Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Dongeng: Terapi Psikis bagi Orangtua dan Anak
PALONTARAQ.ID – Apa Itu Mendongeng? Mendongeng adalah seni menyampaikan cerita secara lisan dengan menggunakan suara, ekspresi, dan gerak tubuh untuk menghidupkan kisah di hadapan pendengar. Dongeng sendiri biasanya berupa cerita fiksi, legenda, fabel, atau cerita rakyat yang mengandung nilai moral dan pendidikan.
Dalam tradisi masyarakat Indonesia, mendongeng telah menjadi bagian penting dari pewarisan budaya. Cerita-cerita rakyat seperti Malin Kundang, Timun Mas, atau kisah-kisah lokal diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Dalam konteks pendidikan modern, mendongeng tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana untuk Mengembangkan kemampuan komunikasi, Menanamkan nilai moral, dan Melatih imajinasi dan empati. Mendongeng bukan sekadar “membacakan cerita”, tetapi menghidupkan cerita sehingga pendengar merasa seolah-olah berada di dalamnya.
Hakikat Mendongeng dan Unsur Pentingnya
Hakekat Mendongeng sejatinya bukan hanya sekadar Bercerita. Mendongeng yang baik haruslah mencakup tiga unsur utama didalamnya, yaitu: (1) Cerita (Content). Cerita harus menarik, jelas, dan memiliki pesan. (2) Penyampaian (Delivery). Cara menyampaikan cerita melalui Vokal, Ekspresi, dan Gerak tubuh. (3) Keterhubungan (Connection) atau Kemampuan membangun hubungan dengan audiens.
Seorang pendongeng yang baik tidak hanya “bercerita”, tetapi juga Mengajak audiens merasakan, Membuat audiens membayangkan, serta Menyentuh emosi audiens
Untuk tampil maksimal, seorang pendongeng haruslah memahami unsur-unsur berikut, yaitu: (1) Penguasaan Cerita. Pendongeng harus menguasai alur cerita, Tidak bergantung pada teks, serta Mampu mengalirkan cerita dengan lancar. (2) Teknik Vokal, yang meliputi: Artikulasi (kejelasan pengucapan), Intonasi (naik-turun suara), Volume (keras-lembut suara), Tempo (cepat-lambat). Vokal adalah “alat utama” dalam mendongeng. (3) Ekspresi Wajah, haruslah Jelas, sesuai dengan emosi cerita, serta Tidak berlebihan tetapi tetap kuat.
Unsur lainnya, yaitu: (4) Gestur dan Gerak Tubuh. Gerakan membantu memperjelas cerita: Menunjukkan aksi, Menggambarkan suasana, dan Menambah daya tarik. (5) Imajinasi dan Visualisasi. Pendongeng harus mampu membuat audiens “melihat” cerita melalui kata-kata dan gerakan, dan (6) Interaksi dengan Audiens. Pendongeng yang baik: Melibatkan audiens, menjaga perhatian, serta Membangun kedekatan emosional.
***
Dongeng memiliki struktur yang mirip dengan cerita, yaitu (1) Pembukaan. Menarik perhatian dan Memperkenalkan tokoh. (2) Pengembangan. Konflik mulai muncul. (3) Klimaks. Dalam artian, Puncak cerita. (4) Penutup. Penyelesaian dan pesan. Struktur ini penting agar cerita mudah dipahami.
Untuk mencapai performa terbaik, siswa perlu melalui tahapan latihan, yaitu: Pertama, Memilih Cerita yang Tepat. Cerita harus: Sesuai usia, Memiliki pesan kuat, dan Mudah divisualisasikan. Kedua, Memahami Cerita Secara Mendalam. Bukan sekadar menghafal, tetapi:Memahami karakter, emosi dan konflik. Ketiga, Latihan Vokal, misalnya dengan Membaca keras, Variasi suara, dan Latihan napas. Keempat, Latihan Ekspresi dan Gestur. Gunakan cermin dan rekaman video. Kelima, Simulasi Panggung. Latihan seperti kondisi lomba: Berdiri, menggunakan ruang, serta menghadap audiens.
Untuk sukses dalam mendongeng, khususnya bagi pelajar yang mengikuti Lomba Mendongeng maka sebaiknya memiliki: Penguasaan cerita yang sangat baik, Vokal yang ekspresif dan variatif, Ekspresi wajah yang hidup, Gestur yang mendukung cerita, Interaksi yang kuat dengan audiens, serta Penyampaian pesan yang menyentuh.
Untuk menjadi juara Lomba Mendongeng, maka wajib diperhatikan beberapa kriteria penilaian juri berikut ini, yaitu Teknik vokal, Ekspresi, Penguasaan cerita, kreativitas, interaksi, dan Pesan. Latihan harus mengarah ke aspek ini.
Hal lainnya yang menentukan adalah Pemilihan Cerita yang “Mengena”. Cerita yang baik adalah Relatable (dekat dengan kehidupan), mengandung konflik, dan memiliki pesan kuat. Dalam bercerita, gunakan variasi suara. Setiap karakter bisa memiliki suara berbeda, dan intonasi berbeda. Ini membuat cerita lebih hidup.
Dalam mendongeng, juga perlu dibangun Pembukaan yang Menarik. Awal cerita yang kuat bisa:membuat audiens langsung fokus dan meningkatkan nilai juri. Dalam mendongeng pula harus menghidupkan karakter. Seorang pendongeng harus “menjadi” tokoh dengan mengubah suara, mengubah ekspresi atau mengubah gestur. Gunakan Gestur Secara Efektif. Jangan berlebihan, tetapi Tepat dan Mendukung cerita
Kelola Tempo Cerita dengan baik. Jangan terlalu cepat, juga Jangan terlalu lambat. Tempo harus sesuai suasana. Sampaikan Pesan didalamnya secara natural. Hindarilah Ceramah di akhir cerita. Lebih baik: Pesan tersirat melalui cerita. Cara salam membangun koneksi dengan audiens, haruslah dengan Kontak mata, Ekspresi ramah, serta Energi positif. Selanjutnya Latihan Konsisten dan Evaluasi. Latihan rutin + evaluasi = peningkatan signifikan.
Beberapa kesalahan umum yang sering terjadi pada peserta dalam lomba mendongeng adalah: Membaca teks, bukan mendongeng, Vokal monoton, Ekspresi datar, Gestur berlebihan, Tidak ada interaksi, dan Cerita tidak jelas. Menghindari ini sangat penting.
Kunci Utama Menjadi Juara, jika diringkas maka ada tiga kunci utama, yaitu: (1) 1. Penghayatan (Emotion). Cerita harus dirasakan. (2) Komunikasi (Delivery). Cerita harus tersampaikan dengan jelas. (3) Koneksi (Engagement). Audiens harus terlibat.
Jadi, Mendongeng adalah seni yang menggabungkan bahasa, emosi, dan imajinasi. Dalam dunia pendidikan, mendongeng bukan hanya lomba, tetapi sarana untuk membentuk: Kepercayaan diri, Kemampuan komunikasi, dan Empati
Dalam ajang FLS3N, siswa yang ingin menjadi juara harus mampu: Menghidupkan cerita, Menguasai teknik, dan Menyentuh emosi audiens. Dengan latihan yang tepat, strategi yang matang, dan bimbingan yang baik, setiap siswa memiliki peluang untuk tampil maksimal bahkan menjadi juara.
Bahan Bacaan:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia – Panduan FLS3N
Tarigan, Henry Guntur. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Nurgiyantoro, Burhan. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Zipes, Jack. The Irresistible Fairy Tale: The Cultural and Social History of a Genre. Princeton University Press
Haven, Kendall. Story Proof: The Science Behind the Startling Power of Story. Libraries Unlimited
(* Muhammad Farid Wajdi, Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.


