Tentang “Akkape” dan “Akkio Sumanga”

by Etta Adil | Jumat, Nov 30, 2018 | 48 views
Memanggil Semangat. (foto: cbsnews.com)

Memanggil Semangat. (foto: cbsnews.com)

 

DALAM terminologi Bahasa Makassar, kata “Akkio” yang artinya memanggil, dan “Akkape” yang artinya melambaikan tangan adalah dua terminologi yang seringkali disamakan, sekalipun sebenarnya dua tindakan (kata kerja) ini adalah dua hal yang berbeda, dalam pengertian dan maknanya. Hal ini disebabkan karena kurangnya pendalaman akan makna suatu kata dalam Bahasa Makassar, boleh jadi juga karena tidak adanya minat untuk menggali kekayaan makna dari bahasa lokal setempat.

Kata “Akkio” dan “Akkape” itu dua hal yang berbeda. Seperti halnya nama kampung: Bonto Kio dan Bonto Kape. Yang tidak memahami hal ini, seringkali mengatakan, “Ia tonja akkio, ia tonja akkape” (Artinya: Sama saja itu antara memanggil dan melambaikan tangan). Boleh jadi benar, seseorang yang akkio (memanggil), dia juga yang akkape (melambaikan tangan), tapi akkio itu “suara”, sedang akkape itu “isyarat”.

Dua perbedaan kata, “Akkio” dan “Akkape” ini akan semakin jelas dalam “basa kabuyu-buyu” sebagaimana sering diucapkan kala “Pa’kio Bunting” berikut:

“Laku kiokangko anne sumangaknu mabellaya,
Laku kapeangko anne tubunu lampa salaya”.

(Terjemahan bebasnya):

“Daku akan panggilkan jiwamu yang jauh,
Daku akan cari juga tubuhmu yang kini entah pergi kemana”.

Kalimat diatas adalah satu kalimat yang utuh. Bahwa perkawinan itu adalah penyatuan jiwa (sumanga’) dan raga (tubu). Jadi, sumanga itu jiwa, tubu itu raga. Sumanga itu hanya bisa dipanggil dengan suara (akkio; laku kiokangko), sementara tubu (raga) bisa dipanggil dengan isyarat (akkape; laku kapeangko).

Tindakan memanggil (akkio) sumanga itu bisa tanpa melihat orangnya, seperti halnya kita mendoakan seseorang bisa dengan tanpa melihat orangnya, tapi Melambaikan tangan (akkape) tubu itu harus dengan melihat orangnya. Karena itu pula, pengucapan segala sesuatu yang berhubungan dengan kata “Sumanga” bisa tanpa melihat orangnya. Misalnya: Seseorang mengucapkan terima kasih, bisa saja mengucapkannya langsung jika orangnya ada, tapi bisa pula diungkapkan tanpa melihat orang yang memberikan jasa atau bantuan. Sekalipun sebenarnya secara maknawi, pengungkapan kata “sumanga” lebih kepada membesarkan jiwa.

Sebagai contoh, Kata yang digunakan untuk menyatakan terima kasih dalam Bahasa Makassar adalah: Kurru Sumanga’, Bugis: kerru sumange’ adalah ungkapan membesarkan jiwa atas kebaikan yang sudah dilakukan, lebih dari sekadar ‘terima kasih’, senang atas pemberian atau bantuan orang lain. Cara pengungkapan terima kasih bisa dimaknai sebagai upaya memanggil kembali semangat atau jiwa orang yang telah memberikan bantuan atau jasa. “Kurru Sumange”, diartikan sebagai ucapan terima kasih, dimaknai sebagai memanggil kembali jiwa besar dari orang lain untuk terus berbuat baik dan melakukan kebajikan. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response