Selamat Jalan, Puang Terru

by Penulis Palontaraq | Selasa, Des 18, 2018 | 154 views
Pemakaman HA Gaffar Patappe. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pemakaman HA Gaffar Patappe. (foto: mfaridwm/palontaraq)

KABAR itu begitu cepat tersebar di media sosial, facebook, twitter, dan whatsapp. Ungkapan belasungkawa dan dukacita berseliweran, “Innalillahi wa inna ilaihi rhajiun. Telah berpulang ke rahmatullah mantan Bupati Pangkep ke-7, HA Gaffar Patappe (Puang Terru), semoga segala amal ibadah dan pengabdiannya diterima disisi Allah SWT”. Kabupaten Pangkep berduka! Ingatan sosial masyarakat seakan kembali ke Tahun 1999-2005, masa dimana beliau menjabat sebagai orang Nomor Satu di Pangkep.

Kabar berpulangnya mantan Anggota DPR RI Periode 2009-2014 ini, diterima Pukul 19.00 WIB, Ahad (16/12) di RSU Cipto Mangungkusumo, Jakarta saat sedang cuci darah karena penyakit ginjal yang dideritanya selama beberapa tahun terakhir. Selain gagal ginjal, almarhum juga menderita penyakit jantung. Empat bulan lalu almarhum diketahui menjalani proses pemasangan ring jantung. Sejak usai lebaran idul fitri tahun ini, almarhum sudah beberapa kali masuk rumah sakit karena sakit jantung dan ginjal.

Almarhum HA Gaffar Patappe

Almarhum HA Gaffar Patappe menghembuskan nafas terakhirnya di RSU Cipto Mangungkusumo, Jakarta (16/12).

Hari Senin (17/12), Jenazah almarhum diterbangkan dari Jakarta ke Makassar, dan dibawa ke rumah duka di Jln Racing Center 1 No. 2 Makassar dan selanjutnya dibawa ke Pangkep, dimakamkan di Pekuburan keluarga di Bonto-bonto, Kecamatan Ma’rang. Almarhum dikenal juga sebagai pamong senior di lingkup Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan dengan jabatan terakhir sebagai Asisten III Bidang Kesejahteraan Sosial pada Tahun 1998-1999.

Birokrat Tulen

Sosok HA Gaffar Patappe bagi penulis sendiri adalah pemimpin yang merakyat. Penilaian ini bukan cerita dari mulut ke mulut atau yang penulis dengar dari orang lain, tetapi lebih kepada penulis merasakan, melihat dan menikmati sendiri kepemimpinannya. Pada saat beliau menjabat sebagai Bupati Pangkep (1999-2005), penulis berprofesi sebagai wartawan dan seringkali diajak diskusi. Di akhir pemerintahannya, penulis diamanahi untuk menulis buku biografi dan perjalanan kepemerintahannya.

HA Gaffar Patappe, Bupati Pangkep Periode 1999-2005

HA Gaffar Patappe, Bupati Pangkep Periode 1999-2005

Sebagai birokrat tulen, HA Gaffar Patappe senang sekali turun ke bawah, mendengarkan langsung apa yang menjadi keluhan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Tak ada jarak sedikitpun dengan rakyat. Semuanya didatangi, baik yang berada di pegunungan, dataran rendah, sampai di pulau-pulau terjauh sekalipun. Beliau mengenalkan apa yang disebutnya pendekatan sektor dan wilayah, semua sektor dibangun di semua wilayah.

Meski sudah cukup berumur saat menjabat Bupati, namun yang disyukurinya adalah kenyataan bahwa beliau adalah Bupati Pangkep pertama di era otonomi daerah. Menurutnya, Desentralisasi dan Otonomi Daerah menciptakan keberanian sekaligus kreatifitas dalam kebijakan dan implementasi pembangunan daerah. Beliau seperti tak mengenal capek dan tak mengeluh untuk mengunjungi semua wilayah Pangkep yang berkarakter tiga dimensi, padahal untuk sampai di Pulau-pulau Pangkep terjauh sangat dibutuhkan stamina yang prima. Pada saat beliau bupati, kapal yang dipakai ke pulau ketika itu hanya kapal kayu, KM Kapoposan dan KM Amanagappa, butuh waktu 1-2 hari penuh terombang ambing di laut saat mengunjungi pulau-pulau Liukang Kalmas dan Liukang Tangaya.

Karena tingginya intensitas kunjungan resmi pemerintahan ke wilayah kepulauan, sehingga seringkali ada sebutan “Bupatinya Pulau” kepada HA Gaffar Patappe. Masyarakat Pulau memang patut berbangga dan berbahagia, karena sejak era kepemerintahan HA Gaffar Patappe-lah, sudah menikmati listrik, pabrik es, keramba jaring apung, bantuan permodalan buat kelompok nelayan, kapal perhubungan rakyat KM Amanagappa dan KM Kapoposan, perbaikan ratusan mesjid dan sekolah, peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga kesehatan, dan lain sebagainya.

Tapi tak hanya pulau yang disentuh. Kalau pulau saja yang begitu jauh diperhatikan, dataran rendah dan wilayah pegunungan lebih sering lagi dikunjungi. Di eranya HA Gaffar Patappe, diselesaikan ruko Kalibone, Palampang dan Ma’rang sebagai pusat perdagangan. Pun diselesaikan Relokasi Kantor Bupati dan Kantor Dinas-dinas, Taman Wisata Alam (TWA) Mattampa, dan betonisasi jalan menuju Tompobulu, Balocci sekaligus dibukanya akses jalan refresentatif yang menghubungkannya dengan Tondong Tallasa. Pemekaran kecamatan Minasatene dari Pangkajene, Tupabbiring Utara dari Liukang Tupabbiring dan Tondong Tallasa dari Balocci juga tercipta di era kepemerintahannya sebagai bagian dari mendekatkan pelayanan publik ke masyarakat.

Sebagai birokrat tulen, HA Gaffar Patappe dinilai sangat berpengalaman pada semua bidang pemerintahan. Hal ini dikarenakan beliau menapaki karir kepemimpinannya di birokrasi secara bertahap pada banyak jenjang. Beliau pernah menduduk Kabag Politik Pemkab Pangkep (1965-1966), Camat Ma’rang (1966-1970), Kabag Keuangan (1970-1975), Kabag Pembangunan (1975-1981), Kepala Bappeda (1981), Sekwilda Pangkep (1981-1985), Kepala BP7 Kota Makassar (1985-1988), Pjs Sekwilda Kota Makassar (1988), Karo Bina Produksi Pemerintah Tk I Sulsel (1988-1991), Wakil Ketua BKPMD Sulsel (1991-1996), Asisten III Bidang Kesos Pemerintah Sulsel (1998-1999) dan Bupati Pangkep (1999-2005).

Menulis Buku

Ada tiga buku yang penulis lahirkan tentang HA Gaffar Patappe. Buku Pertama, “Memahami Logika Berpikir HA Gaffar Patappe”. Kedua, “Pengabdianku untuk Rakyat”, dan Ketiga, “Demimu Rakyat Pangkep”. Setiap buku punya cerita tersendiri yang sangat berkesan bagi penulis, baik dalam proses kreatif kepenulisannya maupun cerita-cerita seru pada saat wawancara atau mengikuti kunjungan resmi pemerintahan daerah ketika itu. HA Gaffar Patappe sendiri sangat terbuka secara personal untuk dikenal dan dipahami lebih baik.

Buku "HA Gaffar Patappe - Demimu Rakyat Pangkep". (foto: ist/palontaraq)

Buku “HA Gaffar Patappe – Demimu Rakyat Pangkep”. (foto: ist/palontaraq)

Dari pengalaman menulis tiga buku tentang sosok dan perjalanan hidup HA Gaffar Patappe ini, penulis bersentuhan dengan banyak pelajaran, hikmah, dan pertemanan yang semakin meluas pada banyak tokoh masyarakat, serta tentu saja lingkungan birokrasi dalam lingkup Pemerintah Kabupaten. Karena banyaknya kunjungan ke berbagai pelosok Pangkep, penulis mengenal banyak tokoh masyarakat dan mewawancarainya terkait sejarah budaya lokal. Hal ini yang dibelakang hari sangat membantu penulis saat membukukan “Sejarah dan Kebudayaan Pangkep”.

Di tahun kelima HA Gaffar Patappe menjabat sebagai Bupati, penulis direkomendasikan sebagai salah satu tim seleksi Anggota KPUD Tahun 2004 mewakili unsur Pers ketika itu. Usai menuntaskan tugas dengan baik, penulis bersama tim seleksi KPUD lainnya, Dr.Anwar Borahima, SH,MH (sekarang sudah Profesor, Guru Besar FH Unhas), HA Idrus Dg Mangati (Tokoh Masyarakat), Drs HM Saleh Pahar (Tokoh Pendidikan), dan Halim Majid (Unsur Pemerintahan) dianugerahi peniti emas lambang daerah pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Pangkep Tahun 2004 bersama dengan Tokoh masyarakat penggerak pembangunan, tokoh tani dan nelayan, budayawan, seniman dan tokoh adat, serta tokoh pemerintahan daerah lainnya.

Penghormatan Terakhir

Menuju ke Pemakaman. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Menuju ke Pemakaman. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Tak sempat ke rumah duka di Makassar, penulis bersama ratusan pelayat lainnya menunggu jenazah almarhum HA Gaffar Patappe di Mesjid at-Taqwa, Bonto-bonto, Kecamatan Ma’rang. Usai shalat jenazah, jenazah almarhum kemudian diusung oleh pasukan Satpol PP menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Almarhum dikebumikan lewat upacara pemakaman resmi dipimpin oleh Bupati Pangkep, H. Syamsuddin A Hamid, SE di kompleks pemakaman keluarga almarhum, sekitar Pukul 14.30 WITA, Senin (17/12).

Jenazah almarhum dibawa ke pemakaman keluarganya usai dishalatkan di Mesjid at-Taqwa, Bonto-bonto, Ma'rang-Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Jenazah almarhum dibawa ke pemakaman keluarganya usai dishalatkan di Mesjid at-Taqwa, Bonto-bonto, Ma’rang-Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Selamat Jalan, Puang Terru. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Selamat Jalan, Puang Terru. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Almarhum HA Gaffar Patappe berpulang dalam usia 76 tahun, meninggalkan seorang istri, Hj Andi Chaeranah (Puang Rana), 6 anak, dan tentu saja jutaan kenangan dan hasil pengabdian bagi masyarakat Pangkep. Selamat jalan pamong sejati, HA Gaffar Patappe! Ratusan pelayat dan masyarakat Pangkep telah mengantarkan kepergianmu ke tempat peristirahatan terakhir. Menjadi bukti bahwa jasa dan karyamu bagi masyarakat tetap terkenang abadi. Selamat jalan, Puang Terru! (*)

Like it? Share it!

Leave A Response