Oleh: Muhammad Farid Wajdi
Tulisan Sebelumnya: Hobi Menulis seperti Kebutuhan Makan
PALONTARAQ.ID – SEMUANYA tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Inilah pemikiran falsafi Rene Descartes, salah satu pemikir berpengaruh dalam sejarah filsafat barat modern.
Rene Descartes menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk “Rasionalisme Kontinental”, sebuah posisi filosofikal di Eropa pada Abad XVII dan XVIII.
Dalam bahasa latin, kalimat filosofi Rene Descartes ini dikenal dengan kalimat, “Cogito ergo sum”, atau dalam Bahasa Perancis, “Je pense donc je suis”. Artinya: Saya berpikir maka Saya Ada!
Dalam Ilmu Komunikasi, berpikir merupakan proses abstrak yang tidak bisa menunjukkan eksistensi seseorang dalam hubungannya dengan orang lain sebagai makhluk sosial, kecuali kalau apa yang dipikirkannya tersebut dia bahasakan atau dia tuliskan.

Sebagai makhluk sosial yang berbudaya, manusia adalah ‘pembicara yang baik’. Dan sebaik-baik pembicaraan adalah yang didalamnya mengandung ilmu dari proses berpikir yang sistematis dan membangun. Karena itu, sejak zaman batu manusia sudah mengenal tulisan untuk merekam apa yang dipikirkan dan diketahuinya.
Menjadi pembicara yang baik adalah sifat manusia yang umum, sedangkan menjadi penulis yang baik adalah sifat manusia yang khusus. Semua orang bisa bicara, tapi tidak semua orang bisa menulis. Kekhususan dari orang yang bisa menulis (tidak hanya sekedar suka menulis) adalah mencintai ilmu.

Untuk menjadi seorang penulis yang baik, tidak hanya berhenti pada proses berpikir atau memikirkan sesuatu. Seorang penulis berusaha menuliskan apa yang dipikirkannya. Ya, menulis adalah salah satu cara untuk mengikat ilmu.
Lihat juga: Ungkapkan Cinta dengan Mata Kata
Menulis adalah proses mencatat apa yang kita ketahui. Menulis adalah proses merekam apa yang kita alami, dan menulis adalah proses meditasi apa yang kita rasakan.
Karena itu, mulailah menulis dari apa yang paling kita ketahui, alami dan rasakan. Dengan begitu kita akan membuat proses menulis itu sebagai suatu yang mudah dan mengasyikkan.
Apa yang terpikirkan dan kemudian lahir sebagai suatu tulisan adalah proses yang lahir dari interaksi sosial, mengomunikasikannya, kemudian membuatnya layak sebagai suatu bacaan yang menyegarkan, mencerahkan dan menghibur.
Jadikan Menulis sebagai Interaksi Sosial
Kalau kita sudah menjadikan menulis sebagai Interaksi Sosial, maka dengan sendirinya kita akan menulis tanpa beban, menulis setiap hari dengan sendirinya tanpa paksaan. Kenapa? Ya, Karena dengan menulis kita berinteraksi dengan orang lain.
Dengan menulis, orang lain punya kesempatan untuk dapat memahami kita secara utuh. Karena dengan menulis, kita memiliki peluang untuk ungkapkan cinta dengan mata kata.

Dengan menulis pula, kita menyatakan eksistensi. Menulis membuat diri masih ada! Menulis berarti mengeluarkan diri dari keterpurukan dan keterasingan. Orang lain tidak akan mengenal kita dari berpikir, tapi jika pikiran kita dituliskan, maka keberadaan kita bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Ya, J’écris donc je suis! “Saya menulis maka Saya Ada! Nyatakan bahwa dirimu dan pemikiranmu masih ada lewat tulisan!
Jangan berlama-lama untuk tidak menulis. Menulislah sekarang juga! Caranya sangat mudah, tulislah tentang apa saja, ada baiknya menulis dari apa yang paling kita ketahui. Ya Tulislah tentang dirimu, keluargamu, kisah perjalanan atau pengalaman hidupmu.
Jangan susah-susah mencari ide. Begitu ada terlintas di benak, maka tulislah pada saat itu juga. Untuk itu siapkanlah selalu pulpen dan buku catatan kecil.

Berbicaralah lewat tulisan dan jika sudah dituliskan, suruhlah orang lain membacanya. Jika ia dapat memahami apa yang kamu bahasakan lewat tulisan, maka satu langkah menjadi penulis yang baik telah kamu lewati. Buatlah langkah berikutnya, beranilah mempublishnya.
Pupuklah kepercayaan diri bahwa apa yang kamu ketahui belum tentu diketahui orang lain. Mungkin iya, tapi dari sudut pandang yang berbeda, dan itulah yang membuatnya menarik, karena bisa memunculkan proses sharing dan dialogis lewat tulisan.
Mari terus menulis dan tetap semangat mengikat ilmu. Writing, writing, and keep on writing! (*)


