Tulisan Sebelumnya: EGO (23-25)
EGO (26): Shalat Isya baru saja usai. Aku duduk malas di ruang tamu saat Adil anakku menyampaikan ada tamu menunggu di teras rumah. Kuintip lewat jendela, sosoknya sepertinya tak asing meski jarang bertemu.
Kusuruh Adil anakku agar membukakan pintu dan aku segera tersadar bahwa tamu yang datang tersebut tak lain adalah tanteku, adik dari almarhum bapak. Diperkenalkannya gadis cantik yang bersamanya.
Aku tak mengenalnya sampai tanteku tersebut menyebut sebuah nama. “Wah sudah sebesar ini. Terakhir kali aku menggendongnya saat baru berumur lima tahun,” ujarku yang disambut dengan mencium tanganku.
Gadis tersebut yang mengaku sedang sibuk menuntaskan draft skripsinya tak lain adalah sepupuku sendiri. Aku menerawang jauh saat masa kecil sering bertandang ke Bone dimana tanteku tersebut tinggal.
Kini setelah berumah tangga, aku sangat jarang mengunjungi keluarga tante di Bone, termasuk keluarga adik di Soppeng. “Ah biar saja, yang penting sekarang mereka mengunjungiku,” pikirku saat tante menyampaikan maksud kedatangannya mengunjungiku.
“Bulan depan adikmu mau dinikahkan. Datanglah ke Bone. Jangan sampai adikmu mengatakan tidak ada lagi keluarganya di Pangkep,” Aku bergeming tak tahu harus berkata apa.
“Insya Allah kami datang,” jawab istriku sesaat setelah muncul dari dapur menyuguhkan teh dan kue kering di meja tamu. Aku tercekat, tak yakin bisa datang.
Catatan Ego (26) Etta Adil, Pangkep, 4 Oktober 2012.
EGO (27): Sepeda baru buat anakku sudah di tangan. “Bagaimana kalau langsung dicoba saja. Jalur yang mesti dilalui adalah jalanan depan rumah di Bontokio sampai sekolah puteri IMMIM di Biraeng Minasatene,” ujarku.
Aku perintahkan Adil anakku untuk mengendarai sepeda baru itu. Aku dan istri membuntuti dari belakang dengan sama-sama berkendara motor.
Di tengah perjalanan, terlihat anakku ngos-ngosan berkendara dan hal itu membuat simpati mamanya. “Sudah … sudah …. Tidak usah dilanjutkan, Nak! Berhenti dan minumlah dahulu,” ujarnya sesaat setelah turun dari motor dan mengampiri anak kami itu.
“Baru begitu saja sudah dikasihani. Lihat itu badannya, sama sekali tidak bertenaga. Lihat kakinya, kecil dan tidak berotot. Ayo, terus … lanjutkan perjalanan. Nanti di rumah, baru boleh minum,” Anakku adil melanjutkan perjalanan dan mamanya yang terlihat dongkol membuntuti dari belakang.
Aku sendiri memilih singgah di warung terdekat, mengasup sop ubi dan sebotol teh dingin.
Catatan Ego (27) Etta Adil, Pangkep, 5 Oktober 2012.
EGO (28): Sabtu siang itu, aku menepati janji untuk datang ke rumah seorang kawan yang penulis terkenal.
Di kediaman kawan itu, mataku tak pernah lepas menyelidik setiap sudut rumah yang dipenuhi dengan buku, lukisan, dan berbagai peralatan seni pertunjukan.
Kediaman kawan yang dinamainya “Rumahku, Panggungku” itu benar-benar mencerminkan pribadi penghuninya yang multi talenta sebagai seorang penulis, seniman, sastrawan, budayawan, dan sosiolog.
“Kita harus sering bertemu dengannya. Pengalamannya yang luas dan kesetiaannya berbagi dalam dunia sastra dan literasi bisa kita manfaatkan sebagai penambah jaringan kepenulisan agar kita pun bisa mengikuti jejaknya, apalagi kita sekampung dengannya,” ujar seorang kawan pegiat literasi yang menemaniku.
Aku tahu beberapa hari terakhir ini dia lebih sering bersama penulis terkenal itu dibandingkan diriku, namun kutegaskan pada kawan itu bahwa akupun akan mampu mengikuti kesuksesannya.
“Antara aku dan dia, sama-sama pekerja buku, doyan makan dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sifat penulis terkenal itu sama dengan sifatku. Akupun ikhlas berbagi: ilmu dan makanan. Jadi, nampaknya hanya aku yang mampu mengikuti jejak penulis terkenal itu.” ujarku meremehkan kawan pegiat literasi itu.
Catatan Ego (28) Etta Adil, Makassar, 6 Oktober 2012.


