STIBA gelar Daurah Berkuda dan Memanah

Muhammad Ikhwan Jalil, Lc,M.H.i (foto: ist/palontaraq)

Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil, Lc,M.H.i (foto: ist/palontaraq)

Laporan: Muhammad Farid Wajdi

Tulisan sebelumnya:  Mengapa Perlu Belajar Memanah?

PALONTARAQ.ID, MAKASSAR – Bertempat di Masjid Anas bin Malik dalam lingkungan Kampus Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, digelar Daurah Berkuda dan Memanah bertema “Berkuda dan Memanah dalam Peradaban Islam”, Ahad (16/12/2018).

Kegiatan Daurah ini mendapat dukungan penuh dari DPP Wahdah Islamiyah, sebagaimana diungkapkan Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil, Lc.,M.H.i bahwa Berkuda dan Memanah merupakan sunnah, “al-furusiyah muhammadiyah”, keterampilan dan olahraga ketangkasan yang harusnya di kuasai umat Islam.

“Berkuda, Memanah, dan Berenang adalah olahraga ketangkasan yang disunnahkan untuk dipelajari, dipraktekkan dan dikuasai dengan baik. Ternyata dari segi kebugaran dan kesehatan sangat baik bagi tubuh, selain melatih fokus,” ujar Ustadz Muhammad Ikhwan Jalil dari Dewan Syariah DPP Wahdah Islamiyah

Hal senada diungkapkan Direktur STIBA Makassar, Ustadz Dr. Muhammad Yusron Anshar bahwa Olahraga sunnah seperti Berkuda, Memanah dan Berenang harus digalakkan kembali, sebagai salah satu wujud kecintaan kepada Nabi dan sunnahnya.

“Permainan menunggang kuda adalah salah satu permainan yang tidak mendatangkan dosa dan bahkan merupakan permainan yang disaksikan para malaikat. Rumah yang di halamannya ada kuda yang tidak terikat, setanpun akan takut mendekatinya,” ungkapnya.

“Kuda adalah bagian dari kehormatan kaum muslimin, yang dengannya tubuh akan menjadi sehat, rumah tangga menjadi indah dan tentunya mengamalkan salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW,” tambahnya.

Dr. Muhammad Yusron Anshar, Lc,.MA. (foto: ist/palontaraq)

Direktur STIBA Makassar, Ustadz Dr. Muhammad Yusron Anshar, Lc,.MA. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Keutamaan Belajar Memanah

Pemateri Daurah, Ustadz Abu Umar ‘Abdillah mengungkapkan bahwa bila ada perintah dan kebaikan yang paling banyak diabaikan oleh Muslim saat ini, barangkali perintah dan kebaikan itu adalah yang terkait sunnah memanah dan berkuda.

“Bisa jadi karena kuda dianggap kendaraan masa lampau yang kini sudah tergantikan oleh berbagai kendaraan baik yang digunakan di masa damai maupun dalam perang. Padahal, ada hadits sahih yang diriwayatkan oleh hampir seluruh perawi yang menegaskan bahwa kebaikan akan selalu terikat di ubun-ubun kuda sampai hari kiamat,” ungkapnya.

Artinya, memelihara kuda pada saat ini pun masih merupakan sunnah yang seharusnya menjadi perhatian umat Islam. Bahkan ada hadits yang mewajibkan muslim laki-laki yang mampu untuk memiliki kuda.

“Berkuda dan memanah itu salah satu keperkasaan dan kewibawaan Islam yang hilang. Keduanya juga merupakan sunnah yang ditinggalkan. Berlatih keduanya berarti menghidupkan sunnah yang lama ditinggalkan. alaa innal quwwata arramyu, begitu yang disabdakan Nabi Shallallahu alaihi wasallam,” ujar Ustadz Abu Umar Abdillah, yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Ar-Risalah ini.

Hal ini diperkuat dengan Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : اَلْخَيْلُ فِي نَوَاصِيْهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya:  “Kuda, pada ubun-ubunnya itu terdapat kebajikan sampai hari kiamat.” (HR Bukhari-Muslim)

Pemateri Daurah, Ustadz Abu Umar dan Muhammad Rizqon. (foto: ist/palontaraq)

Pemateri Daurah, Ustadz Abu Umar dan Muhammad Rizqon. (foto: ist/palontaraq)

Deskripsi Busur milik Rasulullah SAW. (foto: ist/palontaraq)

Deskripsi Busur milik Rasulullah SAW. (foto: ist/palontaraq)

Menurut Abu Umar, hadits ini menunjukkan kemanfaatan umum dan secara khusus dalam peperangan karena secara asal, di antara fungsi kuda adalah memang tunggangan perang, seperti tersirat dalam Surat Al ‘Aadiyat.

“Adapun panah, bahkan kelak Ya’juj dan Ma’juj juga menggunakan panah terbuat dari kayu. Adapun tank, pesawat dan lain-lain memang bisa menggantikan, tetapi tidak dalam semua sisi. Semua mestinya dilazimi oleh kaum muslimin,” ujarnya.

Latihan berkuda dan memanah di Lapangan al-Badar, STIBA Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Latihan berkuda dan memanah di Lapangan al-Badar, STIBA Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Pemateri kedua, Muhammad Risqon Febriansyah, menyayangkan kurangnya pemahaman umat dan para da’i dalam menyosialisasikan sunnah memanah dan berkuda. Sedikit yang memahaminya karena kurang sosialisasi.  Padahal Berkuda dan Memanah adalah hiburan menyenangkan yang berpahala,” imbuhnya.

Karena itu, harapnya kepada kaum muslimin, khususnya Peserta Daurah untuk menyandang kembali izzah (kewibawaan) Islam dalam segala bidang, dalam hal ilmu, kekuatan dalam furusiyah atau ketangkasan, serta jihad fi sabilillah.

Penulis. (foto: ist/palontaraq)

Penulis. (foto: ist/palontaraq)

Daurah Berkuda dan Memanah berlangsung sehari, Ahad (16/12/2018), dengan materi diberikan dalam Masjid Anas bin Malik, sedangkan praktek berkuda dan memanahnya dilakukan di Lapangan al-Badar Kampus STIBA Makassar. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response