
Oleh: H. Djamaluddin Hatibu
Tulisan sebelumnya: Cerita Rakyat: Sitti Naharira (14)
PALONTARAQ.ID – Sitti Naharira berusaha berbicara setenang mungkin, dia terus berupaya agar tidak terbawa suasana hati yang tak menentu.
Belum sembuh betul luka yang ditorehkan kedua laki-laki itu, namun kini ditakdirkan akan bertemu kembali.
“Tabe…serahkan pada mereka kedua bungkusan ini. Yang ini untuk Nakhoda Hasan dan yang satunya lagi untuk Nakhoda Husen” lanjut Sitti Naharira sambil menyerahkan bungkusan yang berisi surat tanah dan surat nikah.
Setelah menyerahkan itu pada suaminya Sitti Naharira permisi masuk ke dalam. Dia takut kalau-kalau tak dapat menahan tangis.
Selang beberapa menit datanglah tamu yang dimaksud. Lo’mo Labuang menerima mereka layaknya tamu kebanyakan yang melaporkan surat kapal.
Sementara hati kedua tamu itu sudah tak karuan melihat perabot di dalam rumah yang persis sama dengan yang dulu diberikan ke Sitti Naharira. Terlebih ketika Sitti Naharira menyajikan hidangan untuk tamunya itu.
“Silakan makan tehnya, minum kuenya” kata Sitti Naharira mempersilakan.
Sitti Naharira bergegas masuk kembali ke dalam lalu mengintip dari balik dinding tengah rumahnya. Dia tidak mau ada yang melihat tangisnya.
“Ini surat nikah dan surat rumah untuk kalian dari istri saya Sitti Naharira” kata Lo’mo Labuang menyerahkan masing-masing bungkusan itu kepada tamunya.
Mereka meraih bungkusan itu tapi mulut mereka seakan kelu, tak mampu berkata-kata. Sesal dan malu berbaur menjadi satu di dalam hati kedua nakhoda itu.
Mereka menyadari kesalahannya, tidak mempertimbangkan matang-matang dalam mengambil keputusan. Dengan langkah lunglai dan tertunduk malu mereka meninggalkan rumah Lo’mo Labuang.
Tak ingin berlama-lama tersiksa dalam kenangan duka mereka pun segera mempersiapkan pelayaran.
Sementara Sitti Naharira bersama Lo’mo Labuang hidup bahagia hingga ajal memisahkan mereka. (*)
Tamat.
Glosarium
Tutup bosara = bosara (sejenis baki), dahulu penutup bosara terbuat dari anyaman daun Lontar
Iddah = sebuah masa di mana seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, baik diceraikan karena suaminya mati atau karena dicerai ketika suaminya hidup, untuk menunggu dan menahan diri dari menikahi Laki-laki lain.
Dilamun = diamuk
Coccorang = pegangan pada tangga rumah panggung
Gallarang = kepala kampung
Sullewatang = jabatan di atas kepala kampung
Pameo = ungkapan/sindiran
Lo’mo = jabatan setingkat kepala kampung
Tabe’ = penghormatan
Songkok pamiring= Songkok To Bone
Baruga = tempat pesta/pertemuan
Pui-pui = serunai (instrument musik tiup)
Wari-wari = cahaya terang terbit di sebelah timur menjelang fajar
Sawi = anak buah
Juru mudi = sawi perahu yang memegang kemudi
Juru batu = sawi perahu yang memperhatikan ada tidaknya batu/karang
Cenningrara = sejenis mantra untuk pemikat
Lazuardi = langit biru, batu permata berwarna biru
Sauh = jangkar


