Beranda Artikel Pemahaman Dasar Logika dan Cara Berpikir

Pemahaman Dasar Logika dan Cara Berpikir

ilustrasi: writemysite.co.uk
ilustrasi: writemysite.co.uk

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – BAGAIMANA Orang berpikir? Wah, itu sih pertanyaan bodoh, kata sebagian besar ‘orang yang pintar’.  “Orang berpikir ya karena dia mempunyai akal,” begitu jawabnya. Jawaban tersebut tentu tidaklah salah, hanya terlalu sederhana jika dijabarkan dan dikaitkan dengan Ilmu Logika (Logics).

Pemahaman tentang logika berpikir tidaklah sesederhana menangkap apa yang menjadi ‘buah pemikiran’ seseorang dalam bentuk ucapan atau tulisan.

A. Pemahaman Dasar Tentang Logika

Logika adalah ilmu yang mempelajari tentang hukum, patokan, dan rumus serta norma berpikir. Psikologi juga membicarakan aktivitas berpikir, karena itu kita haruslah hati-hati melihat persinggungannya dengan Logika.

Psikologi mempelajari pikiran dan kerjanya tanpa menyinggung sama sekali urusan benar salah. Sebaliknya urusan benar atau salah menjadi masalah pokok dalam Logika (Mundiri, 2001).

Logika tidak mempelajari cara atau metode berpikir dari semua ragamnya, tetapi pemikiran yang paling sehat dan praktis. Banyak jalan pemikiran kita dipengaruhi oleh keyakinan, pola berpikir kelompok, kecenderungan pribadi, pergaulan dan sugesti.

Juga banyak pemikiran yang diungkapkan sebagai luapan emosi seperti caci maki, kata pujian atau pernyataan keheranan dan kekaguman.

Ada juga pemikiran yang diungkapkan dengan argumentasi yang secara sepintas kelihatan benar untuk memutarbalikkan kenyataan dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi maupun golongan.

Untuk memahami sesuatu, kita memerlukan logika dan cara menganalisa. (foto: adil)
Untuk memahami sesuatu, kita memerlukan logika dan cara menilai pemikiran. (foto: adil)

Logika menyelidiki, menyeleksi, dan menilai pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta bertujuan untuk mendapatkan kebenaran, terlepas dari segala kepentingan dan keinginan perorangan.

Logika merumuskan serta menerapkan hukum dan patokan yang harus ditaati agar seseorang dapat berpikir benar, efisien, sistematis, dan teratur.

Dengan demikian ada dua obyek penyelidikan Ilmu Logika (Ilmu Mantiq), yaitu:

Pertama, Pemikiran sebagai obyek material. Kita mengenalnya dengan nama Logika Material (al-Mantiq al-Maddi);

Kedua, Patokan atau hukum berpikir benar sebagai obyek formalnya, yang disebut Logika Formal (al-Mantiq as-Suwari ).

Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk berbeda secara radikal yakni dari cara berpikir umum ke khusus (deduktif) dan dari cara berpikir khusus ke umum (induktif).

Cara Berpikir Deduktif dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar-asar persesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan menggunakan hukum, rumus, atau patokan berpikir benar.

Sedang cara berpikir induktif dipergunakan dalam logika material yang mempelajari dasar persesuaian pikiran dengan kenyataan (penyesuaian idealita dengan realita).

Dengan kata lain, menilai hasil pekerjaan logika formal dan menguji validitasnya dengan fakta empiris. Lantas, mungkinkah kita mempelajari ‘hal yang abstrak’’ yang disebut pikiran itu?

Manusia bukanlah wujud spiritual murni, tetapi merupakan perpaduan antara wujud jasmani dan rohani. Karena itu ia memerlukan sarana material untuk menangkap ‘pikiran yang abstrak’ itu.

Kita tidak mungkin memahami pikiran seseorang kalau tidak diwujudkan dalam bentuk ucapan, tulisan atau isyarat. Isyarat adalah perkataan yang dipadatkan, karena itu ia adalah perkataan juga.

Jadi pikiran dan perkataan adalah identik, tidak berbeda satu sama lain dan bukan tambahan bagi masing-masingnya. Terkadang orang mengatakan, “Pikiran adalah perkataan dan perkataan adalah pikiran.”

Angan-angan, khayalan, pikiran yang berkecamuk dalam dada dan kepala kita tidak lain adalah bisikan kata yang amat lembut. Kata-kata yang mewakili pikiran ini bukan sekedar coretan pena yang dituliskan atau suara gaduh yang diucapkan, tetapi merupakan susunan kata yang mewakili maksud tertentu yang lengkap (Proposisi).

Pengetahuan kita tidak lain adalah informasi proposisi. Dalam aktivitas berpikir (thinking process) kita selalu membanding, menganalisis serta menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya.

Dengan demikian penyelidikan logika dalam mencari kebenaran pemikiran selalu berurusan dengan struktur dan relasi proposisi.

Rahasia Logika berpikir sebenarnya terletak pada bagaimana memaksimalkan fungsi otak kiri dan otak kanan yang berkorelasi positif terhadap proses pengambilan keputusan dan perilaku kepemimpinan.

Belahan otak kiri beroperasi secara rasional (intelectual capabilities), ia menerima informasi sedikit demi sedikit dan langsung mengolahnya, seperti mendengarkan laporan bawahan, membaca laporan telaahan staf, memahami ceramah, dan lain sebagainya.

Otak kiri itu juga mengawasi komunikasi lisan, disamping penalaran logis dan matematis. Sedangkan, belahan otak kanan beroperasi secara intuitif, memimpikan dan merasakan dalam total pencitraan terhadap sesuatu, kemampuan dan jiwa seni (art capabilities) seseorang dikontrol oleh otak kanan ini. Otak kanan itu mengontrol kreatifitas dan kemampuan artistik.

Logika berpikir dapat disistematisasikan menjadi beberapa kategori, tergantung darimana kita meninjaunya. Dilihat dari segi kualitasnya. Logika (dalam Bahasa Arab dikenal dengan nama Mantiq) dibedakan menjadi Logika Naturalis (Mantiq al-Fitri) dan Logika Artifisialis atau Logika Ilmiah (Mantiq as-Suri).

Logika Naturalis yaitu kecakapan berpikir berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia. Akal manusia yang normal berarti dapat bekerja secara spontan sesuai Hukum-hukum logika dasar sedang Logika Ilmiah (science logic) memperhalus, mempertajam serta menunjukkan jalan pemikiran agar akal dapat bekerja lebih teliti, efisien, mudah dan aman.

B. Pengungkapan Proposisi

Ilustrasi. muhsinlabib
Ilustrasi. muhsinlabib

Logika (logics) mempelajari cara bernalar yang benar dan kita tidak bisa melaksanakannya tanpa memiliki dahulu pengetahuan yang menjadi premisnya.

Bila kita mencoba membandingkannya dengan sebuah bangunan, maka premis itu adalah batu, pasir dan semennya; Sedangkan proses penalaran itu dapat kita samakan dengan bagan atau arsitekturnya (Mundiri, 2001).

Dengan semen, batu dan pasir serta arsitektur yang baik akan dihasilkan bangunan yang indah dan kokoh. Dengan premis yang dapat dipertanggung-jawabkan dan melalui proses penalaran yang sah akan dihasilkan kesimpulan yang benar. (Gorys Keraf, 1982).

Premis-premis dimana logika bergelut berupa pernyataan dalam bentuk kata-kata, meskipun dalam penyelidikan lebih lanjut dijumpai pernyataan dalam Rumus-rumus.

Pernyataan pikiran manusia adakalanya mengungkapkan keinginan, perintah, harapan, cemooh, kekaguman, dan pengungkapan realitas tertentu baik dinyatakan dalam bentuk positif maupun bentuk negatif.

Pembicaraan logika berurusan dengan pernyataan pikiran dan bentuk terakhir (kesimpulan), seperti:

Etta Adil seorang yang rendah hati.
Etta Adil yang penyabar dan bijaksana.
Etta Adil seorang pemimpin yang demokratis.
Semua Bupati berakhir masa jabatannya dalam 5 tahun.
Etta Adil  bukan Sekretaris Daerah Kabupaten Pangkep.
Tidak semua anggota DPRD representasi wakil rakyat di daerahnya.

Dengan memperhatikan contoh diatas dapat diketahui bahwa proposisi (propotition) adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang dapat dinilai benar dan salahnya.

Proposisi dapat dianggap sebagai unit terkecil dari pemikiran yang mengandung maksud sempurna (pengungkapan kalimat sederhana).

Jika kita menganalisis suatu pemikiran, taruhlah suatu buku, kita akan mendapati kesatuan pemikiran dalam buku itu, kemudian lebih khusus lagi dalam bab-babnya, kemudian pada paragrafnya dan pada akhirnya pada unit yang tidak bisa dibagi lagi yakni yang disebut proposisi.

Proposisi itu sendiri masih bisa dianalisis lagi menjadi kata-kata, tetapi kata-kata hanya menghadirkan pengertian sesuatu, bukan maksud atau pemikiran sesuatu (Mundiri, 2001).

Semua pernyataan pikiran yang mengungkapkan keinginan dan kehendak tidak dapat dinilai benar dan salahnya bukanlah proposisi, seperti:

Semoga Allah SWT memberkati kita semua.
Loloskan aku menjadi seorang pegawai negeri sipil!
Alangkah bagusnya jika semua anggota DPRD itu merakyat.
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia.
Cih, Saudara pegawai tidak disiplin.
Wahai Bupati, Merakyatlah selalu!

Sekarang bagaimanakah caranya mengukur benar atau salahnya suatu proposisi ? Dalam Logika dikenal dua macam proposisi, menurut sumbernya, yaitu proposisi analitik (analytic propotition) dan proposisi sintetik (sintetic propotition).

Proposisi Analitik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang sudah terkandung pada subyeknya, seperti:

Bupati adalah Kepala Pemerintahan Kabupaten (Pemkab).
Gubernur adalah Kepala Pemerintahan Propinsi (Pemprop).
Presiden adalah Kepala Negara.

Kata ‘Kepala Pemerintahan Kabupaten’ pada Contoh ‘Bupati adalah Kepala Pemerintahan Kabupaten’ pengertiannya sudah terkandung pada subjek Bupati. Jadi, predikat pada proposisi analitik tidak mendatangkan pengetahuan baru.

Untuk menilai benar tidaknya proposisi serupa kita lihat ada tidaknya pertentangan dalam diri pernyataan itu, sebagaimana yang telah kita pelajari tentang ukuran kebenaran.

Proposisi analitik juga disebut sebagai ‘Proposisi a priori’. Pengungkapan Proposisi analitik sering diungkapkan Pejabat publik atau saat diminta memberikan kata sambutan pada suatu acara resmi dimana pendengarnya adalah rakyat.

Kemampuan atau kecerdasan mengungkapkan suatu bahasa (capability to communicate) tentu saja sangat tergantung pada siapa yang menjadi pendengar atau lawan bicara kita, atau paling tidak kita mempunyai pengetahuan awal bahwa orang yang saya ajak bicara tingkat pendidikannya hanya sampai SD atau SMP misalnya, sehingga kita sebagai pembicara tentu menyesuaikan diri agar komunikasi berjalan lebih efektif.

Pengungkapan ‘proposisi analitik’ adalah bahasa rakyat, bahasa yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi begitu mudah dipahami oleh rakyat tak berpendidikan sekalipun.

Proposisi Sintetik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang bukan menjadi keharusan pada subjeknya, seperti:

Pemimpin itu amanah.
Pejabat Asisten I itu Cerdas dan Ulet.
Dia seorang Pengusaha yang Intelek.
Dia seorang Koruptor

Kata ‘amanah’ pada proposisi ‘Pemimpin itu amanah’ pengertiannya belum terkandung pada subjeknya yaitu ‘Pemimpin’. Jadi kata ‘amanah’ merupakan pengetahuan baru yang didapat melalui pengalaman.

Proposisi sintetik adalah lukisan dari kenyataan empirik maka menguji benar salahnya diukur berdasarkan sesuai tidaknya dengan kenyataan empiriknya. Proposisi ini juga disebut ‘proposisi a posteriori’.

Proposisi sintetik (sintetic propotition) adalah bahasa pejabat, bahasa politis, bahasa koran. Umumnya Pejabat tentunya tidak akan atau bahkan jarang sekali memakai pengungkapan Proposisi Sintetik ini ketika berkomunikasi dengan masyarakat terpencil atau komunitas tradisional misalnya, justru kalau dipaksakan bisa terjadi kebuntuan komunikasi.

Jadi, mengomunikasikan sesuatu perlu melihat dari golongan mana saja di masyarakat dengan berbagai tingkat pendidikan dan penghidupan yang berbeda.

Sebagian besar orang menganggap bahwa orang pintar itu ialah orang yang mampu membahasakan sesuatu secara ilmiah, padahal anggapan tersebut justru merupakan suatu kesalahan besar.

Menurut ahli komunikasi, orang pintar ialah yang orang yang mampu membahasakan sesuatu kepada orang lain tergantung tingkat pendidikan lawan bicaranya.

Haruskah mengeluarkan kata-kata atau bahasa ilmiah pada orang pulau misalnya, yang tingkat pendidikannya hanya setingkat SD dan sehari-harinya kehidupannya hanya mengenal seputar masalah ikan dan melaut?

Proposisi menurut bentuknya ada tiga macam, yaitu: Proposisi Kategorik, Proposisi Hipotetik dan Proposisi Disyungtif.

Proposisi kategorik (categoric propotition) adalah proposisi yang mengandung pernyataan tanpa adanya syarat, seperti:

Presiden sedang sibuk kerja

Orang-orang yang sedang bekerja di Press Room itu adalah wartawan

Pegawai rajin dan disiplin akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang mereka harapkan.

Proposisi kategorik yang paling sederhana terdiri dari satu term subyek, satu term predikat, satu kopula dan satu quantifier. Subyek, sebagaimana kita ketahui, adalah term yang menjadi pokok pembicaraan.

Predikat adalah term yang menerangkan subyek. Kopula adalah kata yang menghubungkan antara term subyek dan term predikat.

Quantifier adalah kata yang menunjukkan banyaknya satuan yang diikat oleh term subyek (Mundiri, 2001). Dalam contoh berikut unsur sebuah proposisi kategorik dapat kita ketahui dengan jelas:

Sebagian kontraktor adalah bermasalah
1                         2              3                 4

1 = quantifier, 2 = term subyek, 3 = kopula, 4 = term predikat

Quantifier terkadang menunjuk kepada permasalahan universal, seperti kata : seluruh, semua, segenap, setiap, tidak satupun, dan lain sebagainya.

Adakalanya menunjuk kepada permasalahan partikular, seperti: sebagian, kebanyakan, tidak semua, sebagian besar, hampir seluruh, rata-rata, salah seorang diantaranya, dan lain sebagainya.

Ada kalanya menunjuk kepada permasalahan singular, tetapi untuk permasalahan singular biasanya quantifier tidak dinyatakan.

Apabila quantifier suatu proposisi (pernyataan) menunjuk kepada permasalahan universal maka proposisi itu disebut proposisi universal (general propotition).

Apabila menunjuk kepada permasalahan partikular maka disebut proposisi particular (particular propotition), dan apabila menunjuk kepada permasalahan singular maka disebut proposisi singular (singular propotition).

Perlu diketahui, meskipun dalam suatu proposisi tidak dinyatakan quantifier-nya tidak berarti subyek dari proposisi tersebut tidak mengandung banyaknya satuan yang diikatnya.

Dalam keadaan apapun subyek selalu mengandung jumlah satuan yang diikat. Lalu bagaimana menentukan kualitas dari proposisi (propotition quality) yang tidak dinyatakan quantifiernya?

Kita dapat mengetahuinya lebih detail lewat hubungan pengertian antara subyek dan predikatnya. Sekarang perhatikan dahulu contoh proposisi yang quantifiernya dinyatakan:

– Proposisi Universal: Semua Aparatur Sipil Negeri  memiliki Nomor Induk ASN.
– Proposisi Partikular: Sebagian Kontraktor tidak dapat proyek dari Pemerintah Kabupaten
– Proposisi Singular: Pejabat yang bernama Muhammad Farid Wajdi adalah Kadis Kesos.

Proposisi tersebut dapat dinyatakan tanpa disebut quantifiernya/kuantitas proposisinya:

– Proposisi Universal: Aparatur Sipil Negeri  memiliki Nomor Induk ASN.
– Proposisi Partikular: Kontraktor tidak dapat proyek dari Pemkab.
– Proposisi Singular: Muhammad Farid Wajdi  adalah Kadis Kesos.

Dalam proposisi “ASN memiliki Nomor Induk ASN”, meskipun quantifiernya tidak dinyatakan, yang dimaksud adalah semua pegawai, karena tidak satupun pegawai yang tidak memiliki Nomor Induk ASN (Aparatur Sipil Negara).

Pada proposisi Kontraktor tidak dapat proyek dari Pemkab yang dimaksud ialah sebagian kontraktor karena tidak semua kontraktor dapat proyek dari Pemkab.

Sedangkan pada proposisi Muhammad Farid Wajdi adalah Kadis Kesos  yang dimaksud ialah tentulah seorang, bukan beberapa.

Kopula, sebagaimana telah disebut adalah kata yang menegaskan hubungan term subyek dan term predikat baik hubungan mengiyakan maupun hubungan mengingkari. Bila ia berupa ‘adalah’ berarti mengiyakan dan bila berupa ‘tidak, bukan atau tak’ berarti mengingkari.

Kopula menentukan kualitas proposisinya. Bila ia mengiyakan maka proposisinya disebut proposisi positif (positive propotition) dan bila mengingkari disebut proposisi negative (negative propotition).

– Proposisi Positif: Muhammad Farid Wajdi adalah Kadis Kesos Pangkep.
– Proposisi Negatif: Etta Adil  bukan Asisten II Pemkab Pangkep.

Kopula dalam proposisi positif kadang dinyatakan dan  kadang tidak (disembunyikan).

Contohnya :

– Etta Farid adalah Kabag Organisasi (Kopula dinyatakan).
– Etta Adil Kepala Kantor Kesbang (Kopula tersembunyi).
Atau:

– Orang Pemberaninya Pangkep adalah orang pulau (kopula dinyatakan).
– Orang Pemberaninya Pangkep orang Labakkang (kopula tersembunyi).

Kopula pada proposisi negatif tidak mungkin disembunyikan karena bila demikian berarti mengiyakan hubungan antara term subyek dan predikatnya.

Ketika suatu kopula dinyatakan atau disembunyikan tetap tidak boleh kehilangan makna yang terkandung didalamnya.

Saat Etta Adil  menyatakan bahwa, “Orang pemberaninya Pangkep adalah orang pulau”, tentunya dia ingin menggambarkan kerasnya kehidupan pulau sampai alampun ditantang, orang pulau akrab dengan alam, hanya orang yang berani bisa menentukan pilihan hidupnya tinggal di pulau, mengarungi lautan mencari ikan yang sukar diprediksi keberadaannya di laut lepas dan seberapa banyak hasil tangkapan yang bisa dibawa pulang ke rumah.

Perpaduan antara kualitas dan kuantitas proposisi (quality and quantity propotition) maka kita kenal 6 (enam) macam proposisi, yaitu (Mundiri, 2001):

a. Universal positif, Contohnya: Semua pengusaha mempunyai SITU.
b. Partikular positif, Contohnya: Sebagian kontraktor adalah bermasalah.
c. Singular positif, Contohnya: Herman Djide adalah seorang wartawan.
d. Universal negatif, Contohnya: Semua kepala desa bukan PNS
e. Partikular negatif, Contohnya: Beberapa pegawai tidak disiplin.
f. Singular negatif, Contohnya: Kabag Ekonomi bukan pejabat pemalu.

Masalah lain yang perlu dipahami tentang proposisi kategorik adalah Distribusi (penyebaran). Distribusi merupakan masalah yang penting dalam logika dan pengetahuan yang harus dimiliki untuk membicarakan masalah eduksi dan silogisme.

Distribusi berhubungan erat dengan pembahasan denotasi term subyek dan predikat, terutama sekali term predikat apakah ia merangkum seluruh golongannya atau hanya sebagian saja.

Dalam hal ini terdapat dua istilah yang perlu diketahui yaitu tertebar (distributed) dan tak terteba r (undistributed). Term subyek atau predikat disebut tertebar apabila ia melingkupi seluruh denotasinya dan tak disebut tertebar apabila ia hanya menyebut sebagian denotasinya.

Kalau proposisi kategorik menyatakan suatu kebenaran tanpa syarat, maka pada proposisi hipotetik kebenaran yang dinyatakan justru digantungkan pada syarat tertentu. Antara keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.

Pada proposisi kategorik kopulanya selalu ‘adalah’ atau ‘bukan, tidak, tak’, sedangkan pada proposisi hipotetik kopulanya adalah ‘jika, apabila atau manakala’ yang kemudian dilanjutkan dengan ‘maka’, meskipun yang terakhir ini sering tidak dinyatakan.

Pada proposisi kategorik, Kopula menghubungkan dua term sedang pada proposisi hipotetik, Kopula menghubungkan dua pernyataan.

Sebuah proposisi hipotetik misalnya : ‘Jika permintaan bertambah maka harga akan naik’ pada dasarnya terdiri dari dua proposisi kategorik ‘permintaan bertambah’ dan ‘harga akan naik’.

‘Jika’ dan ‘maka’ pada contoh tersebut adalah kopula, ‘permintaan bertambah’ sebagai pernyataan pertama disebut sebab (antecedent) dan ‘harga akan naik’ sebagai pernyataan kedua disebut akibat (konsekuen).

Proposisi hipotetik mempunyai dua bentuk:

Pertama, Bila A adalah B maka A adalah C, seperti :
– Bila Rudi lulus tes CPNS ia akan berhenti jadi wartawan.
– Jika Camat terbukti tak merakyat ia akan diganti.
– Jika Bupati dicemarkan nama baiknya, maka ia akan menuntut secara hukum.

Kedua, Bila A adalah B maka C adalah D, seperti :
– Bila keadilan tidak ditegakkan maka rakyat akan menuntut.
– Bila dapat proyek, saya traktir teman-teman.
– Bila permintaan bertambah, maka harga akan naik.

Antara sebab dan akibat dalam proposisi hipotetik adakalanya merupakan ‘hubungan kebiasaan’ dan adakalanya merupakan ‘hubungan keharusan’.

Proposisi hipotetik yang mempunyai hubungan kebiasaan, sebagaimana contoh berikut ini:

– Bila demonstrasi mahasiswa berlangsung, maka anggota Dewan sembunyi.
– Jika bukan saya Ketua, maka saya mengundurkan diri.
– Manakala dia lulus, ayahnya akan memberi dia hadiah yang menarik.

Sedang proposisi hipotetik yang mempunyai hubungan keharusan dapat dilihat seperti pada contoh berikut :

– Bila matahari terbit maka waktu shalat subuh sudah lewat.
– Bila nyawa meninggalkan jasad maka berakhirlah kegiatan jasmani.
– Bila sesuatu itu hidup maka ia membutuhkan air.

Tipe proposisi kondisional (yang sebenarnya digantungkan pada syarat tertentu) disamping bentuk hipotetik adalah bentuk disyungtif.

Sebagaimana proposisi hipotetik, proposisi disyungtif pada hakikatnya juga terdiri dari dua buah proposisi kategorika.

Contohnya ialah: Proposisi jika tidak benar maka salah, jika dianalisis menjadi: ‘Proposisi itu benar’ dan ‘proposisi itu salah’.

Kopula yang berupa ‘jika’ dan ‘maka’ mengubah dua proposisi kategorik menjadi permasalahan disyungtif.

Kopula dari proposisi disyungtif bervariasi sekali seperti:

Hidup kalau tidak bahagia adalah sengsara.
Firman di kantor atau di kantin.
Jika Bukan Etta Adil Kabag Pemerintahan maka Etta Farid

Dalam proposisi hipotetik (hipotetic propotition), kopula menghubungkan sebab dan akibat sedangkan dalam proposisi disyungtif (disyungtif propotition), kopula menghubungkan dua alternatif.

Terdapat dua proposisi disyungtif, sempurna dan tidak sempurna.

Proposisi disyungtif sempurna mempunyai alternatif kontradiktif sedangkan proposisi disyungtif tidak sempurna alternatifnya tidak berbentuk kontradiktif. Rumus untuk bentuk pertama adalah : A mungkin B dan mungkin non B, seperti:

Yusuf berbaju dinas atau berbaju non-dinas.
Arifin mungkin masih hidup mungkin sudah mati (non-hidup).
Sari berbahasa Bugis atau berbahasa non Bugis.

Sedang rumus untuk bentuk kedua adalah A mungkin B mungkin C, seperti :

Yusuf berbaju kaos atau berbaju kemeja.
Pak Sekda di kantor atau di rumah jabatan.
PSSI kalau atau menang.
Mahmud Kadis Pertanian atau Kadis Kehutanan.
Sultan wartawan atau fotografer.
Abu Bakar naik mobil atau motor.

C. Berpikir Realistik

Diskusi Soal Kepenulisan. (foto: ist/palontaraq)
Untuk memahamkan suatu masalah, kita memerlukan beragam cara berpikir, salah satunya realistik. (foto: ist/palontaraq)

Secara garis besar ada dua macam berpikir : berpikir autistik dan berpikir realistik. Yang pertama, mungkin lebih tepat disebut melamun. Fantasi, mengkhayal, melamun, wishful thinking adalah contohnya.

Dengan berpikir autistik orang melarikan diri dari kenyataan yang dihadapinya dan melihat hidup sebagai gambaran fantastik. (Jalaluddin Rahmat, 1990).

Ciri yang menonjol dari orang yang senantiasa berpikir autistik (autistic thinking) adalah kehilangan semangat kerja, tidak punya gairah hidup serta selalu pesimis terhadap segala sesuatu yang dihadapinya.

Tipe orang yang berpikir autistik adalah selalu mengandalkan orang lain, tidak pernah mengandalkan dirinya sendiri, tidak percaya diri (nggak pede, kata anak gaul), selalu malu-malu, berharap orang lain saja yang tampil dan tidak pernah terlalu serius menghadapi dan menjalani pekerjaannya, bersikap utopis, dan lain sebagainya.

Jika orang dengan tipe ini diberikan atau mendapatkan jabatan, maka ia cenderung untuk malas bekerja, tidak amanah, gampang lalai dan lupa akan janjinya sendiri.

Berpikir realistik (realistic thinking) disebut juga bernalar (reasoning), yaitu berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Orang yang berpikir realistik adalah orang yang berani menghadapi cobaan dan tantangan hidup sebesar apapun resiko dan tingkat kesulitannya.

“Hidup adalah Resiko. Kalau takut mengahadapi resiko lebih baik tak usah hidup. Karena itu pula Resiko adalah kehormatan. Begitu pula jabatan. Jabatan adalah resiko. Kalau takut menghadapi resiko lebih baik tak usah menerima jabatan. Hanya orang yang berani menghadapi resiko yang mempunyai kehormatan dalam hidupnya. Jadi Bupati juga resiko. Kalau saya takut resiko, lebih baik saya tidak usah jadi Bupati”. 

Floyd L.Ruch menyebut tiga macam berpikir realistik (realistic thinking): berpikir deduktif, berpikir induktif dan berpikir evaluatif (Ruch, 1967: 336, Jalaluddin Rahmat, 1990).

Berpikir deduktif (deductive thinking) adalah mengambil kesimpulan dari dua pernyataan. Yang pertama, merupakan pernyataan umum. Dalam logika, hal ini disebut Silogisme.

Berpikir deduktif dapat dirumuskan sebagai berikut, “Jika A benar, dan B adalah juga benar maka akan terjadi C”. Contoh sederhananya ialah:

“Jika semua pegawai harus masuk Kantor Pukul 07.00 WITA.  Amin Tanjung adalah seorang pegawai maka  Amin Tanjung harus masuk kantor Pukul 07.00 WITA”.

Dalam berpikir deduktif kita mulai dari hal yang umum ke hal yang khusus. Ketepatan berpikir deduktif ini kemudian memberikan kita kesimpulan bahwa,  “Kalau  Amin Tanjung tidak masuk kantor Pukul 07.00 WITA berarti  Amin Tanjung sudah korupsi waktu”.

Berpikir induktif (inductive thinking) sebaliknya, dimulai dari hal-hal yang khusus dan kemudian mengambil kesimpulan umum.  Misalnya, “Saya bertemu dengan Herman Djide, Ia seorang wartawan pintar dan ulet yang bertugas meliput di Pangkep.

Saya bertemu dengan Rudi Amrullah, Sultan Arifin, Syamsu Said,  Abdur Rahim. Keempatnya wartawan yang pintar dan ulet. Saya menyimpulkan wartawan (reporter/koresponden) media lokal Makassar yang bertugas di Pangkep pintar dan ulet.

Ketepatan berpikir induktif tergantung pada memadainya kasus yang dijadikan basis penilaian. Misalnya, Apakah 5 wartawan media lokal Makassar yang bertugas meliput di Pangkep cukup untuk dijadikan sampel yang representatif?

D. Berpikir Evaluatif

Penulis bersama H.Nurdin Abu. (foto: alif/ ist)
Berpikir Evaluatif (foto: alif/ ist)

Berpikir Evaluatif (evaluative thinking) ialah berpikir kritis, menilai baik-buruknya suatu kebijakan, tepat atau tidaknya suatu gagasan, valid atau tidaknya suatu data, teruji atau tidaknya suatu argumen.

Dalam berpikir evaluatif, kita tidak menambah atau mengurangi gagasan atau keputusan. Kita menilainya menurut kriteria tertentu.

Berpikir evaluatif (evaluative thinking) sangat terkait dengan logis tidaknya suatu penilaian berdasarkan kriteria yang relevan. Tidak semata karena dipengaruhi oleh faktor sentimen atau politis.

Jika suatu penilaian bersifat logis maka hal tersebut disebut obyektif dan jika tidak logis disebut penilaian subyektif.

Obyektif atau subyektif tidaknya penilaian biasanya dipengaruhi seberapa matang seseorang dalam ilmu dan pengalaman yang menjadi penguat argumentasinya.

Penilaian obyektif hanya dapat diberikan jika seseorang memiliki informasi yang berimbang terhadap apa yang dinilainya, tentu saja tetap memperhatikan keakuratan informasi dan fakta empiris di lapangan.

Menurut perkembangan mutakhir psikologi kognitif, seseorang lebih sering berpikir tidak logis daripada berpikir logis seperti berpikir deduktif.

Kata Morton Hunt (1982 : 121), “……… Logical reasoning is not our usual or natural practice and the technically invalid kinds of reasoning we generally employ work rather well in most of the everyday situations……….”

Berpikir logis bukanlah kebiasaan kita atau hal yang alamiah. Dan cara berpikir menurut logika yang tidak valid yang biasa kita lakukan, justru berjalan agak baik dalam kebanyakan situasi sehari-hari.

Berpikir tidak logis ternyata lebih praktis, efisien, dan bermanfaat. Terkenal ucapan Wason dan Johnson Laird, “At best, we can all think logicians, at works, at worst, logicians all think like us”.

Pada keadaan terbaik, kita semua dapat berpikir seperti ahli logika ; dalam keadaan terjelek, ahli logika semua berpikir seperti kita.

Kalau begitu, tentu hanya mereka yang ahli dan terdidik saja dapat berpikir logis. Sudah lama diduga orang bahwa wanita, anak kecil, rakyat pedesaan, petani, orang pulau, atau orang yang berpendidikan rendah berpikir tidak logis.

Yang logis hanyalah ilmuwan, dosen, kaum profesional atau pejabat. Anggapan ini tidak benar, Paul E Johnson pernah meneliti cara berpikir ilmuwan dan pakar dari berbagai profesi.

Paul E Johnsons menulis, “Saya selalu terkejut menyaksikan bahwa ahli yang kami teliti sangat jarang melakukan berpikir seperti logika formal. Kebanyakan mereka melakukan berpikir inferensial kira – kira, yang didasarkan pengenalan kesamaan.” (Hunt, 1982 : 139, Jalaluddin Rahmat, 1990).

Karena itu, kesalahan terbesar seorang pejabat atau pegawai pemerintah yang berbicara dengan rakyat maka dianggapnya bahwa lawan bicaranya itu tidak selogis umpan balik (feedback) komunikasi dari apa yang diperkirakan dan diharapkannya.

Logis tidaknya, obyektif  tidaknya suatu penilaian bergantung sampai sejauh mana tingkat kedewasaan seseorang dalam memahami sesuatu.

Apakah logis jika anggota DPRD menuduh seorang pejabat melakukan penyelewengan hanya berdasarkan isu yang berkembang di masyarakat ataukah hanya berdasarkan berita di koran (informasi sekunder).

Apakah suatu informasi dapat dikatakan obyektif jika terdapat oknum di masyarakat yang menuduh dan menuding seorang pejabat KKN hanya berdasarkan praduga tanpa ada satupun bukti yang bisa dikemukakan dan dipertanggungjawabkan secara moral dan secara hukum.

Apakah logis dan adil jika seorang Bupati menilai suatu proyek ‘terhambat, gagal atau menyalahi bestek’ hanya berdasarkan keterangan sepihak Kadis PU misalnya, tanpa memahami aspek teknis dan meninjaunya terlebih dahulu.

Logis  tidaknya seseorang berpikir, obyektif  tidaknya kita menilai sangat tergantung pada seberapa banyak informasi yang kita miliki serta seberapa luas pemahaman kita terhadap aspek teknis dan non-teknis suatu pekerjaan sehingga dengan demikian kita dapat berpikir evaluatif lebih adil. Seorang pemimpin yang terbiasa berpikir evaluatif akan terbentuk menjadi pemimpin yang adil (good leader).

E. Berpikir Analogi

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Berpikir Analogi diperlukan untuk memahamkan persoalan, terkait benar-salahnya, baik buruknya, panjang pendeknya, dan lain sebagainya. (Admin/Shutterstock)

Umumnya orang menggunakan perbandingan atau kontras. Robert J Sternberg, Psikolog dari Yale (Yale University,red) meneliti penggunaan analogi (Sternberg, 1977).

Sternberg menulis, “Kita berpikir secara analogis setiap kali kita menetapkan keputusan tentang sesuatu yang baru dalam pengalaman kita, dengan menghubungkan sesuatu yang sama di masa lalu.”. (Jalaluddin Rahmat, 1990).

Kalau kita membeli sebuah Laptop  karena kita menyukainya atau karena mendengarkan nasehat teman karena dulunya nasehatnya benar berarti kita berpikir secara analogis.

Sebagian besar pengetahuan kita disamping didapat dengan generalisasi juga didapat melalui penalaran analogi. Lucunya, berpikir analogis yang tidak logis itu paling sering kita gunakan untuk menetapkan keputusan (decision making), memecahkan masalah, dan melahirkan gagasan baru dalam proses berpikir kreatif (creative thinking).

Dalam penyimpulan generalisasi kita bertolak dari sejumlah peristiwa, pada penyimpulan analogi kita bertolak dari satu atau sejumlah peristiwa menuju kepada satu peristiwa lain sejenis.

Apa yang terdapat pada fenomena peristiwa pertama, disimpulkan terdapat juga pada peristiwa lain karena keduanya memiliki persamaan yang prinsipal. Berdasarkan persamaan prinsipal pada keduanya itulah maka mereka akan sama pula dalam aspek lain yang mengikutinya.

Analogi kadang disebut analogi induktif yaitu proses penalaran dari satu fenomena menuju fenomena lain yang sejenis kemudian kita menarik kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang lain; demikian pengertian analogi jika kita hendak memformulasikannya dalam suatu batasan.

Dengan demikian dalam setiap tindakan penyimpulan analogik terdapat tiga unsur yaitu : peristiwa pokok yang menjadi dasar analogi, persamaan prinsipal yang menjadi pengikat dan ketiga, fenomena yang hendak kita analogikan.

Analogi induktif yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan prinsipal yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena yang kedua. Bentuk argumen ini sebagaimana generalisasi tidak pernah menghasilkan kebenaran mutlak.

Analogi disamping fungsi utamanya sebagai cara berargumentasi, sering benar dipakai dalam bentuk non – argumen, yaitu sebagai penjelas. Penalaran analogi jenis ini disebut analogi deklaratif atau analogi penjelas. (Mundiri, 2001).

Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal.

Analogi deklaratif merupakan cara yang amat bermanfaat untuk menjelaskan masalah yang hendak diterangkan. Para pengambil kebijakan dalam mengemukakan isi hatinya dalam menekankan pengertian sesuatu.

Contoh analogi deklaratif adalah: “Ilmu pengetahuan itu dibangun oleh fakta  sebagaimana rumah itu dibangun oleh batu – bata. Tetapi tidak semua kumpulan pengetahuan itu ilmu, sebagaimana tidak semua tumpukan batu bata adalah rumah”.

Disini hendak dijelaskan struktur ilmu yang masih asing bagi pendengar dengan struktur rumah yang sudah begitu dikenal.

Untuk mengukur derajat keterpercayaan sebuah analogi dapat diketahui dengan alat ukur sebagai berikut:

(1) Sedikit banyaknya peristiwa sejenis yang dianalogikan. Semakin besar peristiwa sejenis yang dianalogikan, semakin besar pula taraf keterpercayaannya.
(2) Sedikit banyaknya aspek yang menjadi dasar analogi.
(3) Sifat dari analogi yang kita susun.
(4) Mempertimbangkan ada tidaknya unsur-unsur yang berbeda pada peristiwa yang dianalogikan. Semakin banyak pertimbangan atas unsur yang berbeda semakin kuat keterpercayaan analoginya.
(5) Relevan dan tidaknya masalah yang dianalogikan. Bila tidak relevan sudah barang tentu analoginya tidak kuat dan bahkan bisa gagal.

Analogi yang mendasarkan pada suatu hal yang relevan jauh lebih kuat daripada analogi yang mendasarkan pada selusin persamaan yang tidak relevan.

Meskipun analogi (comparative thinking) merupakan corak penalaran yang populer namun tidak semua penalaran analogi merupakan penalaran induktif yang benar.

Ada masalah yang tidak memenuhi syarat atau tidak dapat diterima, meskipun sepintas sulit bagi kita menunjukkan kekeliruannya. Kekeliruan tersebut terjadi karena menunjukkan persamaan yang tidak tepat.

Kekeliruan pertama adalah kekeliruan pada analogi induktif (Mundiri, 2001). Contohnya adalah:

“Saya heran mengapa orang takut bepergian ke pulau hanya karena menumpangi kapal kayu dan besarnya ombak dalam pelayaran sehingga dikhawatirkan akan tenggelam di laut. Bila demikian sebaiknya orang jangan tidur di tempat tidur karena hampir semua manusia menemui ajalnya di tempat tidur”.

Orang meninggal di tempat tidur bukan disebabkan kecelakaan tempat tidur tetapi karena penyakit yang diidapnya. Jadi disini orang menyamakan dua hal yang sebenarnya berbeda.

“Antara manusia dengan binatang mempunyai persamaan yang sangat dekat. Manusia bernafas, makan, minum, merasa, kawin, tidur dan istirahat. Binatang juga bernafas, makan, minum, merasa, kawin, tidur dan istirahat. Kesimpulannya Manusia sama dengan binatang”.

Menyimpulkan bahwa ‘manusia sama dengan binatang’, hanya berdasarkan pertimbangan persamaan yang ada pada keduanya, padahal yang disamakan itu bukan masalah pokok (bukan persamaan prinsipal).

“Seseorang seharusnya menjauhkan diri dari kebodohan. Karena semakin banyak belajar semakin banyak hal yang tidak diketahui, jadi semakin banyak belajar kita semakin bodoh. Kesimpulannya, Sebaiknya kita tidak usah belajar”.

Kesalahan pada pernyataan tersebut diatas adalah menyamakan arti ‘kebodohan’ yang harus kita tinggalkan dan ‘kebodohan’ sebagai sesuatu yang tidak bisa kita hindari.

Kekeliruan yang kedua adalah kekeliruan pada analogi deklaratif, misalnya: “Masyarakat sudah terlalu banyak dibebani dengan tuntutan pembayaran pajak dan retribusi. Dengan pembangunan kita terus menerus dipaksa tiap tahun membayar pajak dan retribusi. Karena itu kita tidak perlu melaksanakan pembangunan di daerah ini”.

Kesalahan pada pernyataan diatas ialah hanya memperhitungkan pungutan pajak dan retribusi-nya saja dan tidak memperhitungkan segi  positif dari pembangunan.

Orang yang terbiasa berpikir analogi ini merupakan tipe orang yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Artinya, Selain kecerdasan intelektual yang memadai, juga memiliki kecerdasan emosional yang matang.

Kecerdasan emosional-lah yang bisa membuat seseorang mengendalikan amarah, tidak tergesa-gera, sabar, matang dalam pengambilan keputusan, bisa menahan diri,  tahan menerima kritikan, teruji  menghadapi cobaan serta tidak sembrono dalam bekerja.

Kecerdasan emosional boleh jadi dibentuk oleh luasnya pengalaman hidup yang sudah dijalani dengan segala hambatan dan prestasi yang telah dicapai.

Menurut ahli komunikasi, Sukses hidup itu sebenarnya dipengaruhi oleh kecerdasan emosional 70 % dan selebihnya karena kecerdasan intelektual. Tapi kedua-duanya sangat kita butuhkan, disamping kecerdasan spiritual.

Itu pula sebabnya, terdapat begitu banyak kenyataan yang kita lihat seorang pemimpin yang hanya bergelar Sarjana S1 dapat memimpin begitu banyak bawahannya yang sudah bergelar S2 (Master), bukan hanya untuk ukuran seorang Bupati, tetapi di semua level pekerjaan dan profesi. Di Kantor-kantor pemerintah, perusahaan swasta, Sekolah dan Perguruan tinggi, Lembaga Penelitian, Organisasi dan lain sebagainya.

Begitu pula, tidak ada kemutlakan bahwa seorang yang tua harus memimpin yang muda. Bisa terjadi sebaliknya, dan kenyataan seperti itu (prefiguratif) banyak diketemukan pada lingkungan sosial dimana kita berada. Mengetahui lebih banyak dan lebih detail tentang kondisi obyektif masalah yang dihadapai  adalah buah berpikir analogis.

Kematangan berpikir analogis tiap orang tentunya berbeda pula, tergantung kematangan intelektual dan emosionalitasnya. Seseorang dapat saja menempati posisi puncak dalam karirnya setelah melalui berbagai penjenjangan jabatan yang sedemikian panjang, yang bukan saja sudah matang secara intelektual tetapi lebih matang lagi dari aspek kecerdasan emosional, terlebih yang bersangkutan pernah merasakan semua bentuk kesulitan pekerjaan atau bisnisnya.

F. Berpikir Kreatif (Creative Thinking)

Penulis cari ide dan inspirasi di salah satu cafe di Pangkep. (foto: hasbi)
Berpikir kreatif diperlukan saat cari ide, inspirasi atau untuk menyederhanakan persoalan. (foto: hasbi/doc.palontaraq)

Berpikir Kreatif (Creative Thinking) menurut James C. Coleman dan Caustance L Hamen (1974 : 452), adalah “thinking which produces new methods, new concepts, new understanding, new inventions, new work of art”.

Berpikir kreatif adalah cara berpikir untuk menghasilkan metode baru, konsep baru, pemahaman yang baru, dan cara kerja baru.(Jalaluddin Rahmat, 1990).

Berpikir kreatif diperlukan mulai dari komunikator yang mendesain pesannya, Kepala Kantor yang membuat telaahan staf, insinyur yang merancang bangunan, ahli iklan yang harus menata pesan verbal dan pesan grafis, Wartawan yang memperindah bahasa ‘berita investigasinya’, Seorang bupati yang harus memberikan perspektif baru dalam mengatasi masalah sosial, tak terkecuali untuk seorang aktivis organisasi massa atau partai politik dalam menata program kerjanya.

Kadang kita merasa, untuk menjadi lebih kreatif kita perlu menjauhi orang. Jika anda berpikir demikian, maka anda sedang berjalan pada gang buntu. Temukanlah pemecahan masalah anda, pada orang lain yang juga pernah mengalami masalah sama seperti anda. Lalu ubahlah sedikit sesuai dengan style anda.

Terimalah gagasan apa adanya, sehingga merangsang pikiran  membuat gagasan yang lebih baik.  Agar menjadi sedikit lebih kreatif, gunakanlah masalah yang tidak persis sama dengan masalah baru untuk merangsang gagasan baru.

Kita, cenderung terpaku pada kebiasaan kita dalam memandang sesuatu dan menafsirkan kata.

Membebaskan pikiran adalah metode kreatif yang dirancang untuk membantu kita dalam melihat hal dan hubungan antar hal tersebut dengan cara baru yang berbeda.

Dan untuk menggunakan kebiasaan kita dalam melihat sesuatu hanya sebagai suatu keuntungan, bukan sebagai suatu rintangan. Menggunakan metode kesamaan atau analogi merupakan salah satu proses untuk menjadi lebih kreatif.

Dalam menggunakan analogi, dibutuhkan kekuatan berpikir untuk menyamakan sesuatu dengan hal lain. Walaupun hal tersebut sangat sederhana untuk dipahami, namun mencari kesamaan yang tepat jelas memerlukan energi.

Hal yang tampaknya tidak berkaitan, dapat memberikan wawasan tentang berbagai masalah dan pemecahannya.

Inilah yang dimaksud perangsang gagasan. Menggunakan analogi  untuk mencari hal  imajinatif dalam memecahkan masalah merupakan cara pemecahan masalah lebih kreatif, dengan mengimajinasikan kemiripan gagasan yang tampaknya tidak berhubungan, kita harus memaksa adanya hubungan tersebut.

William James (1975 : 242) mengatakan, bahwa kreatifitas yang tinggi berasal dari kemampuan mengasosiasikan kesamaan, dengan begitu merupakan katalisator membebaskan pikiran.

Membebaskan pikiran tidak hanya membantu kita untuk menjadi kreatif dalam pendekatan pemecahan masalah, tetapi menjadi lebih kreatif  dengan kesadaran  kita terhadap lingkungan sekitar.

Kita menjadi semakin dirangsang untuk menyadari dan berpikir memecahkan masalah yang terjadi.

Ingat ! Kreatifitas berkembang dengan latihan. Teruslah berlatih melihat dan berpikir. Ikutilah langkah berikut ini:

(1) Amatilah lingkungan sekitar anda. Pilihlah benda, tumbuhan, hewan atau apapun untuk menganalogikan masalah yang ingin kita pecahkan;

(2) Uraikan hal tersebut berdasarkan sifat yang terkandung di dalamnya;

(3) Kejutkanlah pikiran anda dengan hal-hal baru yang  mungkin belum pernah anda ketahui sebelumnya.

Bagaimanakah menggunakan metode analogi untuk menjadi lebih kreatif ?

Berpikir analogi (comparative thinking) merupakan salah satu ciri yang menonjol dari orang yang senang berpikir kreatif. Berpikir kreatif (Creative Thinking) haruslah memenuhi tiga syarat berikut:

Pertama, Kreatifitas melibatkan respons atau gagasan baru atau yang secara statistik jarang terjadi, tetapi kebaruan saja tidak cukup.

Kedua, Kreatifitas ialah memecahkan persoalan secara realistis.

Ketiga, Kreatifitas merupakan usaha untuk mempertahankan insight yang orisinal, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin (Mac Kinnon, 1962 : 485, Jalaluddin Rahmat, 1990).

Ketika seseorang terbiasa berpikir kreatif, Maka yang perlu ditelusuri ialah jenis berpikir manakah yang paling sering digunakan : Deduktif, Induktif atau Evaluatif ? Jawabannya tentu berpikir analogis.

Berpikir induktif sering dipergunakan, justru karena tidak selogis berpikir deduktif. Berpikir Evaluatif membantu kreatifitas karena menyebabkan kita menilai gagasan-gagasan secara kritis.

Guilford membedakan antara berpikir kreatif dan tak kreatif dengan konsep berpikir konvergen dan divergen.

Berpikir Konvergen (convergen thinking) erat kaitannya dengan kecerdasan; Divergen dengan kreatifitas.

Berpikir Divergen (divergen thinking) dapat diukur dengan fluency, flexibility dan originality.

Ukuran Guilford telah direncanakan berkali-kali tetapi dengan sangat mengecewakan, skor yang tinggi pada ukuran Guilford sering tidak berkorelasi dengan kreatifitas (creativity) yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari.

Orang-orang kreatif malah berskor rendah pada ukuran Guilford.

Memang, Orang kreatif memiliki kebiasaan yang tidak umum. Kreatifitas juga tidak diukur dari tingkat pendidikan, tapi lebih banyak dipengaruhi ole pengalaman sosial.

Tes Guilford menurut pengkritiknya, memang tidak mencerminkan berpikir kreatif. Orang kreatif ternyata berpikir analogis. Orang Kreatif mampu melihat berbagai hubungan yang tidak terlihat orang lain.

Orang biasa sering berpikir analogis, tetapi berpikir analogis orang kreatif ditandai oleh sifatnya yang luar biasa, aneh dan kadang-kadang dianggap irasional (oleh orang yang belum/berbeda taraf pemahamannya).

Ada yang mengatakan bahwa orang kreatif, biasanya agak gila. Baik orang gila maupun orang kreatif memang memiliki kesamaan: Berpikir tidak konvensional. Tetapi orang gila tidak menimbulkan pencerahan atau pemecahan masalah.

Orang kreatif melakukan loncatan pemikiran yang memperdalam dan  memperjelas pemikiran (Jalaluddin Rahmat, 1990).

George Lakoff dan Mark Johnson menjelaskan bagaimana pemikiran kreatif ini berhasil memperluas cakrawala pemikiran.

Bila pemikir kreatif menganalogikan A dengan B, maka semua sifat A (dalam Psikologi Kognitif disebut ‘Schema’ dipindahkan pada B, sehingga menambahkan kekayaan konseptual. Berpikir kreatif adalah berpikir analogis metaforis. Tetapi, bagaimana mekanismenya?

Berikut ini terdapat 5 (lima) tahapan dalam proses berpikir kreatif:

1. Orientasi. Pada tahap ini masalah dirumuskan dan aspek-aspek masalah diidentifikasi ;

2. Preparasi. Pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah
Inkubasi. Pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai jalan pemecahan menghadapi jalan buntu. Pada tahap ini proses pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar kita.

3. Iluminasi. Masa inkubasi berakhir ketika pemikir memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan masalah. Ini menimbulkan ‘Aha Erlebnis’. Kejutan. Surprise. Sepertinya kita mengalami pencerahan seketika dengan sebuah kesadaran baru, perspektif baru.

4. Verifikasi. Tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada tahap keempat.

Proses ini dapat dilukiskan dengan kisah Archimedes. Raja Syracus ingin mengetahui apakah mahkotanya betul-betul terbuat dari emas murni, atau tukang emas sudah menggantinya.

Prosesnya, Raja Syracus menyuruh Archimedes menelitinya. Archimedes mulai berpikir, “Bagaimana caranya (metode ilmiah) untuk menentukan logam yang dijadikan bahan mahkota itu tanpa merusaknya ?” (Orientasi)

Lalu, Archimedes melakukan penelitian tentang semua cara (metode) untuk menganalisa logam (Preparasi) Semuanya memerlukan pemotongan dan pemecahan. Ini tidak mungkin dilakukan. Archimedes menyingkirkan soal ini sementara (Inkubasi).

Suatu hari ketika Archimedes mandi (berendam di bak mandi), ia merasakan tubuhnya mengapung. Ia menemukan pemecahannya (Iluminasi).

Archimedes melonjak gembira dan saking senangnya ia berlari ke jalan dalam keadaan telanjang, seraya berteriak, “Eureka…Eureka…Eureka..!” (Saya menemukannya, Saya menemukannya, Saya menemukannya).

Setelah itu, ia menguji Hukum Archimedes, begitu kemudian dikenal dalam dunia Fisika untuk meneliti berapa jumlah air yang dipindahkan oleh emas murni seberat emas dalam mahkota itu (Verifikasi)

Bupati HA Gaffar Patappe kemudian bersama-sama dengan semua pimpinan unit kerja dan stake holder/rekanan yang ingin dilibatkan membicarakan aspek teknis dan pembiayaannya.

Tentu saja dengan memperhatikan dana APBD sebagai ikon pertimbangan pelatihan kebidanan dan resiko pembangunan instalasi listrik kepulauan. DPRD setempat tentu saja tidak punya kuasa menolak solusi cemerlang ini untuk mengatasi kekurangan bidan dan kebutuhan penerangan listrik kepulauan tersebut.

Berpikir kreatif tumbuh subur bila ditunjang oleh faktor-faktor personal dan situasional. Orang-orang kreatif memiliki temperamen beraneka ragam, yang bisa juga mempengaruhi terhadap kegemaran atau hobbinya.

Beberapa faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif (Coleman dan Hammen, 1974 : 455), yaitu:

Kemampuan kognitif. Termasuk disini kecerdasan diatas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan serta fleksibilitas kognitif.

Sikap yang terbuka. Orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan eksternal, ia memiliki minat yang beragam dan luas.

Sikap yang bebas. Bebas dalam arti otonom dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif tidak senang ‘digiring’, ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terikat pada konvensi sosial. Butir yang ketiga membawa kita pada faktor-faktor situasional yang mendatangkan kreatifitas.

Para peminat studi kebijakan publik mencatat bahwa ada saat kreatifitas tumbuh subur jika kita memiliki kebebasan dalam bekerja dan berpikir, misalnya untuk mengatasi kekurangan tenaga bidan dan perawat di kepulauan.

Era otonomi daerah saat ini betul-betul termanfaatkan untuk bebas berekspresi menata struktur pemerintahan daerah, termasuk kreatifitas dalam upaya pengembangan fasilitas publik dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Peneguhan sikap tersebut merupakan hasil dari kemampuan kognitif, sikap yang terbuka dan bebas. Berpikir kreatif hanya berkembang pada masyarakat yang terbuka, toleran terhadap ide-ide cemerlang dan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mengembangkan potensi dirinya, mengembangkan lapangan kerjanya.

Cobalah amati dan lakukan penelitian terhadap Masyarakat yang menuntut kepatuhan membuat otoritas, meminta keseragaman dalam berperilaku, menghargai kesetiaan primordial, maka hal tersebut dapat ‘membunuh’ prestasi yang menonjol serta sukar untuk melahirkan pemikiran kreatif.

Selain faktor-faktor lingkungan psikososial, beberapa peneliti menunjukkan adanya faktor situasional. Maltsman (1960) menunjukkan faktor peneguhan dari lingkungan. Dutton (1970) menyebutkan antara lain, tersedianya hal  istimewa  atau faktor pendukung bagi seorang agar dapat bekerja dan berpikir kreatif.

Silvano Arieti menekankan faktor isolasi dalam menumbuhkan faktor kreatifitas.  “………Orang mengagumi, membesarkan dan menghargai innovator macam apapun, tetapi juga mengabaikan, memasung dan menghambat mereka yang terlalu inovatif atau bila gagasannya bertentangan dengan tradisi dan pendapat yang diterima banyak orang”. (Hunt, 1982 : 312).

(*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT