Oleh: Etta Adil
Pernahkah engkau berpikir kenapa diri ini masih disini
Menapak jejak rindu pada senja
Diam dalam hening, beku dan bisu
Tak semestinya engkau pergi meninggalkan guratan asa. .
Bukankah kita merdeka untuk saling mencinta
Melukis semesta diatas kanvas hidup
Tak ada yang hampa dan sia-sia
Tak ada duka lara, apalagi hati yang meradang
Tak ada mata yang basah, gelap berduka. .
Bukankah kita merdeka untuk saling mencinta
Melukis semesta pada siluet senja
Tak ada tikaman pada riuh nafsu membunuh
Tak ada buih pada kopi sianida
Tak ada paus di akuarium. .
Bukankah kita merdeka untuk saling mencinta
Melukis semesta pada rinai hujan
Tak ada hijrah saat langit gelap
Tak ada pasrah saat senyum tak lagi merekah
Tak ada buih ombak saat laut enggan memeluk pantai. .
.
Bukankah kita merdeka untuk saling mencinta
Melukis semesta pada masa depan
Tak ada lagi bimbingan layaknya saat menyusun skripsi
Tak ada lagi revisi saat yudisium sudah telak
Tak ada lagi waktu untuk menunggui senja.
.
Datanglah padaku
Usahlah tunggui senja
Disana alang-alang tak lagi kelihatan
Hanya haru biru untuk menanti hadirmu
Selalu ada udara untuk nafas hidup para pencinta
Meski senja telah ditelan gelap malam.
Puisi Etta Adil, Pulau Salemo, 2017


