Oleh: Ramadhan M *)
PALONTARAQ.ID – Dalam konstelasi kebudayaan Sulawesi Selatan, siapa yang tak kenal kata “Lontaraq” dan “Palontaraq”? Kata “Lontaraq” bukan sekadar merujuk pada lembaran daun lontar kuno yang digoresi aksara khas. Ia adalah representasi dari memori kolektif, sebuah wadah suci tempat sejarah, hukum adat (Pangadereng), silsilah raja-raja (Attoriolong), hingga petuah bijak (Paseng) bersemayam.
Di kekinian, di era digital yang serba cepat ini, Naskah-naskah bisu itu terancam menjadi artefak yang hanya dipandang tanpa dipahami. Di sinilah muncul sosok Palontaraq, sebuah entitas yang bukan sekadar nama media, melainkan sebuah personifikasi dari penjaga nyala api peradaban.
“Palontaraq dalam Palontaraq” adalah sebuah judul yang mengandung kedalaman makna filosofis. Ia merujuk pada eksistensi seorang manusia yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjadi medium bagi suara-suara masa lalu agar tetap terdengar di masa depan. Sosok di balik entitas ini adalah M. Farid W Makkulau, seorang intelektual organik yang kiprahnya telah melampaui batas-batas definisi profesi tunggal.
Siapa Sebenarnya “Palontaraq”?
Secara etimologis, Palontaraq dapat dimaknai sebagai “orang yang menulis atau memelihara Lontaraq”. Jika dahulu para Palontaraq adalah para juru tulis istana yang mencatat titah raja dan hukum kerajaan, maka Palontaraq di era modern adalah mereka yang mampu mentransformasikan nilai-nilai klasik tersebut ke dalam ruang publik kontemporer.
M. Farid W Makkulau, yang juga dikenal dengan nama pena Etta Adil, adalah sosok yang menghidupkan kembali peran tersebut. Beliau bukan hanya seorang penulis; ia adalah seorang budayawan yang teliti, seniman yang peka, sastrawan sekaligus penyair yang puitis, serta seorang guru dan blogger yang visioner. Melalui platform digitalnya, Media Palontaraq, ia membangun jembatan informasi yang menghubungkan generasi milenial dan Gen-Z dengan akar budayanya yang paling dalam.
Kiprahnya selama puluhan tahun menunjukkan bahwa “Palontaraq” bukanlah sekadar label, melainkan sebuah jalan hidup (way of life). Baginya, menulis tentang sejarah bukan sekadar menyusun fakta kronologis, melainkan upaya untuk menggali nilai-nilai kemanusiaan yang relevan untuk memperbaiki tatanan sosial masa kini.
Sosok Multidimensi: M. Farid W Makkulau
Untuk memahami “Palontaraq dalam Palontaraq”, kita harus membedah lapisan-lapisan peran yang dijalani oleh M. Farid W Makkulau. Keberagaman peran ini saling mengunci satu sama lain, menciptakan sebuah ekosistem pemikiran yang utuh.
1. Sang Budayawan dan Sejarawan Maritim
Sulawesi Selatan dikenal dengan identitas baharinya yang kuat. Farid W Makkulau memberikan perhatian khusus pada sejarah maritim dan perkembangan wilayah administratif lokal. Beliau memahami bahwa identitas orang Bugis-Makassar tidak bisa dilepaskan dari laut. Melalui penelitian-penelitiannya, ia mendokumentasikan bagaimana pelayaran tradisional dan perdagangan rempah membentuk karakter masyarakat yang terbuka namun teguh pada prinsip Siri’ na Pesse.
2. Sastrawan dan Penyair Penjaga Kata
Dalam dunia sastra, ia dikenal mampu meramu diksi yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga sarat dengan muatan filosofis lokal. Puisi-puisinya sering kali menjadi refleksi atas kegelisahan budaya. Sebagai sastrawan, ia memahami bahwa bahasa adalah benteng terakhir kebudayaan. Jika bahasa daerah dan aksara Lontaraq hilang, maka hilang pulalah cara pandang dunia (worldview) masyarakat pendukungnya.
3. Guru dan Edukator Publik
Perannya sebagai guru tidak terbatas pada ruang kelas formal. Sebagai tokoh budaya yang kerap diundang di berbagai seminar, diskusi panel, lokakarya, dan pelatihan, ia kerapkali memposisikan diri sebagai guru bagi masyarakat luas. Ia juga menyederhanakan narasi sejarah yang berat menjadi tulisan-tulisan blog yang renyah namun tetap memiliki akurasi ilmiah. Inilah bentuk demokratisasi ilmu pengetahuan yang ia perjuangkan: agar sejarah tidak hanya menjadi milik kaum akademisi di menara gading.
4. Blogger dan Aktivis Literasi Digital
Di saat banyak budayawan gagap menghadapi teknologi, M Farid W Makkulau justru menjadikannya sebagai senjata. Media Palontaraq menjadi oase di tengah gersangnya konten budaya yang berkualitas di internet. Ia membuktikan bahwa konten sejarah dan budaya lokal bisa bersaing dengan tren modern jika dikemas dengan dedikasi dan konsistensi.
Khazanah Sulawesi Selatan: Dari Tondongkura hingga Sendratari
Bukti nyata dari dedikasi M. Farid W Makkulau terlihat dari karya-karya monumentalnya. Dua di antaranya yang menonjol adalah “Menelusuri Tondongkura” dan “Panduan Pertunjukan Sendratari”.
Dalam Menelusuri Tondongkura, ia melakukan kerja-kerja mikro-historis yang luar biasa. Ia tidak hanya melihat sejarah besar di pusat kerajaan, tetapi turun ke pelosok desa untuk mencatat memori-memori yang terabaikan. Ini adalah upaya untuk memberikan kedaulatan sejarah pada setiap jengkal tanah di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, melalui panduan sendratari, ia menunjukkan sisi senimannya yang ingin memastikan bahwa pertunjukan tradisional bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Ia memberikan standarisasi dan filosofi di balik setiap gerak dan kostum, sehingga esensi dari tarian tersebut tetap terjaga meskipun dipentaskan di panggung modern.
Filosofi “Palontaraq dalam Palontaraq”
Mengapa harus ada “Palontaraq dalam Palontaraq”? Ini adalah tentang integritas. Seorang penulis budaya harus menjadi subjek sekaligus objek dari apa yang ia tulis. Budayawan M. Farid W Makkulau tidak hanya menulis tentang adat; ia hidup dalam napas adat tersebut. Ia tidak hanya menceritakan sejarah; ia adalah saksi hidup dari transisi budaya yang sedang terjadi.
Dalam setiap tulisannya, terdapat ruh Pangadereng yang mencakup lima pilar: Ade’ (adat), Bicara (hukum), Rapang (perumpamaan/teladan), Wari (tata tertib silsilah), dan Sara’ (syariat). Keselarasan antara kelima unsur ini dalam pemikiran Farid menjadikannya sosok yang dihormati baik di kalangan akademisi maupun pemangku adat.
Tantangan dan Harapan di Masa Depan
Perjalanan Palontaraq tentu tidak tanpa hambatan. Di tengah arus globalisasi yang membawa budaya pop secara masif, minat generasi muda terhadap naskah kuno kian menyusut. Namun, M. Farid W Makkulau melihat ini bukan sebagai jalan buntu, melainkan tantangan untuk terus berinovasi.
Ia mendorong penggunaan kecerdasan buatan, visualisasi data geospasial, hingga pemanfaatan media sosial untuk menyuarakan narasi lokal. Baginya, teknologi adalah alat, sementara ruhnya tetap pada Nilai-nilai leluhur. Inilah yang disebut dengan modernitas yang berakar.
Kesimpulan
M. Farid W Makkulau melalui entitas Palontaraq-nya telah membuktikan bahwa mencintai kebudayaan lokal bukanlah sebuah langkah mundur ke belakang. Sebaliknya, dengan memahami akar sejarah dan kekayaan sastra, kita memiliki fondasi yang kuat untuk melangkah ke masa depan.
Beliau adalah pengingat bahwa di balik setiap aksara Lontaraq yang kaku, terdapat aliran darah keberanian, kearifan, dan kemanusiaan. “Palontaraq dalam Palontaraq” adalah sebuah monumen hidup bagi literasi Sulawesi Selatan, sebuah panggilan bagi kita semua untuk kembali menengok ke dalam, menemukan jati diri, dan menjaganya agar tetap menyala hingga akhir zaman.
Bahan Bacaan:
Abidin, Andi Zainal. (1999). Capita Selecta Kebudayaan Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin Press.
Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris.
Mattulada. (1985). Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Jakarta: Berita Buana.
Sutherland, Heather. (2004). Notes on Java’s Regent Families. Indonesia: Cornell University Southeast Asia Program. (Sebagai pembanding metodologi sejarah lokal).
(* Ramadhan M, Pegiat Literasi Budaya/Pengasuh Rumah Baca Palontaraq di Pangkep





