Ada Apa di Vihara Ibu Agung Bahari?

Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya:  Masjid Cheng Hoo jadi Ikon Muslim Tionghoa Makassar

PALONTARAQ.ID – Dari beragam sumber sejarah, Vihara (dahulunya adalah Klenteng) Ibu Agung Bahari yang terletak di pusat kota Makassar, tepatnya di sebelah barat poros Jalan Sulawesi No. 41, sudut selatan persimpangan jalan Serui diperkirakan  sudah ada sejak  Abad XIV dan XV, yaitu di masa Dinasti Tang dan Dinasti Ming.

Orang-orang Tionghoa diduga kuat sudah memasuki pesisir selatan Makassar sejak Abad XIV untuk kepentingan perdagangan. Mereka  melabuhkan kapal-kapal besar mereka yang berisikan senjata, kain dan pernak-pernik untuk melakukan perdagangan.

Bangunan Vihara Ibu Agung Bahari yang dahulunya adalah Klenteng “Ma Tjo Poh” ini  secara tidak langsung menjadi bagian tak terpisahkan dari Sejarah Perkembangan Kota Makassar. Para pedagang asal Tiongkok ini kemudian memutuskan membentuk suatu komunitas di pesisir pantai, yang hingga kini dikenal sebagai Kawasan Pecinan Makassar.

Penulis (berjaket biru) di depan Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: abbyonety/*)

Penulis (berjaket biru) di depan Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: abbyonety/*)

Orang-orang Tionghoa ini sudah lama hidup berdampingan dan membaur dengan penduduk setempat. Karena agama dan kepercayaan mereka berbeda,  hal inilah yang membuat mereka lalu mendirikan klenteng yang dinamai “Ma Tjo Poh” (Istana Ratu Laut) atau  “Thian Hou Kiong”.

Klenteng Ma Tjo Poh diperkirakan dibangun sekitar Tahun 1738 oleh Keturunan Tionghoa di Makassar bernama Kapitan Lie Lu Chang, dimaksudkan untuk memuja Dewi “Ma Tjo Poh” yang dipercaya Orang Tionghoa sebagai Dewi pembawa berkah dan keselamatan di laut.

Sumber lain menyebutkan bahwa Klenteng “Ma Tjo Poh” itu sudah pernah berdiri sekitar 100 tahun sebelumnya di Hoogepad – sekarang Jalan Achmad Yani. Ketika VOC berkuasa di Makassar, klenteng dipindahkan ke Jalan Sulawesi persimpangan Jln Serui.

Klenteng yang kini telah berusia lebih 200 tahun ini pernah menjadi korban kebakaran pada peristiwa kerusuhan bernuansa SARA di Makassar pada Tahun 1997, dan setelah keadaan membaik, dibangun kembali pada Tahun 2003 seperti adanya saat ini.

Klenteng "Ma Tjo Pho" dan Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: ist/palontaraq)

Klenteng “Ma Tjo Pho” dan Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula:  Menemukan Foto Soekarno dalam Buku Tiongkok 1957

Klenteng Menjadi Vihara

Seiring berjalannya waktu, penyebutan tempat suci ini akhirnya berubah dari Klenteng “Ma Tjo Poh” menjadi Vihara Ibu Agung Bahari. Hal itu sebagai dampak dari kerusuhan sosial bernuansa SARA, adanya menyulut kebencian terhadap Etnis Tionghoa-China di Kota Makassar pada Tahun 1997.

Sebagian besar bagian bangunan klenteng dibakar hingga yang tersisa hanya bagian gerbang dan sayap kiri.  Masyarakat etnis Tionghoa merasa takut beribadah memuja Dewi “Ma Tjo Poh” sehingga banyak yang beralih kepercayaan memeluk Agama Budha dengan sedikit merubah fungsi klenteng menjadi fungsi vihara.

Pintu depan vihara menuju gapura utama dalam Vihara di lantai 1. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pintu depan vihara menuju gapura utama dalam Vihara di lantai 1. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ornamen dekoratif pada dinding utama sebelum memasuki vihara. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ornamen dekoratif pada dinding utama sebelum memasuki vihara. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pada Tahun 2003,  Umat Budha di Makassar secara sukarela menyumbang dana dan bertekad membangun tempat peribadatan yang lebih layak dan nyaman.  Dengan dana yang terkumpul, dilakukanlah pemugaran yang tidak melupakan aspek sejarah bangunan ini, kecuali bagian pintu masuk dan sayap kiri.

Alhasil,  Klenteng “Ma Tjo Poh” yang sudah berganti nama Vihara Ibu Agung Bahari telah berdiri megah dengan bangunan berlantai 4,  berfungsi sebagai tempat Peribadahan Umat Budha.

Mereka yang datang bersembahyang di Vihara Ibu Agung Bahari bukan hanya etnis Tionghoa yang tinggal sekitar vihara atau yang berada di Makassar, tapi juga dari wilayah lain di luar Kota Makassar, dan bahkan dari luar propinsi hingga manca negara.

Patung singa di kiri kanan pintu bagian depan vihara lantai 1. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Patung singa di kiri kanan pintu bagian depan vihara lantai 1. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Jendela bagian depan vihara di lantai 1 bergambar dewa kepercayaan Tionghoa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Jendela bagian depan vihara di lantai 1 bergambar karakter Orang Tionghoa, sepasang panglima perang. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Jendela bagian depan vihara di lantai 1 bergambar dewa kepercayaan Tionghoa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pintu bagian samping vihara di lantai 1 bergambar dewa kepercayaan Tionghoa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Meski berfungsi sebagai tempat bersembahyang umat Budha, vihara itu sesekali masih difungsikan untuk melakukan ritual Perayaan Hari-hari besar kepercayaan tradisional Tionghoa. Aktivitas ibadah disini biasanya berlangsung 2 kali sebulan, pada awal bulan dan pertengahan bulan.

Ada Apa di Vihara Ibu Agung Bahari

Bangunan Vihara Ibu Agung Bahari ini bergaya arsitektur khas Tiongkok dengan denah berbentuk 4 persegi panjang dengan luas 660 m2. Ciri khasnya  terlihat jelas jika mengamati bentuk atap dan motif dekoratifnya.

Pada bagian depan Vihara berupa halaman (gapura utama), selebihnya adalah unit utama (pusat vihara) yang terbagi atas teras, bagian tengah dan bagian dalam. Pada bagian kiri (sayap kiri) bangunan terdapat kamar yang saling berhubungan. Dan keempat, bagian ujung belakang sebagai tempat sembahyang.

Tampak depan Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Tampak depan Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kondisi Aula Ruangan di Lantai 2 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kondisi Aula Ruangan di Lantai 2 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Di bagian depan pengunjung Vihara Ibu Agung Bahari akan melihat pintu yang seluruhnya bagian-bagiannya berwarna dasar merah dengan hiasan dan ornamen sepasang lukisan panglima perang.

Semua yang hendak masuk ke tempat peribadatan ini disambut oleh 2 patung singa di sebelah kiri (patung singa betina) dan kanan (patung singa jantan) pintu masuk vihara dengan tinggi patung 85 cm. Keseluruhannya berukir serta kaki kiri masing-masing memegang bola dengan motif selendang berwarna merah melingkar di bagian tubuhnya.

Kedua patung singa di kiri dan kanan pintu masuk Vihara Ibu Agung Bahari menurut Kepercayaan Orang Tionghoa melambangkan kekuatan agung dan megah, keberanian serta ketabahan. Patung ini dimaknai pula sebagai  penolak bala atau mencegah masuknya pengaruh jahat.

Prasasti Klenteng (Vihara). (foto: mfaridwm/palontaraq)

Prasasti Klenteng (Vihara). (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulis di Lantai 2 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Lantai 3 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: ist/palontaraq)

Ornamen budaya dan kepercayaan Tionghoa memenuhi keseluruhan isi ruangan di tiap tingkat Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ornamen budaya dan kepercayaan Tionghoa memenuhi keseluruhan isi ruangan di tiap tingkat Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Patung dan Nama Dewa dalam Kepercayaan Tionghoa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Patung dan Nama Dewa dalam Kepercayaan Tionghoa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Patung dan Nama Dewa dalam Kepercayaan Tionghoa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Patung dan Nama Dewa dalam Kepercayaan Tionghoa. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Selain itu, ada pula 2 prasasti pada bagian depan vihara menggunakan aksara dan Bahasa Mandarin ditulis dengan tinta atau cat merah. Beberapa tulisan juga terlihat di pinggir atas berwarna kuning keemasan, dan bagian dasar tulisan berwarna hitam serta lukisan-lukisan khas Tionghoa di kedua prasasti.

Sementara di bagian atas prasasti terdapat ukiran berbentuk 2 ekor naga berukuran kecil, dan bagian bawahnya ada ukiran 1 ekor naga berukuran agak besar, sebagai ciri khas dan refresentasi nuansa budaya Tionghoa.

Karakter Budaya dan Kepercayaan Tionghoa dalam Vihara Ibu Agung Bahari ini semakin kental saat para pengunjung naik ke lantai 2, 3, dan 4, dimana banyak sekali ornamen dan pernak pernik peribadatan Orang Tionghoa. Ada banyak konstruksi ruang sembahyang dengan minatur patung Dewa-dewa dari kepercayaan Orang Tionghoa-China.

Penulis di Lantai 3 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Lantai 3 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: ist/palontaraq)

Peralatan, ornamen dan pernak-pernik peribadatan Orang Tionghoa di Lantai 3. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Peralatan, Kelengkapan sembahyang, ornamen dan pernak-pernik peribadatan Orang Tionghoa di Lantai 3. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Penulis di Lantai 3 Vihara Ibu Agung Bahari dengan latar belakang ornamen dan patung dewa dalam kepercayaan Orang Tionghoa. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di Lantai 3 Vihara Ibu Agung Bahari dengan latar belakang ornamen dan patung dewa dalam kepercayaan Orang Tionghoa. (foto: ist/palontaraq)

Miniatur patung dewa sesembahan Pemeluk Budha/Orang Tionghoa. (foto: ist/palontaraq)

Penulis dengan latar belakang Miniatur patung dewa sesembahan Pemeluk Budha/Orang Tionghoa di Lantai 3 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: ist/palontaraq)

Kondisi ruangan di Lantai 4 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kondisi ruangan di Lantai 4 Vihara Ibu Agung Bahari. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Vihara Ibu Agung Bahari merupakan gedung peribadatan tertua yang patut diapresiasi keberadaannya sebagai bagian dari dinamika ekonomi-politik di masa lampau dan pertumbuhan sosial warga Kota Makassar yang menjunjung tinggi toleransi, yang dalam bahasa lokal disebut Sipakatau.

Setiap hari Vihara Ibu Agung Bahari ini  ramai dikunjungi masyarakat yang datang dari berbagai kalangan, baik sebagai warga keturunan Tionghoa yang ingin bersembahyang, maupun sebagai turis.

Umumnya pengunjung vihara ini memang didominasi wisatawan lokal hingga turis mancanegara, termasuk diantaranya adalah para pelajar, mahasiswa dan pembelajar sejarah.

Keberadaan bangunan Vihara Ibu Agung Bahari ini dilindungi UU No.11 tahun 2010 dengan nomor register 342 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Propinsi Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat sebagai bagian dari kekayaan budaya nusantara, khususnya di Kota Makassar. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response