Tsunami Selat Sunda

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Des 29, 2018 | 142 views
Pemandangan udara dampak Tsunami Selat Sunda. (foto: bbc.com)

Gempa sebelum  Tsunami Selat Sunda terdeteksi oleh Badan Geologi Jerman. (foto: bbc.com)

BANTEN, PALONTARAQ.ID — Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, tiga bencana dahsyat memporak-porandakan wilayah Indonesia, Gempa bumi dahsyat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Tsunami dan Gempa Bumi di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah, serta Tsunami di Selat Sunda yang meluluh-lantakkan pesisir Banten dan sebagian wilayah Lampung. Dampaknya sangat mengerikan, ribuan jiwa meninggal, ratusan ribu warga yang selamat harus hidup di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, tempat tinggal nyaris tak bersisa.

BMKG telah menyampaikan secara resmi bahwa tsunami telah terjadi dan menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda, diantaranya di pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan. Tsunami terjadi pada 22/12/2018 sekitar pukul 21.27 WIB. Tsunami bukan dipicu oleh gempa bumi dan tidak terdeteksi adanya aktivitas tektonik. Kemungkinan tsunami terjadi akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Pada saat bersamaan terjadi gelombang pasang akibat pengaruh bulan purnama. Jadi ada kombinasi antara fenomena alam yaitu tsunami dan gelombang pasang. Meski begitu, pihak Badan Geologi Jerman, mengklaim mendeteksi adanya gempa sebelum Tsunami Selat Sunda.

Badan Geologi Indonesia mendeteksi pada pukul 21.03 WIB Gunung Anak Krakatau erupsi kembali dan menyebabkan peralatan seismograf setempat rusak. Namun seismik Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus (tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigaikan). Kemungkinan material sedimen di sekitar Anak Gunung Krakatau di bawah laut longsor sehingga memicu tsunami. Dampak tsunami menerjang pantai di sekitar Selat Sunda. Dampak tsunami menyebabkan korban jiwa dan kerusakan.

Merespon cepat bencana tsunami yang terjadi, tim BNPB, Basarnas, TNI-Polri, MRI-ACT, Hilmi-FPI, serta organisasi relawan lainnya cepat tanggap sejak satu hari pasca bencana. Kecepatan tim melakukan evakuasi di pesisir Pantai Barat Banten dan Lampung Selatan patut diapresiasi, khususnya bagi organisasi relawan di luar pemerintah.  Medan bencana yang tak mudah serta kondisi air laut yang seringkali naik ke permukaan menyebabkan proses evakuasi hingga hari ini masih sulit dilakukan.

Dampak tsunami yang menerjang pantai di Selat Sunda, khususya di daerah Pandenglang, Lampung Selatan dan Serang terus bertambah. Sampai dengan Tanggal 25 Desember lalu,  Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan 429 orang meninggal dunia, 1.485 orang luka-lula, 154 orang hilang dan 16.082 mengungsi. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah mengingat beberapa wilayah terdampak masih belum terjamah evakuasi. Jumlah pengungsi masih terus diupdate dalam pendataan.

Pemandangan udara dampak Tsunami Selat Sunda. (foto: bbc.com)

Pemandangan udara salah satu sisi dampak dan kerusakan akibat Tsunami Selat Sunda. (foto: bbc.com)

Pandeglang adalah termasuk daerah yang paling parah terdampak tsunami. Di Kabupaten Pandeglang tercatat 33 orang meninggal dunia, 491 orang luka-luka, 400 unit rumah rusak berat, 9 hotel rusak berat, dan 10 kapal rusak berat. Daerah yang terdampak adalah permukiman dan kawasan wisata di sepanjang Pantai seperti Pantai Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Penimbang dan Carita. Saat kejadian banyak wisatawan berkunjung di pantai sepanjang Pandeglang. Di Lampung Selatan, 7 orang meninggal dunia, 89 orang luka-luka dan 30 unit rumah rusak berat. Sedangkan di Serang tercatat 3 orang meninggal dunia, 4 orang luka-luka dan 2 orang hilang. Pendataan masih dilakukan. Kemungkinan data korban dan kerusakan akan bertambah.

Penanganan darurat masih terus dilalukan. Status tanggap darurat dan struktur organisasi tanggap darurat, pendirian posko, dapur umum dan lainnya masih disiapkan. Alat berat juga dikerahkan untuk membantu evakuasi dan perbaikan darurat.  Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menghimbau agar masyarakat  tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai saat ini. BMKG dan Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan penyebab tsunami dan kemungkinan susulannya. Kerusakan material meliputi 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, 350 kapal dan perahu rusak.  Kerusakan ini meliputi wilayah 4 kabupaten, yaitu  Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan dan Tanggamus.

Erupsi Gunung Anak Krakatau

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terpantau dari pesawat Grand Caravan Susi Air pada Tanggal 23 Desember 2018. Hampir setiap hari Gunung Anak Krakatau erupsi sejak Juni 2018 – sekarang. Erupsi pada tanggal 23 Desember lalu itu dinyatakan sebagai bukan yang terbesar. Periode Oktober-November 2018 terjadi erupsi lebih besar. Status Waspada (level 2). Zona berbahaya di dalam radius 2 km dari puncak kawah. Jalur pelayaran di Selat Sunda aman.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda terus meningkat. Untuk itu, PVMBG Badan Gelologi Kementerian ESDM telah menaikkkan status Gunung Anak Krakatau dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III), dengan zona berbahaya diperluas dari 2 kilometer menjadi 5 kilometer. Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 5 kilometer dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau. Naiknya status Siaga (Level III) ini berlaku terhitung mulai 27 Desember 2018 Pukul 06.00 WIB.

Berdasarkan data PVMBG, Gunung Anak Krakatau aktif kembali dan memasuki fase erupsi mulai Juli 2018. Erupsi selanjutnya  berupa letusan-letusan Strombolian yaitu letusan yang disertai lontaran lava pijar dan aliran lava pijar yang dominan mengarah ke tenggara. Erupsi yang berlangsung fluktuatif. Saat ini aktivitas letusan masih berlangsung secara menerus, yaitu berupa letusan Strombolian disertai lontaran lava pijar dan awan panas,  terpantau letusan berupa awan panas dan Surtseyan  yang mengakibatkan adanya hujan abu. Dominan angin mengarah ke barat daya sehingga abu vulkanik menyebar ke baratdaya ke laut. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response