BerandaCerpenPerempuan Muda Berdaster

Perempuan Muda Berdaster

Oleh: Sri Hastuti Humairah *)

PALONTARAQ.ID – Perempuan muda itu tiba-tiba menghampiri si kakek pengemis tua yang tengah duduk mengadahkan kedua tangannya ke langit tepat di pojokan sudut pasar raya sore itu.

Perempuan muda yang mengenakan pakaian syar’i dengan khimar panjang menghiasi kepalanya dengan style sederhana berparas ayu rupawan dengan tutur kata lembut gemulai.

“Karena stylenya yang berbeda dari kebanyakan perempuan-perempuan muda yang lainnya sehingga ia akhirnya dinobatkan sebagai Perempuan Muda Berdaster”.

Ia merogok sisi kanan di saku celananya, “Kakek, maaf. Saya punya sedikit rezeki. Ini kek silakan diambil. Hanya ini yang bisa saya berikan.” sembari menyodorkan lembaran-lembaran rupiahnya kepada si kakek pengemis tua itu.

“Alhamdulillaah yaa Allah, terima kasih ya nak. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu”, si kakek mendonga dan berdo’a yang dihiasi senyum tulus gembira di rona wajahnya yang sudah mulai mengkriput itu.

Perempuam muda berdaster itu pun berlalu pergi dan hilang dari pandangan si kakek pengemis tua itu.

Tak hanya parasnya yang ayu rupawan, akan tetapi hatinya yang begitu mulia mempesona yang membuat ia begitu tersohor di desanya. Bisa dikata ia merupakan kembang desa.

Akibatnya, banyak sekali perempuan-perempuan muda di desa yang membencinya bahkan tak sedikit ibu-ibu juga ikut membencinya. Bukan apa-apa, hanya persoalan iri.

Ya wajarlah, seperti kata bung Tere bahwa, “Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang angin menerpa”.

Artinya bahwa semakin baik dan sukses kita, maka akan semakin banyak ujian yang akan dilimpahkan atas kita. Lupakan saja mereka yang menghardik, tutup telinga rapat-rapat dan melekkan mata lebar-lebar.

“Sri… angkat jemuran nak sudah hampir malam. Sebentar lagi hari gelap”.

Teriakan ringkih perempuan tua dari bilik. Nenek Endang, begitulah sapaan untuk nenek Sri si perempuan muda berdaster. Nenek Endang adalah orang yang telah merawat dan membesarkan Sri dari kecil hingga Sri beranjak dewasa.

“Iya nek” balas Sri dengan dibubuhi senyum cerianya. Sri tidak pernah berkeluh kesah atas hidupnya. “senja sebentar lagi tenggelam bersama malam.

Langit jingga akan berubah menjadi langit kelam berselimut aroma rembulan”, sajak nenek sambil memandangi Sri yang tengah mengangkat jemuran.

Sri dan nenek Endang menikmati dunia siang dan malamnya di sebuah gubuk kecil nan reot yang berada jauh dari pemukiman warga lainnya di sudut desa area perkebunan sawit.

Kendati demikian, Sri merupakan perempuan yang aktif mengikuti kajian dan pengajian-pengajian di masjid sepulang ia menjajakan kue jajanannya di pasar raya.

Suatu ketika, ia hendak berangkat ke masjid untuk menghadiri kajian umum. Tak diduga olehnya, kali ini kajiannya dibawakan oleh seorang ustadz muda dari luar kota. Ustadz muda yang apabila dipandang, nafas Sri menjadi sesak.

“Baru kali ini saya merasakan hal aneh ketika bertemu seorang lelaki, Ya Allah,  lindungi hamba. Sesungguhnya Engkaulah sang pemilik cinta, maha membolak-balikkan hati”, untaian do’a yang sontak terbersit di hati Sri acap kali bersua dengan ustadz muda berbaju kokoh rapi itu.

Tak cukup sampai disitu saja, sepulangnya di gubuk pun, Sri masih saja membayangkan wajahnya. “Astagfirullaah, ada apa denganku ini?” desah Sri jengkel dengan rasa yang ia pendam.

Beberapa bulan kemudian, tepat ketika senja merajai langit jingga bersama sinar surya sang mentari. Sri kembali bertemu dengan ustadz muda yang tiap hari ia pikirkan. Sri tersenyum seadanya, sama halnya seperti sang ustadz.

Ternyata sang ustadz datang kembali ke desa tidak lagi untuk membawakan kajian seperti hari-hari sebelumnya. Akan tetapi, tengah mencari kakeknya yang telah lama menghilang yang ia kira telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.

Ia mendapat informasi baru bahwa kakeknya ada di desa tersebut. Tanpa basa-basi, “maaf mbak, boleh bertanya sebentar. Mbak kenal kakek yang ada di photo ini?”, Tanya sang ustadz kepada Sri.

Sri tersenyum dengan lesung pipi mekarnya, “Heem, sepertinya wajahnya tak asing bagiku. Maaf, kalau boleh saya tahu, kakek yang aa di photo ini siapa ya?” Tanya Sri sambil mengingat-ingat sketsa wajah sang kakek di photo itu.

“Beliau adalah kakekku yang sudah dua tahun menghilang, ia sudah pikun, kami setiap saat mencarinya dan beberapa bulan yang lalu terdengar kabar jika dia sudah meninggal akibat terjatuhh di jurang area bukit” jawab sang ustadz.

“Sepertinya saya pernah bertemu di pasar raya. Kakek ini setiap hari mangkal di pojokan sudut dekat penjual sayur langgananku” tutur Sri. Tak disangka, ternyata pertemuan sang ustadz dengan kakeknya mengakibatkan Sri juga terseret hubungan dengan sang ustadz.

Sri, si perempuan muda berdaster akhirnya menemukan jodoh idamannya. Pernikahannya disaksikan jingga yang sudah hampir tenggelam di ufuk barat bersama gelap malam. (*)

 

(* Sri Hastuti Humairah adalah Guru pada SMP-IT Al-Hafizh di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, dan Relawan MRI-ACT dan ARPS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT