Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah puisi akrostik untuk Andi Alykha Nurul Fhadillah. Puisi ini menggambarkan sosoknya yang unik: perpaduan antara ketangguhan, keimutan, dan kedewasaan hatinya.
Bagi Alykha, pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan tempat menemukan akar keluarga dan mengasah jati diri. Puisi ini merangkum ketangguhan seorang santriwati yang meski jauh dari pelukan ibu di Papua, tetap mampu berdiri tegak dengan sejuta keahlian dan kemandirian yang mengagumkan.
Bekal Tangguh dari Rumah Nenek ke Gerbang Pesantren
Anak imut nan lucu, membawa tawa di setiap langkah
Nyaman di rumah nenek sejak kecil ia bertumbuh tabah
Di bawah asuhan kasih, jiwanya tumbuh penuh warna
Ikuti jejak sang kakak, ia melangkah ke pondok yang mulia.
Asa menguat kala kakek ditemukan di sana
Labuhan hati di pesantren kini terasa kian sempurna
Yakin melangkah, bela diri ia kuasai dengan sigap
Kata-kata bahasa Inggrisnya fasih, berpidato penuh harap
Hatinya tangguh, persis seperti sang kakak yang ia teladani
Aura kecerdasannya memancar, meski tetap rendah hati bersahaja kini.
Nyali besar tertanam, meski ibu jauh di tanah Papua sana
Ucapnya jarang meminta, jajan secukupnya tak mau bermanja
Rasa rindu tersimpan rapi, tak ingin bebani ibu yang berjuang
Untuknya, cukup doa yang dikirim lewat angin yang bertandang
Lara hati jarang ditunjukkan, ia tak sudi menjadi cengeng.
Firasat kuat menjaga diri, meski dunia kadang miring dan oleng
Hanya pada teman, sesekali keluh kesah itu ia tumpahkan
Atas rindu dan letih yang sesaat ingin ia lepaskan
Dalam dekap pesantren, ia tumbuh menjadi permata
Ikhlas menjalani hari, menenun mimpi dalam nyata.
Lantunan doa selalu ia panjatkan untuk ibu di ufuk timur
Langkah kakinya mantap, menatap masa depan yang luhur
Akan tiba masanya, ia jadi kebanggaan yang takkan pudar
Hidupnya bercahaya, setangguh karang, selembut fajar.
***
Minasatene-Pangkep, 7 Januari 2026
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


