamak (banyak) dengan penulisan kata yang berulang, yang juga bermakna lebih dari satu.
Contoh penggunaan kata yang penulis maksudkan disini ialah kalimat: kebanyakan perempuan-perempuan. Kebanyakan berarti banyak atau lebih dari satu, disambung dengan kata perempuan-perempuan yang juga bermakna lebih dari satu. Seharusnya cukup ditulis: kebanyakan perempuan. Jadi kalimatnya tidak efektif atau lazim disebut pemborosan kata, sekalipun dalam penulisan karya fiksi, kadang hal tersebut dimaklumi karena terbawa cara penceritaan cerpenisnya, atau seperti cara cerpenisnya bercerita.
Secara teks lainnya yang cukup mengganggu penulis adalah kata kerja ‘dinobatkan’, lebih tepat ditulis: disebut. Begitu pula kata atau kalimat lainnya dibawah ini:
Kalimat: /banyak sekali perempuan-perempuan muda/, seharusnya cukup ditulis: banyak perempuan muda.
Kata /mempesona/, yang baku ditulis: memesona.
Kalimat: /tak sedikit ibu-ibu/ seharusnya: tak sedikit ibu.
Kalimat: /sudah hampir malam hari gelap/ seharusnya cukup ditulis: /sudah hampir malam/ atau /hari hampir gelap/ karena hari identik dengan terang, sedang malam identik dengan gelap.
Kata: dilimpahkan seharusnya ditimpakan
Kalimat: /Teriakan ringkih perempuan tua dari bilik/ seharusnya: /teriakan perempuan tua dari bilik/ atau /teriakan perempuan ringkih dari bilik
dan kalimat lainnya, yang sebenarnya catatan ini dimaksudkan sebagai upaya mempercepat pembaca paham akan alur cerita dan maknanya seperti pemahaman pengarangnya. Intinya, jika /teks/ benar dan mengalir dengan lancar, maka pembaca akan mudah memahami /konteks/
Sebenarnya penulis sendiri memahami perkembangan cerpen saat ini sebagai bagian dari proses pembelajaran fiksi yang terus melakukan penyempurnaan tutur dari setiap pengarangnya (cerpenis).
Bahwa cerpen memiliki masalah pada setiap tokoh di dalam cerpen tersebut, alur pada penulisan cerpen tunggal, tidak menceritakan semua kisah pada para tokoh, hanya menceritakan inti sari pada suatu konflik, serta jumlah kata pada cerpen relatif singkat yaitu 10 ribu kata ataukah peran tokoh dalam cerpen tersebut terlalu sederhana.
Untuk memahami keseluruhan konteks dalam teks pada karya fiksi, maka pemilihan kata (diksi) dalam cerpen perlu relatif sederhana agar mudah dipahami oleh pembaca, meski ceritanya tidaklah sederhana.
Karena itu seorang cerpenis handal selalu mengawali langkah penulisannya dengan melakukan observasi, menentukan judul dan tema pada Cerpen, latar belakangnya, para tokohnya, konflik didalam cerita, serta menentukan sudut pandang dan alur cerita.
Sebuah karya, baik fiksi maupun non fiksi sebenarnya telah dianggap selesai jika sudah terpublikasi di media (media mainstream maupun media online) atau sudah tercetak dalam bentuk buku.
Jadi, secara konteks, apapun itu penilaian ceritanya keseluruhannya terserah pembacanya. Jadi, marilah kita, termasuk penulis sendiri, menikmati secara bijak dan mengambil hikmah dari karya Sri Hastuti Humairah, setidaknya dia telah berusaha mengenalkan Sri dalam tampilan lain dari alur cerita yang tak biasa dari Sri sang cerpenis. (*)


