Edukasi Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Alquran-Hadits

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Alquran-Hadits

-

- Advertisment -

 

Hafalkan Hadits ini. (foto: ist/palontaraq)
Hafalkan Hadits ini. (foto: ist/palontaraq)

Mata Pelajaran : Alquran-Hadits

Kelas              : X (Kelas I SMA/Aliyah)

Waktu             :

Guru Mapel      : Ustadz Drs H. Arsyad

Lihat pula: Keistimewaan Penghafal Al-Qur’an

PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah Soal Alquran-Hadits, salah satu Mata Pelajaran Kepesantrenan untuk Kelas X (Kelas I SMA/Aliyah) yang diujikan dalam kondisi dan situasi pandemi global Covid-19, sehingga pelaksanaan ujiannya dilaksanakan di rumah masing-masing.

Soal-soal Ujian Alquran-Hadits ini hanya dibuat khusus dan hanya diperuntukkan sebagai Ujian Akhir Semester bagi Santriwati Kelas X Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep.

Lancar membaca Al-Qur'an. (foto: ist/palontaraq)
Lancar membaca Al-Qur’an. (foto: ist/palontaraq)

Jawaban dapat dituliskan di kolom komentar, sesuaikan terlebih dahulu keyboard systemnya untuk penulisan word arabic (windows arab) atau setting arabic pada penulisan aksara arab di keyboard untuk pengguna android.

Lihat pula: Fadhilah Kecerdasan dari Membaca Al-Qur’an

Al-Qur'an - Hadits
Al-Qur’an – Hadits/ (foto: ist/palontaraq)

Jawablah pertanyaan berikut ini:

1. Apakah pengertian Hadits menurut ahli Hadits! Baik dari segi bahasa maupun istilah.

2. Apa perbedaan Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi!

3. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur Hadits serta beri contoh Hadits!

4. Sebutkan macam-macam Hadits dengan contoh masing-masing!

5. Apa fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an!

Al-Quran sebagai Penerang Hati seorang Muslim. (foto: ist/palontaraq)
Al-Quran sebagai Penerang Hati seorang Muslim. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Manfaat Membaca Al-Qur’an bagi Kesehatan

6. Sebutkan dan jelaskan pembagian Hadits dari segi kuantitas maupun kualitas !

7. Apa hukumnya mengatur shaf sholat jamaah secara sosial distancing di masjid, yaitu ada jarak 1 meter antara satu orang dengan orang lainnya, karena khawatir ada potensi penularan wabah virus Corona dalam pandemi Covid-19 saat ini. Kemukakan pendapatmu disertai dalil Al-Qur’an atau Hadits.

Lihat pula: Setetes Hikmah dari Samudera Al-Qur’an

Akrabilah Al-Qur'an dan jadikan panduan dalam hidup. (Sumber gambar: detik.com)
Akrabilah Al-Qur’an dan jadikan panduan dalam hidup. (Sumber gambar: detik.com)

40 KOMENTAR

  1. AFRILLAH DIAH AULIA
    X.IPA

    1)Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2)Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala

    3)Unsur hadist : sanad(orang yang menjadi perantara dari rasulullah ke perawi), matan(teks atau perkataan yang disampaikan), rawi(disebut perawi)
    contoh matan hadist adalah : misalnya hadist yang mengatakan tentang kewajiban menutup aurat dll.

    4). Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur

    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.

    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5)fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-€™am, bayan tabdila.

    6)A.      Pembagian Hadits dari Segi Kuantitasnya

    Hadits ditinjau dari segi kuantitasnya atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.
    B.       Pembagian Hadits dari segi kualitas
    Hadits ditinjau dari segi kualitas perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits shahih, hadits hasan dan hadits dlaif.

    7)Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).
    “Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, shalat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada

    • Nama : Siti Fadillah Rahman
      Kelas : X.IPA

      1. Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
      Hadist menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.
      2) Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala
      3) Unsur hadist : sanad(orang yang menjadi perantara dari rasulullah ke perawi), matan(teks atau perkataan yang disampaikan), rawi(disebut perawi)
      contoh matan hadist adalah : misalnya hadist yang mengatakan tentang kewajiban menutup aurat dll.
      4) 1. Hadist Mutawatir
      Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
      Sebagai contoh hadist mutawatir
      Artinya :
      Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
      2. Hadist Masyhur
      Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
      Contoh hadist :
      Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
      3. Hadist Ahad
      Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
      a. Hadist Sahih
      Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
      Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
      b. Hadist Hasan
      Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
      c. Hadist Da’if
      Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
      Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
      d. Hadist Maudu
      Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
      Mungkin hanya syair atau cerita saja.
      Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.
      5) Fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-€™am, bayan tabdila.
      6) A.  Pembagian Hadits dari Segi Kuantitasnya
      Hadits ditinjau dari segi kuantitasnya atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.
      B. Pembagian Hadits dari segi kualitas
      Hadits ditinjau dari segi kualitas perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits shahih, hadits hasan dan hadits dlaif.
      7) Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).
      “Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, shalat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada

  2. 1. Hadits menurut bahasa: berasal dari bahasa arab yg artinya baru, diucapkan, pembicaraan,dan cerita
    Hadits menurut istilah adalah segala tingkah laku nabi muhammad baik berupa ketetapan perbuatan maupun perkataan
    2.-Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    -Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    – Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 
    3. -Matan (Matnul) Hadis
    Matan secara bahasa artinya : kuat, kokoh, keras ; maksudnya ialah isi atau omongan atau lafazh-lafazh hadits yang terletak sesudah rawi dari sanad yang akhir Misalnya, perkataan sahabat Anas bin Malik r.a., “Kami bersalat bersama-sama Rasulullah saw. pada waktu udara sangat panas. Apabila salah seorang dari kami tidak sanggup menekankan dahinya di atas tanah, maka ia bentangkan pakaiannya, lantas sujud di atasnya.”
    -SANAD
    Sanad atau thariq, ialah jalan yang dapat menyambungkan matnul hadits kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Dalam bidang ilmu haduts sanad itu merupakan neraca untuk menimbang shahih atau dhaifnya
    -RAWI
    Rawi adalah orang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (guru). Sistem Penyusun Hadits Dalam Menyebutkan Nama Rawi

    As Sab’ah berarti diriwayatkan oleh tujuh perawi, yaitu :
    1. Ahmad
    2. Bukhari
    3. Turmudzi
    4. Nasa’i
    5. Muslim
    6. Abu Dawud
    7. Ibnu Majah

    As Sittah berarti diriwayatkan oleh enam perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad
    Al Khomsah berarti diriwayatkan oleh lima perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Bukhari dan Muslim
    Al Arba’ah berarti diriwayatkan oleh empat perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’a) selain Ahmad, Bukhari dan Muslim.
    Ats Tsalasah berarti diriwayatkan oleh tiga perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah.
    Asy Syaikhon berarti diriwayatkan oleh dua orang perawi yaitu : Bukhari dan Muslim
    Al Jama’ah berarti diriwayatkan oleh para perawi yang banyak sekali jumlahnya (lebih dari tujuh perawi / As Sab’ah).
    4. Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5. Menafsirkan serta memperinci ayat-ayat yang masih mujmal (bersifat global)

    6.Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7. Dalam kondisi normal, barisan shalat jamaah itu harus lurus dan rapat. Sebagaimana sabda Nabi berikut:

    عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

    Dari Anas ra, dari Nabi saw bersabda, “Luruskan barisan kalian karena lurusnya barisan itu termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari)

    Ada juga hadis yang lebih rinci, seperti hadis berikut ini:

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

    Dari Anas bin Malik ra, dari Rasulullah saw bersabda: “Rapatkan barisan kalian dan dekatkan antara barisan, sejajarkan leher-leher. Demi jiwaku di tangan-Nya, sunguh aku melihat setan memasuki sela-sela shaf seperti anak kambing.” (HR. Abu Dawud).

    Jelas sudah. Ajaran shalat jamaah itu, barisan harus lurus dan rapat. Ini tentu dalam keadaan normal.

    Adapun dalam situasi sekarang ini boleh berubah. Karena khawatir tertular covid 19 bila shalat berdekatan. Beberapa daerah sudah boleh tidak jum’atan dan shalat jamaah.

    Menjaga jangan sampai terjadi kerusakan dan atau malapetaka itu adalah lebih baik daripada berbuat baik Itu Qaidah Fiqih Islam : Dar’ul mafasid muqoddamun ‘alal jalabil mashollih.

    Ada pula Qaidah fiqih islam yang masyhur : Alhukmu yaruddu bi illatihi : Apabila Jatuhkan Hukum lihat sebabnya Sungguh indah ketika kemudian kita fahami qaidah hukum islam dalam menghadapi Covid 19. Itu sebabnya kita fahami dan kita patuhi fatwa MUI Pusat.

    Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in

  3. 1.)Hadist menurut bahasa : berasal daribahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupunketetapan
    2.)Hadits nabawi berasal dari Rasulullah s.a.w yang menceritakan dirinya. Sedangkan hadits qudsi berasal dari Allah SWT, baik dengan perantara Jibril ‘alaihissalam, melalui ilham, maupun mimpi dan diriwayatkan oleh Rasulullah.
    3.) Rawi,Sanat,Matan
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا وَقَالَ اِبْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
    4.)a.Hadist Mutawatir
    contoh hadist mutawatir
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    b.Hadist Masyhur
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    c.Hadist ahad
    Contoh hadis tersebut dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS An Nahl : 44).
    5.)fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. … Karena dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang memerintahkan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. 
    6.)Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.
    7.)Hukum mengatur shaf sholat dengan adanya jarak seperti yang ditanyakan di atas, berkaitan dengan hukum meluruskan dan merapatkan shaf. Karenanya, akan kami jelaskan lebih dulu pendapat yang rajih (lebih kuat) dalam hukum meluruskan dan merapatkan shaf ini, karena terdapat perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah ini. Setelah itu akan kami jelaskan hukum syara’ untuk pengaturan shaf secara berjarak dalam pandemik Covid-19 yang ada saat ini.
    Ulama yang mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf tersebut antara lain berhujjah dengan hadis dari Anas bin Malik RA dalam Shahîh Bukhâri bahwa Rasulullah SAW bersabda :
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة
    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

  4. Rafikah amalia
    10 ipa
    Jawab
    1.Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2.1. Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    2.  Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    3.  Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3.Unsur hadist : sanad(orang yang menjadi perantara dari rasulullah ke perawi), matan(teks atau perkataan yang disampaikan), rawi(disebut perawi)
    contoh matan hadist adalah : misalnya hadist yang mengatakan tentang kewajiban menutup aurat dll.

    4. Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah.hadist jenis ini tertolak.

    5. sebagai bayan berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. … Karena dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-qur’am, bayan tabdila.

    6.Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.karena terdapat perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah ini. Setelah itu akan kami jelaskan hukum syara’ untuk pengaturan shaf secara berjarak dalam pandemik Covid-19 yang ada saat ini.
    Perlu diketahui memang ada perbedaan pendapat (khilâfiyah) di kalangan ulama mengenai hukum meluruskan shaf (taswiyyat al shufûf), termasuk di dalamnya adalah merapatkan shaf (al tarâsh, suddul khalal) supaya tidak ada celah/kerenggangan (furjah) antara satu orang dengan orang lainnya.
    Ulama yang mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf tersebut antara lain berhujjah dengan hadis dari Anas bin Malik RA dalam Shahîh Bukhâri bahwa Rasulullah SAW bersabda :
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة
    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).
    Imam Ibnu Hazm mengomentari hadis tersebut dengan berkata :
    تسوية الصف إذا كان من إقامة الصلاة فهو فرض، لأن إقامة الصلاة فرض، وما كان من الفرض فهو فرض
    “Lurusnya shaf jika termasuk dalam tegaknya sholat, maka hukumnya fardhu (wajib). Karena tegaknya sholat itu fardhu, dan apa saja yang merupakan bagian dari suatu kefardhuan, maka hukumnya juga fardhu.” (Ibnu Hazm, Al Muhalla, 2/375).
    Namun demikian, jumhur ulama tidak sependapat bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya wajib. Bagi jumhur ulama, hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.

  5. Nama:Atirah
    Kelas:X.Ipa

    1.)Hadist menurut bahasa : berasal daribahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupunketetapan
    2.)Hadits nabawi berasal dari Rasulullah s.a.w yang menceritakan dirinya. Sedangkan hadits qudsi berasal dari Allah SWT, baik dengan perantara Jibril ‘alaihissalam, melalui ilham, maupun mimpi dan diriwayatkan oleh Rasulullah.
    3.) Rawi,Sanat,Matan
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا وَقَالَ اِبْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
    4.)a.Hadist Mutawatir
    contoh hadist mutawatir
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    b.Hadist Masyhur
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    c.Hadist ahad
    Contoh hadis tersebut dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS An Nahl : 44).
    5.)fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. … Karena dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang memerintahkan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. 
    6.)Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.
    7.)Hukum mengatur shaf sholat dengan adanya jarak seperti yang ditanyakan di atas, berkaitan dengan hukum meluruskan dan merapatkan shaf. Karenanya, akan kami jelaskan lebih dulu pendapat yang rajih (lebih kuat) dalam hukum meluruskan dan merapatkan shaf ini, karena terdapat perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah ini. Setelah itu akan kami jelaskan hukum syara’ untuk pengaturan shaf secara berjarak dalam pandemik Covid-19 yang ada saat ini.
    Ulama yang mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf tersebut antara lain berhujjah dengan hadis dari Anas bin Malik RA dalam Shahîh Bukhâri bahwa Rasulullah SAW bersabda :
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة
    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

  6. Faradilla Mulyasari
    X.Ipa

    1.) A. Pengertian Hadist Secara Bahasa 

    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru

    B. Pengertian Hadist Menurut Istilah

    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi

    2. menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2)•Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 

    •Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 

    •Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3). Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري

    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4).
    . Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur

    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.

    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :

    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.

    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44

    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  7. Ulfiyah amanda
    X IPS
    1. Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.
    2. -Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat;
    -Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala.
    3. Unsur-unsur Hadis:

    1.Sanad => Susunan Perawi Hadits yg menyampaikan pada Matan Hadis.

    2.Matan=> Isi dari hadis baik perkataan, perbuatan, maupun taqrir

    3.Rawi=> Orang yang meriwayatkan hadis (org yg menulis atau membukukan hadis)

    Perawi pertama : Sahabat Nabi,contoh Aisyah RA, Umar bin Khattab,dll

    Perawi terakhir : Yg membukukan, contoh Bukhori,Muslim,Ibnu Majah dll

    contoh:

    pada hadis mengenai Niat;

    عن عمربن الخطاب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (Sanad)

    انماالاعمال با لنيات وانما لكل امر ى مانوي (Matan)

    متفق عليه (Rawi)
    4. Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.
    5. fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. … Karena dalam al-Qur-an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-qur’an, bayan tabdila.
    6. Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 
    7. Imam An-Nawawi dalam karyanya yang lain, Raudhatut Thalibin menjelaskan bahwa seseorang yang mengambil jarak dalam satu shaf berjamaah dalam kesendirian saja, meskipun makruh, tetapi salat berjamaahnya tetap sah.
    “Jika seorang masuk sementara jamaah sedang shalat, maka ia makruh untuk berdiri sendiri. Tetapi jika ia menemukan celah atau tempat yang luas pada shaf tersebut, hendaknya ia mengisi celah tersebut. Tetapi jika ia berdiri sendiri, maka salatnya tetap sah.” (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz I, halaman 356).

  8. Ade salma
    X ips

    Edukasi Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas X: Alquran-Hadits

    1)Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2)Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala

    3)Unsur hadist : sanad(orang yang menjadi perantara dari rasulullah ke perawi), matan(teks atau perkataan yang disampaikan), rawi(disebut perawi)
    contoh matan hadist adalah : misalnya hadist yang mengatakan tentang kewajiban menutup aurat dll.

    4). Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur

    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.

    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5)fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-€™am, bayan tabdila.

    6)A. Pembagian Hadits dari Segi Kuantitasnya

    Hadits ditinjau dari segi kuantitasnya atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.
    B. Pembagian Hadits dari segi kualitas
    Hadits ditinjau dari segi kualitas perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits shahih, hadits hasan dan hadits dlaif.

    7)Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).
    “Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, shalat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada

  9. Nama: Nurullailil garrai sy
    Kelas : X IPS
    1)Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2)Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala

    3)Unsur hadist : sanad(orang yang menjadi perantara dari rasulullah ke perawi), matan(teks atau perkataan yang disampaikan), rawi(disebut perawi)
    contoh matan hadist adalah : misalnya hadist yang mengatakan tentang kewajiban menutup aurat dll.

    4). Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur

    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.

    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5)fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-€™am, bayan tabdila.

    6)A. Pembagian Hadits dari Segi Kuantitasnya

    Hadits ditinjau dari segi kuantitasnya atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.
    B. Pembagian Hadits dari segi kualitas
    Hadits ditinjau dari segi kualitas perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits shahih, hadits hasan dan hadits dlaif.

    7)Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).
    “Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, shalat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada

  10. SRI REJEKI JAYA ASTUTI
    X. IPA

    1.) Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan

    2.) 1.Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala

    3.) Unsur-Unsur Hadits

    1. Sanad

    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    (Shahih Bukhari :15)
    2. Matan

    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    3. Rawi

    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya.
    4. Rijal al hadits

    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).

    4. Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur

    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5.) Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an

    Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Alloh. Kitab Al-Qur’an adalah sebagai penyempurna dari kita-kitab Alloh yang pernah diturunkan sebelumnya.

    Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam dan merupakan rujukan umat Islam dalam memahami syariat. Pada tahun 1958 salah seorang sarjana barat yang telah mengadakan penelitian dan penyelidikan secara ilmiah tentang Al-Qur’an mengatan bahwa : “Pokok-pokok ajaran Al-Qur’an begitu dinamis serta langgeng abadi, sehingga tidak ada di dunia ini suatu kitab suci yang lebih dari 12 abad lamanya, tetapi murni dalam teksnya”. (Drs. Achmad Syauki, Sulita Bandung, 1985 : 33).

    Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an meliputi tiga fungsi pokok, yaitu :

    1. Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.

    2. Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:

    “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44

    3. Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6.) Hadits Dari Segi Kualitas
    Ditinjau dari segi kualitas sanad dan matan-nya, atau berdasarkan kepada kuat dan lemahnya, hadits terbagi menjadi 2 golongan, yaitu: hadits maqbul & hadits mardud.
    Yang dimaksud dengan hadits maqbul adalah hadits yang memenuhi syarat untuk diterima sebagai dalil dalam perumusan hukum atau untuk beramal dengannya. Hadits maqbul ini terdiri dari hadits hahih dan hadits hasan. Sedangkan yang dimaksud dengan hadits mardud adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat qabul, dan hadits mardud dinamai juga dengan hadits dha’if.

    1. Hadits Sahih

    Kata “Sahih” menurut bahasa berarti: sehat, selamat, sah dan sempurna. Ulama biasa menyebut kata sahih sebagai lawan dari kata “saqim” yang bermakna sakit. Makna hadits shahih secara bahasa adalah hadis yang sehat, selamat, benar, sah, sempurna dan yang tidak sakit. Sedangkan menurut istilah yaitu “ Hadis yang dinukilkan (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatannya, bersambung sanadnya, tidak ber’illat (cacat), dan tidak syadz (janggal).” Demikian pengertian hadis shahih menurut pendapat muhadditsin.

    Syarat-syarat hadits sahih :
    · Bersambung sanadnya
    · Perawinya adil
    · Perawinya dhabith
    · Tanpa syadz (janggal)
    · Tanpa ‘illat (cacat)

    Hadits sahih terbagi dalam dua macam :
    · Hadits li dzatihi adalah hadis yang didalamnya telah terpenuhi syarat-syarat hadis maqbul atau yang memenuhi syarat-syarat diatas secara sempurna.
    · Hadis sahih li ghairihi adalah hadis yang keshahihannya dibantu oleh adanya hadis lain. Pada mulanya hadis ini memiliki kelemahan berupa periwayatan yang kurang dhabith, sehingga dinilai tidak memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai hadis sahih. Tetapi setelah diketahui ada hadis lain dengan kandungan matan yang sama dengan kualitas sahih maka hadis tersebut naik menjadi hadis sahih.

    2. Hadits Hasan
    Hadits hasan adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kurang kuat hafalannya, bersambung sanadnya, tidak mengandung ‘illat (cacat), dan tidak mengandung kejanggalan (syadz).
    Hadits hasan terbagi dalam dua macam :
    · Hadits hasan li dzatihi, adalah hadis yang memenuhi lima unsur persyaratan hadis sahih, tetapi salah satu rawi kurang kuat hafalannya.
    · Hadits hasan li ghairihi, adalah hadis dha’if yang didukung oleh hadis lain yang sahih dengan matan yang sama, sehingga naik menjadi hadis hasan li ghairihi.

    3. Hadits Dha’if
    Hadis dha’if adlah hadis yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadis shahih dan syarat-syarat hadis hasan.

    Hadits Dari Segi Kuantitas

    1. Hadits Mutawatir
    Secara bahasa, mutawatir adalah isim fa’il dari at-tawatur yang artinya berurutan. Sedangkan mutawatir menurut istilah adalah “apa yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang menurut kebiasaan mereka terhindar dari melakukan dusta mulai dari awal hingga akhir sanad”. Atau : “hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang banyak pada setiap tingkatan sanadnya menurut akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta dan memalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkan pada sesuatu yang dapat diketahui dengan indera seperti pendengarannya dan semacamnya”.
    Hadits mutawatir terbagi menjadi dua bagian, yaitu Mutawatir Lafdhy dan Mutawatir Ma’nawi.

    2. Hadits Ahad
    Ahad menurut bahasa mempunyai arti satu. Dan khabarul-wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan hadits ahad menurut istilah adalah hadits yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir. Hadits ahad terbagi menjadi 3 macam, yaitu: Masyhur, ‘Aziz, dan Gharib :

    · Masyhur : Masyhur (المشهور) adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rawi disetiap tingkatan, tapi belum sampai pada derajat mutawatir.Contohnya perkataan Nabi Muhammad SAW.

    المسام من سلم المسلمون من لسانه و يده

    “Muslim sejati adalah muslim yang saudaranya terbebas dari gangguan lisan dan tangannya.”

    · ‘Aziz : ‘Aziz (العزيز) adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua rowi saja dimasing-masing tingkatan. Contohnya perkataaan Nabi Muhammad SAW.

    لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده و الناس أجمعين

    “Tidak sempurna iman kalian hingga Aku lebih dia cintai dari orang tua, anaknya bahkan manusia seluruhnya.”

    · Ghorib : Ghorib (الغريب) adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang saja. Contohnya perkataan Nabi Muhammad SAW.

    إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

    “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai apa yang diniatkannya” (HR. Bukhori dan Muslim)

    7.)Hukumnya sunnah di karenakan adanya wabah virus jadi tidak apa apa bila mengatur jarak sosial distancing
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

  11. Mutia Maharani
    X.IPA

    1)Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.
    2)Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala.
    3)Unsur-Unsur Hadits

    1. Sanad

    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    (Shahih Bukhari :15)

    2)Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala.

    3)Unsur-Unsur Hadits

    1. Sanad

    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    (Shahih Bukhari :15)
    2. Matan

    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    3. Rawi

    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya.
    4. Rijal al hadits

    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).

    4)Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur

    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5)Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an

    Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Alloh. Kitab Al-Qur’an adalah sebagai penyempurna dari kita-kitab Alloh yang pernah diturunkan sebelumnya.

    Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam dan merupakan rujukan umat Islam dalam memahami syariat. Pada tahun 1958 salah seorang sarjana barat yang telah mengadakan penelitian dan penyelidikan secara ilmiah tentang Al-Qur’an mengatan bahwa : “Pokok-pokok ajaran Al-Qur’an begitu dinamis serta langgeng abadi, sehingga tidak ada di dunia ini suatu kitab suci yang lebih dari 12 abad lamanya, tetapi murni dalam teksnya”. (Drs. Achmad Syauki, Sulita Bandung, 1985 : 33).

    Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an meliputi tiga fungsi pokok, yaitu :

    1. Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.

    2. Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:

    “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44

    3. Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6)Hadits Dari Segi Kualitas
    Ditinjau dari segi kualitas sanad dan matan-nya, atau berdasarkan kepada kuat dan lemahnya, hadits terbagi menjadi 2 golongan, yaitu: hadits maqbul & hadits mardud.
    Yang dimaksud dengan hadits maqbul adalah hadits yang memenuhi syarat untuk diterima sebagai dalil dalam perumusan hukum atau untuk beramal dengannya. Hadits maqbul ini terdiri dari hadits hahih dan hadits hasan. Sedangkan yang dimaksud dengan hadits mardud adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat qabul, dan hadits mardud dinamai juga dengan hadits dha’if.

    1. Hadits Sahih

    Kata “Sahih” menurut bahasa berarti: sehat, selamat, sah dan sempurna. Ulama biasa menyebut kata sahih sebagai lawan dari kata “saqim” yang bermakna sakit. Makna hadits shahih secara bahasa adalah hadis yang sehat, selamat, benar, sah, sempurna dan yang tidak sakit. Sedangkan menurut istilah yaitu “ Hadis yang dinukilkan (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatannya, bersambung sanadnya, tidak ber’illat (cacat), dan tidak syadz (janggal).” Demikian pengertian hadis shahih menurut pendapat muhadditsin.

    Syarat-syarat hadits sahih :
    · Bersambung sanadnya
    · Perawinya adil
    · Perawinya dhabith
    · Tanpa syadz (janggal)
    · Tanpa ‘illat (cacat)

    Hadits sahih terbagi dalam dua macam :
    · Hadits li dzatihi adalah hadis yang didalamnya telah terpenuhi syarat-syarat hadis maqbul atau yang memenuhi syarat-syarat diatas secara sempurna.
    · Hadis sahih li ghairihi adalah hadis yang keshahihannya dibantu oleh adanya hadis lain. Pada mulanya hadis ini memiliki kelemahan berupa periwayatan yang kurang dhabith, sehingga dinilai tidak memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai hadis sahih. Tetapi setelah diketahui ada hadis lain dengan kandungan matan yang sama dengan kualitas sahih maka hadis tersebut naik menjadi hadis sahih.

    2. Hadits Hasan
    Hadits hasan adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kurang kuat hafalannya, bersambung sanadnya, tidak mengandung ‘illat (cacat), dan tidak mengandung kejanggalan (syadz).
    Hadits hasan terbagi dalam dua macam :
    · Hadits hasan li dzatihi, adalah hadis yang memenuhi lima unsur persyaratan hadis sahih, tetapi salah satu rawi kurang kuat hafalannya.
    · Hadits hasan li ghairihi, adalah hadis dha’if yang didukung oleh hadis lain yang sahih dengan matan yang sama, sehingga naik menjadi hadis hasan li ghairihi.

    3. Hadits Dha’if
    Hadis dha’if adlah hadis yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadis shahih dan syarat-syarat hadis hasan.

    Hadits Dari Segi Kuantitas

    1. Hadits Mutawatir
    Secara bahasa, mutawatir adalah isim fa’il dari at-tawatur yang artinya berurutan. Sedangkan mutawatir menurut istilah adalah “apa yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang menurut kebiasaan mereka terhindar dari melakukan dusta mulai dari awal hingga akhir sanad”. Atau : “hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang banyak pada setiap tingkatan sanadnya menurut akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta dan memalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkan pada sesuatu yang dapat diketahui dengan indera seperti pendengarannya dan semacamnya”.
    Hadits mutawatir terbagi menjadi dua bagian, yaitu Mutawatir Lafdhy dan Mutawatir Ma’nawi.

    2. Hadits Ahad
    Ahad menurut bahasa mempunyai arti satu. Dan khabarul-wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan hadits ahad menurut istilah adalah hadits yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir. Hadits ahad terbagi menjadi 3 macam, yaitu: Masyhur, ‘Aziz, dan Gharib :

    · Masyhur : Masyhur (المشهور) adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rawi disetiap tingkatan, tapi belum sampai pada derajat mutawatir.Contohnya perkataan Nabi Muhammad SAW.

    المسام من سلم المسلمون من لسانه و يده

    “Muslim sejati adalah muslim yang saudaranya terbebas dari gangguan lisan dan tangannya.”

    · ‘Aziz : ‘Aziz (العزيز) adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua rowi saja dimasing-masing tingkatan. Contohnya perkataaan Nabi Muhammad SAW.

    لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده و الناس أجمعين

    “Tidak sempurna iman kalian hingga Aku lebih dia cintai dari orang tua, anaknya bahkan manusia seluruhnya.”

    · Ghorib : Ghorib (الغريب) adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang saja. Contohnya perkataan Nabi Muhammad SAW.

    إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

    “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai apa yang diniatkannya” (HR. Bukhori dan Muslim

    7)Hukumnya sunnah di karenakan adanya wabah virus jadi tidak apa apa bila mengatur jarak sosial distancing
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

  12. FARADILLA
    X IPA

    1.) Apakah pengertian Hadits menurut ahli Hadits! Baik dari segi bahasa maupun istilah.
    : PENGERTIAN HADIST MENURUT BAHASA

    Hadist menurut bahasa adalah berita atau sesuatu yang baru

    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru

    PENGERTIAN HADIST MENURUT ISTILAH

    Hadist menurut istilah adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi baik perbuatan, perkataan, sifat maupun diamnya nabi

    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi

    2.menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2.) Apa perbedaan Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi!
    : Hadits nabawi berasal dari Rasulullah s.a.w yang menceritakan dirinya. Sedangkan hadits qudsi berasal dari Allah SWT, baik dengan perantara Jibril ‘alaihissalam, melalui ilham, maupun mimpi dan diriwayatkan oleh Rasulullah. Sebab itu dikatakan al-Qudsi (suci) yang merujuk pada Allah SWT yang Maha Suci.

    3.) Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur Hadits serta beri contoh Hadits!
    : A. Unsur-Unsur Hadits

    1. Sanad

    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    ‎حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    “Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya, ‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW, sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni (1) Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada selain-Nya, (2) kecintaan kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, (3) keengganan kembali kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan ke neraka”. (Shahih Bukhari :15)
    Maka matan hadits “ ثلاثٌ” sampai dengan “ان يُقْذفَ فى النَّارِ” diterima oleh imam Bukhary melalui sanad pertama : محمّد بن المثنّى, sanad kedua عبد الوهّاب الثّقفى, sanad ketiga ايوب, sanad keempat ابى قلابة dan seterusnya sampai sanad yang terakhir yaitu
    ‎انس رضي الله عنه, seorang sahabat yang langsung menerima sendiri hadits dari nabi Muhammad SAW.
    Dalam hal ini juga dapat dikatakan bahwa sabda nabi SAW tersebut disampaikan oleh sahabat Anas r.a sebagai rawi pertama, kepada Abi Qilabah sebagai rawi kedua dan menyampaikan kepada ats Tsaqafy sebagai rawi ketiga dan menyampaikan kepada Muhammad ibn Mutsanna sebagai rawi keempat hingga sampai kepada imam Bukhary sebagai rawi terakhir.
    Dengan demikian imam Bukhary itu menjadi sanad pertama dan rawi terakhir bagi kita.

    2. Matan

    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    ‎حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    Dari nama “مسدّد ” dan nama sesudahnya sampai “ ابى هريرة ” adalah sanad, sedangkan kalimat mulai مابين بيتى sampai dengan الحوضِ disebut matan.

    3. Rawi

    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya. Contohnya seperti hadits di atas (contoh matan), imam Bukhary adalah rawi (rawi terakhir), sedangkan rawi pertamanya adalah Abi Hurairah r.a.
    Dalam kitab kumpulan hadits-hadits nabi, sering disebutkan istilah-istilah khusus untuk meringkas jumlah rawi yang berbeda dalam meriwayatkan sebuah hadits. Istilah-istilah itu adalah اَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ
    Maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh tujuh (7) orang rawi yaitu :
    a. Imam Ahmad
    b. Imam Bukhary
    c. Imam Muslim
    d. Abu Dawud
    e. At Turmudzy
    f. An Nasaiy
    g. Ibnu Majah.
    Kemudian اَخْرَجَهُ السِّتَّةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh enam (6) orang rawi yaitu : tujuh rawi tersebut di atas selain Ahmad. Ada lagi اَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh lima (5) orang rawi yaitu :
    a. Imam Ahmad
    b. Abu Dawud
    c. At Turmudzy
    d. An Nasaiy
    e. Ibnu Majah.
    Danالْأَرْبَعَةُ وَاَحْمَدُ اَخْرَجَهُmaksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh ashabus sunan yang empat (4) orang rawi yaitu :
    a. Abu Dawud
    b. At Turmudzy
    c. An Nasaiy
    d. Ibnu Majah, ditambah 5. Imam Ahmad atau kelima orang rawi selain Ibnu Majah.

    ‎اَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim. رَوَاهُ الثَّلَاثَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim dan Abu Dawud. رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, Abu Dawud dan At Turmudzy. رَوَاهُ الْخَمْسَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, Abu Dawud, An Nasaiy dan At Turmudzy.
    ‎السُّنَنْ رَوَاهُ اَصْحَابُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh tiga (3) orang pemilik kitab-kitab sunan yakni Abu Dawud, At Turmudzy dan An Nasaiy. مُتَفَقٌ عَلَيْهِ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim.

    4. Rijal al hadits

    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).
    Secara garis besar tokoh-tokoh hadits (rijal al hadits) dari kalangan sahabat adalah :
    a. Abu Hurairah
    b. Abdullah Ibn Umar
    c. Anas bin Malik
    d. Aisyah binti Abu Bakar al Shidiq
    e. Abdullah Ibn Abbas
    f. Jabir Ibn Abdillah
    g. Abu Said al Khudry
    h. Abdullah Ibn Mas’ud
    i. Abu al Thufail
    Sementara rijal al hadits dari kalangan tabi’in adalah :
    a. Sa’id Ibn Al Musayyab
    b. Urwah Ibn Zubair
    c. Nafi’ Al Adawy
    d. Al Hasan Al Bishri
    e. Muhammad Ibn Sirrin
    f. Muhammad Ibn Muslim Al Zuhri
    g. Qatadah Ibn Di’amah
    h. Sulaiman Ibn Mihram Al A’masyzubair
    i. Sa’id Ibn Zubair
    j. Mujahid Ibn Jabir
    k. Al Sya’by
    l. Zaid Ibn Ali
    m. Ja’far Al Shadiq
    Contoh hadits: LARANGAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH
    ‎عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

    Dari al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di Neraka.” (HR. al-Bukhâri, no. 1229)

    4.) Sebutkan macam-macam Hadits dengan contoh masing-masing!
    : •Hadits Mutawatir : Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok  orang dari beberapa snad yang terpercaya.

    ‎مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    “Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”.

    •Hadits Ahad : Hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir.

    ‎حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ “(رواه البخاري)
    “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math’ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur” (HR. Bukhari).

    •Hadits Shahih : Hadits yang bersambung sanadnya, dirwayatkan oleh orang yang adil dan dhobit (kuat hafalannya).
    Riwayat Bukhari dan Muslim
    ‎قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.”

    •Hadits Hasan : Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tidak disangka dusta dan tidak syadz
    ‎حدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِي عَنْ أَبِيْ عِمْرَانِ الْجَوْنِي عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوْسَي الْأَشْعَرِيْ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ ….. الحديث “
    “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu ja’far bin sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy’ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…” (HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil jihadi).

    •Hadits Dha’if : Hadits yang diriwayatkan oleh oarang yang tidak adil,tidak dhobit,syadz, dan cacat.
    ‎من أتي حائضا أو إمرأة أو كاهنا فقد كفر بما أنزل علي محمد
    “Barang siapa yang mendatangi seorang haid, atau perempuan atau seorang dukun, maka ia telah kufur atas hal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.”

    5.) Apa fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an!
    : Fungsi hadist terhadap Al Quran selanjutnya adalah sebagai Bayan At-Tafsir yang berarti memberikan tafsiran (perincian) terhadap isi Al Quran yang masih bersifat umum (mujmal) serta memberikan batasan-batasan (persyaratan) pada ayat-ayat yang bersifat mutlak (taqyid).

    6.) Sebutkan dan jelaskan pembagian Hadits dari segi kuantitas maupun kualitas !
    : •Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    •Dari segi kualitasnya:
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.

    7.) Apa hukumnya mengatur shaf sholat jamaah secara sosial distancing di masjid, yaitu ada jarak 1 meter antara satu orang dengan orang lainnya, karena khawatir ada potensi penularan wabah virus Corona dalam pandemi Covid-19 saat ini. Kemukakan pendapatmu disertai dalil Al-Qur’an atau Hadits.
    : Berdasarkan pandangan para ulama Mazhab Syafi’i, sebagai amalan masyarakat rumpun Melayu, shalat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, mushala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan

    shalat berjamaah dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).
    Ia mengatakan, shalat berjamaah sah sekalipun jarak imam dan makmum jauh dan tidak lebih dari 300 hasta. Hal ini dijelaskan dalam kitab Minhaj al-Qawim, bahwa shalat berjamaah tetap sah jika mereka berdua (imam dan makmum) berada di dalam satu masjid atau beberapa masjid, yang pintu-pintunya terbuka atau jika ditutup tidak dikunci mati (dipaku).
    Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).

    jumhur ulama tidak sependapat bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya wajib. Bagi jumhur ulama, hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.
    Ini karena jumhur ulama berpegang dengan hadis Abu Hurairah RA, dalam Shahîh Bukhâri juga, yang meriwayatkan sabda Rasulullah SAW dengan redaksi yang sedikit berbeda, yaitu sabda Rasulullah SAW :

    ‎أقيموا الصف في الصلاة، فإن إقامة الصف من حسن الصلاة
    “Luruskan shaf dalam sholat, karena lurusnya shaf itu termasuk dalam bagusnya sholat.” (HR Bukhari, no. 689).

    Dalam hadis Abu Hurairah ini, lurusnya shaf disebut sebagai “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholât). Bukan disebut “termasuk tegaknya sholat” (min iqâmat ash sholât) sebagaimana hadis Anas bin Malik sebelumnya.
    Lafal “min husni ash sholât” menurut jumhur ulama menunjukkan makna tambahan (ziyâdah), setelah sempurnanya sholat. Jadi artinya, lurusnya shaf itu bukanlah kewajiban, melainkan sekedar afdholiyah (keutamaan) saja, alias sesuatu yang sunnah, bukan sesuatu yang wajib.

    jadi, shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah

  13. 1. Apakah pengertian Hadits menurut ahli Hadits! Baik dari segi bahasa maupun istilah.
    Jawaban:Hadist menurut bahasa adalah berita atau sesuatu yang baru
    Hadist menurut istilah adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi baik perbuatan, perkataan, sifat maupun diamnya nabi

    2. Apa perbedaan Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi!
    Jawaban: Hadits nabawi berasal dari Rasulullah s.a.w yang menceritakan dirinya. Sedangkan hadits qudsi berasal dari Allah SWT, baik dengan perantara Jibril ‘alaihissalam, melalui ilham, maupun mimpi dan diriwayatkan oleh Rasulullah. Sebab itu dikatakan al-Qudsi (suci) yang merujuk pada Allah SWT yang Maha Suci.

    3. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur Hadits serta beri contoh Hadits!
    Jawaban: A. Unsur-Unsur Hadits

    1. Sanad

    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    “Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya, ‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW, sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni (1) Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada selain-Nya, (2) kecintaan kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, (3) keengganan kembali kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan ke neraka”. (Shahih Bukhari :15)
    Maka matan hadits “ ثلاثٌ” sampai dengan “ان يُقْذفَ فى النَّارِ” diterima oleh imam Bukhary melalui sanad pertama : محمّد بن المثنّى, sanad kedua عبد الوهّاب الثّقفى, sanad ketiga ايوب, sanad keempat ابى قلابة dan seterusnya sampai sanad yang terakhir yaitu
    انس رضي الله عنه, seorang sahabat yang langsung menerima sendiri hadits dari nabi Muhammad SAW.
    Dalam hal ini juga dapat dikatakan bahwa sabda nabi SAW tersebut disampaikan oleh sahabat Anas r.a sebagai rawi pertama, kepada Abi Qilabah sebagai rawi kedua dan menyampaikan kepada ats Tsaqafy sebagai rawi ketiga dan menyampaikan kepada Muhammad ibn Mutsanna sebagai rawi keempat hingga sampai kepada imam Bukhary sebagai rawi terakhir.
    Dengan demikian imam Bukhary itu menjadi sanad pertama dan rawi terakhir bagi kita.

    2. Matan

    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    Dari nama “مسدّد ” dan nama sesudahnya sampai “ ابى هريرة ” adalah sanad, sedangkan kalimat mulai مابين بيتى sampai dengan الحوضِ disebut matan.

    3. Rawi

    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya. Contohnya seperti hadits di atas (contoh matan), imam Bukhary adalah rawi (rawi terakhir), sedangkan rawi pertamanya adalah Abi Hurairah r.a.
    Dalam kitab kumpulan hadits-hadits nabi, sering disebutkan istilah-istilah khusus untuk meringkas jumlah rawi yang berbeda dalam meriwayatkan sebuah hadits. Istilah-istilah itu adalah اَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ
    Maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh tujuh (7) orang rawi yaitu :
    a. Imam Ahmad
    b. Imam Bukhary
    c. Imam Muslim
    d. Abu Dawud
    e. At Turmudzy
    f. An Nasaiy
    g. Ibnu Majah.
    Kemudian اَخْرَجَهُ السِّتَّةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh enam (6) orang rawi yaitu : tujuh rawi tersebut di atas selain Ahmad. Ada lagi اَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh lima (5) orang rawi yaitu :
    a. Imam Ahmad
    b. Abu Dawud
    c. At Turmudzy
    d. An Nasaiy
    e. Ibnu Majah.
    Danالْأَرْبَعَةُ وَاَحْمَدُ اَخْرَجَهُmaksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh ashabus sunan yang empat (4) orang rawi yaitu :
    a. Abu Dawud
    b. At Turmudzy
    c. An Nasaiy
    d. Ibnu Majah, ditambah 5. Imam Ahmad atau kelima orang rawi selain Ibnu Majah.

    اَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim. رَوَاهُ الثَّلَاثَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim dan Abu Dawud. رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, Abu Dawud dan At Turmudzy. رَوَاهُ الْخَمْسَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, Abu Dawud, An Nasaiy dan At Turmudzy.
    السُّنَنْ رَوَاهُ اَصْحَابُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh tiga (3) orang pemilik kitab-kitab sunan yakni Abu Dawud, At Turmudzy dan An Nasaiy. مُتَفَقٌ عَلَيْهِ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim.

    4. Rijal al hadits

    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).
    Secara garis besar tokoh-tokoh hadits (rijal al hadits) dari kalangan sahabat adalah :
    a. Abu Hurairah
    b. Abdullah Ibn Umar
    c. Anas bin Malik
    d. Aisyah binti Abu Bakar al Shidiq
    e. Abdullah Ibn Abbas
    f. Jabir Ibn Abdillah
    g. Abu Said al Khudry
    h. Abdullah Ibn Mas’ud
    i. Abu al Thufail
    Sementara rijal al hadits dari kalangan tabi’in adalah :
    a. Sa’id Ibn Al Musayyab
    b. Urwah Ibn Zubair
    c. Nafi’ Al Adawy
    d. Al Hasan Al Bishri
    e. Muhammad Ibn Sirrin
    f. Muhammad Ibn Muslim Al Zuhri
    g. Qatadah Ibn Di’amah
    h. Sulaiman Ibn Mihram Al A’masyzubair
    i. Sa’id Ibn Zubair
    j. Mujahid Ibn Jabir
    k. Al Sya’by
    l. Zaid Ibn Ali
    m. Ja’far Al Shadiq
    Contoh hadits: LARANGAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH
    عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

    Dari al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di Neraka.” (HR. al-Bukhâri, no. 1229)

    4. Sebutkan macam-macam Hadits dengan contoh masing-masing!
    Jawaban: 4. Hadits Mutawatir : Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok  orang dari beberapa snad yang terpercaya.

    ‎مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    “Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”.
    Hadits Ahad : Hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir.

    ‎حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ “(رواه البخاري)
    “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math’ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur” (HR. Bukhari).
    Hadits Shahih : Hadits yang bersambung sanadnya, dirwayatkan oleh orang yang adil dan dhobit (kuat hafalannya).
    Riwayat Bukhari dan Muslim
    ‎قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.”
    Hadits Hasan : Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tidak disangka dusta dan tidak syadz
    ‎حدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِي عَنْ أَبِيْ عِمْرَانِ الْجَوْنِي عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوْسَي الْأَشْعَرِيْ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ ….. الحديث “
    “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu ja’far bin sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy’ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…” (HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil jihadi).
    Hadits Dha’if : Hadits yang diriwayatkan oleh oarang yang tidak adil,tidak dhobit,syadz, dan cacat.
    ‎من أتي حائضا أو إمرأة أو كاهنا فقد كفر بما أنزل علي محمد
    “Barang siapa yang mendatangi seorang haid, atau perempuan atau seorang dukun, maka ia telah kufur atas hal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.”

    5. Apa fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an!
    Jawaban: Fungsi hadist terhadap Al Quran selanjutnya adalah sebagai Bayan At-Tafsir yang berarti memberikan tafsiran (perincian) terhadap isi Al Quran yang masih bersifat umum (mujmal) serta memberikan batasan-batasan (persyaratan) pada ayat-ayat yang bersifat mutlak (taqyid).

    6. Sebutkan dan jelaskan pembagian Hadits dari segi kuantitas maupun kualitas !
    Jawaban:
    Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7. Apa hukumnya mengatur shaf sholat jamaah secara sosial distancing di masjid, yaitu ada jarak 1 meter antara satu orang dengan orang lainnya, karena khawatir ada potensi penularan wabah virus Corona dalam pandemi Covid-19 saat ini. Kemukakan pendapatmu disertai dalil Al-Qur’an atau Hadits.
    Jawaban: 7.Berdasarkan pandangan para ulama Mazhab Syafi’i, sebagai amalan masyarakat rumpun Melayu, shalat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, mushala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan

    shalat berjamaah dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).
    Ia mengatakan, shalat berjamaah sah sekalipun jarak imam dan makmum jauh dan tidak lebih dari 300 hasta. Hal ini dijelaskan dalam kitab Minhaj al-Qawim, bahwa shalat berjamaah tetap sah jika mereka berdua (imam dan makmum) berada di dalam satu masjid atau beberapa masjid, yang pintu-pintunya terbuka atau jika ditutup tidak dikunci mati (dipaku).
    Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).

    jumhur ulama tidak sependapat bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya wajib. Bagi jumhur ulama, hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.
    Ini karena jumhur ulama berpegang dengan hadis Abu Hurairah RA, dalam Shahîh Bukhâri juga, yang meriwayatkan sabda Rasulullah SAW dengan redaksi yang sedikit berbeda, yaitu sabda Rasulullah SAW :

    ‎أقيموا الصف في الصلاة، فإن إقامة الصف من حسن الصلاة
    “Luruskan shaf dalam sholat, karena lurusnya shaf itu termasuk dalam bagusnya sholat.” (HR Bukhari, no. 689).

    Dalam hadis Abu Hurairah ini, lurusnya shaf disebut sebagai “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholât). Bukan disebut “termasuk tegaknya sholat” (min iqâmat ash sholât) sebagaimana hadis Anas bin Malik sebelumnya.
    Lafal “min husni ash sholât” menurut jumhur ulama menunjukkan makna tambahan (ziyâdah), setelah sempurnanya sholat. Jadi artinya, lurusnya shaf itu bukanlah kewajiban, melainkan sekedar afdholiyah (keutamaan) saja, alias sesuatu yang sunnah, bukan sesuatu yang wajib.

    jadi, shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah

  14. Hassya Andhara Aflaha Furqani
    X. IPA

    0. Hadist menurut bahasa adalah berita atau sesuatu yang baru.
    Hadist menurut istilah adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi baik perbuatan, perkataan, sifat maupun diamnya nabi.

    0. • Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
     • Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    • Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3.• Matan (Matnul) Hadis
    Matan secara bahasa artinya : kuat, kokoh, keras ; maksudnya ialah isi atau omongan atau lafazh-lafazh hadits yang terletak sesudah rawi dari sanad yang akhir.
    المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا (رواه الشيخان عن ابى موسى)

    • Sanad
    Sanad atau thariq, ialah jalan yang dapat menyambungkan matnul hadits kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Dalam bidang ilmu haduts sanad itu merupakan neraca untuk menimbang shahih atau dhaifnya.Contohnya pada kitab Shohih Bukhari sebagai berikut :
    حدثناابن سلام قال اخبرنامحمدبن فضيل قال حدثنا يحي بن سعيد عن ابى سلمة عن ابى هريرة قال : قال رسول الله ص م : من صام رمضان ايمانا واحتساباغفر له ما تقدم من ذنبه
    Dari hadis diatas sanadnya adalah orang – orang yang menyampaikan matan hadis sampai pada Imam Bukhori, sehingga orang yang menyampaikan kepada imam bukhari adalah sanad pertama dan sanad terakhir adalah Abu Hurairah.

    • Rawi
    Rawi adalah orang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (guru). Bentuk jamaknya ruwah dan perbuatannya menyampaikan hadis tersebut dinamakan me-rawi (meriwayatkan hadis).
    Dalam istilah hadis, al-rawi adalah orang yang meriwayatkan hadis dari seorang guru kepada orang lain yang tercantum dalam buku hadis. Jadi, nama-nama yang terdapat dalam sanad disebut rawi, seperti:
    حدثنا الحميدي عبد الله بن الزبير قال حدثنا سفيان قال حدثنا يحيى بن سعيد الأنصارى قال أخبرني محمد بن إبراهيم التيمي أنه سمع علقمة بن وقاص الليثي يقول سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على المنبر…

    0. Hadits Mutawatir : Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok  orang dari beberapa snad yang terpercaya.

    مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    “Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”.
    Hadits Ahad : Hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir.

    حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ “(رواه البخاري)
    “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math’ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur” (HR. Bukhari).
    Hadits Shahih : Hadits yang bersambung sanadnya, dirwayatkan oleh orang yang adil dan dhobit (kuat hafalannya).
    Riwayat Bukhari dan Muslim
    قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.”
    Hadits Hasan : Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tidak disangka dusta dan tidak syadz
    حدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِي عَنْ أَبِيْ عِمْرَانِ الْجَوْنِي عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوْسَي الْأَشْعَرِيْ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ ….. الحديث “
    “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu ja’far bin sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy’ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…” (HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil jihadi).
    Hadits Dha’if : Hadits yang diriwayatkan oleh oarang yang tidak adil,tidak dhobit,syadz, dan cacat.
    من أتي حائضا أو إمرأة أو كاهنا فقد كفر بما أنزل علي محمد
    “Barang siapa yang mendatangi seorang haid, atau perempuan atau seorang dukun, maka ia telah kufur atas hal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.”

    0. Fungsi hadist terhadap Al Quran selanjutnya adalah sebagai Bayan At-Tafsir yang berarti memberikan tafsiran (perincian) terhadap isi Al Quran yang masih bersifat umum (mujmal) serta memberikan batasan-batasan (persyaratan) pada ayat-ayat yang bersifat mutlak (taqyid).

    6. Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.

    0. Berdasarkan pandangan para ulama Mazhab Syafi’i, sebagai amalan masyarakat rumpun Melayu, shalat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, mushala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan

    shalat berjamaah dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).
    Ia mengatakan, shalat berjamaah sah sekalipun jarak imam dan makmum jauh dan tidak lebih dari 300 hasta. Hal ini dijelaskan dalam kitab Minhaj al-Qawim, bahwa shalat berjamaah tetap sah jika mereka berdua (imam dan makmum) berada di dalam satu masjid atau beberapa masjid, yang pintu-pintunya terbuka atau jika ditutup tidak dikunci mati (dipaku).
    Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).

    jumhur ulama tidak sependapat bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya wajib. Bagi jumhur ulama, hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.
    Ini karena jumhur ulama berpegang dengan hadis Abu Hurairah RA, dalam Shahîh Bukhâri juga, yang meriwayatkan sabda Rasulullah SAW dengan redaksi yang sedikit berbeda, yaitu sabda Rasulullah SAW :

    ‎أقيموا الصف في الصلاة، فإن إقامة الصف من حسن الصلاة
    “Luruskan shaf dalam sholat, karena lurusnya shaf itu termasuk dalam bagusnya sholat.” (HR Bukhari, no. 689).

    Dalam hadis Abu Hurairah ini, lurusnya shaf disebut sebagai “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholât). Bukan disebut “termasuk tegaknya sholat” (min iqâmat ash sholât) sebagaimana hadis Anas bin Malik sebelumnya.
    Lafal “min husni ash sholât” menurut jumhur ulama menunjukkan makna tambahan (ziyâdah), setelah sempurnanya sholat. Jadi artinya, lurusnya shaf itu bukanlah kewajiban, melainkan sekedar afdholiyah (keutamaan) saja, alias sesuatu yang sunnah, bukan sesuatu yang wajib.

    jadi, shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah

  15. 1. Apakah pengertian Hadits menurut ahli Hadits! Baik dari segi bahasa maupun istilah.
    Jawaban:Hadist menurut bahasa adalah berita atau sesuatu yang baru
    Hadist menurut istilah adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi baik perbuatan, perkataan, sifat maupun diamnya nabi

    2. Apa perbedaan Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi!
    Jawaban: Hadits nabawi berasal dari Rasulullah s.a.w yang menceritakan dirinya. Sedangkan hadits qudsi berasal dari Allah SWT, baik dengan perantara Jibril ‘alaihissalam, melalui ilham, maupun mimpi dan diriwayatkan oleh Rasulullah. Sebab itu dikatakan al-Qudsi (suci) yang merujuk pada Allah SWT yang Maha Suci.

    3. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur Hadits serta beri contoh Hadits!
    Jawaban: A. Unsur-Unsur Hadits

    1. Sanad

    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    ‎حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    “Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya, ‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW, sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni (1) Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada selain-Nya, (2) kecintaan kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, (3) keengganan kembali kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan ke neraka”. (Shahih Bukhari :15)
    Maka matan hadits “ ثلاثٌ” sampai dengan “ان يُقْذفَ فى النَّارِ” diterima oleh imam Bukhary melalui sanad pertama : محمّد بن المثنّى, sanad kedua عبد الوهّاب الثّقفى, sanad ketiga ايوب, sanad keempat ابى قلابة dan seterusnya sampai sanad yang terakhir yaitu
    ‎انس رضي الله عنه, seorang sahabat yang langsung menerima sendiri hadits dari nabi Muhammad SAW.
    Dalam hal ini juga dapat dikatakan bahwa sabda nabi SAW tersebut disampaikan oleh sahabat Anas r.a sebagai rawi pertama, kepada Abi Qilabah sebagai rawi kedua dan menyampaikan kepada ats Tsaqafy sebagai rawi ketiga dan menyampaikan kepada Muhammad ibn Mutsanna sebagai rawi keempat hingga sampai kepada imam Bukhary sebagai rawi terakhir.
    Dengan demikian imam Bukhary itu menjadi sanad pertama dan rawi terakhir bagi kita.

    2. Matan

    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    ‎حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    Dari nama “مسدّد ” dan nama sesudahnya sampai “ ابى هريرة ” adalah sanad, sedangkan kalimat mulai مابين بيتى sampai dengan الحوضِ disebut matan.

    3. Rawi

    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya. Contohnya seperti hadits di atas (contoh matan), imam Bukhary adalah rawi (rawi terakhir), sedangkan rawi pertamanya adalah Abi Hurairah r.a.
    Dalam kitab kumpulan hadits-hadits nabi, sering disebutkan istilah-istilah khusus untuk meringkas jumlah rawi yang berbeda dalam meriwayatkan sebuah hadits. Istilah-istilah itu adalah اَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ
    Maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh tujuh (7) orang rawi yaitu :
    a. Imam Ahmad
    b. Imam Bukhary
    c. Imam Muslim
    d. Abu Dawud
    e. At Turmudzy
    f. An Nasaiy
    g. Ibnu Majah.
    Kemudian اَخْرَجَهُ السِّتَّةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh enam (6) orang rawi yaitu : tujuh rawi tersebut di atas selain Ahmad. Ada lagi اَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh lima (5) orang rawi yaitu :
    a. Imam Ahmad
    b. Abu Dawud
    c. At Turmudzy
    d. An Nasaiy
    e. Ibnu Majah.
    Danالْأَرْبَعَةُ وَاَحْمَدُ اَخْرَجَهُmaksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh ashabus sunan yang empat (4) orang rawi yaitu :
    a. Abu Dawud
    b. At Turmudzy
    c. An Nasaiy
    d. Ibnu Majah, ditambah 5. Imam Ahmad atau kelima orang rawi selain Ibnu Majah.

    ‎اَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim. رَوَاهُ الثَّلَاثَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim dan Abu Dawud. رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, Abu Dawud dan At Turmudzy. رَوَاهُ الْخَمْسَةُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, Abu Dawud, An Nasaiy dan At Turmudzy.
    ‎السُّنَنْ رَوَاهُ اَصْحَابُ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh tiga (3) orang pemilik kitab-kitab sunan yakni Abu Dawud, At Turmudzy dan An Nasaiy. مُتَفَقٌ عَلَيْهِ maksudnya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim.

    4. Rijal al hadits

    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).
    Secara garis besar tokoh-tokoh hadits (rijal al hadits) dari kalangan sahabat adalah :
    a. Abu Hurairah
    b. Abdullah Ibn Umar
    c. Anas bin Malik
    d. Aisyah binti Abu Bakar al Shidiq
    e. Abdullah Ibn Abbas
    f. Jabir Ibn Abdillah
    g. Abu Said al Khudry
    h. Abdullah Ibn Mas’ud
    i. Abu al Thufail
    Sementara rijal al hadits dari kalangan tabi’in adalah :
    a. Sa’id Ibn Al Musayyab
    b. Urwah Ibn Zubair
    c. Nafi’ Al Adawy
    d. Al Hasan Al Bishri
    e. Muhammad Ibn Sirrin
    f. Muhammad Ibn Muslim Al Zuhri
    g. Qatadah Ibn Di’amah
    h. Sulaiman Ibn Mihram Al A’masyzubair
    i. Sa’id Ibn Zubair
    j. Mujahid Ibn Jabir
    k. Al Sya’by
    l. Zaid Ibn Ali
    m. Ja’far Al Shadiq
    Contoh hadits: LARANGAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH
    ‎عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

    Dari al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di Neraka.” (HR. al-Bukhâri, no. 1229)

    4. Sebutkan macam-macam Hadits dengan contoh masing-masing!
    Jawaban: 4. Hadits Mutawatir : Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok  orang dari beberapa snad yang terpercaya.

    ‎مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    “Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”.
    Hadits Ahad : Hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir.

    ‎حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ “(رواه البخاري)
    “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math’ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur” (HR. Bukhari).
    Hadits Shahih : Hadits yang bersambung sanadnya, dirwayatkan oleh orang yang adil dan dhobit (kuat hafalannya).
    Riwayat Bukhari dan Muslim
    ‎قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.”
    Hadits Hasan : Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tidak disangka dusta dan tidak syadz
    ‎حدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِي عَنْ أَبِيْ عِمْرَانِ الْجَوْنِي عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوْسَي الْأَشْعَرِيْ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ ….. الحديث “
    “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu ja’far bin sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy’ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…” (HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil jihadi).
    Hadits Dha’if : Hadits yang diriwayatkan oleh oarang yang tidak adil,tidak dhobit,syadz, dan cacat.
    ‎من أتي حائضا أو إمرأة أو كاهنا فقد كفر بما أنزل علي محمد
    “Barang siapa yang mendatangi seorang haid, atau perempuan atau seorang dukun, maka ia telah kufur atas hal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.”

    5. Apa fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an!
    Jawaban: Fungsi hadist terhadap Al Quran selanjutnya adalah sebagai Bayan At-Tafsir yang berarti memberikan tafsiran (perincian) terhadap isi Al Quran yang masih bersifat umum (mujmal) serta memberikan batasan-batasan (persyaratan) pada ayat-ayat yang bersifat mutlak (taqyid).

    6. Sebutkan dan jelaskan pembagian Hadits dari segi kuantitas maupun kualitas !
    Jawaban:
    Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.

    7. Apa hukumnya mengatur shaf sholat jamaah secara sosial distancing di masjid, yaitu ada jarak 1 meter antara satu orang dengan orang lainnya, karena khawatir ada potensi penularan wabah virus Corona dalam pandemi Covid-19 saat ini. Kemukakan pendapatmu disertai dalil Al-Qur’an atau Hadits.
    JAWABAN: 7.Berdasarkan pandangan para ulama Mazhab Syafi’i, sebagai amalan masyarakat rumpun Melayu, shalat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, mushala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan

    shalat berjamaah dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).
    Ia mengatakan, shalat berjamaah sah sekalipun jarak imam dan makmum jauh dan tidak lebih dari 300 hasta. Hal ini dijelaskan dalam kitab Minhaj al-Qawim, bahwa shalat berjamaah tetap sah jika mereka berdua (imam dan makmum) berada di dalam satu masjid atau beberapa masjid, yang pintu-pintunya terbuka atau jika ditutup tidak dikunci mati (dipaku).
    Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).

    jumhur ulama tidak sependapat bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya wajib. Bagi jumhur ulama, hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.
    Ini karena jumhur ulama berpegang dengan hadis Abu Hurairah RA, dalam Shahîh Bukhâri juga, yang meriwayatkan sabda Rasulullah SAW dengan redaksi yang sedikit berbeda, yaitu sabda Rasulullah SAW :

    ‎أقيموا الصف في الصلاة، فإن إقامة الصف من حسن الصلاة
    “Luruskan shaf dalam sholat, karena lurusnya shaf itu termasuk dalam bagusnya sholat.” (HR Bukhari, no. 689).

    Dalam hadis Abu Hurairah ini, lurusnya shaf disebut sebagai “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholât). Bukan disebut “termasuk tegaknya sholat” (min iqâmat ash sholât) sebagaimana hadis Anas bin Malik sebelumnya.
    Lafal “min husni ash sholât” menurut jumhur ulama menunjukkan makna tambahan (ziyâdah), setelah sempurnanya sholat. Jadi artinya, lurusnya shaf itu bukanlah kewajiban, melainkan sekedar afdholiyah (keutamaan) saja, alias sesuatu yang sunnah, bukan sesuatu yang wajib.

    jadi, shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah

  16. Alquran dan Hadis!
    Nama: putri yulita shabana
    Kelas: X.ipa

    1.) A. Pengertian Hadist Secara Bahasa 
    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru
    B. Pengertian Hadist Menurut Istilah
    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi
    2. menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2)•Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    •Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    •Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3). Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4). 1.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :
    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44
    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  17. Afya artati
    X ipa

    1.Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2 .1.Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah;
    2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat;
    3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala

    4. -Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama
    مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    “Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”.
    -Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

    “Orang muslim adalah orang yang menyelamatkan orang-orang islam lainnya dari lisan dan datangnya
    -Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur
    حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ “(رواه البخاري)

    “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math’ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur” (HR. Bukhari).
    -Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
    -Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    حدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِي عَنْ أَبِيْ عِمْرَانِ الْجَوْنِي عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوْسَي الْأَشْعَرِيْ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ ….. الحديث “

    “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu ja’far bin sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy’ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…” (HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil jihadi).

    5.Tulisan ini menemukan bahwa fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. … Karena dalam al-Qur€™an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-€™am, bayan tabdila

    6.Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya,

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.

    7.هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347

  18. 1.Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2.1. Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah;
    2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat;
    3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala.

    3.Unsur hadist : sanad(orang yang menjadi perantara dari rasulullah ke perawi), matan(teks atau perkataan yang disampaikan), rawi(disebut perawi)
    contoh matan hadist adalah : misalnya hadist yang mengatakan tentang kewajiban menutup aurat dll.

    4. Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah.hadist jenis ini tertolak.

    5. sebagai bayan berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. … Karena dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-qur’am, bayan tabdila.

    6.Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya,
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.

    7.karena terdapat perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah ini. Setelah itu akan kami jelaskan hukum syara’ untuk pengaturan shaf secara berjarak dalam pandemik Covid-19 yang ada saat ini.
    Perlu diketahui memang ada perbedaan pendapat (khilâfiyah) di kalangan ulama mengenai hukum meluruskan shaf (taswiyyat al shufûf), termasuk di dalamnya adalah merapatkan shaf (al tarâsh, suddul khalal) supaya tidak ada celah/kerenggangan (furjah) antara satu orang dengan orang lainnya.
    Ulama yang mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf tersebut antara lain berhujjah dengan hadis dari Anas bin Malik RA dalam Shahîh Bukhâri bahwa Rasulullah SAW bersabda :
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة
    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).
    Imam Ibnu Hazm mengomentari hadis tersebut dengan berkata :
    تسوية الصف إذا كان من إقامة الصلاة فهو فرض، لأن إقامة الصلاة فرض، وما كان من الفرض فهو فرض
    “Lurusnya shaf jika termasuk dalam tegaknya sholat, maka hukumnya fardhu (wajib). Karena tegaknya sholat itu fardhu, dan apa saja yang merupakan bagian dari suatu kefardhuan, maka hukumnya juga fardhu.” (Ibnu Hazm, Al Muhalla, 2/375).
    Namun demikian, jumhur ulama tidak sependapat bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya wajib. Bagi jumhur ulama, hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib

  19. Alquran dan Hadis!
    Nama: Nadia hasymia ahmad
    Kelas: X ips

    1.) . Pengertian Hadist Secara Bahasa 
    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru
    B. Pengertian Hadist Menurut Istilah
    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi
    2. menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2)•Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    •Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    •Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3). Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4). 1.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :
    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44
    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

    • Nama: Khaula Aisyah Fadilla
      Kelas: X IPA
      1) 1.Hadist menurut bahasa adalah berita atau sesuatu yang baru
      Hadist menurut istilah adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi baik perbuatan, perkataan, sifat maupun diamnya nabi
      2) Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 

      2.  Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 

      3.  Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala.
      3) Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala.

      3.Unsur hadist : sanad(orang yang menjadi perantara dari rasulullah ke perawi), matan(teks atau perkataan yang disampaikan), rawi(disebut perawi)
      contoh matan hadist adalah : misalnya hadist yang mengatakan tentang kewajiban menutup aurat.
      4) 1. Hadist Mutawatir
      Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

      Sebagai contoh hadist mutawatir

      Artinya :
      Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

      2. Hadist Masyhur

      Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

      Contoh hadist :

      Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

      3. Hadist Ahad
      Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

      a. Hadist Sahih
      Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

      Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.

      b. Hadist Hasan
      Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

      c. Hadist Da’if
      Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
      Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

      d. Hadist Maudu
      Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
      Mungkin hanya syair atau cerita saja.
      Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.
      5) Hadits adalah sumber pedoman hidup yang dijadikan oleh umat Islam sebagai panduan agar selamat di dunia dan akhirat setelah Al-Quran. Hadits sendiri memiliki 3 fungsi pokok terhadap Al-Quran. Fungsi hadits terhadap Al-Quran antara lain :  

      ~Bayan At-Taqrir. Hadits memiliki fungsi untuk menguatkan dan menegaskan apa yang sudah diterangkan di dalam Al-Quran.
      ~Bayan At-Tafsir. Hadits memiliki fungsi untuk menguraikan, merincikan, menjelaskan, dan mentekniskan apa yang tidak dijelaskan di dalam Al-Quran/penjelasan yang masih terlalu umum di dalam Al-Quran.
      ~Bayan At-Tasyri’. Hadits memiliki fungsi untuk menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.
      6) Brainly.co.id
      Apa pertanyaanmu?

      1
      RindaHeriyani9007
      08.06.2018
      SBMPTN
      Sekolah Menengah Pertama
      +8 poin
      Terjawab
      Sebutkan klasifikasi hadits dari segi kuantitas dan kualitas

      1
      LIHAT JAWABAN

      Masuk untuk menambahkan komentar

      Jawabanmu
      aprilla6
      aprilla6 Ambisius
      Dari segi kuantitasnya :
      1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
      2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya,

      Berdasarkan kualitasnya :
      1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
      2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
      3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.
      7) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  20. Nama:khairunnisa isra magfirah
    Kelas:X.IPA

    1.) A. Pengertian Hadist Secara Bahasa 
    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru
    B. Pengertian Hadist Menurut Istilah
    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi
    2. menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2)•Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    •Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    •Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3). Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4). 1.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :
    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44
    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  21. Husniyah hazimah amin
    X ipa

    1.) Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan

    2.) 1.Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 2. Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 3. Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala

    3.) Unsur-Unsur Hadits

    1. Sanad

    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    (Shahih Bukhari :15)
    2. Matan

    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    3. Rawi

    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya.
    4. Rijal al hadits

    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).

    4. Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur

    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5.) Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an

    Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Alloh. Kitab Al-Qur’an adalah sebagai penyempurna dari kita-kitab Alloh yang pernah diturunkan sebelumnya.

    Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam dan merupakan rujukan umat Islam dalam memahami syariat. Pada tahun 1958 salah seorang sarjana barat yang telah mengadakan penelitian dan penyelidikan secara ilmiah tentang Al-Qur’an mengatan bahwa : “Pokok-pokok ajaran Al-Qur’an begitu dinamis serta langgeng abadi, sehingga tidak ada di dunia ini suatu kitab suci yang lebih dari 12 abad lamanya, tetapi murni dalam teksnya”. (Drs. Achmad Syauki, Sulita Bandung, 1985 : 33).

    Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an meliputi tiga fungsi pokok, yaitu :

    1. Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.

    2. Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:

    “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44

    3. Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6.) Hadits Dari Segi Kualitas
    Ditinjau dari segi kualitas sanad dan matan-nya, atau berdasarkan kepada kuat dan lemahnya, hadits terbagi menjadi 2 golongan, yaitu: hadits maqbul & hadits mardud.
    Yang dimaksud dengan hadits maqbul adalah hadits yang memenuhi syarat untuk diterima sebagai dalil dalam perumusan hukum atau untuk beramal dengannya. Hadits maqbul ini terdiri dari hadits hahih dan hadits hasan. Sedangkan yang dimaksud dengan hadits mardud adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat qabul, dan hadits mardud dinamai juga dengan hadits dha’if.

    1. Hadits Sahih

    Kata “Sahih” menurut bahasa berarti: sehat, selamat, sah dan sempurna. Ulama biasa menyebut kata sahih sebagai lawan dari kata “saqim” yang bermakna sakit. Makna hadits shahih secara bahasa adalah hadis yang sehat, selamat, benar, sah, sempurna dan yang tidak sakit. Sedangkan menurut istilah yaitu “ Hadis yang dinukilkan (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatannya, bersambung sanadnya, tidak ber’illat (cacat), dan tidak syadz (janggal).” Demikian pengertian hadis shahih menurut pendapat muhadditsin.

    Syarat-syarat hadits sahih :
    · Bersambung sanadnya
    · Perawinya adil
    · Perawinya dhabith
    · Tanpa syadz (janggal)
    · Tanpa ‘illat (cacat)

    Hadits sahih terbagi dalam dua macam :
    · Hadits li dzatihi adalah hadis yang didalamnya telah terpenuhi syarat-syarat hadis maqbul atau yang memenuhi syarat-syarat diatas secara sempurna.
    · Hadis sahih li ghairihi adalah hadis yang keshahihannya dibantu oleh adanya hadis lain. Pada mulanya hadis ini memiliki kelemahan berupa periwayatan yang kurang dhabith, sehingga dinilai tidak memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai hadis sahih. Tetapi setelah diketahui ada hadis lain dengan kandungan matan yang sama dengan kualitas sahih maka hadis tersebut naik menjadi hadis sahih.

    2. Hadits Hasan
    Hadits hasan adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kurang kuat hafalannya, bersambung sanadnya, tidak mengandung ‘illat (cacat), dan tidak mengandung kejanggalan (syadz).
    Hadits hasan terbagi dalam dua macam :
    · Hadits hasan li dzatihi, adalah hadis yang memenuhi lima unsur persyaratan hadis sahih, tetapi salah satu rawi kurang kuat hafalannya.
    · Hadits hasan li ghairihi, adalah hadis dha’if yang didukung oleh hadis lain yang sahih dengan matan yang sama, sehingga naik menjadi hadis hasan li ghairihi.

    3. Hadits Dha’if
    Hadis dha’if adlah hadis yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadis shahih dan syarat-syarat hadis hasan.

    Hadits Dari Segi Kuantitas

    1. Hadits Mutawatir
    Secara bahasa, mutawatir adalah isim fa’il dari at-tawatur yang artinya berurutan. Sedangkan mutawatir menurut istilah adalah “apa yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang menurut kebiasaan mereka terhindar dari melakukan dusta mulai dari awal hingga akhir sanad”. Atau : “hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang banyak pada setiap tingkatan sanadnya menurut akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta dan memalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkan pada sesuatu yang dapat diketahui dengan indera seperti pendengarannya dan semacamnya”.
    Hadits mutawatir terbagi menjadi dua bagian, yaitu Mutawatir Lafdhy dan Mutawatir Ma’nawi.

    2. Hadits Ahad
    Ahad menurut bahasa mempunyai arti satu. Dan khabarul-wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan hadits ahad menurut istilah adalah hadits yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir. Hadits ahad terbagi menjadi 3 macam, yaitu: Masyhur, ‘Aziz, dan Gharib :

    · Masyhur : Masyhur (المشهور) adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rawi disetiap tingkatan, tapi belum sampai pada derajat mutawatir.Contohnya perkataan Nabi Muhammad SAW.

    المسام من سلم المسلمون من لسانه و يده

    “Muslim sejati adalah muslim yang saudaranya terbebas dari gangguan lisan dan tangannya.”

    · ‘Aziz : ‘Aziz (العزيز) adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua rowi saja dimasing-masing tingkatan. Contohnya perkataaan Nabi Muhammad SAW.

    لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده و الناس أجمعين

    “Tidak sempurna iman kalian hingga Aku lebih dia cintai dari orang tua, anaknya bahkan manusia seluruhnya.”

    · Ghorib : Ghorib (الغريب) adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang saja. Contohnya perkataan Nabi Muhammad SAW.

    إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

    “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai apa yang diniatkannya” (HR. Bukhori dan Muslim)

    7.)Hukumnya sunnah di karenakan adanya wabah virus jadi tidak apa apa bila mengatur jarak sosial distancing
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

  22. Nama:khairunnisa isra magfirah
    Kelas:X.IPA

    1.) A. Pengertian Hadist Secara Bahasa 
    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru
    B. Pengertian Hadist Menurut Istilah
    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi
    2. menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2)•Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    •Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    •Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3). Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4). 1.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :
    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44
    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  23. Nama: Sri Eka Syahrani
    Kelas : X. IPA

    1. Hadits menurut bahasa: berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. Hadits menurut istilah: segala tingkah laku nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah;
    Hadits nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat;
    Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi SAW kepada Allah Ta’ala.

    3. Unsur-Unsur Hadits
    1) Sanad
    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    “Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya, ‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW, sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni (1) Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada selain-Nya, (2) kecintaan kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, (3) keengganan kembali kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan ke neraka”.
    2) Matan
    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    Dari nama “مسدّد ” dan nama sesudahnya sampai “ ابى هريرة ” adalah sanad, sedangkan kalimat mulai مابين بيتى sampai dengan الحوضِ disebut matan..
    3) Rawi
    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya. Contohnya seperti hadits di atas (contoh matan), imam Bukhary adalah rawi (rawi terakhir), sedangkan rawi pertamanya adalah Abi Hurairah r.a.
    Dalam kitab kumpulan hadits-hadits nabi, sering disebutkan istilah-istilah khusus untuk meringkas jumlah rawi yang berbeda dalam meriwayatkan sebuah hadits. Istilah-istilah itu adalah اَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ.
    4)Rijal al hadits
    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).

    4. Macam-macam hadits dan contohnya

    1)Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2)Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3)Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5. Fungsi hadits terhadap Al-Qur’an adalah sebagai penguat hukum yang telah ada dalam al-Qur’an, dan memperjelas, menetapkan hukum baru, memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang masih bersifat global (mu’mal), membatasi kemutlakanAl-Qur’an.

    6. Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7. shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab .
    Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, shalat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Kamis (19/3).
    shalat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, mushala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan. Hal ini menurut Ustaz Alnof sering juga ditemukan pada kebanyakan jamaah di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. Mereka umumnya adalah jamaah yang masbuk dan shalat di halaman masjid, jalan-jalan menuju masjid, pelataran hotel dan mal yang menyambung ke halaman masjid.

    “Maka shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,” jelasnya

  24. NAMA:Andi widya fatimah wela
    KELAS:X.IPS

    1.Apakah pengertian Hadits menurut ahli Hadits! Baik dari segi bahasa maupun istilah.
    jawaban:
    1.Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2.Apa perbedaan Al-Qur’an, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi!
    Jawaban:
    2.1. Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    2.  Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    3.  Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala

    3.Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur Hadits serta beri contoh Hadits!
    jawaban:
    3.A. Matan, yakni sabda Nabi atau isi dari hadith tersebut. Matan ini adalah inti dari apa yang dimaksud oleh hadis
    Contohnya:
    إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو إلى امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر…
    “Amal-amal perbuatan itu hanya tergantung niatnya dan setipa orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrah karena untuk mendapatkan dunia atau karena perempuan yang akan dinikahinya maka hijrahnya (akan mendapatkan) sesuai dengan tujuan hijrahn
    B. Sanad, yaitu sandaran atau jalan yang menyampaikan kepada matan hadith. Sanad inilah orang yang mengkabarkan hadis dari Rasulullah saw kepada orang yang berikutnya sampai kepada orang yang menulis atau mengeluarkan hadis
    Berikut adalah contoh sanad lainnya :
    حدثنا الحميدي عبد الله بن الزبير قال حدثنا سفيان قال حدثنا يحيى بن سعيد الأنصاري قال أخبرني محمد بن إبراهيم التيمي أنه سمع علقمة بن وقاص الليثي يقول سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على المنبر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول
    “Al-Humaidi ibn al-Zubair telah menceritakan kepada kami seraya berkata Sufyan telah mmenceritakan kepada kami seraya berkata Yahya ibn Sa’id al-Ansari telah menceritakan kepada kami seraya berkata Muhammad ibn Ibrahim al-Taimi telah memberitakan kepada saya bahwa dia mendengar ‘Alqamah ibn Waqqas al-Laisi berkata “saya mendengar Umar ibn al-Khattab ra berkata di atas mimbar “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda…
    C. Rawi,yaitu orang yang meriwayatkan hadis.
    Antara rawi dan sanad orang – orangnya sama, yaitu – itu saja. Misalnya pada contoh sanad, yaitu sanad terakhir Abu Hurairah adalah perawi hadis yang pertama, begitu seterusnya hingga kepada Imam Bukhari. Sedangkan Imam Bukhari sendiri adalah perawi hadis yang terakhir.

    4.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan
    ulama
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadi.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.

    5. fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. Karena itu apa yang disampaikan Nabi harus diikuti, bahkan perilaku Nabi sebagai rasul harus diteladani oleh kaum Muslimin.

    6.A.Pembagian Hadits sari segi Kuantitas Perawi
    Para ulama hadits berbeda pendapat tentang pembagian hadits ditinjau dari aspek kuantitas atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita. Diantara mereka ada yang mengelompokkan menjadi tiga bagian, yakni hadits mutawatir, masyhur, dan ahad.
    B.Pembagian hadits dari segi Kualitas
    Sebagiamana telah dikemukakan bahwa hadits muatawatir memberikan penertian yang yaqin bi alqath, aritnya Nabi Muhammad benar-benar bersabda, berbuat atau menyatakan taqrir (persetujuan) dihadapan para sahabat berdasarkan sumber-sumber yang banyak dan mustahil mereka sepakat berdusta kepada Nabi. Karena kebenarannya sumbernya sungguh telah meyakinkan, maka dia harus diterima dan diamalkan tanpa perlu diteliti lagi, baik terhadap sanadnya maupun matannya.

    7.menerapkan jarak aman (social distancing) antarjamaah dalam kondisi darurat tidak membatalkan sholat berjamaah dan sholat Jumat. “Jika seorang masuk sementara jamaah sedang sholat, maka ia makruh untuk berdiri sendiri. Tetapi, jika ia menemukan celah atau tempat yang luas pada shaf tersebut, hendaknya ia mengisi celah tersebut. Tetapi, jika ia berdiri sendiri, maka sholatnya tetap sah,” (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin).

  25. Alquran dan Hadis!
    Nama: siti fathimah azzahra
    Kelas: X. Ips

    1.) A. Pengertian Hadist Secara Bahasa 
    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru
    B. Pengertian Hadist Menurut Istilah
    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi
    2. menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2)•Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    •Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    •Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3). Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4). 1.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :
    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44
    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  26. Nama : Salsabila Rizka Adida
    Kelas : X MIA
    1. Hadits menurut bahasa: berasal dari bahasa arab yg artinya baru, diucapkan, pembicaraan,dan cerita
    Hadits menurut istilah adalah segala tingkah laku nabi muhammad baik berupa ketetapan perbuatan maupun perkataan
    2.-Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    -Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    – Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 
    3. -Matan (Matnul) Hadis
    Matan secara bahasa artinya : kuat, kokoh, keras ; maksudnya ialah isi atau omongan atau lafazh-lafazh hadits yang terletak sesudah rawi dari sanad yang akhir Misalnya, perkataan sahabat Anas bin Malik r.a., “Kami bersalat bersama-sama Rasulullah saw. pada waktu udara sangat panas. Apabila salah seorang dari kami tidak sanggup menekankan dahinya di atas tanah, maka ia bentangkan pakaiannya, lantas sujud di atasnya.”
    -SANAD
    Sanad atau thariq, ialah jalan yang dapat menyambungkan matnul hadits kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Dalam bidang ilmu haduts sanad itu merupakan neraca untuk menimbang shahih atau dhaifnya
    -RAWI
    Rawi adalah orang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (guru). Sistem Penyusun Hadits Dalam Menyebutkan Nama Rawi
    As Sab’ah berarti diriwayatkan oleh tujuh perawi, yaitu :
    1. Ahmad
    2. Bukhari
    3. Turmudzi
    4. Nasa’i
    5. Muslim
    6. Abu Dawud
    7. Ibnu Majah
    As Sittah berarti diriwayatkan oleh enam perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad
    Al Khomsah berarti diriwayatkan oleh lima perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Bukhari dan Muslim
    Al Arba’ah berarti diriwayatkan oleh empat perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’a) selain Ahmad, Bukhari dan Muslim.
    Ats Tsalasah berarti diriwayatkan oleh tiga perawi yaitu : Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah.
    Asy Syaikhon berarti diriwayatkan oleh dua orang perawi yaitu : Bukhari dan Muslim
    Al Jama’ah berarti diriwayatkan oleh para perawi yang banyak sekali jumlahnya (lebih dari tujuh perawi / As Sab’ah).
    4. Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.
    5. Menafsirkan serta memperinci ayat-ayat yang masih mujmal (bersifat global)
    6.Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, 
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 
    7. Dalam kondisi normal, barisan shalat jamaah itu harus lurus dan rapat. Sebagaimana sabda Nabi berikut:
    عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ
    Dari Anas ra, dari Nabi saw bersabda, “Luruskan barisan kalian karena lurusnya barisan itu termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari)
    Ada juga hadis yang lebih rinci, seperti hadis berikut ini:
    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ
    Dari Anas bin Malik ra, dari Rasulullah saw bersabda: “Rapatkan barisan kalian dan dekatkan antara barisan, sejajarkan leher-leher. Demi jiwaku di tangan-Nya, sunguh aku melihat setan memasuki sela-sela shaf seperti anak kambing.” (HR. Abu Dawud).
    Jelas sudah. Ajaran shalat jamaah itu, barisan harus lurus dan rapat. Ini tentu dalam keadaan normal.
    Adapun dalam situasi sekarang ini boleh berubah. Karena khawatir tertular covid 19 bila shalat berdekatan. Beberapa daerah sudah boleh tidak jum’atan dan shalat jamaah.
    Menjaga jangan sampai terjadi kerusakan dan atau malapetaka itu adalah lebih baik daripada berbuat baik Itu Qaidah Fiqih Islam : Dar’ul mafasid muqoddamun ‘alal jalabil mashollih.
    Ada pula Qaidah fiqih islam yang masyhur : Alhukmu yaruddu bi illatihi : Apabila Jatuhkan Hukum lihat sebabnya Sungguh indah ketika kemudian kita fahami qaidah hukum islam dalam menghadapi Covid 19. Itu sebabnya kita fahami dan kita patuhi fatwa MUI Pusat.
    Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in

  27. Nama: Wahyuni Safitri
    Kelas : X. IPA

    1. Hadits menurut bahasa: berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. Hadits menurut istilah: segala tingkah laku nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah;
    Hadits nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat;
    Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi SAW kepada Allah Ta’ala.

    3. Unsur-Unsur Hadits
    1) Sanad
    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    “Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya, ‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW, sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni (1) Allah dan rasul-Nya lebih dic

    • Nama: Wahyuni safitri
      Kelas : X. IPA

      1. Hadits menurut bahasa: berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. Hadits menurut istilah: segala tingkah laku nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

      2. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah;
      Hadits nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat;
      Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi SAW kepada Allah Ta’ala.

      3. Unsur-Unsur Hadits
      1) Sanad
      Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

      حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
      “Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya, ‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW, sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni (1) Allah dan rasul-Nya lebihdicintai daripada selain-Nya, (2) kecintaan kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, (3) keengganan kembali kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan ke neraka”.
      2) Matan
      Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
      حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
      Dari nama “مسدّد ” dan nama sesudahnya sampai “ ابى هريرة ” adalah sanad, sedangkan kalimat mulai مابين بيتى sampai dengan الحوضِ disebut matan..
      3) Rawi
      Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya. Contohnya seperti hadits di atas (contoh matan), imam Bukhary adalah rawi (rawi terakhir), sedangkan rawi pertamanya adalah Abi Hurairah r.a.
      Dalam kitab kumpulan hadits-hadits nabi, sering disebutkan istilah-istilah khusus untuk meringkas jumlah rawi yang berbeda dalam meriwayatkan sebuah hadits. Istilah-istilah itu adalah اَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ.
      4)Rijal al hadits

      Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).

      4. Macam-macam hadits dan contohnya

      1)Hadist Mutawatir
      Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

      Sebagai contoh hadist mutawatir

      Artinya :
      Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

      2)Hadist Masyhur
      Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

      Contoh hadist :

      Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

      3)Hadist Ahad
      Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

      a. Hadist Sahih

      Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

      b. Hadist Hasan
      Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

      c. Hadist Da’if
      Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
      Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

      d. Hadist Maudu
      Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
      Mungkin hanya syair atau cerita saja.
      Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

      5. Fungsi hadits terhadap Al-Qur’an adalah sebagai penguat hukum yang telah ada dalam al-Qur’an, dan memperjelas, menetapkan hukum baru, memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang masih bersifat global (mu’mal), membatasi kemutlakanAl-Qur’an.

      6. Dari segi kuantitasnya :
      1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
      2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya,

      Berdasarkan kualitasnya :
      1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
      2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
      3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.

      7. shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab .
      Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, shalat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Kamis (19/3).

      shalat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, mushala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan. Hal ini menurut Ustaz Alnof sering juga ditemukan pada kebanyakan jamaah di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. Mereka umumnya adalah jamaah yang masbuk dan shalat di halaman masjid, jalan-jalan menuju masjid, pelataran hotel dan mal yang menyambung ke halaman masjid.

      “Maka shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,” jelasnya

  28. Nur Qalbiyah Afqiah
    X IPS

    1.) A. Pengertian Hadist Secara Bahasa 
    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru
    B. Pengertian Hadist Menurut Istilah
    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi
    2. menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2)•Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    •Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    •Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3). Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4). 1.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :
    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44
    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  29. *Al-Qur’an hadits*
    NAMA :USWATUNNISA UTAMI B.
    KELAS:X.IPS
    NISN:-
    1.)~Menurut Ulama Ushul Fiqh,hadist merupakan segala sesuatu yang berasal dari Nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir,yang berhubungan dengan hukum syariah.
    ~Menurut istilah ilmu mustalahul hadist.Hadist adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi Muhammad,baik berupa perkataan, perbuatan,diam/taqrir maupun Sifatnya nabi.
    ~Secara bahasa hadist adalah kabar atau berita Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain.
    2.)Perbedaannya yaitu :
    •Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah.
    •Dan hadist Nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada nabi SAW,baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan,maupun sifat.
    •Sedangkan,hadist Qudsi adalah apa apa yang disandarkan oleh nabi SAW kepada Allah ta’ala.
    3.) Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4). 1.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :
    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44
    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

    • AMALIA NURHALIZA KP
      X IPA

      1).Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan

      2.)-Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah. – Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat.
      – Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala.

      3). unsur hadist sanad,matan,rowi,rijal hadits.sanad(orang yang menjadi perantara dari rasulullah ke perawi), matan(teks atau perkataan yang disampaikan), rawi(disebut perawi)
      contohnya adalah : misalnya hadist yang mengatakan tentang kewajiban menutup aurat dll.

      4). Hadist Mutawatir
      Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

      Sebagai contoh hadist mutawatir

      Artinya :
      Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

      2. Hadist Masyhur

      Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

      Contoh hadist :

      Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

      3. Hadist Ahad
      Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

      a. Hadist Sahih
      Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

      Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.

      b. Hadist Hasan
      Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

      c. Hadist Da’if
      Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
      Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

      d. Hadist Maudu
      Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
      Mungkin hanya syair atau cerita saja.
      Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

      5).fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan ta diqrir, bayan tafsir, takhshish al-€™am, bayan tabdila.

      6). Dari segi kuantitasnya :
      1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
      2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
      Berdasarkan kualitasnya :
      1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
      2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
      3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

      7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  30. Alquran dan Hadis!
    Nama: Nadhia hasymia ahmad
    Kelas: X IPS

    1.) *. Pengertian Hadist Secara Bahasa 
    Secara Bahasa Hadist adalah 
    1. Khabar atau berita
    Artinya hadist merupakan sesuatu yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain
    2. Hal Baru
    B. Pengertian Hadist Menurut Istilah
    1.Menurut istilah ilmu mustalahul hadist . Hadist Adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad, baik berupa perkataan, perbuatan, diam/taqrir maupun sifatnya nabi
    2. menurut Ulama Ushul Fiqh, Hadist merupakan segala susuatu yang berasal dari nabi yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun taqrir, yang berhubungan dengan hukum syar’iah

    2)•Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah; 
    •Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat; 
    •Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala. 

    3). Unsur-unsur hadits : sanad – matan – rowi – rijal hadits
    contoh hadits :
    ‎عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((ٌوَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. ِ)). رواه البخاري
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
     “Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan dan jangan pula melakukan perbuatan orang-orang bodoh. Dan apabila ada orang yang memakinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘’Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
    [ HR. Al-Bukhari no.1904 ]

    4). 1.Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.
    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).
    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.
    Contoh hadist :
    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)
    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :
    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak

    5). Fungsi Hadits terhadap Al-Quran :
    A). Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    B). Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:
    Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44
    C). Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

    6). Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya.
    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat. 

    7.) shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  31. Nama : Masyruroh Azhahra
    Kelas : X IPS
    Mapel : alquran dan hadis

    1. Hadist menurut bahasa : berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. hadis menurut istilah: segala tingkah laku nabi muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.
    2. -Hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat;
    -Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Ta’ala.
    3. Unsur-unsur Hadis:

    1.Sanad => Susunan Perawi Hadits yg menyampaikan pada Matan Hadis.

    2.Matan=> Isi dari hadis baik perkataan, perbuatan, maupun taqrir

    3.Rawi=> Orang yang meriwayatkan hadis (org yg menulis atau membukukan hadis)

    Perawi pertama : Sahabat Nabi,contoh Aisyah RA, Umar bin Khattab,dll

    Perawi terakhir : Yg membukukan, contoh Bukhori,Muslim,Ibnu Majah dll

    contoh:

    pada hadis mengenai Niat;

    عن عمربن الخطاب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (Sanad)

    انماالاعمال با لنيات وانما لكل امر ى مانوي (Matan)

    متفق عليه (Rawi)
    4. Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir
    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2. Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3. Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih
    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.
    Untuk contohnya silahkan bisa di buka hadist sohih bukhori.
    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.
    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.
    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.
    5. fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. … Karena dalam al-Qur-an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-qur’an, bayan tabdila.
    6. Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya,

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.
    7. Imam An-Nawawi dalam karyanya yang lain, Raudhatut Thalibin menjelaskan bahwa seseorang yang mengambil jarak dalam satu shaf berjamaah dalam kesendirian saja, meskipun makruh, tetapi salat berjamaahnya tetap sah.
    “Jika seorang masuk sementara jamaah sedang shalat, maka ia makruh untuk berdiri sendiri. Tetapi jika ia menemukan celah atau tempat yang luas pada shaf tersebut, hendaknya ia mengisi celah tersebut. Tetapi jika ia berdiri sendiri, maka salatnya tetap sah.” (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz I, halaman 356).

  32. NURUL ISMI AULIA ISHAK
    KELAS X IPA

    1.Hadis secara harfiah berarti “berbicara”, “perkataan” atau “percakapan”. … Menurut istilah ulama ahli hadis, hadis yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (bahasa Arab: تقرير, translit.
    2.Hadist nabawi adalah segala sesuatu yang berasal dari nabi muhammad. Sedangkan hadist qudsi adalah hadist yang lafadznya berasal dari nabi muhammad dan isi atau maknya berasal dari Allah. … Sedangkan perbedaan hadist qudsi dengan hadist nabawi terletak pada makna hadist. Hadits nabawi isi atau maknanya berasal dari nabi.
    3.A. Matan, yakni sabda Nabi atau isi dari hadith tersebut. Matan ini adalah inti dari apa yang dimaksud oleh hadis ,misalnya
    المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا (رواه الشيخان عن ابى موسى)
    Matan, berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari huruf م- ت- نMatan memiliki makna “punggung jalan” atau bagian tanah yang keras dan menonjol ke atas.
    B. Sanad, yaitu sandaran atau jalan yang menyampaikan kepada matan hadith. Sanad inilah orang yang mengkabarkan hadis dari Rasulullah saw kepada orang yang berikutnya sampai kepada orang yang menulis atau mengeluarkan hadis .
    Contohnya pada kitab Shohih Bukhari sebagai berikut :

    حدثناابن سلام قال اخبرنامحمدبن فضيل قال حدثنا يحي بن سعيد عن ابى سلمة عن ابى هريرة قال : قال رسول الله ص م : من صام رمضان ايمانا واحتساباغفر له ما تقدم من ذنبه

    Dari hadis diatas sanadnya adalah orang – orang yang menyampaikan matan hadis sampai pada Imam Bukhori, sehingga orang yang menyampaikan kepada imam bukhari adalah sanad pertama dan sanad terakhir adalah Abu Hurairah. Sedangkan Imam Bukhari adalah orang yang mengeluarkan hadis atau yang menulis hadis dalam kitabnya.
    C. Rawi,yaitu orang yang meriwayatkan hadis.
    Antara rawi dan sanad orang – orangnya sama, yaitu – itu saja. Misalnya pada contoh sanad, yaitu sanad terakhir Abu Hurairah adalah perawi hadis yang pertama, begitu seterusnya hingga kepada Imam Bukhari. Sedangkan Imam Bukhari sendiri adalah perawi hadis yang terakhir.
    Untuk menyeleksi hadis yang sekian banyaknya dan pada waktu Nabi Muhammad saw masih hidup tidak banyak sahabat yang menulis hadis, dan penyampaian hadis Nabi SAW masih terbatas dari mulut ke mulut berdasarkan hafalan dan ingatan saja sampai pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis tahun 99 – 101 H.
    4.HADIST SHAHIH
    حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ “(رواه البخاري)
    “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math’ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur” (HR. Bukhari, Kitab Adzan).
    HADIST HASAN
    حدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِي عَنْ أَبِيْ عِمْرَانِ الْجَوْنِي عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوْسَي الْأَشْعَرِيْ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ ….. الحديث “
    “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu ja’far bin sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy’ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…” (HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil jihadi).
    HADIST DHOIF
    مَاأَخْرَجَهُ التِّرْمِيْذِيْ مِنْ طَرِيْقِ “حَكِيْمِ الأَثْرَمِ”عَنْ أَبِي تَمِيْمَةِ الهُجَيْمِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص م قَالَ : ” مَنْ أَتَي حَائِضاً أَوْ اِمْرَأةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهُنَا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمِّدٍ “
    Apa yang diriwayatkan oleh tirmidzi dari jalur hakim al-atsrami “dari abi tamimah al-Hujaimi dari abi hurairah dari nabi saw ia berkata : barang siapa yang menggauli wanita haid atau seorang perempuan pada duburnya atau seperti ini maka sungguh ia telah mengingkari dari apa yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad saw”
    5.Al-Quran menekankan bahwa Rasulullah berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah. … Tulisan ini menemukan bahwa fungsi hadist terhadap al-Quran adalah sebagai bayan dan muhaqiq (penjelas dan penguat) bagi al-Quran. Baik sebagai bayan taqrir, bayan tafsir, takhshish al-€™am, bayan tabdila.
    6.Pembagian hadits ditinjau dari segi kuantitas perawinya dibagi menjadi tiga bagian yaitu Mutawatir:Masyhur:Ahad
    .Hadist Mutawatir
    Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Hadits mutawatir merupakan hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang dalam setiap generasi, sejak generasi shahabat sampai generasi akhir (penulis kitab), orang banyak tersebut layaknya mustahil untuk berbohong.
    Hadits masyhur adalah hadist yang di riwayatkan oleh tiga orang atau lebih,serta belum mencapai derajat Mutawatir.
    Hadist Ahad
    Al-Ahad jama’ dari ahad, menurut bahasa al-wahid atau satu. Dengan demikian khabar wahid adalah berita yang disampaikan oleh satu orang.
    7.shalat berjamaah sah sekalipun jarak imam dan makmum jauh dan tidak lebih dari 300 hasta. Hal ini dijelaskan dalam kitab Minhaj al-Qawim, bahwa shalat berjamaah tetap sah jika mereka berdua (imam dan makmum) berada di dalam satu masjid atau beberapa masjid, yang pintu-pintunya terbuka atau jika ditutup tidak dikunci mati (dipaku).
    Maka shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,”

  33. Nurul qolby sajida rauf
    X-ipa
    1. Hadist menurut bahasa:
    Berasal dari bahasa arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita.
    Hadist menurut istilah:
    Segala tingkah laku nabi muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan

    2.•Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dengan perantara Malaikat Jibril, menjadi mukjizat atas kenabiannya, tertulis dalam bahasa Arab, yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.
    •Hadits qudsi menurut ath-Thibi adalah sesuatu yang dikehendaki Allah untuk disampaikan kepada Nabi Muhamad saw, melalui ilham atau mimpi. Kemudian, Nabi menyampaikan kepada ummatnya menurut susunan bahasanya sendiri dengan menyandarkannya kepada Allah swt, Hadits qudsi sering disebut juga hadits Rabbani atau hadits Ilahi.
    •Hadits nabawi adalah perkataan-perkataan, perbuatan-perbuatan, atau keadaaan Nabi Muhammad saw.

    3. Sanad
    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    “Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya, ‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW, sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada selain-Nya, kecintaan kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, keengganan kembali kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan ke neraka”. (Shahih Bukhari :15)
    Matan
    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    Rawi
    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya. Contohnya:seperti hadits di atas (contoh matan), imam Bukhary adalah rawi (rawi terakhir), sedangkan rawi pertamanya adalah Abi Hurairah r.a.
    Rijal al hadits
    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).
    Secara garis besar tokoh-tokoh hadits (rijal al hadits) dari kalangan sahabat adalah :
    a. Abu Hurairah
    b. Abdullah Ibn Umar
    c. Anas bin Malik
    d. Aisyah binti Abu Bakar al Shidiq
    e. Abdullah Ibn Abbas
    f. Jabir Ibn Abdillah
    g. Abu Said al Khudry
    h. Abdullah Ibn Mas’ud
    i. Abu al Thufail
    Sementara rijal al hadits dari kalangan tabi’in adalah :
    a. Sa’id Ibn Al Musayyab
    b. Urwah Ibn Zubair
    c. Nafi’ Al Adawy
    d. Al Hasan Al Bishri
    e. Muhammad Ibn Sirrin
    f. Muhammad Ibn Muslim Al Zuhri
    g. Qatadah Ibn Di’amah
    h. Sulaiman Ibn Mihram Al A’masyzubair
    i. Sa’id Ibn Zubair
    j. Mujahid Ibn Jabir
    k. Al Sya’by
    l. Zaid Ibn Ali
    m. Ja’far Al Shadiq

    4. a. Hadist Shahih
    Kata shahih menurut bahasa berasal dari kata shahha, yashihhu, suhhan wa shihhatan wa shahahan, yang menurut bahasa berarti yang sehat, yang selamat, yang benar, yang sah dan yang benar.
    Contohnya:
    قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.”
    (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
    b. Hadist Hasan
    Menurut pendapat Ibnu Hajar, hadist hasan adalah hadist yang dinukilkan oleh orang yang adil, yang kurang kuat ingatannya, yang muttasil sanadnya, tidak cacat dan tidak ganjil.
    Contohnya:
    حدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِي عَنْ أَبِيْ عِمْرَانِ الْجَوْنِي عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوْسَي الْأَشْعَرِيْ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ ….. الحديث “

    “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu ja’far bin sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy’ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…”
    ( HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil jihadi).
    c. Hadist Dhaif
    Kata Dhaif menurut bahasa berarti lemah, sebagai lawan dari Qawiy yang kuat. Sebagai lawan dari kata shahih, kata dhaif secara bahasa berarti hadist yang lemah, yang sakit atau yang tidak kuat.
    Contohnya:
    مَاأَخْرَجَهُ التِّرْمِيْذِيْ مِنْ طَرِيْقِ “حَكِيْمِ الأَثْرَمِ”عَنْ أَبِي تَمِيْمَةِ الهُجَيْمِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص م قَالَ : ” مَنْ أَتَي حَائِضاً أَوْ اِمْرَأةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهُنَا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمِّدٍ “

    “Apa yang diriwayatkan oleh tirmidzi dari jalur hakim al-atsrami “dari abi tamimah al-Hujaimi dari abi hurairah dari nabi saw ia berkata : barang siapa yang menggauli wanita haid atau seorang perempuan pada duburnya atau seperti ini maka sungguh ia telah mengingkari dari apa yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad saw”

    5.•Bayan At-Taqrir (Memperjelas isi Al-Quran)
    •Bayan At-Tafsir (Menafsirkan isi Al Quran)
    •Bayan At-Tasyri’ (Memberi kepastian hukum Islam yang tidak ada di Al Quran)
    •Bayan Nasakh (Mengganti ketentuan terdahulu)

    6. Pembagian Hadits dari Segi Kuantitasnya
    Hadits ditinjau dari segi kuantitasnya atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.
    Pembagian Hadits dari segi kualitas
    Hadits ditinjau dari segi kualitas perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits shahih, hadits hasan dan hadits dlaif.

    7. Hukum mengatur shaf sholat dengan adanya jarak seperti yang ditanyakan di atas, berkaitan dengan hukum meluruskan dan merapatkan shaf. Karenanya, akan kami jelaskan lebih dulu pendapat yang rajih (lebih kuat) dalam hukum meluruskan dan merapatkan shaf ini, karena terdapat perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah ini. Setelah itu akan kami jelaskan hukum syara’ untuk pengaturan shaf secara berjarak dalam pandemik Covid-19 yang ada saat ini.
    Ulama yang mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf tersebut antara lain berhujjah dengan hadis dari Anas bin Malik RA dalam Shahîh Bukhâri bahwa Rasulullah SAW bersabda :
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة
    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

  34. AISYAH SALEH
    XI(IPS

    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka ialah dengan taat kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kita dari api neraka. Selain itu, untuk terhindar dari api neraka yang harus kita lakukan antara lain adalah membekali keluarga dengan ilmu, membimbing keluarga agar memiliki akhlak yang mulia, mengajak keluarga agar senantiasa taat dan terhindar dari perbuatan maksiat.

    Penjelasan ini terkandung dalam Qs. At-Tahrim ayat 6
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Adz Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Yang menjadi keenganan manusia dalam melakukan sholat ialah karena bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat, tidak paham tentang urgensi ibadah, melupakan kematian, tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah serta godaan syaitan dan lemahnya iman.

    4. Hadis tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri

    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa

    2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan

    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu

    3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6. Menurut saya, pelarangan sholat jumat di masjid selama pandemi ini diperbolehkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona karna dapat membahayakan jiwa manusia. Karena itu, agama pasti mempunyai pendapat menyangkut hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadist :
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa karena ketika melaksanakan sholat jumat berkumpul orang orang yang bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7. Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :

    وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها

    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).

    Hanya saja, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

    Adapun ketika ada ancaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maka hukum meluruskan dan merapatkan shaf secara syar’i adalah boleh, baik bagi jumhur ulama yang mensunnahkan maupun bagi sebagian ulama yang mewajibkan.

  35. Nama:Qonita fildziah
    Kelas:X.IPS

    1. •Menurut bahasa
    Menurut bahasa, perkataan hadis memiliki arti:

    1) Al jadid minal asyya (sesuatu yang baru), lawan dari qadim. Hal ini mencakup sesuatu (perkataan), baik banyak ataupun sedikit. [1]

    2) Qarib (yang dekat).

    3) Khabar (warta), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada kemungkinan benar atau salahnya.[2]Dari makna inilah diambil perkataan hadis Rasulullah saw. [3]

    Jamaknya adalah hudtsan,hidtsan dan ahadis. Jamak ahadis,jamak yang tidakmenuruti qiyas dan jamak yang syad inilah yang dipakai jamak hadis yangbermakna khabar dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, hadist-hadis Rasuldikatakan ahadis al Rasul bukan hudtsan al Rasul atau yanglainnya. Ada juga yang berpendapat ahadis bukanlah jamak darihadis, melainkan merupakan isim jamaknya. Dalam hal ini, Allah juga menggunakankata hadis dengan arti khabar, dalam firman-Nya;

    فَلْيَأْتُوْ بِحَدِيْثٍ مِثْلِهِ ے إِنْ كَانُوا صَادِقِيْنَ[4]

    34. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar. (At-Tur: 52:34)

    • menurut istilah
    Adapun hadis menurut istilah ahli hadis hampir sama (murodif) dengan sunah, yang mana keduanya memiliki arti segala sesuatu yang berasal dari Rasul, baik setelah dingkat ataupun sebelumnya.

    مَا أُضِيْفَ إِلَى النَبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ أَوْ صِفَةٍ. [5]

    ‘Segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi saw.dari perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat.

    Akan tetapi kalau kita memandang lafaz hadis secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. setelah diangkat menjadi nabi, yang berupa ucapan, perbuatan, dan taqrir beliau.

    2. Perbedaan :
    – Hadits nabawi berasal dari Rasulullah s.a.w yang menceritakan dirinya.
    – Hadits qudsi berasal dari Allah SWT, baik dengan perantara Jibril ‘alaihissalam, melalui ilham, maupun mimpi dan diriwayatkan oleh Rasulullah.
    – Hadits qudsi berasal dari Allah SWT, baik dengan perantara Jibril ‘alaihissalam, melalui ilham, maupun mimpi dan diriwayatkan oleh Rasulullah.

    3. Unsur unsur dalam hadis :
    – Matan (Matnul) Hadis
    Matan secara bahasa artinya : kuat, kokoh, keras ; maksudnya ialah isi atau omongan atau lafazh-lafazh hadits yang terletak sesudah rawi dari sanad yang akhir.

    Para ulama hadits tidak mau menerima hadits yang datang kepada mereka melainkan kalau ada sanadnya, mereka lakukan yang demikian itu sejak tersebarnya dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipelopori oleh orang-orang Syi’ah.
    – Sanad
    Sanad atau thariq, ialah jalan yang dapat menyambungkan matnul hadits kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Dalam bidang ilmu haduts sanad itu merupakan neraca untuk menimbang shahih atau dhaifnya.
    – Rawi
    Rawi adalah orang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (guru).

    Contoh hadits
    – Riwayat Bukhari dan Muslim

    قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

    4. Macam macam hadis dan contohnya
    – Hadis Shahih
    دَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ “(رواه البخاري)

    ” Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math’ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur” (HR. Bukhari, Kitab Adzan).
    – Hadis Hasan
    حدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِي عَنْ أَبِيْ عِمْرَانِ الْجَوْنِي عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوْسَي الْأَشْعَرِيْ قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ ….. الحديث “

    “Telah menceritakan kepada kamu qutaibah, telah menceritakan kepada kamu ja’far bin sulaiman, dari abu imron al-jauni dari abu bakar bin abi musa al-Asy’ari ia berkata: aku mendengar ayahku berkata ketika musuh datang : Rasulullah Saw bersabda : sesungguhnya pintu-pintu syurga dibawah bayangan pedang…”( HR. At-Tirmidzi, Bab Abwabu Fadhailil jihadi).
    – Hadis Dhaif
    مَاأَخْرَجَهُ التِّرْمِيْذِيْ مِنْ طَرِيْقِ “حَكِيْمِ الأَثْرَمِ”عَنْ أَبِي تَمِيْمَةِ الهُجَيْمِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص م قَالَ : ” مَنْ أَتَي حَائِضاً أَوْ اِمْرَأةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهُنَا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمِّدٍ “

    Apa yang diriwayatkan oleh tirmidzi dari jalur hakim al-atsrami “dari abi tamimah al-Hujaimi dari abi hurairah dari nabi saw ia berkata : barang siapa yang menggauli wanita haid atau seorang perempuan pada duburnya atau seperti ini maka sungguh ia telah mengingkari dari apa yang telah diturunkan

    5. Fungsi hadis terhadap alquran
    – Bayan At-Taqrir (Memperjelas isi Al Quran)
    – Bayan At-Tafsir (Menafsirkan isi Al Quran)
    – Bayan At-Tasyri’ (Memberi kepastian hukum Islam yang tidak ada di Al Quran)
    – Bayan Nasakh (Mengganti ketentuan terdahulu)

    6. A. Pembagian Hadits sari segi Kuantitas Perawi
    Para ulama hadits berbeda pendapat tentang pembagian hadits ditinjau dari aspek kuantitas atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita. Diantara mereka ada yang mengelompokkan menjadi tiga bagian, yakni hadits mutawatir, masyhur, dan ahad. Ada juga yang menbaginya menjadi dua, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad. Ulama golongan pertama, menjadikan hadits masyhur sebagai berdiri sendiri, tidak termasuk ke dalam hadits ahad, ini dispnsori oleh sebagian ulama ushul seperti diantaranya, Abu Bakr Al-Jashshash (305-370 H). Sedangkan ulama golongan kedua diikuti oleh sebagian besar ulama ushul (ushuliyyun) dan ulama kalam (mutakallimun). Menurut mereka, hadits masyhur bukan merupakan hadits ynag berdiri sendiri, akan tetapi hanya merupakan bagian hadits ahad. Mereka membagi hadits ke dalam dua bagian, yaitu hadits mutawatir dan ahad.

    -Hadits Mutawatir
    a. Pengertian Hadits Mutawatir
    Secara etimologi, kata mutawatir berarti : Mutatabi’ (beriringan tanpa jarak). Dalam terminologi ilmu hadits, ia merupakan haidts yang diriwayatkan oleh orang banyak, dan berdasarkan logika atau kebiasaan, mustahil mereka akan sepakat untuk berdusta. Periwayatan seperti itu terus menerus berlangsung, semenjak thabaqat yang pertama sampai thabaqat yang terakhir.
    Dari redaksi lain pengertian mutawatir adalah :
    مـَا كَانَ عَنْ مَحْسُوْسٍ أَخْبَرَ بِهِ جَمــَاعَةً بَلـَغُوْا فِى اْلكـَثْرَةِ مَبْلَغـًا تُحِيْلُ اْلعَادَةَ تَوَاطُؤُهُمْ عَلـَى اْلكـَـذِبِ
    Hadits yang berdasarkan pada panca indra (dilihar atau didengar) yang diberitakan oleh segolongan orang yang mencapai jumlah banyak yang mustahil menurut tradisi mereka sepakat berbohong.

    *Syarat Hadits Mutawatir
    1) Hadits Mutawatir harus diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi, dan dapat diyakini bahwa mereka tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Ulama berbeda pendapat tentang jumlah minimal perawi. Al-Qadhi Al-Baqilani menetapkan bahwa jumlah perawi hadits mutawatir sekurang-kurangnya 5 orang, alasannya karena jumlah Nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi sejumlah 5 orang. Al-Istikhari menetapkan minimal 10 orang, karena 10 itu merupakan awal bilangan banyak. Demikian seterusnya sampai ada yang menetapkan jumlah perawi hadits mutawatir sebanyak 70 orang.

    *2) Adanya keseimbangan antara perawi pada thabaqat pertama dan thabaqat berikutnya. Keseimbangan jumlah perawi pada setiap thabaqat merupakan salah satu persyaratan.
    3) Berdasarkan tanggapan pancaindra
    Berita yang disampaikan para perawi harus berdasarkan pancaindera. Artinya, harus benar-benar dari hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. Oleh karena itu, apabila berita itu merupakan hasil renungan, pemikiran, atau rangkuman dari suatu peristiwa lain, atau hasil istinbath dari dalil yang lain, maka tidak dapat dikatakan hadits mutawatir.

    Macam-Macam Mutawattir
    1) Hadits mutawatir Lafzhi, yaitu hadits yang diriwayatkan dengan lafaz dan makna yang sama, serta kandungan hokum yang sama, contoh :
    قـَالَ رَسُوْلُ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فـَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
    Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ini sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia siap-siap menduduki tempatnya di atas api neraka.

    Menurut Al-Bazzar, hadits ini diriwayatkan oleh 40 orang sahabat. Al-Nawawi menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh 200 orang sahabat.
    2) Hadits Mutawatir Ma’nawi, yaitu hadits mutawatir yang berasal dari berbagai hadits yang diriwayatkan dengan lafaz yang berbeda-beda, tetapi jika disimpulkan, mempunyai makna yang sama tetapi lafaznya tidak. Contoh hadits yang meriwayatkan bahwa Nabu Muhammad SAW mengangkat tangannya ketika berdo’a.
    قال ابو مسى م رفع رسول الله صلى عليه وسلم يديه حتى رؤي بياض ابطه فى شئ من دعائه إلا فى الإستسقاء (رواه البخارى ومسلم)
    Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa Nabi Muhammad SAW, tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a hingga nampak putih kedua ketiaknya kecuali saat melakukan do’a dalam sholat istisqo’ (HR. Bukhori dan Muslim)

    3) Hadits Mutawatir ‘Amali, yakni amalan agama (ibadah) yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian diikuti oleh para sahabat, kemudian diikuti lagi oleh Tabi’in, dan seterusnya, diikuti oleh generasi sampai sekarang. Contoh, hadits-hadits nabi tentang shalat dan jumlah rakaatnya, shalat id, shalat jenazah dan sebagainya. Segala amal ibadah yang sudah menjadi ijma’ di kalangan ulama dikategorikan sebagai hadits mutawatir ‘amali.

    Mengingat syarat-syarat hadits mutawatir sangat ketat, terutama hadits mutawatir lafzhi, maka Ibn Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutwatir lafzhi tidak mungkin ada. Pendapat mereka dibantah oleh Ibn Shalah. Dia menyatakan bahwa hadits mutawatir (termasuk yang lafzhi) memang ada, hanya jumlahnya sangat terbatas. Menurut Ibn Hajar Al-Asqolani, Hadits mutawatir jumlahnya banyak, namun untuk mengetahuinya harus dengan cara menyelidiki riwayat-riwayat hadits serta kelakuan dan sifat perawi, sehingga dapat diketahui dengan jelas kemustahilan perawi untuk sepakat berdusta terhadap hadits yang diriwayatkannya.
    Kitab-kitab yang secara khusus memuat hadits-hadits mutawatir adalah sebagai berikut :
    1) Al-Azhar Al-Mutanatsirah fi Al-Mutawatirah, yang dsusun oleh Imam Suyuthi. Muhammad ‘Ajaj Al-Khatib, kitab ini memuat 1513 hadits.
    2) Nazhm Al-Mutanatsirah min Al- Hadits al Mutawatir yang disusun oleh Muhammad bin Ja’far Al-Kattani (w. 1345 H)
    2. Hadits Ahad
    Kata ahad merupakan bentuk plural dari kata wahid. Kata wahid berarti “satu” jadi, kara ahad berarti satuan, yakni angka bilangan dari satu sampai sembilan. Menurut istilah hadits ahad berarti hadits yagn diriwayatkan oleh orang perorangan, atau dua orang atau lebih akan tetapi belum cukup syarat untuk dimasukkan kedalam kategori hadits mutawatir. Artinya, hadits ahad adalah hadits yang jumlah perawinya tidak sampai pada tingkatan mutawatir.
    Ulama ahli hadits membagi hadits ahad menjadi dua, yaitu masyhur dan ghairu masyhur. Hadits ghairu masyhur terbagi menjadi dua, yaitu aziz dan ghairu aziz.
    A. Hadits Masyhur
    Menurut bahasa, masyhur berarti “sesuatu yang sudah tersebar dan popular”. Sedangkan menurut istilah ada beberapa definisi, antara lain :
    مـَارَوَاهُ مِنَ الصَّحَابَهِ عَدَدٌ لا يَبْلُغُ حَدَّ تَـوَاتِر بَعْدَ الصَّحَابَهِ وَمِنْ بَعْدِهِمْ
    “Hadits yang diriwayatkan dari sahabat tetapi bilangannya tidak sampai pada tingkatan mutawatir, kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan orang yang setelah mereka.”

    Hadits masyhur ada yang berstatus shahih, hasan dan dhaif. Hadits masyhur yang berstatus shahih adalah yang memenuhi syarat-syarat hadits shahih baik sanad maupun matannya. Seperti hadits ibnu Umar.
    اِذَا جَاءَكُمُ اْلجُمْعَهُ فَلْيَغْسِلْ
    “Barang siapa yang hendak pergi melaksanakan shalat jumat hendaklah ia mandi.”

    Sedangkan hadits masyhur yang berstatus hasan adalah hadits yang memenuhi ketentuan-ketentuan hadits hasan, baik mengenai sanad maupun matannya. Seperti hadits Nabi yang berbunyi:
    لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضـــِرَارَ
    “tidak memberikan bahaya atau membalas dengan bahaya yang setimpal.”
    Adapun hadits masyhur yang dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hasan, baik pada sanad maupun pada matannya, seperti hadits :
    طَلَبُ اْلعِلْمِ فَرِيْضَــهٌ عــَـلَي كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَــــهٍ
    “menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.”

    Dilihat dari aspek yang terakhir ini, hadits masyhur dapat digolongkan kedalam :
    1) Masyhur dikalangan ahli hadits, seperti hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW membaca do’a qunut sesudah rukuk selama satu bulan penuh berdo’a atas golongan Ri’il dan Zakwan. (H.R. Bukhari, Muslim, dll).
    2) Masyhur dikalangan ulama ahli hadits, ulama-ulama dalam bidang keilmuan lain, dan juga dikalangan orang awam, seperti :
    َاْلمُسْلِمُ مَنْ سَـــــلِمَ اْلمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِســـَـانِهِ وَيدِهِ
    3) Masyhur dikalangan ahli fiqh, seperti :
    نَهَي رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهِ عَلَيْــــهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ اْلغَرَرِ
    “Raulullah SAW melarang jual beli yang didalamnya terdapat tipu daya.”
    4) Masyhur dikalangan ahli ushul Fiqh, seperti :
    اِذَا حَكَمَ اْلحَاكِمُ ثُمَّ اجْتَهَدَ فَـــأَصَابَ فَلـَــهُ أَجْرَانِ وَاِذَا حَكَــــمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخَــــطَأَ فَلـَهُ أَجْرٌ
    “Apabila seorang hakim memutuskan suatu perkara kemudian dia berijtihad dan kemudian ijtihadnya benar, maka dia memperoleh dua pahala (pahala Ijtihad dan pahala kebenaran), dan apabila ijtihadnya itu salah, maka dia memperoleh satu pahala (pahala Ijtihad).

    5) Masyhur dikalangan ahli Sufi, seperti :

    كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرِفَ فَخَلـَقْتُ اْلخَلْقَ فَبِي عَرَفُوْنِي
    “Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian aku ingin dikenal, maka kuciptakan makhluk dan melalui merekapun mengenal-Ku

    6) Masyhur dikalangan ulama Arab, seperti ungkapan, “Kami orang-orang Arab yag paling fasih mengucapkan “(dha)” sebab kami dari golongan Quraisy”.

    B. Hadits Ghairu Masyhur
    Ulama ahli hadits membagi hadits ghairu masyhur menjadi dua yaitu, Aziz dan Gharib. Aziz menurut bahasa berasal dari kata azza-yaizu, artinya “sedikit atau jarang”. Menurut istilah hadits Aziz adalah hadits yang perawinya tidak kurang dari dua orang dalam semua tingkatan sanad.”
    Menurut Al-Thahhan menjelaskan bahwa sekalipun dalam sebagian Thabaqat terdapat perawinya tiga orang atau lebih, tidak ada masalah, asal dari sekian thabaqat terdapat satu thabaqat yang jumlah perawinya hanya dua orang. Oleh karena itu, ada ulama yang mengatakan bahwa hadits ‘azaz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua atau tiga orang perawi.”
    Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa suatu hadits dapat dikatakan hadits Aziz bukan hanya yang diriwayatkan dua orang pada setiap tingkatnya, tetapi selagi ada tingkatan yang diriwayatkan oleh dua rawi, contoh hadits ‘aziz :
    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّي أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِـدِهِ وَوَلــِدِهِ وَالنـَّـاسِ أَجْمَعِيْنَ
    “tidak beriman seorang di antara kamu, sehingga aku lebih dicintainya dari pada dirinya, orang tuanya, anaknya, dan semua manusia,” (H.R. Bukhari dan Muslim)

    B. Pembagian hadits dari segi Kualitas
    Sebagiamana telah dikemukakan bahwa hadits muatawatir memberikan penertian yang yaqin bi alqath, aritnya Nabi Muhammad benar-benar bersabda, berbuat atau menyatakan taqrir (persetujuan) dihadapan para sahabat berdasarkan sumber-sumber yang banyak dan mustahil mereka sepakat berdusta kepada Nabi. Karena kebenarannya sumbernya sungguh telah meyakinkan, maka dia harus diterima dan diamalkan tanpa perlu diteliti lagi, baik terhadap sanadnya maupun matannya. Berbeda dengan hadits ahad yang hanya memberikan faedah zhanni (dugaan yang kuat akan kebenarannya), mengharuskan kita untuk mengadakan penyelidikan, baik terhadap matan maupun sanadnya, sehingga status hadits tersebut menjadi jelas, apakah diterima sebagai hujjah atau ditolak.

    ahli hadits membagi hadits dilihat dari segi kualitasnya, menjadi tiga bagian, yaitu hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhaif.
    1. Hadits shahih
    Menurut bahasa berarti “sah, benar, sempurna, tiada celanya”. Secara istilah, beberapa ahli memberikan defenisi antara lain sebagai berikut :
    • Menurut Ibn Al-Shalah, Hadits shahih adalah “hadits yang sanadnya bersambung (muttasil) melalui periwayatan orang yang adil dan dhabith dari orang yang adil dan dhabith, sampai akhir sanad tidak ada kejanggalan dan tidak ber’illat”.
    • Menurut Imam Al-Nawawi, hadits shahih adalah “hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh perawi yang adil lagi dhabith, tidak syaz, dan tidak ber’illat.”
    Dari defenisi diatas dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadits shahih adalah : 1) sanadnya bersambung, 2) perawinya bersifat adil, 3) perawinya bersifat dhabith, 4) matannya tidak syaz, dan 5) matannya tidak mengandung ‘illat.
    2. Hadits Hasan
    a. Pengertian
    dari segi bahasa hasan dari kata al-husnu (الحسن ) bermakna al-jamal (الجمال) yang berarti “keindahan”. Menurut istilah para ulama memberikan defenisi hadits hasan secara beragam. Namun, yang lebih kuat sebagaimana yang dikemukan oleh Ibnu hajar Al-Asqolani dalam An-Nukbah, yaitu :
    وَخَبَرُ اْلآحَادَ بِنَقْلِ عَدْلِ تَامُّ الضَّبْطِ مُتَّصِلُ السَّنَدِ غَيْرُ مُعَلَّلٍ وَلاَ شَاذٍّ هُوَ الصَّحِيْحِ لِذَاتِهِ. فَاءِنْ خَفَّ الضَبْطُ فَلْحُسْنُ لِذَاتِهِ

    khabar ahad yang diriwayatkan oleh orang yang adil, sempurna kedhabitannya, bersambung sanadnya, tidak ber’illat, dan tidak ada syaz dinamakan shahih lidztih. Jika kurang sedikit kedhabitannya disebut hasan Lidztih.

    Dengan kata lain hadits hasan adalah :
    هُوَ مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ اْلعَدْلِ الّذِي قَلَّ ضَبْطُهُ وَخَلاَّ مِنَ الشُّذُوْذِ وَاْلعِلَّهِ

    Hadits hasana adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil, kurang sedikit kedhabitannya, tidak ada keganjilan (syaz) dan tidak ‘illat.

    Criteria hadits hasan hampir sama dengan hadits shahih. Perbedaannya hanya terletak pada sisi kedhabitannya. Hadits shahih ke dhabitannya seluruh perawinya harus zamm (sempurna), sedangkan dalam hadits hasan, kurang sedikit kedhabitannya jika disbanding dengan hadits shahih.

    b. Contoh hadits Hasan
    hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dari Al-Hasan bin Urfah Al-Maharibi dari Muhammad bin Amr dari Abu salamah dari Abi Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda :
    أَعْمَارُ اُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ اِليَ السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَالِكَ
    “Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun dan sedikit sekali yang melebihi demikian itu.

    c. Macam-macam Hadits Hasan
    Sebagaimana hadits shahih yang terbagi menjadi dua macam, hadits hasan pun terbagi menjadi dua macam, yaitu hasan lidzatih dan hasan lighairih.
    Hadits hasan lidzatih adalah hadits hasan dengan sendirinya, karena telah memenuhi segala criteria dan persyaratan yang ditemukan. Hadits hasan lidzatih ebagaimana defenisi penjelasan diatas.
    Sedangkan hadits hasan lighairih ada beberapa pendapat diantaranya adalah :
    هُوَ اْلحَدِيْثُ الضَّعِيْفُ اِذَا رُوِيَ مِنْ طَرِيْقِ أُخْرَي مِثْلُهُ أَوْ أَقْوَي مِنْهُ
    “adalah hadits dhaif jika diriwayatkan melalui jalan (sanad) lain yang sama atau lebih kuat.
    هُوَ الضَّعِيْفُ اِذَا تَعَدَّدَتْ طُرُقُهُ وَلـَمْ يَكُنْ سَبَبُ ضَعْفِهِ فِسْقَ الرَّاوِي أَوْكِذْبُهُ

    “adalah hadits dhaif jika berbilangan jalan sanadnya dan sebab kedhaifan bukan karena fasik atau dustanya perawi.

    Dari dua defenisi diatas dapat dipahami bahwa hadits dhaif bias naik manjadi hasan lighairih dengan dua syarat yaitu :
    1) Harus ditemukan periwayatan sanad lain yang seimbang atau lebih kuat.
    2) Sebab kedhaifan hadits tidak berat seperti dusta dan fasik, tetapi ringan seperti hafalan kurang atau terputusnya sanad atau tidak diketahui dengan jelas (majhul) identitas perawi.
    d. Kehujjahan hadits Hasan
    Hadits hasan dapat dijadikan hujjah walaupun kualitasnya dibawah hadits shahih. Semua fuqaha sebagian Muhadditsin dan Ushuliyyin mengamalkannya kecuali sedikit dari kalangan orang sangat ketat dalam mempersyaratkan penerimaan hadits (musyaddidin). Bahkan sebagian muhadditsin yang mempermudah dalam persyaratan shahih (mutasahilin) memasukkan kedalam hadits shahih, seperti Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah.

    3. Hadits Dhaif
    a. Pengertian
    Hadits Dhaif bagian dari hadits mardud. Dari segi bahasa dhaif (الضعيف) berarti lemah lawan dari Al-Qawi (القوي) yang berarti kuat. Kelemahan hadits dhaif ini karena sanad dan matannya tidak memenuhi criteria hadits kuat yang diterima sebagian hujjah. Dalam istilah hadits dhaif adalah :
    هُوَ مَا لَمْ يَجْمَعْ صِفَهُ الْحَسَنِ بِفَقْدِ شَرْطٍ مِنْ شُرُوْطِهِ
    Adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits hasan sebab satu dari beberapa syarat yang tidak terpenuhi.

    Atau defenisi lain yang bias diungkapkan mayoritas ulama :
    هُوَ مَا لَمْ يَجْمَعْ صِفَهُ الصَّحِيْحِ وَاْلحَسَنِ
    Hadits yang tidak menghimpun sifat hadits shahih dan hasan.
    Jika hadits dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi sebagain atau semua persyaratan hadits hasan dan shahih, misalnya sanadnya tidak bersambung (muttasshil), Para perawinya tidak adil dan tidak dhabith, terjadi keganjilan baik dalam sanad aau matan (syadz) dan terjadinya cacat yang tersembunyi (‘Illat) pada sanad atau matan.
    b. contoh hadits dhaif
    hadits yang diriwayatkan oleh At-Tarmidzi melalui jalan hakim Al-Atsram dari Abu Tamimah Al-Hujaimi dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda :
    وَمَنْ أَتَي حَائِضَا أَوِامْرَأَهٍ مِنْ دُبُرِ أَوْ كَاهِنَا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا اُنْزِلَ عَلَي مُحَمَّدٍ
    barang siapa yang mendatang seorang wanita menstruasi (haid) atau pada dari jalan belakang (dubur) atau pada seorang dukun, maka dia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

    7.menjelaskan shalat berjamaah yang dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).

    Ia mengatakan, shalat berjamaah sah sekalipun jarak imam dan makmum jauh dan tidak lebih dari 300 hasta. Hal ini dijelaskan dalam kitab Minhaj al-Qawim, bahwa shalat berjamaah tetap sah jika mereka berdua (imam dan makmum) berada di dalam satu masjid atau beberapa masjid, yang pintu-pintunya terbuka atau jika ditutup tidak dikunci mati (dipaku).

    Shalat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan. Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).

    “Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, shalat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada

    Mengenai hukum merapatkan shaf (barisan) dalam salat berjama’ah, memang disunnahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) dalam hadisnya:
    وعن أنس رضي اللّه عنه أن رسول اللّه قال: رصوا صفوفكم) أي حتى لا يبقى فيها فرجة ولا خلل (وقاربوا بينها) بأن يكون ما بين كل صفين ثلاثة أذرع تقريباً، فإن بعد صف عما قبله أكثر من ذلك كره لهم وفاتهم فضيلة الجماعة حيث لا عذر من حر أو برد شديد

    “Dari sahabat Anas RA, Rasulullah bersabda, “Susunlah shaf kalian) sehingga tidak ada celah dan longgar (dekatkanlah antara keduanya) antara dua shaf kurang lebih berjarak tiga hasta.”

  36. Nama : Haermelia
    Kelas :X.ipa

    1. Hadits menurut bahasa: berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, ucapan, pembicaraan dan cerita. Hadits menurut istilah: segala tingkah laku nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.

    2. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dan yang membacanya dianggap ibadah;
    Hadits nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat;
    Hadits Qudsi adalah apa-apa yang disandarkan oleh Nabi SAW kepada Allah Ta’ala.

    3. Unsur-Unsur Hadits
    1) Sanad
    Menurut bahasa, sanad berarti sandaran yang dapat dipercayai atau kaki bukit. Sedangkan menurut istilah ahli hadits, sanad berarti jalan yang dapat menghubungkan matan hadits kepada nabi Muhammad SAW. Contoh kata al Bukhari :

    حَدَّثَنَا محمّد بن المثنّى قال، حَدَّثَنَا عبد الوهّاب الثّقفى قال، حَدَّثَنَا ايوب عن ابى قلابة عن انس عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم : ثلاثٌ مَن ْ كُنَّ فيه وجد حلاوة الإيمان ان يكون اللهُ ورسوله احبَّ اليه مِمَّا سواهما وان يحبّ المراءَ لايحبُّهُ الاّ لِلّهِ وان يكره ان يعودَ فى الكفر كما يكرهُ ان يُقْذفَ فى النَّارِ
    “Telah memberitahukan kepadaku Muhammad al Mutsanna, ujarnya, ‘Abdul Wahab Al Tsaqafy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: telah berbicara kepadaku Ayub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari nabi Muhammad SAW, sabdanya: tiga perkara yang barangsiapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman, yakni (1) Allah dan rasul-Nya lebihdicintai daripada selain-Nya, (2) kecintaan kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, (3) keengganan kembali kepada kekufuran seperti keengganannya dicampakkan ke neraka”.
    2) Matan
    Menurut bahasa, matan berarti punggung jalan atau tanah yang keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah para ahli hadits, matan adalah penghujung sanad, yakni sabda nabi Muhammad SAW yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Atau dengan kata lain, matan adalah “isi hadits itu sendiri”. Contoh :
    حدّثنا مسدّد عن يحي عن عبد الله بن عُمَرَ قال حدّثنى حبيب عبد الرّحمن عن حفص بن عاصم عن ابى هريرة رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : مابين بيتى و بين منبرى روضةً عن رياض الجنّةِ و منبرى على الحوضِ (رواه البخارى)
    Dari nama “مسدّد ” dan nama sesudahnya sampai “ ابى هريرة ” adalah sanad, sedangkan kalimat mulai مابين بيتى sampai dengan الحوضِ disebut matan..
    3) Rawi
    Rawi yaitu orang yang meriwayatkan, menyampaikan atau memindahkan suatu hadits kepada orang lain yang menjadi rangkaian berikutnya, atau orang yang membukukannya dalam suatu kumpulan hadits yang menyebutkan sanadnya. Contohnya seperti hadits di atas (contoh matan), imam Bukhary adalah rawi (rawi terakhir), sedangkan rawi pertamanya adalah Abi Hurairah r.a.
    Dalam kitab kumpulan hadits-hadits nabi, sering disebutkan istilah-istilah khusus untuk meringkas jumlah rawi yang berbeda dalam meriwayatkan sebuah hadits. Istilah-istilah itu adalah اَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ.
    4)Rijal al hadits

    Kata rijal (رِجَالٌ) adalah bentuk jamak dari kata (رَجُلٌ) yang berarti tokoh. Jadi rijal al hadits berarti tokoh-tokoh yang meriwayatkan hadits. Disebut juga dengan ruwat al hadits (rawi-rawi hadits).

    4. Macam-macam hadits dan contohnya

    1)Hadist Mutawatir
    Hadist mutawatir ditinjau dari perawinya ( penyampai hadist ) adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak perawi baik dari kalangan sahabat ataupun dari kalangan sesudahnya dan bisa dipastikan tidak ada kesepakatan dusta dikalangan ulama.

    Sebagai contoh hadist mutawatir

    Artinya :
    Dari Abu Huroirah ra, Rosululloh SAW bersabda : Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatnya adalah neraka ( HR Bukhari Muslim ).

    2)Hadist Masyhur
    Hadist masyhur yaitu hadist yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih tapi tidak mencapai derajat mutawatir, namun setelah itu tersebar dan diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’in sehingga tidak mungkin ada kesepakatan dusta diantara para ulama.

    Contoh hadist :

    Contoh hadist tersebut yang yang artinya seperti ini “Orang islam adalah orang – orang yang tidak menganggu orang lain dengan lidah dan tangannya. ( HR Bokhari, Muslim, Tirmiji)

    3)Hadist Ahad
    Hadist ahad adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawatir ataupun Masyhur. Jika diselami lagi dilihat dari perawinya lebih jauh maka hadist ahad ini di bagi kedalam beberap bagian, yaitu :

    a. Hadist Sahih

    Hadist sahih adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi atau orang yang adil, kuat hafalannya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rosululloh, tidak tercela dan tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya. Hadist jenis ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

    b. Hadist Hasan
    Hadist hasan adalah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat dan tidak bertentangan. Sama seperti hadist sahis hadist inipun menjadi landasan dalam beribadah.

    c. Hadist Da’if
    Hadist da’if adalah hadist yang tidak memenuhi syarat dan kualitas hadis sahih dan hadist hasan. Bisa jadi salah satu perawinya tidak adali, cacat hapalannya, sanadnya terputus.
    Para ulama mengatakan untuk jenis hadist seperti ini tidak bisa digunakan sebagai landasan atau dasar dalam beribadah.

    d. Hadist Maudu
    Hadist maudu adalah hadist yang tidak bersumber dari Rosululloh SAW dengan kata lain hadist jenis ini adalah hadist palsu. Mungkin dikiranya adalah hadist tapi kenyataanya bukan hadist.
    Mungkin hanya syair atau cerita saja.
    Hadist jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk beribadah. Hadist jenis ini tertolak.

    5. Fungsi hadits terhadap Al-Qur’an adalah sebagai penguat hukum yang telah ada dalam al-Qur’an, dan memperjelas, menetapkan hukum baru, memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang masih bersifat global (mu’mal), membatasi kemutlakanAl-Qur’an.

    6. Dari segi kuantitasnya :
    1. Hadis mutawatir ialah Hadits yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.
    2. Hadis ahad yaitu Hadits (khabar) yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah perawinya hadits mutawatir, baik perawinya itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya,

    Berdasarkan kualitasnya :
    1. Hadis shahih,adalah hadits yang bersambung sanadnya, dinukilkan oleh perawi yang adil, kuat hafalannya, tidak cacat dan tidak tercela.
    2. hadis hasan, berarti hadits yang baik, atau yang sesuai dengan keinginan jiwa.
    3. hadis dlaif, berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawi yang kuat.

    7. shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab .
    Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, shalat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Kamis (19/3).

    shalat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, mushala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan. Hal ini menurut Ustaz Alnof sering juga ditemukan pada kebanyakan jamaah di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. Mereka umumnya adalah jamaah yang masbuk dan shalat di halaman masjid, jalan-jalan menuju masjid, pelataran hotel dan mal yang menyambung ke halaman masjid.

    “Maka shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,” jelasnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you