Beranda Cerita Rakyat Cerita Rakyat: Sitti Naharira (14)

Cerita Rakyat: Sitti Naharira (14)

Foto/ilustrated: mfaridwm/palontaraq
Foto/ilustrated: mfaridwm/palontaraq

Oleh: H. Djamaluddin Hatibu

Tulisan sebelumnya: Cerita Rakyat: Sitti Naharira (13)

PALONTARAQ.ID – Suatu hari nampak dua kapal  besar di bibir pantai dekat rumah Lo’mo Labuang. Kedua kapal itu memuat puluhan ton kopra. Karena gelombang laut yang besar serta kencangnya angin barat daya kedua kapal itu tidak dapat melanjutkan pelayarannya.

Saat matahari mulai merekah  nampak jelaslah rumah-rumah penduduk. Ada satu rumah yang menarik perhatian kedua nakhoda kapal tersebut.

Rumah itu persis rumah yang pernah mereka bangun untuk Sitti Naharira. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat itu. Hanya satu yang membedakan rumah mereka dengan rumah tersebut  adalah di situ tertulis nama Lo’mo Labuang.

Kenangan akan Sitti Naharira kembali membayang. Nakhoda Husen teringat saat menukar istrinya dengan istri tukang kebun. Demikian pula Nakhoda Hasan saat termakan fitnah berita perselingkuhan istrinya.

Penyesalan akan keputusannya yang begitu gegabah meninggalkan Sitti Naharira. Tapi, semua sudah terlambat. Kini yang tersisa tinggal malu dan rasa sesal.

Terlebih ketika melihat Sitti Naharira dari balik jendela rumah itu, kerinduan dihati kedua nakhoda itu seakan membuncah seperti lantunan syair

Bila daku teringat

Kuberderai air mata

Aku dambakan

Ikatan tali kasihmu

Berdetak kencang jantung Sitti Naharira begitu melihat dua kapal yang  berlabuh itu. Diamatinya dengan seksama, hingga tiba pada satu kesimpulan bahwa kedua perahu itu adalah perahu Nakhoda Hasan dan Nakhoda Husein.

Duka Sitti Naharira di masa lalu seakan kembali membayang namun cepat-cepat dia menguasai dirinya.

Segera Sitti Naharira merapikan ruang tamu rumahnya sebab sebentar lagi kedua nakhoda itu akan melaporkan surat perahunya pada Lo’mo Labuang.

Setelah ruang tamu dirasa sudah rapi, masuklah Sitti Naharira di dalam kamar. Dibukanya lemari pakaian lalu diambilnya dua lembar surat rumah dan dua buah surat nikah.

Dibungkusnya kedua surat berharga tersebut dengan rapi lalu dijelaskanlah maksudnya kepada lo’mo Labuang.

“Wahai Kakanda, jika kedua nakhoda yang perahunya sedang berlabuh di sana, datang melaporkan surat perahunya terimalah dengan ramah. Jangan perlihatkan raut muka kurang bersahabat. Mereka berdua adalah bekas suamiku” kata Sitti Naharira.

 

Bersambung  …….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT