Berpikir Bebas, Menulis Bebas

by Etta Adil | Kamis, Mei 17, 2018 | 455 views
Tulislah Apa yang Kamu Sukai, dengan referensi yang sudah ada dalam alam pikiranmu. (foto: adil/doc.palontaraq)

Tulislah Apa yang Kamu Sukai, dengan referensi yang sudah ada dalam alam pikiranmu. (foto: adil/doc.palontaraq)

Tulisan Terkait:

Menulis sebagai Interaksi Sosial

Menulis: Kebutuhan untuk Berkembang

Saya Menulis, maka Saya (Masih) Ada!

SEBENARNYA  tidak ada tips terbaik dalam menulis selain segera mengambil pulpen dan kertas lalu tuliskan apa saja yang terbersit dalam pikiran. Ataukah segera hidupkan komputer, buka Word-nya lalu segera bebaskan pikiran anda untuk menangkap segala pengalaman yang pernah kita lalui. Setelah itu, tuliskan!

Tips Menjadi Penulis. (sumber: ist/palontaraq)

Tips Menjadi Penulis. (sumber: ist/palontaraq)

Menulis adalah pekerjaan  “membumi”, yaitu membumikan pengetahuan yang telah kita pahami. Menulis bisa jadi berarti mendalami ulang pengalaman yang telah kita lalui, alami serta rasakan. Dengan menulis, ingatan kita bisa menjadi lebih panjang.

Menulis yang termudah adalah menuliskan apa saja yang terdekat dengan kita. Tulislah apa saja yang pernah kita lihat, alami dan rasakan. Biasanya kegiatan menulis menjadi siksaan kalau kita memaksakan diri menjangkau hal-hal yang tidak bisa kita jangkau, baik oleh pikiran, nalar, maupun menganalisanya. Misalnya kita mau menulis tentang “Langit”, sementara kita berpijak di “Bumi”. Mau menulis tentang Korea, sementara kita ada di Makassar. Kita tentu tak utuh menulis tentang Korea jika hanya berdasar banyaknya film drama korea yang ditonton,  terkecuali kita pernah punya pengalaman berada disana, ya itu sih bisa saja sepanjang alur penceritaannya tidak mengawan-awan diangkasa.

Menulis itu tidak ada teorinya, yang ada hanya gaya penulisan.  Soal gaya penulisan ini bisa tercipta dengan sendirinya karena faktor pembiasaan. “Ala Bisa Karena Biasa”. Menulislah seperti orang berbicara dan tentunya akan sangat mudah menulis jika yang anda “bicarakan” adalah pengetahuan yang telah anda pahami dan pengalaman yang telah anda lalui. Jika  masih kesulitan juga, tulislah tentang diri, sekolah, lingkungan atau prestasi anda, siapa tahu diri anda bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.

Menulis itu tak mesti yang baik-baik. Belajarlah pula menulis apa yang kamu tidak sukai, kemukakan kenapa kamu tidak menyukainya. Kalau kamu punya pengalaman buruk atau trauma berteman dengan typical orang tertentu, ya tuliskan. Bebaskan pikiran anda untuk menuliskannya dan supaya tidak menekan perasaan anda, maka penulisan nama, kejadian dan tempat peristiwanya bisa disamarkan. Terakhir sarankanlah kepada pembaca agar menjauhi atau berhati-hati terhadap teman dengan sifat dan typical seperti yang anda kemukakan, dengan begitu kita semua (penulis dan pembaca) sama-sama dapat merasakan manfaat dari tulisan tersebut.

Menulislah dan bebaskan pikiran untuk menuliskan segala sesuatu dengan bebas, sebebas pengetahuan dan pengalaman yang melingkupi pikiran.  Jika kamu tidak bisa menjadi narator atau penutur yang baik dalam tulisan, persingkat tulisan itu dan rangkai menjadi kalimat yang puitis.

Jangan pernah putus asa dalam menulis. Tak bisa jadi artikel ataupun esai, maka padatkan menjadi puisi.  Rangkum pengetahuan, pengalaman, dan perasaan kamu dalam susunan kalimat puitis.  Jika kamu lebih menyukai fiksi, misalnya menulis puisi, maka jangkaulah apa saja dengan imajinasimu, dan sayapun akan menyarankan sebaliknya, “Silahkan melangit, terbanglah ke angkasa, dan jangan lagi pijak bumi”. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response