Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak kenal Batari Toja Daeng Talaga, Arung Mangkaue’ ri Bone yang ke-17 dan 21. Demikianlah dicatat dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone. Puisi ini penulis persembahkan untuk mengenang kesejarahan Ratu Bone tersebut yang cukup mewarnai dan memberi arti penting bagi perjalanan Kerajaan Bone selanjutnya.
Bone di Masa Arumpone Batari Toja
Puisi karya: Etta Adil
Nun jauh disana, di masa lampau, aku membayangkan kecerdasan seorang ratu di masa kerajaan
Usaha memajukan rakyat, dari kecantikan yang ditata dari saoraja
Rela melepas kenyamanan, demi kuasa yang harus dipimpin kebijaksanaan
Usaha pewarisan takhta untukmu, dari sejak Petta Malampeq Gemmekna Arung Palakka memenangkan Perang Makassar.
Lahirmu, dari perkawinan politik La Patau Matanna Tikka dengan We Ummung Datu Larompong putri PajungE ri Luwu MatinroE ri Tompo’tikka.
Bone adalah Tanah Beradat dan Berdaulat, Inilah yang harus kamu jaga.
Arung Timurung Datu Citta adalah jejak pertamamu menapak kekuasaan MangkauE ri Bone.
Telah dipesankan sebelumnya, Dirimulah Pewaris Takhta sepeninggal La Patau Matanna Tikka
Arumpone engkau digelari, merangkap sebagai Datu Luwu dan Datu Soppeng.
Rela melepas Timurung dan Citta kepada sang adik tercinta, We Patimana Ware agar Bone lebih leluasa diurus.
Inilah Mangkau Bone yang digelari Sulatanah Zaenab Zakiyatuddin, dan memenuhi pesan La Tenri Tatta Petta To RisompaE semasa hidupnya untuk dikawinkan dengan Sultan Sumbawa Mas Madinah.
Telah menjadi takdirmu, Mas Madinah menceraikanmu demi cintanya kepada I Rakiyah Karaeng Agang Je’ne. Marahmu tak terbendung, engkau mengusir mereka ke Tanah Sumbawa.
Orang Bone banyak yang mencintaimu, meski tak sedikit pula riak gelombang yang ingin menenggelamkan kekuasaanmu.
Jangankan harta, kuasa pun engkau serahkan. Demi tak ada perang saudara.
AkkarungengE ri Bone, engkau serahkan kepada saudaramu, La Padassajati To Appamole Arung Palakka sebagaimana kehendak Hadat Bone.

Etta Adil, Watampone, 26 Maret 2025


