Edukasi Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas XI: Al-Qur'an-Hadits

Ujian Semester 2 Mapel Kepesantrenan Kelas XI: Al-Qur’an-Hadits

-

- Advertisment -

 

Akrabilah Al-Qur'an dan jadikan panduan dalam hidup. (Sumber gambar: detik.com)
Akrabilah Al-Qur’an dan jadikan panduan dalam hidup. (Sumber gambar: detik.com)

Mata Pelajaran : Alquran-Hadits

Kelas              : XI (Kelas II SMA/Aliyah)

Waktu             : 

Guru Mapel      : Ustadz Drs H. Arsyad

Lihat pula: Keistimewaan Penghafal Al-Qur’an

PALONTARAQ.ID – Berikut ini adalah Soal Alquran-Hadits, salah satu Mata Pelajaran Kepesantrenan untuk Kelas X (Kelas I SMA/Aliyah) yang diujikan dalam kondisi dan situasi pandemi global Covid-19, sehingga pelaksanaan ujiannya dilaksanakan di rumah masing-masing.

Mengaji bersama. (foto: ist/palontaraq)
Mengaji bersama. (foto: ist/palontaraq)

Soal-soal Ujian Alquran-Hadits ini hanya dibuat khusus dan hanya diperuntukkan sebagai Ujian Akhir Semester bagi Santriwati Kelas X Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep.

Jawaban dapat dituliskan di kolom komentar, sesuaikan terlebih dahulu keyboard systemnya untuk penulisan word arabic (windows arab) atau setting arabic pada penulisan aksara arab di keyboard untuk pengguna android.

Lihat pula: 20 Tipe Hati Manusia dalam Al-Qur’an

Al-Qur'an - Hadits
Al-Qur’an – Hadits

Jawablah pertanyaan berikut ini:

1. Bagaimana caranya menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk Neraka. Tulis ayat Al-Quran yang memerintahkan kita menjaga diri dan keluarga dari siksa api Neraka!

2. Apa tujuan Allah SWT menciptakan bangsa Jin dan manusia. Jelaskan disertai dengan dalil Al-Qur’an atau Hadits!

3. Apa yang menjadikan keengganan manusia melakukan sholat!

4. Tuliskan Hadits dengan artinya tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim!

Lihat pula: 100 Pesan Al-Qur’an dalam Interaksi Sosial

Ponpes Putri IMMIM siap terapkan new normal ditengah Pandemi Covid-19
Ponpes Putri IMMIM siap terapkan new normal ditengah Pandemi Covid-19

5. Jelaskan 3 kelompok sikap orang-orang mukmin dalam mengamalkan Al-Qur’an sesuai dengan kandungan Q.S. Fatir ayat 32!

6. Bagaimana pendapatmu tentang adanya pelarangan sholat jumat di masjid selama dalam pandemi Covid-19 saat ini. Kemukakan pendapatmu disertai dengan dalil Al-Qur’an atau Hadits!

Lihat pula: 12 Tipe Hati yang Sakit menurut Al-Qur’an

7. Apa hukumnya mengatur shaf sholat berjamaah secara sosial distancing di masjid, yaitu ada jarak 1meter antara satu orang dengan orang lainnya, karena khawatir ada potensi penularan wabah virus Corona dalam pandemi Covid-19 saat ini. Kemukakan pendapatmu disertai dengan dalil Al-Qur’an atau Hadits. Selamat dan sukses.

Lancar membaca Al-Qur'an. (foto: ist/palontaraq)
Lancar membaca Al-Qur’an. (foto: ist/palontaraq)

52 KOMENTAR

  1. Tahfidz Alquran!
    Putri yulita shabana
    X.Ipa

    1.)
    ‎ا.وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
    ‎ب .الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
    ‎ج.أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ
    ‎فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّا
    ‎2.) ب. خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ
    ‎ ب. فِيْ اَلْدِّيْنِ
    ‎3.)
    ‎ا. wahai orang-orang yang beriman infakkanlah
    ‎ب.tidak ada paksaan dalam (menganut)agama(islam).
    ‎ج.wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu merusak sedekahmu

  2. Nama : Devi Rifqiyani Sofyan
    Kelas : XI IPA

    Al Quran Hadis

    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka ialah dengan taat kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kita dari api neraka. Selain itu, untuk terhindar dari api neraka yang harus kita lakukan antara lain adalah membekali keluarga dengan ilmu, membimbing keluarga agar memiliki akhlak yang mulia, mengajak keluarga agar senantiasa taat dan terhindar dari perbuatan maksiat.

    Penjelasan ini terkandung dalam Qs. At-Tahrim ayat 6
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Adz Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Yang menjadi keenganan manusia dalam melakukan sholat ialah karena bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat, tidak paham tentang urgensi ibadah, melupakan kematian, tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah serta godaan syaitan dan lemahnya iman.

    4. Hadis tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri

    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa

    2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan

    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu

    3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6. Menurut saya, pelarangan sholat jumat di masjid selama pandemi ini diperbolehkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona karna dapat membahayakan jiwa manusia. Karena itu, agama pasti mempunyai pendapat menyangkut hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadist :
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa karena ketika melaksanakan sholat jumat berkumpul orang orang yang bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7. Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :

    وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها

    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).

    Hanya saja, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

    Adapun ketika ada ancaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maka hukum meluruskan dan merapatkan shaf secara syar’i adalah boleh, baik bagi jumhur ulama yang mensunnahkan maupun bagi sebagian ulama yang mewajibkan.

  3. Lila masruriah
    XI ips

    ‎1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66:6]

    2) Allah Ta’ala berfirman
    ‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
    “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
    Ayat di atas jelas menyebutkan tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah, hanya menyembah Allah semata. Ayat ini mengisyaratkan pentingnya tauhid, karena tauhid adalah bentuk ibadah yang paling agung, mengesakan Allah dalam ibadah.
    Ayat ini juga mengisyaratkan pentingnya beramal, setelah tujuan pertama manusia diciptakan adalah agar berilmu. Maka buah dari ilmu adalah beramal. Tidaklah ilmu dicari dan dipelajari kecuali untuk diamalkan. Sebagaimana pohon, tidaklah ditanam kecuali untuk mendapatkan buahnya. Karena ilmu adalah buah dari amal.
    -Ayat di atas juga menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka.

    3)adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya

    4)
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)

    ‎5) ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
    Artinya:
    ”Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fatir: 32) terdapat tiga macam orang mengamalkan Al-Qur’an, sbb:
    Pertama, orang yang dzalim kepada dirinya sendiri yaitu orang yang berlebihan dalam mengamalkan sebagian kewajiban, serta seringkali melakukan sesuatu hal yang terlarang. Menurut Ibnu Abbas golongan ini kelak akan mendapatkan Syafaat dari Nabi Muhammad SAW.
    Kedua, orang yang tak berlebihan yaitu orang yang melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan tetapi seringkali meninggalkan ibadah sunnah dan melakukan hal-hal yang dimakruhkan. Mereka akan masuk surga atas anugerah yang telah diberikan Allah.
    Ketiga, orang yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan yaitu orang yang menjalankan kewajiban juga hal yang disunnahkan serta menjauhi hal yang haram dan yang dimakruhkan serta meninggalkan sesuatu yang dihukumi mubah. Golongan ini akan diberikan keistimewaan oleh Allah yaitu masuk surga tanpa adanya perhitungan amal (hisab).

    6) Di satu sisi, sebagai orang Islam kita wajib melaksanaan shalat jumat (hifzh al-din), sementara di sisi yang lain, kita harus menjaga diri kita (hifzh al-nafs) dari kemungkinan tertular virus corona. Orang-orang yang berada di kawasan kuning atau tidak potensial menularkan virus corona masih diperbolehkan salat berjamaah atau salat jumat.
    Namun boleh juga untuk tidak melakukan salat jumat, karena virus corona bisa menjadi uzur atau alasan bagi masyarakat musliim di zona kuning untuk tidak melaksanakan salat Jumat atau berjamaah.
    “Namun memperhatihan demikian berbahayanya virus corona ini, maka umat Islam yang berada di zona kuning pun tetap dianjurkan mengambil dispensasi (rukhshoh) dalam syariat islam, yaitu memilih salat zuhur di rumah masing-masing daripada salat Jumat”

    ‎7) الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب
    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.
    Jadi, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19.
    Adapun ketika ada ancaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maka hukum meluruskan dan merapatkan shaf secara syar’i adalah boleh dan tidak diwajibkan.

    • SITTI RAHMAH
      XI IPA
      AL-QUR’AN HADIS
      1). Cara menjaga diri dari api neraka dan keluarga adalah hal yang harus kita sadari, bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara tidak ada yang kekal . Besar atau kecilnya perbuatan yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan nantinya di depan ALLAH SWT. Orang yang semasa hidup nya betul² berbuat baik, mejalangkan semua perintah Allah swt dan menjauhi semua larangannya akan masuk surga dan begitu pulah dengan sebaliknya. Kita juga sebagai ummat muslim harus saling membantu,menghargai, dan megigatkan satu sama lain dalam kebaikan apalagi dengan kerabat Keluaga kita
      KeluargaRenungan Hati
      Memelihara Diri dan Keluarga dari Api Neraka.
      “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (terj. Qs. At-Tahrim ayat 6).
      Ayat di atas berisi perintah Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman untuk melindungi diri dan keluarganya dari api neraka. Ayat ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim yang beriman. Sebab ukuran kesuksesan dan kebahagiaan manusia di akhirat kelak adalah ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

      Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah majlis ilmu pernah berkata bahwa makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka”.

      Sedangkan Muqatil dan Ad Dhahak dalam tafsir Ibnu Katsir:4/391 berkata, makna peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah teradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.

      Sementara Ali bin Abi Thalib ra mengatakan bahwa makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa ‘allimhum)”. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menjelaskan bahwa salah satu dalam menjaga keluarga dari Api Neraka dilakukan dengan berbagai hal berikut:

      1.Bekali Keluarga dengan Ilmu

      Ilmu merupakan perkara yang sangat penting dan dipentingkan oleh Islam. Ia merupakan poros dan asas kebaikan. Dengan ilmu seseorang mengenali kebaikan dan dapat membedakannya dengan keburukan. Dengan ilmu pula seorang Muslim dapat mengetahui tugas dan kewajibannya kepada Allah. Dengan ilmu seorang mengetahui tujuan hidup dan keberadaanya di dunia yang fana ini. Dengan ilmu juga seseorang mengelola dan menjalani hidupnya di dunia ini dengan benar, sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

      Singkatnya, ilmu adalah bekal sekaligus panduan dalam mengarungi kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Bahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
      “Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah akan permudahkan baginya jalan menuju surga. Para Malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridla kepada penuntut ilmu. Dan seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air. Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar. (HR Ibnu Majah)

      Oleh karena itu dalam ajaran Islam kewajiban seorang kepala keluarga dalam rangkan membimbing keluarganya menggapai ridha Allah, selamat dari neraka adalah dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. Paling tidak seorang Muslim belajar Ilmu fardhu ‘ain dan mengajarkannya kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya, yakni anak dan istrinya.
      2). Tujuan Allah swt menciptakan manusia dan jin tidak lain adalah hanya untuk beribadah dan menyembahnya hanya kepadanya yaitu Allah swt
      Sebagaimana dijelaskan dalam
      Qs. Adz Dzariyaat ayat 56:

      وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

      Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

      3).yang biasanya manusia engga melaksanakan sholat karena manusia sering menundanya, sebentar waktunya masih lama dan pada akhinya ia engga melaksanakanya alangkah lebih bagus dan baiknya kalu sholat di laksanakan tepat waktu.

      4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)

      5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:

      *Pertama:
      Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
      *Kedua:
      Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
      *Ketiga:
      Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

      6). Menurut Saya:

      Hukum Salat Jumat Saat Terjadi Wabah Corona COVID-19 Tidak wajib

      Hukum Salat Jumat Saat Terjadi Wabah Corona COVID-19 Tidak Wajib
      Penggantian salat Jumat menjadi salat Zuhur ini adalah untuk menjaga agar terhindar dari penularan COVID-19.
      Di tengah wabah corona COVID-19, salat Jumat di masjid bagi laki-laki tidak lagi wajib dilakukan, dan sebaiknya diganti dengan salat Zuhur di rumah.

      Wabah penyakit seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Bedanya, dahulu wabah yang menular adalah penyakit lepra.

      Hal ini tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)
      Menurut saya, Masyarakat muslim yang ada di zona merah bukan hanya tidak diwajibkan salat Jumat atau tidak dianjurkan salat jamaah dalam jumlah besar, melainkan justru mereka tak boleh melakukan dua kativitas itu (salat jumat atau salat dengan jamaah besar).”
      7).Virus corona bukan hanya merenggut ribuan nyawa tetapi juga mengubah tata cara kehidupan manusia di seluruh dunia mulai dari interaksi sesama maupun proses berhubungan dengan Tuhan.

      Beberapa orang mengurung diri di rumah,
      AmaliyahIslamika
      Kiat Menyikapi Wabah Corona Sesuai Ajaran Islam
      Penulis Abi Abdul Jabbar
      5 March 2020
      MADANINEWS.ID, JAKARTA — Fenomena wabah virus corona (covid-19) yang muncul di awal tahun 2020 ini semakin lama semakin membuat kekhawatiran di seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus yang muncul pertama kali di kota Wuhan provinsi Hubei China ini telah memakan korban lebih dari 2600 nyawa dan menginfeksi sekitar 80.000 jiwa atau lebih.

      Virus yang sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya telah merambah hampir ke seluruh negara-negara besar di dunia. Mulai dari China, Korea Selatan, Singapura dan lainnya di daratan Asia, hingga ke Italia,Prancis dan lainnya di daratan Eropa. Dan beberapa waktu lalu Presiden Jokowi mengumumkan bahwa kasus virus corona telah menjangkit dua warga Indonesia.

      Akibat virus ini, disamping korban yang terus berjatuhan yang mana angkanya telah mendekati hampir ratusan ribu jiwa baik yang meninggal ataupun yang terinfeksi, jutaan manusia lainnya terancam terkena wabah mematikan ini. Di samping itu, tercatat ratusan kota diisolasi, ribuan jalur penerbangan ditutup, bahkan secara khusus Negara Arab Saudi menghentikan sementara kedatangan jamaah umroh guna mengantisipasi tersebarnya wabah ini di dua tanah suci.

      Menyikapi epidemi global ini, sebagai seorang muslim hendaklah kita kembali kepada ajaran-ajaran agama kita. Dan berikut ini beberapa kiat-kiat yang dapat kita tempuh sebagai seorang muslim dalam menyikapi wabah virus corona yang sedang mewabah saat ini:

      1. Senantiasa meminta perlindungan kepada Allah.

      Virus corona adalah makhluk sebagaimana makhluk-makhluk Allah lainnya, dan ia tidaklah bergerak kecuali atas perintah dan izin Allah ta’ala yang menciptakannya. Oleh karenanya, kita berlindung dari wabah ini kepada Allah sebelum kita berlindung kepada kemampuan diri kita sendiri atau kemampuan makhluk lainnya. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penjaga. Allah berfirman:

      (فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ)
      “Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan Dialah Maha Penyayang di antara para penyayang”. (QS Yusuf, Ayat 64).

      Berlindung kepada Allah ini bisa dilakukan dengan senantiasa membaca doa-doa pelindung yang bersumber dari Al-Qur’an seperti surat Al-Falaq dan surat An-Nas ataupun dari doa-doa yang bersumber dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti doa yang dianjurkan untuk dibaca di pagi dan petang hari:

      (بِسمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهَ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَمَاءِ وَهُوَ السَمِيعُ العَلِيم)
      “Dengan nama Allah yang tidak membahayakan dengan namaNya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan Ia lah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

      Doa ini berdasarkan sabda Nabi shallahu alaihi wasallam, bila diamalkan oleh seorang hamba di pagi dan petang hari masing-masing sebanyak tiga kali, maka niscaya tidak akan membahayakannya segala sesuatu apapun yang ada di atas muka bumi ini.

      2. Berikhtiar dengan melakukan pencegahan.

      Di samping berlindung kepada Allah, tentunya sebagai seorang manusia kita juga harus berikhtiar dengan melakukan usaha-usaha pencegahan agar virus ini tidak menular kepada diri kita atau kepada orang-orang yang kita sayangi. Ikhtiar ini bisa dilakukan dalam skala individu maupun skala berjamaah.

      Ikhtiar dalam skala individu dilakukan dengan mengikuti cara-cara yang dianjurkan oleh para ahli dalam bidang ini, seperti rutin menjaga kesehatan, rutin mencuci tangan, rutin memakan dari makanan-makanan yang baik, rutin memakai masker dikeramaian, serta menghindari keluar rumah dan berkumpul di tempat keramaian bila tidak diperlukan.

      Adapun ikhtiar dalam skala berjamaah, maka bisa dilakukan dengan cara melakukan pencegahan-pencegahan agar virus ini tidak merambah ke skala yang lebih luas lagi seperti melakukan isolasi kepada mereka-mereka yang terkena virus atau mereka yang tercurigai terkena virus. Dan ikhtiar ini hendaklah dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang. Hal ini berdasarkan makna hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi:

      (إذا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأرْضٍ، فلاَ تَقْدمُوا عَلَيْهِ، وإذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا، فَلا تخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ)
      “Apabila kalian mendengar tentangnya (wabah penyakit) di sebuah tempat, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, dan bila kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar daripadanya sebagai bentuk lari daripadanya”. (HR.Bukhari dan Muslim)

      3. Bertawakkal kepada Allah.

      Setelah melakukan ikthtiar-ikhtiar yang ada, maka pada akhirnya semua kita serahkan kepada Allah. Kita tawakkalkan diri kita kepadaNya. Karena hidup dan mati kita sebagai seorang hamba semua berada di tanganNya. Allah berfirman:

      (قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ)
      “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam”
      . (QS Al-An’am, Ayat 162)

      Dan perlu kita ketahui bahwa seorang hamba akan tetap hidup bilamana memang ajalnya belum datang, bahkan bila virus corona ataupun virus lainnya yang lebih ganas daripada itu menjangkitinya, namun bila memang sudah ajalnya, jangankan virus corona atau yang lebih dari itu, bahkan digigit semut pun seseorang bisa mati jikalau memang ajalnya telah tiba.

      Ajal seseorang pasti datang, namun pertanyaannya adalah apakah yang telah kita persiapkan dari amalan saleh menyambut ajal tersebut? Semoga Allah menutup hidup kita dengan husnul khotimah. Aamiin yaAllah

  4. NUR IMAMAH HAK
    XI IPA

    1. Qatâdah rahimahullah berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mengatur mereka dengan perintah Allâh Azza wa Jalla , memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla , dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluarga(mu) dari kemaksiatan itu”.

    وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

    Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20: 132]

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka.

    3.
    a) Bergelimang dengan Perbuatan Dosa dan Maksiat
    b) Tidak Paham Tentang Urgensi Ibadah
    c) Melupakan Kematian
    d)Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah
    e)Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah

    4.
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Menurut saya, peraturan yang dibuat pemerintah agar tidak melaksanakan shalat jumat di masjid agar tidak terjadi penyebaran virus covid19 merupakan peraturan yang seharusnya kita patuhi.
    Sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

    7. Imam Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarah Shahîh Bukhâri menjelaskan hadis di atas dengan berkata:

    هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).

    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  5. NUR IMAMAH HAK
    XI IPA

    1. Qatâdah rahimahullah berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mengatur mereka dengan perintah Allâh Azza wa Jalla , memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla , dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluargamu dari kemaksiatan itu”.

    وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

    Dan perintahkanlah kpd keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dlm mengerjakannya. Kami tdk meminta rezki kepadamu, Kamilah yg memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20: 132]

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tdk menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka.

    3.
    a) Bergelimang dengan Perbuatan Dosa dan Maksiat
    b) Tidak Paham Tentang Urgensi Ibadah
    c) Melupakan Kematian
    d)Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah
    e)Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah

    4.
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Menurut saya, peraturan yang dibuat pemerintah agar tidak melaksanakan shalat jumat di masjid agar tidak terjadi penyebaran virus covid19 merupakan peraturan yang seharusnya kita patuhi.
    Sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

    7. Imam Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarah Shahîh Bukhâri menjelaskan hadis di atas dengan berkata:

    هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).

    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  6. NAMA:GITA ADZANI PUTRI
    KELAS:XI IPS

    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka ialah dengan taat kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kita dari api neraka. Selain itu, untuk terhindar dari api neraka yang harus kita lakukan antara lain adalah membekali keluarga dengan ilmu, membimbing keluarga agar memiliki akhlak yang mulia, mengajak keluarga agar senantiasa taat dan terhindar dari perbuatan maksiat.

    Penjelasan ini terkandung dalam Qs. At-Tahrim ayat 6
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Adz Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Yang menjadi keenganan manusia dalam melakukan sholat ialah karena bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat, tidak paham tentang urgensi ibadah, melupakan kematian, tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah serta godaan syaitan dan lemahnya iman.

    4. Hadis tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri

    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa

    2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan

    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu

    3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6. Menurut saya, pelarangan sholat jumat di masjid selama pandemi ini diperbolehkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona karna dapat membahayakan jiwa manusia. Karena itu, agama pasti mempunyai pendapat menyangkut hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadist :
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa karena ketika melaksanakan sholat jumat berkumpul orang orang yang bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7. Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :

    وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها

    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).

    Hanya saja, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

    Adapun ketika ada ancaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maka hukum meluruskan dan merapatkan shaf secara syar’i adalah boleh, baik bagi jumhur ulama yang mensunnahkan maupun bagi sebagian ulama yang mewajibkan.

  7. IZZATUL JANNAH
    XI IPS
    1. Qatâdah rahimahullah berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mengatur mereka dengan perintah Allâh Azza wa Jalla , memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla , dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluargamu dari kemaksiatan itu”.

    وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

    Dan perintahkanlah kpd keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dlm mengerjakannya. Kami tdk meminta rezki kepadamu, Kamilah yg memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20: 132]

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tdk menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka.

    3.
    a) Bergelimang dengan Perbuatan Dosa dan Maksiat
    b) Tidak Paham Tentang Urgensi Ibadah
    c) Melupakan Kematian
    d)Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah
    e)Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah

    4.
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Menurut saya, peraturan yang dibuat pemerintah agar tidak melaksanakan shalat jumat di masjid agar tidak terjadi penyebaran virus covid19 merupakan peraturan yang seharusnya kita patuhi.
    Sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

    7. Imam Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarah Shahîh Bukhâri menjelaskan hadis di atas dengan berkata:

    هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).

    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  8. AL-QUR’AN DAN HADITS
    NUR WAHYU DIYANTI
    XI IPA

    1. Kebaikan keluarga akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan kebaikan masyarakat akan berpengaruh kepada kebaikan negara. Oleh karena itulah agama Islam banyak memberikan perhatian masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam adalah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka. Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66:6]

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka. Banyak dalil yang menjelaskan seperti ini.

    Dalam ayat berikut dijelaskan bahwa jin juga akan menjalankan syari’at Allah dan ada pemberi peringatan di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,

    يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آَيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

    “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al An’am: 130).

    3. Perasaan malas dalam beribadah tersebut bisa ditimbulkan karena banyak faktor. Bisa karena diri sendiri ataupun orang lain. Penyebab pertama seseorang malas dalam beribadah ternyata adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal dosa kecil tersebut adalah salah satu sebab lesu, malas dan meremehkan ibadah dan ketaatan. Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah.

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – .4 صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. •Pertama:  Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.

    Kedua:  Golongan yang menghentikan agama dan sekali-sekali meninggalkannya.

    Ketiga:  Golongan yang mengizinkan Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan semuanya, semuanya yang sunnat, serta menyerahkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Di tengah wabah corona COVID-19, salat Jumat di masjid bagi laki-laki tidak lagi wajib dilakukan, dan sebaiknya diganti dengan salat Zuhur di rumah.

    Wabah penyakit seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Bedanya, dahulu wabah yang menular adalah penyakit lepra.

    Hal ini tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

    Untuk larangan mendekati masjid, beliau juga menyatakan bahwa orang yang terkena penyakit tidak boleh bergaul dengan orang sehat. Hal ini berisiko menyebabkan penularan, yang malah akan memperparah penyebaran wabah.

    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).

    7. Dalam masalah ini ada 2 (dua) pendapat.

    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.

    Inilah pendapat jumhur ulama, di antaranya pendapat empat mazhab, yaitu mazhab Hanafi (Az Zaila’i, Tabyîn Al Haqâ`iq, 1/136), mazhab Maliki (An Nafrâwi, Al Fawâkih Ad Dâwanî, 1/527), mazhab Syafi’i (An Nawawî, Al Majmû’, 4/301), dan mazhab Hanbali (Al Mardâwî, Al Inshâf, 2/30).

    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib. Para ulama yang berpendapat seperti ini antara lain Imam Ibnu Hazm (Al Muhalla, 2/375), Imam Ibnu Taimiyyah (Al Fatâwâ Al Kubrâ, 5/331), Imam Ibnu Hajar Al Asqalânî (Fathul Bârî, 2/207), Imam Badruddin Al ‘Ainî (‘Umdatul Qârî Syarah Al Bukhârî, 5/255), dan Imam Ash Shan’ânî (Subulus Salâm, 2/29).

    Pendapat kedua inilah yang kemudian difatwakan oleh Syekh Ibnu ‘Utsaimin (Syarah Al Mumti’, 3/10) dan Lajnah Dâ`imah dari Arab Saudi (Fatâwâ Al Lajnah Al Dâ`imah, Al Majmû’ah Al Tsâniah, 6/324).

    Ulama yang mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf tersebut antara lain berhujjah dengan hadis dari Anas bin Malik RA dalam Shahîh Bukhâri bahwa Rasulullah SAW bersabda :

    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Imam Ibnu Hazm mengomentari hadis tersebut dengan berkata :

    تسوية الصف إذا كان من إقامة الصلاة فهو فرض، لأن إقامة الصلاة فرض، وما كان من الفرض فهو فرض

    “Lurusnya shaf jika termasuk dalam tegaknya sholat, maka hukumnya fardhu (wajib). Karena tegaknya sholat itu fardhu, dan apa saja yang merupakan bagian dari suatu kefardhuan, maka hukumnya juga fardhu.” (Ibnu Hazm, Al Muhalla, 2/375).

  9. AL-QUR’AN DAN HADITS
    NUR WAHYU DIYANTI
    XU IPA

    1. Kebaikan keluarga akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan kebaikan masyarakat akan berpengaruh kepada kebaikan negara. Oleh karena itulah agama Islam banyak memberikan perhatian masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam adalah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka. Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66:6]

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka. Banyak dalil yang menjelaskan seperti ini.

    Dalam ayat berikut dijelaskan bahwa jin juga akan menjalankan syari’at Allah dan ada pemberi peringatan di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,

    يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آَيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

    “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al An’am: 130).

    3. Perasaan malas dalam beribadah tersebut bisa ditimbulkan karena banyak faktor. Bisa karena diri sendiri ataupun orang lain. Penyebab pertama seseorang malas dalam beribadah ternyata adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal dosa kecil tersebut adalah salah satu sebab lesu, malas dan meremehkan ibadah dan ketaatan. Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah.

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – .4 صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. •Pertama:  Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.

    Kedua:  Golongan yang menghentikan agama dan sekali-sekali meninggalkannya.

    Ketiga:  Golongan yang mengizinkan Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan semuanya, semuanya yang sunnat, serta menyerahkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Di tengah wabah corona COVID-19, salat Jumat di masjid bagi laki-laki tidak lagi wajib dilakukan, dan sebaiknya diganti dengan salat Zuhur di rumah.

    Wabah penyakit seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Bedanya, dahulu wabah yang menular adalah penyakit lepra.

    Hal ini tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

    Untuk larangan mendekati masjid, beliau juga menyatakan bahwa orang yang terkena penyakit tidak boleh bergaul dengan orang sehat. Hal ini berisiko menyebabkan penularan, yang malah akan memperparah penyebaran wabah.

    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).

    7. Dalam masalah ini ada 2 (dua) pendapat.

    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.

    Inilah pendapat jumhur ulama, di antaranya pendapat empat mazhab, yaitu mazhab Hanafi (Az Zaila’i, Tabyîn Al Haqâ`iq, 1/136), mazhab Maliki (An Nafrâwi, Al Fawâkih Ad Dâwanî, 1/527), mazhab Syafi’i (An Nawawî, Al Majmû’, 4/301), dan mazhab Hanbali (Al Mardâwî, Al Inshâf, 2/30).

    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib. Para ulama yang berpendapat seperti ini antara lain Imam Ibnu Hazm (Al Muhalla, 2/375), Imam Ibnu Taimiyyah (Al Fatâwâ Al Kubrâ, 5/331), Imam Ibnu Hajar Al Asqalânî (Fathul Bârî, 2/207), Imam Badruddin Al ‘Ainî (‘Umdatul Qârî Syarah Al Bukhârî, 5/255), dan Imam Ash Shan’ânî (Subulus Salâm, 2/29).

    Pendapat kedua inilah yang kemudian difatwakan oleh Syekh Ibnu ‘Utsaimin (Syarah Al Mumti’, 3/10) dan Lajnah Dâ`imah dari Arab Saudi (Fatâwâ Al Lajnah Al Dâ`imah, Al Majmû’ah Al Tsâniah, 6/324).

    Ulama yang mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf tersebut antara lain berhujjah dengan hadis dari Anas bin Malik RA dalam Shahîh Bukhâri bahwa Rasulullah SAW bersabda :

    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Imam Ibnu Hazm mengomentari hadis tersebut dengan berkata :

    تسوية الصف إذا كان من إقامة الصلاة فهو فرض، لأن إقامة الصلاة فرض، وما كان من الفرض فهو فرض

    “Lurusnya shaf jika termasuk dalam tegaknya sholat, maka hukumnya fardhu (wajib). Karena tegaknya sholat itu fardhu, dan apa saja yang merupakan bagian dari suatu kefardhuan, maka hukumnya juga fardhu.” (Ibnu Hazm, Al Muhalla, 2/375).

  10. AL-QUR’AN DAN HADITS
    NUR WAHYU DIYANTI
    XI.IPA

    1. Kebaikan keluarga akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan kebaikan masyarakat akan berpengaruh kepada kebaikan negara. Oleh karena itulah agama Islam banyak memberikan perhatian masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam adalah bahwa seorang laki-laki, yang merupakan kepala rumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka. Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [at-Tahrîm/66:6]

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka. Banyak dalil yang menjelaskan seperti ini.

    Dalam ayat berikut dijelaskan bahwa jin juga akan menjalankan syari’at Allah dan ada pemberi peringatan di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,

    يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آَيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

    “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al An’am: 130).

    3. Perasaan malas dalam beribadah tersebut bisa ditimbulkan karena banyak faktor. Bisa karena diri sendiri ataupun orang lain. Penyebab pertama seseorang malas dalam beribadah ternyata adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal dosa kecil tersebut adalah salah satu sebab lesu, malas dan meremehkan ibadah dan ketaatan. Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah.

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – .4 صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. •Pertama:  Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.

    Kedua:  Golongan yang menghentikan agama dan sekali-sekali meninggalkannya.

    Ketiga:  Golongan yang mengizinkan Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan semuanya, semuanya yang sunnat, serta menyerahkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Di tengah wabah corona COVID-19, salat Jumat di masjid bagi laki-laki tidak lagi wajib dilakukan, dan sebaiknya diganti dengan salat Zuhur di rumah.

    Wabah penyakit seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Bedanya, dahulu wabah yang menular adalah penyakit lepra.

    Hal ini tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

    Untuk larangan mendekati masjid, beliau juga menyatakan bahwa orang yang terkena penyakit tidak boleh bergaul dengan orang sehat. Hal ini berisiko menyebabkan penularan, yang malah akan memperparah penyebaran wabah.

    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).

    7. Dalam masalah ini ada 2 (dua) pendapat.

    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.

    Inilah pendapat jumhur ulama, di antaranya pendapat empat mazhab, yaitu mazhab Hanafi (Az Zaila’i, Tabyîn Al Haqâ`iq, 1/136), mazhab Maliki (An Nafrâwi, Al Fawâkih Ad Dâwanî, 1/527), mazhab Syafi’i (An Nawawî, Al Majmû’, 4/301), dan mazhab Hanbali (Al Mardâwî, Al Inshâf, 2/30).

    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib. Para ulama yang berpendapat seperti ini antara lain Imam Ibnu Hazm (Al Muhalla, 2/375), Imam Ibnu Taimiyyah (Al Fatâwâ Al Kubrâ, 5/331), Imam Ibnu Hajar Al Asqalânî (Fathul Bârî, 2/207), Imam Badruddin Al ‘Ainî (‘Umdatul Qârî Syarah Al Bukhârî, 5/255), dan Imam Ash Shan’ânî (Subulus Salâm, 2/29).

    Pendapat kedua inilah yang kemudian difatwakan oleh Syekh Ibnu ‘Utsaimin (Syarah Al Mumti’, 3/10) dan Lajnah Dâ`imah dari Arab Saudi (Fatâwâ Al Lajnah Al Dâ`imah, Al Majmû’ah Al Tsâniah, 6/324).

    Ulama yang mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf tersebut antara lain berhujjah dengan hadis dari Anas bin Malik RA dalam Shahîh Bukhâri bahwa Rasulullah SAW bersabda :

    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Imam Ibnu Hazm mengomentari hadis tersebut dengan berkata :

    تسوية الصف إذا كان من إقامة الصلاة فهو فرض، لأن إقامة الصلاة فرض، وما كان من الفرض فهو فرض

    “Lurusnya shaf jika termasuk dalam tegaknya sholat, maka hukumnya fardhu (wajib). Karena tegaknya sholat itu fardhu, dan apa saja yang merupakan bagian dari suatu kefardhuan, maka hukumnya juga fardhu.” (Ibnu Hazm, Al Muhalla, 2/375).

  11. Nama :Ulan azzahra
    Kelas :XI IPA

    1.lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka,serta ;
    •Bekali Keluarga dengan Ilmu
    •Membimbing Keluarga Menjadi Pribadi yang Berakhlak Mulia
    •Mengajak Keluarga Selalu Taat Pada Allah
    •Menjauhkan Keluarga dari berbuat Maksiat

    Surat At Tahrim

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2.Allah menciptakan jin dan manusia dgn tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Adz Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3.yg menjadikan keengganan manusia untuk shlat ialah;
    •Bergelimang dengan Perbuatan Dosa dan Maksiat
    •Tidak Paham Tentang Urgensi Ibadah
    •Melupakan Kematian
    •Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah
    •Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah

    4. Hadis tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5.Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri

    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa

    2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan

    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu

    3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6.Menurut pendapat saya, pelarangan sholat jumat di masjid selama pandemi covid-19 ini diperbolehkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona karna dapat membahayakan jiwa manusia. menyangkut hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadist :
    Beliau bersabda: قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ ”

    Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. al-Bukhari). Taat pada instruksi Rasulullah di atas bukan berarti takut pada selain Allah, melainkan justru wujud pemahaman agama yang baik serta ikhtiar yang nyata untuk berbuat baik pada sesama. Wallahu a’lam.
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa karena ketika melaksanakan sholat jumat kita berkumpul dgn orang orang yang tdk kita ktahui bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka dri itu tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat demi mencegah penularan covid-19.

    7.menurut pendapat sya,kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib. krna sebgian ulama berpendapat bahwa :
    “Pendapat yang jelas adalah bolehnya sholat berjamaah di masjid-masjid dengan adanya jarak-jarak di antara orang yang sholat dalam shaf (barisan) karena takut tertular penyakit atau wabah, dan ini lebih afdhol daripada penutupan masjid-masjid. Jadi meninggalkan merapatkan shaf di sini adalah karena adanya udzur…” yaitu khawatir akan ancaman Covid-19 seperti sekarang ini.
    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :

    وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها

    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).

    Hanya saja, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

  12. Aliyah hidayah madjid
    xi ips
    1. Surah at tahrim
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    Yg dapat di lakukan adalah :
    1.bekali keluarga dengan ilmu
    2.membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3.mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat

    2.makhluk lain tak berakal yang terdapat di bumi, maka Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menciptakan mereka demi manusia, supaya manusia menggunakannya sebagai sarana ketaatan kepada-Nya dan mengolahnya sesuai syariat Allah. Jadi setiap makhluk, setiap gerakan maupun diam di alam semesta ini, maka Allah lah yang mengadakannya karena suatu hikmah yang Dia terangkan dalam Al Qur’an serta dikenal oleh para ulama melalui syariat Allah. Masing-masing menurut kadar ilmunya. Bahkan sampai perbedaan umur, rizki, berbagai peristiwa dan musibah semua itu berlaku atas izin Allah untuk menguji hamba-Nya yang berakal. Siapa yang ridha dengan takdir Allah, berserah diri disertai kesungguhan dalam melakukan amal yang diridhai-Nya maka ia mendapatkan ridha Allah serta kebagiaan di dunia dan akhirat setelah mati. Sebaliknya siapa yang tidak ridha dengan ketentuan Allah, tidak mau berserah diri dan tidak mentaati-Nya maka ia mendapatkan murka Allah dan celaka dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah akan ridha-Nya dan berlindung dari murka-Nya. Serta di ciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadanya
    Ayatnya : Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Seseorang enggan melakukan sholat karena hatinya sdh di penuhi oleh dosa dan maksiat,orang itu sdh lupa akan kematian yang nyata adanya sehingga mereka selalu meninggalkan ibadahnya kepada Allah

    4.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
    5.Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:

    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6. Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.
    7.menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690)
    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  13. Aliyah hidayah madjid
    xi ips
    1. Surah at tahrim
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    Yg dapat di lakukan adalah :
    1.bekali keluarga dengan ilmu
    2.membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3.mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat

    2.makhluk lain tak berakal yang terdapat di bumi, maka Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menciptakan mereka demi manusia, supaya manusia menggunakannya sebagai sarana ketaatan kepada-Nya dan mengolahnya sesuai syariat Allah. Jadi setiap makhluk, setiap gerakan maupun diam di alam semesta ini, maka Allah lah yang mengadakannya karena suatu hikmah yang Dia terangkan dalam Al Qur’an serta dikenal oleh para ulama melalui syariat Allah. Masing-masing menurut kadar ilmunya. Bahkan sampai perbedaan umur, rizki, berbagai peristiwa dan musibah semua itu berlaku atas izin Allah untuk menguji hamba-Nya yang berakal. Siapa yang ridha dengan takdir Allah, berserah diri disertai kesungguhan dalam melakukan amal yang diridhai-Nya maka ia mendapatkan ridha Allah serta kebagiaan di dunia dan akhirat setelah mati. Sebaliknya siapa yang tidak ridha dengan ketentuan Allah, tidak mau berserah diri dan tidak mentaati-Nya maka ia mendapatkan murka Allah dan celaka dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah akan ridha-Nya dan berlindung dari murka-Nya. Serta di ciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadanya
    Ayatnya : Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Seseorang enggan melakukan sholat karena hatinya sdh di penuhi oleh dosa dan maksiat,orang itu sdh lupa akan kematian yang nyata adanya sehingga mereka selalu meninggalkan ibadahnya kepada Allah

    4.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
    5.Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:

    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6. Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.
    7.menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690)
    namun pendapat pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.
    Jdi tergantung dari orang sendiri yg mana yg mau di ikuti

  14. Aliyah hidayah madjid
    xi ips
    1. Surah at tahrim
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    Yg dapat di lakukan adalah :
    1.bekali keluarga dengan ilmu
    2.membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3.mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat

    2.makhluk lain tak berakal yang terdapat di bumi, maka Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menciptakan mereka demi manusia, supaya manusia menggunakannya sebagai sarana ketaatan kepada-Nya dan mengolahnya sesuai syariat Allah. Jadi setiap makhluk, setiap gerakan maupun diam di alam semesta ini, maka Allah lah yang mengadakannya karena suatu hikmah yang Dia terangkan dalam Al Qur’an serta dikenal oleh para ulama melalui syariat Allah. Masing-masing menurut kadar ilmunya. Bahkan sampai perbedaan umur, rizki, berbagai peristiwa dan musibah semua itu berlaku atas izin Allah untuk menguji hamba-Nya yang berakal. Siapa yang ridha dengan takdir Allah, berserah diri disertai kesungguhan dalam melakukan amal yang diridhai-Nya maka ia mendapatkan ridha Allah serta kebagiaan di dunia dan akhirat setelah mati. Sebaliknya siapa yang tidak ridha dengan ketentuan Allah, tidak mau berserah diri dan tidak mentaati-Nya maka ia mendapatkan murka Allah dan celaka dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah akan ridha-Nya dan berlindung dari murka-Nya. Serta di ciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadanya
    Ayatnya : Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Seseorang enggan melakukan sholat karena hatinya sdh di penuhi oleh dosa dan maksiat,orang itu sdh lupa akan kematian yang nyata adanya sehingga mereka selalu meninggalkan ibadahnya kepada Allah

    4.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
    5.Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:

    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6. Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.
    7.menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690)
    namun pendapat pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.
    Jdi tergantung dari orang sendiri yg mana yg mau di ikuti

  15. NIHAL RAHADATUL ‘AISY S
    XI IPA

    1. Cara agar kita serta keluarga terbebas dari siksaan api neraka ialah :
    – Bekali Keluarga dengan Ilmu
    – Membimbing Keluarga Menjadi Pribadi yang Berakhlak Mulia
    – Mengajak Keluarga Selalu Taat Pada Allah
    – Menjauhkan Keluarga dari berbuat Maksiat
    Allah memerintahkan perintah menjauhi api neraka terdapat dalam surah at-tahrim ayat 6 :
    ‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
    “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (terj. Qs. At-Tahrim ayat 6).

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia, yaitu semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah, dengan hrus menjalan kan perintah dan menjauhi larangannya. Allah berfirman,
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat:56).

    3. – Bergelimang dengan Perbuatan Dosa dan Maksiat.
    – Tidak Paham Tentang Urgensi Ibadah
    – Melupakan Kematian
    – Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah
    – Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Muba

    4.
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

    5.
    ‎1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri
    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa
    ‎2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan
    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu
    ‎3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6. Menurut saya pelarangan sholat berjamaah di masjid di karena kan wabah covid, bisa dibenarkan karena bertujuan agar kita tidak terkenal dan membatasi rantai covid.
    Ini sudah tertera dalam hadits:Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).

    Dalam hadits tersebut menjelaskan bahwa jika sedang sholat diharuskan bagi orang yang tidak sehat untuk tidak ikut sholat karena dapat menularkan penyakitnya.

    7. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :
    ‎وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها
    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).
    Hanya saja, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.
    Adapun ketika ada ancaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maka hukum meluruskan dan merapatkan shaf secara syar’i adalah boleh, baik bagi jumhur ulama yang mensunnahkan maupun bagi sebagian ulama yang mewajibkan.

  16. 1)lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta senantiasa untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ
    أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya :
    “Wahai orang² yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat² yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
    2).l tetujuan allaah swt menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribada kepadanya sebagaimana di dalam firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.
    Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah (kepada Ku)”. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
    3).adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya
    4).
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)
    5).Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6).menurut saya itu sah-sah saja karena ini juga menyangkut kepentingan bersama dan tidak ada musibah apapun yang menimpa kita kecuali apa yang sudah allah swt taqdirkan,jadi dimana pun dan apapun yang terjadi pasti allah swt memahami kita karena ini sudah menjadi kehendaknya.
    قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى
    اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
      Artinya: Katakanlah Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS at-Taubah : 51)
    7).
    ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  17. Satriani safri
    XI IPS

    1)lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta senantiasa untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ
    أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya :
    “Wahai orang² yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat² yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
    2).l tetujuan allaah swt menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribada kepadanya sebagaimana di dalam firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.
    Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah (kepada Ku)”. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
    3).adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya
    4).
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)
    5).Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6).menurut saya itu sah-sah saja karena ini juga menyangkut kepentingan bersama dan tidak ada musibah apapun yang menimpa kita kecuali apa yang sudah allah swt taqdirkan,jadi dimana pun dan apapun yang terjadi pasti allah swt memahami kita karena ini sudah menjadi kehendaknya.
    قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى
    اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
      Artinya: Katakanlah Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS at-Taubah : 51)
    7).
    ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  18. Reski karim
    XI IPS

    1. Surah at tahrim
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    Yg dapat di lakukan adalah :
    1.bekali keluarga dengan ilmu
    2.membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3.mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat.

    2.makhluk lain tak berakal yang terdapat di bumi, maka Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menciptakan mereka demi manusia, supaya manusia menggunakannya sebagai sarana ketaatan kepada-Nya dan mengolahnya sesuai syariat Allah. Jadi setiap makhluk, setiap gerakan maupun diam di alam semesta ini, maka Allah lah yang mengadakannya karena suatu hikmah yang Dia terangkan dalam Al Qur’an serta dikenal oleh para ulama melalui syariat Allah. Masing-masing menurut kadar ilmunya. Bahkan sampai perbedaan umur, rizki, berbagai peristiwa dan musibah semua itu berlaku atas izin Allah untuk menguji hamba-Nya yang berakal. Siapa yang ridha dengan takdir Allah, berserah diri disertai kesungguhan dalam melakukan amal yang diridhai-Nya maka ia mendapatkan ridha Allah serta kebagiaan di dunia dan akhirat setelah mati. Sebaliknya siapa yang tidak ridha dengan ketentuan Allah, tidak mau berserah diri dan tidak mentaati-Nya maka ia mendapatkan murka Allah dan celaka dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah akan ridha-Nya dan berlindung dari murka-Nya. Serta di ciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadanya
    Ayatnya : Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Seseorang enggan melakukan sholat karena hatinya sdh di penuhi oleh dosa dan maksiat,orang itu sdh lupa akan kematian yang nyata adanya sehingga mereka selalu meninggalkan ibadahnya kepada Allah

    4.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

    5.Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7.menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690)
    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  19. Aisyah saleh
    XI ( IPS)

    Surah at-tahrim

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    Yg dapat di lakukan adalah :
    1.bekali keluarga dengan ilmu
    2.membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3.mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat

    2.makhluk lain tak berakal yang terdapat di bumi, maka Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menciptakan mereka demi manusia, supaya manusia menggunakannya sebagai sarana ketaatan kepada-Nya dan mengolahnya sesuai syariat Allah. Jadi setiap makhluk, setiap gerakan maupun diam di alam semesta ini, maka Allah lah yang mengadakannya karena suatu hikmah yang Dia terangkan dalam Al Qur’an serta dikenal oleh para ulama melalui syariat Allah. Masing-masing menurut kadar ilmunya. Bahkan sampai perbedaan umur, rizki, berbagai peristiwa dan musibah semua itu berlaku atas izin Allah untuk menguji hamba-Nya yang berakal. Siapa yang ridha dengan takdir Allah, berserah diri disertai kesungguhan dalam melakukan amal yang diridhai-Nya maka ia mendapatkan ridha Allah serta kebagiaan di dunia dan akhirat setelah mati. Sebaliknya siapa yang tidak ridha dengan ketentuan Allah, tidak mau berserah diri dan tidak mentaati-Nya maka ia mendapatkan murka Allah dan celaka dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah akan ridha-Nya dan berlindung dari murka-Nya. Serta di ciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadanya
    Ayatnya : Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Seseorang enggan melakukan sholat karena hatinya sdh di penuhi oleh dosa dan maksiat,orang itu sdh lupa akan kematian yang nyata adanya sehingga mereka selalu meninggalkan ibadahnya kepada Allah

    4.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
    5.Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:

    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6. Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.
    7.menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690)
    namun pendapat pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.
    Jdi tergantung dari orang sendiri yg mana yg mau di ikuti

  20. St. Rahma nur fadilah
    XI. Ips
    1)lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta senantiasa untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ
    أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya :
    “Wahai orang² yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat² yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
    2).l tetujuan allaah swt menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribada kepadanya sebagaimana di dalam firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.
    Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah (kepada Ku)”. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
    3).adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya
    4).
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)
    5).Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6).menurut saya itu sah-sah saja karena ini juga menyangkut kepentingan bersama dan tidak ada musibah apapun yang menimpa kita kecuali apa yang sudah allah swt taqdirkan,jadi dimana pun dan apapun yang terjadi pasti allah swt memahami kita karena ini sudah menjadi kehendaknya.
    قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى
    اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
      Artinya: Katakanlah Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS at-Taubah : 51)
    7).
    ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  21. Putri yasmin salsabila
    XI IPA
    1. Dengan taat kpda allah dan tinggalkan maksiat serta selalu berzikir kpada allah merupakan menjaga diri dan keluaraga kita dari siksaan api neraka Qatâdah rahimahullah berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mengatur mereka dengan perintah Allâh Azza wa Jalla , memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla , dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluargamu dari kemaksiatan itu”.
    ‎وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
    Dan perintahkanlah kpd keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dlm mengerjakannya. Kami tdk meminta rezki kepadamu, Kamilah yg memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20: 132]

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,
    ‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    “Dan aku tdk menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).
    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka.

    3 a) Bergelimang dengan Perbuatan Dosa dan Maksiat
    b) Tidak Paham Tentang Urgensi Ibadah
    c) Melupakan Kematian
    d)Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah
    e)Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah

    4.
    ‎عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6.Menurut saya, peraturan yang dibuat pemerintah agar tidak melaksanakan shalat jumat di masjid agar tidak terjadi penyebaran virus covid19 merupakan peraturan yang seharusnya kita patuhi.
    Sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

    7 Imam Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarah Shahîh Bukhâri menjelaskan hadis di atas dengan berkata:
    ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب
    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  22. Nama : Miftahul Jannah
    Kelas : XI IPA
    Mapel : Al-Qur’an Hadits
    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka :
    Bekali keluarga dengan ilmu
    Membimbing keluarga menjadi pribadi yang berakhlak mulia
    Mengajak keluarga selalu taat kepada Allah SWT
    Menhauhkan keluarga dari perbuatan maksiat
    Allah berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. Al-Tahrim: 6
    2. وَمَا خَلَقْتُ الجِنََّ وَلإنسَ اِلالِيَعْبُدُونِ
    ” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku”
    Dari ayat tersebut Allah berfirman bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) Allah SWT
    3. Keengganan manusia melakukan sholat dikarenakan :
    Berlimang dengan perbuatan maksiat dan dosa
    Tidak pernah paham tentang urgensi ibadah
    Melupakan kematian
    Tidak tau besarnya pahala suatu ibadah
    Berlebih lebihan dalam hal mubah
    4. بِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
    5. Allah telah membagikan umat dalam 3 golongan
    Golongan yang mendzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan sebagian yang haram
    Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali² pernah meninggalkannya
    Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnah, serta Meninggalkan Segala yang haram, segala yang makhruh serta segala yang mubah
    6. Menurut saya tidak ada pelarangan shalat Jumat Akan tetapi khusus zona-zona merah, zona-zona bahaya, zona-zona rawan. Sedangkan untuk zona-zona yang aman, maka shalat jamaah harus jalan terus. Kenapa sebab? Karena jamaah dan shalat Jumat terutama, harus jalan terus. Karena shalat Jumat ini, kita tahu, adalah fardlu ‘ain (hukumnya) yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat.
    Dalilnya yaitu:
    عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الََََُ

    “Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena senang-suka shalat adalah shalat siapa saja di rumah, kecuali shalat wajib.” [SDM. Bukhari dan Muslim]
    7. Shalat wajib berjamaah dilakukan dengan menerapkan konsep social distancing atau berjarak satu meter antarshaf. Jamaah juga memberi jarak yang cukup dengan jamaah di sampingnya
    Hukumnya shalat berjamaah yang dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).
    Ssebagaimana sabda Rasulullah, “Wahai hamba-hamba Allah, luruskan saf kalian, jika tidak maka Allah akan membuat hati kalian berselisih.” (HR. Muslim)
    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Kedua, boleh hukumnya mengatur shaf sholat dengan adanya jarak (social distancing) dalam sholat jamaah di masjid-masjid, karena ada udzur, yaitu khawatir akan ancaman Covid-19 seperti sekarang ini. Wallâhu a’lam

  23. NAMA : NUR AULIA RESKI
    KELAS : XI IPA
    AL-QUR’AN HADIST

    1). Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka :
    Bekali keluarga dengan ilmu
    Membimbing keluarga menjadi pribadi yang berakhlak mulia
    Mengajak keluarga selalu taat kepada Allah SWT
    Menhauhkan keluarga dari perbuatan maksiat
    Allah berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. Al-Tahrim: 6
    2). وَمَا خَلَقْتُ الجِنََّ وَلإنسَ اِلالِيَعْبُدُونِ
    ” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku”
    Dari ayat tersebut Allah berfirman bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) Allah SWT
    3). Keengganan manusia melakukan sholat dikarenakan :
    Berlimang dengan perbuatan maksiat dan dosa
    Tidak pernah paham tentang urgensi ibadah
    Melupakan kematian
    Tidak tau besarnya pahala suatu ibadah
    Berlebih lebihan dalam hal mubah
    4). بِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
    5). Allah telah membagikan umat dalam 3 golongan
    Golongan yang mendzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan sebagian yang haram
    Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali² pernah meninggalkannya
    Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnah, serta Meninggalkan Segala yang haram, segala yang makhruh serta segala yang mubah
    6). Menurut saya tidak ada pelarangan shalat Jumat Akan tetapi khusus zona-zona merah, zona-zona bahaya, zona-zona rawan. Sedangkan untuk zona-zona yang aman, maka shalat jamaah harus jalan terus. Kenapa sebab? Karena jamaah dan shalat Jumat terutama, harus jalan terus. Karena shalat Jumat ini, kita tahu, adalah fardlu ‘ain (hukumnya) yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat.
    Dalilnya yaitu:
    عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الََََُ

    “Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena senang-suka shalat adalah shalat siapa saja di rumah, kecuali shalat wajib.” [SDM. Bukhari dan Muslim]
    7). Shalat wajib berjamaah dilakukan dengan menerapkan konsep social distancing atau berjarak satu meter antarshaf. Jamaah juga memberi jarak yang cukup dengan jamaah di sampingnya
    Hukumnya shalat berjamaah yang dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).
    Ssebagaimana sabda Rasulullah, “Wahai hamba-hamba Allah, luruskan saf kalian, jika tidak maka Allah akan membuat hati kalian berselisih.” (HR. Muslim)

  24. Nama : SINTIA RAMADANI
    Kelas : XI IPA
    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka :
    Bekali keluarga dengan ilmu
    Membimbing keluarga menjadi pribadi yang berakhlak mulia
    Mengajak keluarga selalu taat kepada Allah SWT
    Menhauhkan keluarga dari perbuatan maksiat
    Allah berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. Al-Tahrim: 6
    2. وَمَا خَلَقْتُ الجِنََّ وَلإنسَ اِلالِيَعْبُدُونِ
    ” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku”
    Dari ayat tersebut Allah berfirman bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) Allah SWT
    3. Keengganan manusia melakukan sholat dikarenakan :
    Berlimang dengan perbuatan maksiat dan dosa
    Tidak pernah paham tentang urgensi ibadah
    Melupakan kematian
    Tidak tau besarnya pahala suatu ibadah
    Berlebih lebihan dalam hal mubah
    4. بِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
    5. Allah telah membagikan umat dalam 3 golongan
    Golongan yang mendzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan sebagian yang haram
    Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali² pernah meninggalkannya
    Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnah, serta Meninggalkan Segala yang haram, segala yang makhruh serta segala yang mubah
    6. Menurut saya tidak ada pelarangan shalat Jumat Akan tetapi khusus zona-zona merah, zona-zona bahaya, zona-zona rawan. Sedangkan untuk zona-zona yang aman, maka shalat jamaah harus jalan terus. Kenapa sebab? Karena jamaah dan shalat Jumat terutama, harus jalan terus. Karena shalat Jumat ini, kita tahu, adalah fardlu ‘ain (hukumnya) yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat.
    Dalilnya yaitu:
    عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الََََُ

    “Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena senang-suka shalat adalah shalat siapa saja di rumah, kecuali shalat wajib.” [SDM. Bukhari dan Muslim]
    7. Shalat wajib berjamaah dilakukan dengan menerapkan konsep social distancing atau berjarak satu meter antarshaf. Jamaah juga memberi jarak yang cukup dengan jamaah di sampingnya
    Hukumnya shalat berjamaah yang dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).
    Ssebagaimana sabda Rasulullah, “Wahai hamba-hamba Allah, luruskan saf kalian, jika tidak maka Allah akan membuat hati kalian berselisih.” (HR. Muslim)
    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Kedua, boleh hukumnya mengatur shaf sholat dengan adanya jarak (social distancing) dalam sholat jamaah di masjid-masjid, karena ada udzur, yaitu khawatir akan ancaman Covid-19 seperti sekarang ini. Wallâhu a’lam

  25. TYAS RIFQAH NABILAH
    XI IPA

    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka :
    Bekali keluarga dengan ilmu
    Membimbing keluarga menjadi pribadi yang berakhlak mulia
    Mengajak keluarga selalu taat kepada Allah SWT
    Menhauhkan keluarga dari perbuatan maksiat
    Allah berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. QS. Al-Tahrim: 6

    2. وَمَا خَلَقْتُ الجِنََّ وَلإنسَ اِلالِيَعْبُدُونِ
    ” Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku”
    Dari ayat tersebut Allah berfirman bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) Allah SWT

    3. Keengganan manusia melakukan sholat dikarenakan :
    Berlimang dengan perbuatan maksiat dan dosa
    Tidak pernah paham tentang urgensi ibadah
    Melupakan kematian
    Tidak tau besarnya pahala suatu ibadah
    Berlebih lebihan dalam hal mubah

    4. بِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Allah telah membagikan umat dalam 3 golongan
    Golongan yang mendzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan sebagian yang haram
    Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali² pernah meninggalkannya
    Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnah, serta Meninggalkan Segala yang haram, segala yang makhruh serta segala yang mubah

    6. Menurut saya tidak ada pelarangan shalat Jumat Akan tetapi khusus zona-zona merah, zona-zona bahaya, zona-zona rawan. Sedangkan untuk zona-zona yang aman, maka shalat jamaah harus jalan terus. Kenapa sebab? Karena jamaah dan shalat Jumat terutama, harus jalan terus. Karena shalat Jumat ini, kita tahu, adalah fardlu ‘ain (hukumnya) yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat.
    Dalilnya yaitu:
    عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الََََُ

    “Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena senang-suka shalat adalah shalat siapa saja di rumah, kecuali shalat wajib.” [SDM. Bukhari dan Muslim]

    7. Shalat wajib berjamaah dilakukan dengan menerapkan konsep social distancing atau berjarak satu meter antarshaf. Jamaah juga memberi jarak yang cukup dengan jamaah di sampingnya
    Hukumnya shalat berjamaah yang dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya. Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).
    Ssebagaimana sabda Rasulullah, “Wahai hamba-hamba Allah, luruskan saf kalian, jika tidak maka Allah akan membuat hati kalian berselisih.” (HR. Muslim)
    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Kedua, boleh hukumnya mengatur shaf sholat dengan adanya jarak (social distancing) dalam sholat jamaah di masjid-masjid, karena ada udzur, yaitu khawatir akan ancaman Covid-19 seperti sekarang ini. Wallâhu a’lam

  26. Nama : RAHMATIARAH
    kelas : Xl IPS

    1• lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta senantiasa untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ
    أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    Artinya :
    “Wahai orang² yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat² yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

    2• tetujuan allaah swt menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribada kepadanya sebagaimana di dalam firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.
    Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah (kepada Ku)”. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)

    3• adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya

    4•
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)

    5• Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6• menurut saya itu sah-sah saja karena ini juga menyangkut kepentingan bersama dan tidak ada musibah apapun yang menimpa kita kecuali apa yang sudah allah swt taqdirkan,jadi dimana pun dan apapun yang terjadi pasti allah swt memahami kita karena ini sudah menjadi kehendaknya.
    قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى
    اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
      Artinya: Katakanlah Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS at-Taubah : 51)

    7• ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  27. KHALIFAH PUTRI ANDINI
    XI IPA

    1. Qatâdah rahimahullah berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mengatur mereka dengan perintah Allâh Azza wa Jalla , memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla , dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluargamu dari kemaksiatan itu”.

    وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

    Dan perintahkanlah kpd keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dlm mengerjakannya. Kami tdk meminta rezki kepadamu, Kamilah yg memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20: 132]

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tdk menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka.

    3.
    a) Bergelimang dengan Perbuatan Dosa dan Maksiat
    b) Tidak Paham Tentang Urgensi Ibadah
    c) Melupakan Kematian
    d)Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah
    e)Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah

    4.
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Menurut saya, peraturan yang dibuat pemerintah agar tidak melaksanakan shalat jumat di masjid agar tidak terjadi penyebaran virus covid19 merupakan peraturan yang seharusnya kita patuhi.
    Sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

    7. Imam Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarah Shahîh Bukhâri menjelaskan hadis di atas dengan berkata:

    هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).

    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  28. Rezki Aliah Putri Kamaruddin
    XI mipa

    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk Neraka.
    1.Bekali Keluarga dengan Ilmu
    2. Membimbing Keluarga Menjadi Pribadi yang Berakhlak Mulia
    3. Mengajak Keluarga Selalu Taat Pada Allah
    4. Menjauhkan Keluarga dari berbuat Maksiat
    At-Tahrim Ayat 6
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    2. tujuan utama penciptaan manusia dan jin
    1. Mengilmui Tentang Allah
    Allah Ta’ala berfirman
    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
    “Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).
    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu
    2. Untuk Beribadah Kepada Allah Semata
    Allah Ta’ala berfirman
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
    “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).
    Jin dan Manusia adalah dua makhluk ciptaan Allah SWT. Manusia tercipta dari tanah dan adapun jin tercipta dari nyala api. Manusia menempati alam syahadah atau alam nyata sementara jin menempati alam ghaib. Penciptaan jin disebutkan lebih dahulu dari manusia.
    Seperti halnya manusia, jin juga dilengkapi dengan akal dan nafsu. Oleh sebab itu, keduanya memiliki kehendak. Berbeda dengan malaikat yang tak memiliki kehendak selain taat kepada Allah SWT.
    3. Penyebab yang menjadikan keengganan manusia melakukan sholat
    1. Bergelimang dengan Perbuatan Dosa dan Maksiat
    Penyebab pertama seseorang malas dalam beribadah ternyata adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia. Padahal dosa kecil tersebut adalah salah satu sebab lesu, malas dan meremehkan ibadah dan ketaatan.
    Orang-orang yang terus menerus hidup dalam kebiasaan seperti ini akan mendapatkan murka dari Allah SWT. Salah satu bentuk murka Allah tersebut adalah dengan dilenyapkan manisnya iman dan Allah tidak akan mengkaruniakan kepadanya kelezatan dalam ketaatan.
    Inilah murka Allah yang akan menimpa orang yang bergelimang perbuatan dosa dan maksiat. Selanjutnya orang tersebut tidak mampu untuk mengerjakan ketaatan dan ibadah, padalah sebenarnya semua itu menjadi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:
    “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura:30)
    2. . Tidak Paham Tentang Urgensi Ibadah
    Penyebab orang malas untuk beribadah yang kedia adalah karena mereka melupakan urgensi ibadah. Di antara bentuk kelalaian seseorang adalah karena ia lupa bahwa ia adalah seorang makhluk yang lemah. Padahal sebenarnya hanya Allah-lah yang membuat ia menjadi kuat dan bisa mengerjakan ibadah.
    Sebagai seorang muslim, dia harusnya mengetahui serta memahami bahwa beribadah kepada Allah menjadi inti unruk mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Allah SWT. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
    “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-ankabut:69)
    3. Melupakan Kematian
    Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman:
    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.”(QS. Ali Imran : 185)
    Kematian menjadi salah satu obat bagi orang yang panjang angan-angan, orang yang keras hatinya dan mereka yang banyak dosa.Oleh sebab itu Rasulullah Shollalahu ‘alaihi Wasallah bersabda “perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan.”
    4. Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah
    Penyebab lainnya seseorang malas melakukan ibadah adalah karena mereka tidak mengetahui besarnya pahala yang akan diperoleh karena suatu ibadah. Ketidaktahuan inilah yang membuat orang tersebut malas dalam beribadah. Sebaliknya, apabila ia mengetahui pahala besar di balik ibadah yang dilakukan maka ia akan semakin rajin dalam beribadah.
    5. Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah
    Alasan terakhir seseorang malas melakukan ibadah adalah karena ia berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah. Yaitu dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan serta yang lainnya. Hal yang demikian ini membuatnya malas untuk melakukan ibadah dan lebih berkeinginan untuk istirahat dan tidur.

    4. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat yang moderat seharusnya bersikap dengan bijak dengan menghilangkan sikap ekstrim dan menjauhkan kefanatikan kelompok terutama dalam memahami dan mengamalkan isinya Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Surah Fatir ayat 32:
    ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
    Artinya:
    ”Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fatir: 32)
    Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa terdapat tiga macam orang mengamalkan Al-Qur’an, sebagaimana berikut:
    -Pertama, orang yang dzalim kepada dirinya sendiri yaitu orang yang berlebihan dalam mengamalkan sebagian kewajiban, serta seringkali melakukan sesuatu hal yang terlarang. Menurut Ibnu Abbas golongan ini kelak akan mendapatkan Syafaat dari Nabi Muhammad SAW.
    -Kedua, orang yang tak berlebihan yaitu orang yang melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan tetapi seringkali meninggalkan ibadah sunnah dan melakukan hal-hal yang dimakruhkan. Mereka akan masuk surga atas anugerah yang telah diberikan Allah.
    -Ketiga, orang yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan yaitu orang yang menjalankan kewajiban juga hal yang disunnahkan serta menjauhi hal yang haram dan yang dimakruhkan serta meninggalkan sesuatu yang dihukumi mubah. Golongan ini akan diberikan keistimewaan oleh Allah yaitu masuk surga tanpa adanya perhitungan amal (hisab).

    6. Menurut saya ditiadakannya salat jumat berjamaah di masjid kita sebagai orang Islam wajib melaksanaan shalat jumat (hifzh al-din), sementara di sisi yang lain, kita harus menjaga diri kita (hifzh al-nafs) dari kemungkinan tertular virus corona. Orang-orang yang berada di kawasan kuning atau tidak potensial menularkan virus corona masih diperbolehkan salat berjamaah atau salat jumat.
    Namun boleh juga untuk tidak melakukan salat jumat, karena virus corona bisa menjadi uzur atau alasan bagi masyarakat musliim di zona kuning untuk tidak melaksanakan salat Jumat atau berjamaah.
    “Namun memperhatihan demikian berbahayanya virus corona ini, maka umat Islam yang berada di zona kuning pun tetap dianjurkan mengambil dispensasi (rukhshoh) dalam syariat islam, yaitu memilih salat zuhur di rumah masing-masing daripada salat Jumat”
    Dalilnya yaitu:
    عَلَيْكُمْ بِالصَلَاةِ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ المَرْءِ فِيْ بَيْتِهِ إلَّا الََََُ
    “Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, karena senang-suka shalat adalah shalat siapa saja di rumah, kecuali shalat wajib.” [SDM. Bukhari dan Muslim]

    7. Penularan virus corona (Covid-19) yang begitu cepat mendorong diperlukannya langkah pencegahan dan antisipasi agar virus ini tidak semakin menyebar luas menginfeksi masyarakat. Langkah pencegahan ini juga turut mempengaruhi cara shalat berjamaah.
    Maka shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah shalat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,
    Imam Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarah Shahîh Bukhâri menjelaskan hadis di atas dengan berkata:

    هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).

  29. Nama:andi rizqa Tri awliya
    Kls:XI.ipa

    1). Cara menjaga diri dari api neraka dan keluarga adalah hal yang harus kita sadari, bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara tidak ada yang kekal . Besar atau kecilnya perbuatan yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan nantinya di depan ALLAH SWT. Orang yang semasa hidup nya betul² berbuat baik, mejalangkan semua perintah Allah swt dan menjauhi semua larangannya akan masuk surga dan begitu pulah dengan sebaliknya. Kita juga sebagai ummat muslim harus saling membantu,menghargai, dan megigatkan satu sama lain dalam kebaikan apalagi dengan kerabat Keluaga kita
    KeluargaRenungan Hati
    Memelihara Diri dan Keluarga dari Api Neraka.
    “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (terj. Qs. At-Tahrim ayat 6).
    Ayat di atas berisi perintah Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman untuk melindungi diri dan keluarganya dari api neraka. Ayat ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim yang beriman. Sebab ukuran kesuksesan dan kebahagiaan manusia di akhirat kelak adalah ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah majlis ilmu pernah berkata bahwa makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka”.

    Sedangkan Muqatil dan Ad Dhahak dalam tafsir Ibnu Katsir:4/391 berkata, makna peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah teradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.

    Sementara Ali bin Abi Thalib ra mengatakan bahwa makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa ‘allimhum)”. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menjelaskan bahwa salah satu dalam menjaga keluarga dari Api Neraka dilakukan dengan berbagai hal berikut:

    1.Bekali Keluarga dengan Ilmu

    Ilmu merupakan perkara yang sangat penting dan dipentingkan oleh Islam. Ia merupakan poros dan asas kebaikan. Dengan ilmu seseorang mengenali kebaikan dan dapat membedakannya dengan keburukan. Dengan ilmu pula seorang Muslim dapat mengetahui tugas dan kewajibannya kepada Allah. Dengan ilmu seorang mengetahui tujuan hidup dan keberadaanya di dunia yang fana ini. Dengan ilmu juga seseorang mengelola dan menjalani hidupnya di dunia ini dengan benar, sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

    Singkatnya, ilmu adalah bekal sekaligus panduan dalam mengarungi kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Bahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
    “Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah akan permudahkan baginya jalan menuju surga. Para Malaikat akan membentangkan sayapnya karena ridla kepada penuntut ilmu. Dan seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi hingga ikan yang ada di air. Sungguh, keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah adalah ibarat bulan purnama atas semua bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar. (HR Ibnu Majah)

    Oleh karena itu dalam ajaran Islam kewajiban seorang kepala keluarga dalam rangkan membimbing keluarganya menggapai ridha Allah, selamat dari neraka adalah dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. Paling tidak seorang Muslim belajar Ilmu fardhu ‘ain dan mengajarkannya kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya, yakni anak dan istrinya.
    2). Tujuan Allah swt menciptakan manusia dan jin tidak lain adalah hanya untuk beribadah dan menyembahnya hanya kepadanya yaitu Allah swt
    Sebagaimana dijelaskan dalam
    Qs. Adz Dzariyaat ayat 56:

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3).yang biasanya manusia engga melaksanakan sholat karena manusia sering menundanya, sebentar waktunya masih lama dan pada akhinya ia engga melaksanakanya alangkah lebih bagus dan baiknya kalu sholat di laksanakan tepat waktu.

    4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)

    5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:

    *Pertama:
    Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    *Kedua:
    Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    *Ketiga:
    Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6). Menurut Saya:

    Hukum Salat Jumat Saat Terjadi Wabah Corona COVID-19 Tidak wajib

    Hukum Salat Jumat Saat Terjadi Wabah Corona COVID-19 Tidak Wajib
    Penggantian salat Jumat menjadi salat Zuhur ini adalah untuk menjaga agar terhindar dari penularan COVID-19.
    Di tengah wabah corona COVID-19, salat Jumat di masjid bagi laki-laki tidak lagi wajib dilakukan, dan sebaiknya diganti dengan salat Zuhur di rumah.

    Wabah penyakit seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW. Bedanya, dahulu wabah yang menular adalah penyakit lepra.

    Hal ini tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. Al-Bukhari)
    Menurut saya, Masyarakat muslim yang ada di zona merah bukan hanya tidak diwajibkan salat Jumat atau tidak dianjurkan salat jamaah dalam jumlah besar, melainkan justru mereka tak boleh melakukan dua kativitas itu (salat jumat atau salat dengan jamaah besar).”
    7).Virus corona bukan hanya merenggut ribuan nyawa tetapi juga mengubah tata cara kehidupan manusia di seluruh dunia mulai dari interaksi sesama maupun proses berhubungan dengan Tuhan.

    Beberapa orang mengurung diri di rumah,
    AmaliyahIslamika
    Kiat Menyikapi Wabah Corona Sesuai Ajaran Islam
    Penulis Abi Abdul Jabbar
    5 March 2020
    MADANINEWS.ID, JAKARTA — Fenomena wabah virus corona (covid-19) yang muncul di awal tahun 2020 ini semakin lama semakin membuat kekhawatiran di seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus yang muncul pertama kali di kota Wuhan provinsi Hubei China ini telah memakan korban lebih dari 2600 nyawa dan menginfeksi sekitar 80.000 jiwa atau lebih.

    Virus yang sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya telah merambah hampir ke seluruh negara-negara besar di dunia. Mulai dari China, Korea Selatan, Singapura dan lainnya di daratan Asia, hingga ke Italia,Prancis dan lainnya di daratan Eropa. Dan beberapa waktu lalu Presiden Jokowi mengumumkan bahwa kasus virus corona telah menjangkit dua warga Indonesia.

    Akibat virus ini, disamping korban yang terus berjatuhan yang mana angkanya telah mendekati hampir ratusan ribu jiwa baik yang meninggal ataupun yang terinfeksi, jutaan manusia lainnya terancam terkena wabah mematikan ini. Di samping itu, tercatat ratusan kota diisolasi, ribuan jalur penerbangan ditutup, bahkan secara khusus Negara Arab Saudi menghentikan sementara kedatangan jamaah umroh guna mengantisipasi tersebarnya wabah ini di dua tanah suci.

    Menyikapi epidemi global ini, sebagai seorang muslim hendaklah kita kembali kepada ajaran-ajaran agama kita. Dan berikut ini beberapa kiat-kiat yang dapat kita tempuh sebagai seorang muslim dalam menyikapi wabah virus corona yang sedang mewabah saat ini:

    1. Senantiasa meminta perlindungan kepada Allah.

    Virus corona adalah makhluk sebagaimana makhluk-makhluk Allah lainnya, dan ia tidaklah bergerak kecuali atas perintah dan izin Allah ta’ala yang menciptakannya. Oleh karenanya, kita berlindung dari wabah ini kepada Allah sebelum kita berlindung kepada kemampuan diri kita sendiri atau kemampuan makhluk lainnya. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penjaga. Allah berfirman:

    (فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ)
    “Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan Dialah Maha Penyayang di antara para penyayang”. (QS Yusuf, Ayat 64).

    Berlindung kepada Allah ini bisa dilakukan dengan senantiasa membaca doa-doa pelindung yang bersumber dari Al-Qur’an seperti surat Al-Falaq dan surat An-Nas ataupun dari doa-doa yang bersumber dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti doa yang dianjurkan untuk dibaca di pagi dan petang hari:

    (بِسمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهَ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَمَاءِ وَهُوَ السَمِيعُ العَلِيم)
    “Dengan nama Allah yang tidak membahayakan dengan namaNya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan Ia lah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

    Doa ini berdasarkan sabda Nabi shallahu alaihi wasallam, bila diamalkan oleh seorang hamba di pagi dan petang hari masing-masing sebanyak tiga kali, maka niscaya tidak akan membahayakannya segala sesuatu apapun yang ada di atas muka bumi ini.

    2. Berikhtiar dengan melakukan pencegahan.

    Di samping berlindung kepada Allah, tentunya sebagai seorang manusia kita juga harus berikhtiar dengan melakukan usaha-usaha pencegahan agar virus ini tidak menular kepada diri kita atau kepada orang-orang yang kita sayangi. Ikhtiar ini bisa dilakukan dalam skala individu maupun skala berjamaah.

    Ikhtiar dalam skala individu dilakukan dengan mengikuti cara-cara yang dianjurkan oleh para ahli dalam bidang ini, seperti rutin menjaga kesehatan, rutin mencuci tangan, rutin memakan dari makanan-makanan yang baik, rutin memakai masker dikeramaian, serta menghindari keluar rumah dan berkumpul di tempat keramaian bila tidak diperlukan.

    Adapun ikhtiar dalam skala berjamaah, maka bisa dilakukan dengan cara melakukan pencegahan-pencegahan agar virus ini tidak merambah ke skala yang lebih luas lagi seperti melakukan isolasi kepada mereka-mereka yang terkena virus atau mereka yang tercurigai terkena virus. Dan ikhtiar ini hendaklah dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang. Hal ini berdasarkan makna hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi:

    (إذا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأرْضٍ، فلاَ تَقْدمُوا عَلَيْهِ، وإذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا، فَلا تخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ)
    “Apabila kalian mendengar tentangnya (wabah penyakit) di sebuah tempat, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, dan bila kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar daripadanya sebagai bentuk lari daripadanya”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    3. Bertawakkal kepada Allah.

    Setelah melakukan ikthtiar-ikhtiar yang ada, maka pada akhirnya semua kita serahkan kepada Allah. Kita tawakkalkan diri kita kepadaNya. Karena hidup dan mati kita sebagai seorang hamba semua berada di tanganNya. Allah berfirman:

    (قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ)
    “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam”
    . (QS Al-An’am, Ayat 162)

    Dan perlu kita ketahui bahwa seorang hamba akan tetap hidup bilamana memang ajalnya belum datang, bahkan bila virus corona ataupun virus lainnya yang lebih ganas daripada itu menjangkitinya, namun bila memang sudah ajalnya, jangankan virus corona atau yang lebih dari itu, bahkan digigit semut pun seseorang bisa mati jikalau memang ajalnya telah tiba.

    Ajal seseorang pasti datang, namun pertanyaannya adalah apakah yang telah kita persiapkan dari amalan saleh menyambut ajal tersebut? Semoga Allah menutup hidup kita dengan husnul khotimah. Aamiin yaAllah

  30. m ukhlishah afdhaliyah
    XI MIPA
    1. KITA HARUS MENJAGA KELUARGA KITA DARI API NERAKA DENGAN CARA MEMBEKLI MEREKA ILMU YANG BERMANFAAT SERTA MENGAJARKAN KETAATAN KEPADA ALLAH SEMATA DAN MENGAMALKAN AMALAN SHOLEH SERTA TIDAK MELAKUKAN KEMAKSIATAN deperti dalam suarah at tahrim ayat 6
    يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا وَّقُوۡدُهَا النَّاسُ وَالۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُوۡنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُوۡنَ مَا يُؤۡمَرُوۡنَ
    . Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan bangsa jin dan manusia agar senantiasa menyembah kepada ALLAH SEMATA . pada surah az-dzariyat 56-58
    وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku .
    مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
    Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.
    إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ
    Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh

    3. *maelupakan kematian
    * tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah
    * tidak pahan tentang ugensi ibadah
    4.عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)

    5.Al-Qur’an adalah wahyu Allah swt yang dirutunkan kepada Nabi saw. Kita tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, kecuali Allah swt. Semua umat manusia tidak ada yang abadi, untuk itulah untuk menjaga Al-Qur’an maka Al-Qur’an ini diwariskan kepada orang-orang terpilih. Orang-orang yang terpilih itu adalah umat Nabi Muhammad saw, seperti yang dinuklikan dari Ibnu ‘Abbas.
    Hal ini disebabkan karena Allah swt telah memuliakan umat Islam melebihi umat-umat yang lain. Kemuliaan itu tentunya tergantung pada faktor sejauh manakan ajaran yang telah dituntunkan oleh Allah swt dan Rasulnya dikerjakan oleh kita sebagai umat muslim. Ini merupakan (Tafsir Al Khazib Juz : V, hal : 248). Dalam surat ini juga dijelaskan tentang tingkat-tingkatan orang-orang yang beriman yang mengamalkan Al-Qur’an yaitu ada yang menganianya diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada juga yang terlebih dahulu berbuat kebaikan. Dan dibawah ini adalah penjelasannya :

    Dzalimun linafsih yaitu orang yang menzalimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri. Maksudnya adalah orang yang mengerjakan sebagian perbuatan yang wajib (menurut hukum agama) juga tidak meninggakan perbuatan-perbuatan yang dilarang atau diharamkan oleh Allah swt. Golongan di akhirat orang yang semacam ini akan dihisab dengan hisab yang berat dan dimasukkan kedalam neraka.
    Muqtashid yaitu golongan pertengahan atau orang-orang yang melaksanakan segala kewajiban-kewajiban agama-Nya, dan meninggalkan apa-apa saja yang telah dilarang oleh Allah swt, tetapi kadang-kadang ia tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang sunah atau masih mengerjakan sebagian kegiatan yang hukumnya makruh. Orang yang termasuk dalam golongan ini InsyaAllah besok di akhirat akan dihisab dengan hisab yang ringan.
    Sabiqun bil khairat artinya lebih dahulu megerjakan kebaikan, yaitu orang-orang yang selalu mengerjakan amalan yang hukumnya wajib dan sunah, dan juga meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah swt dan juga meninggalkan segala yang makruh dan sebagian hal-hal yang mubah untuk dikerjakan. Orang yang termasuk dalam golongan ini di akhirat InsyaAllah akan mendapatkan balasan yang baik yaitu surga.

    6. dalam pamdemi covic-19 ini banyak hal yang diperdebatkan massyarakat salah satunya adlah tidak adanya sholat jumat d mesjid menurut saya pada hal ini pandemi covid adalah virus yang berbahaya da dapat menyebar ke manusia , maka pendapat saya memperbolehkan meniadakam sholat jumat karena hal tersebut . sebagaimmana hadist riwayat imam al-bukhori bahwa: ibnu abbas berakata pada muazzin di hari hujan turun ” jika kamu telah membaca asyhadu anna muhammadan rasululullah maka janganlah mengucapkan hayya alashshalah ucapkanlah shalluu fi buyutikum .
    hadist tersebut memberikan keringanan bagi seseorang untuk tidak mengikuti shalat berjamaah atau sholat jumat karena hujan lebat sementara virus corona jauh lebih besar dibanding bahaya yang timbul karena keadaaan hujan lebat

    7.Dalam konteks ini, ulama ada yang berpendapat bahwa meluruskan dan merapatkan shaf dalam salat hukumnya wajib. Karena, dalam redaksi hadis tersebut disertai ancaman ‘Jika tidak, Allah akan membuat hati kalian berselisih’.

    Karena setiap perintah yang disertai ancaman hukuman, menunjukkan bahwa menjalankan perintah itu hukumnya wajib.

    Pendapat lain sebagaimana pernyataan yang diriwayatkan sahabat Nu’man bin Basyir RA tentang para sahabat Nabi yang menempelkan pundak ke pundak temannya, serta mata kaki ke mata kaki temannya sholat salat.

    Berdasarkan pernyataan sahabat Nu’man tersebut, Ulama Arab Saudi, Syekh Utsaimin berkata, “Menempelkan kaki dalam shaf bukan ibadah yang ditujukan secara mandiri. Sehingga, bila shaf sudah lurus dan tidak ada kerenggangan tanpa dengan menempelkan kaki, maka tujuan ibadah sudah tercapai”

    Dengan demikian, menempelkan kaki atau rapat dalam sholat hukumnya sunah (dianjurkan) berdasarkan hadis dari sahabat Nu’man bin Basyir RA.

    Adapula pendapat ulama yang menyebut, jika ada uzur atau situasi darurat yang sangat mendesak seperti darurat penyebaran COVID-19, maka makmum sholat boleh menjaga jarak satu sama lain.

    Dilansir Nu Online, Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, mengatakan “Jika mereka tertinggal (terpisah) dari shaf karena uzur seperti saat cuaca panas di Masjidil Haram, maka tidak (dianggap) makruh dan lalai sebagaimana zahir,

    Imam An-Nawawi juga berpendapat bahwa menerapkan jarak aman (social distancing) antarjamaah dalam kondisi darurat tidak membatalkan sholat berjamaah dan sholat Jumat. “Jika seorang masuk sementara jamaah sedang sholat, maka ia makruh untuk berdiri sendiri. Tetapi, jika ia menemukan celah atau tempat yang luas pada shaf tersebut, hendaknya ia mengisi celah tersebut. Tetapi, jika ia berdiri sendiri, maka sholatnya tetap sah,” (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin).

    Dalam kondisi pendemi virus Corona seperti saat ini, anjuran untuk tetap mencegah penularan virus wajib ditaati. Sebagaimana perintah Nabi Muhammad SAW agar menjauhi daerah yang terkena wabah penyakit. Wallahualam.

  31. Fadila ainil mutmainnah
    11 ipa

    1. Cara menghindarkan diri dan keluarga agar tidak masuk neraka yaitu senantiasa taat kepada allah swt. bertaqwa dan tawakal hanya kepada allah. Menjauhi segala larangannya dan melaksanakan segala perintahNya adalah salah satu bentuk taat hamba kepada Allah swt. Selain itu membekali keluarga dengan ilmu agama yang cukup dapat menjadi faktor pendorong untuk selalu melakukan hal yang baik. Ayat :

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    Arti: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia. Allah berfirman,

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

    Ayat di atas menunjukkan bahwa jin itu diperintah dan dilarang. Jin yang mentaati Allah, itulah yang Allah ridhai dan akan dimasukkan dalam surga. Sedangkan yang menentang dan bermaksiat pada-Nya, maka akan disiksa di neraka.

    3. -Bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Penyebab utama seseorang malas dalam beribadah adalah karena orang tersebut bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat. Salah satu bentuk murka Allah tersebut adalah dengan dilenyapkannya manisnya iman dan Allah tidak akan mengkaruniakan kepadanya kelezatan dalam ketaatan.

    -Penyebab orang malas untuk beribadah yang kedua adalah karena mereka melupakan urgensi ibadah. Di antara bentuk kelalaian seseorang karena ia lupa bahwa ia adalah seorang makhluk yang lemah. Padahal sebenarnya hanya Allah-lah yang membuat ia menjadi kuat dan bisa mengerjakan ibadah.

    -Melupakan kematian adalah salah satu penyebab seseorang malas melakukan ibadah. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak mengingat kematian agar lebih rajin dalam beribadah.

    -Penyebab lainnya seseorang malas melakukan ibadah adalah karena mereka tidak mengetahui besarnya pahala yang akan diperoleh karena suatu ibadah.

    -Alasan terakhir seseorang malas melakukan ibadah adalah karena ia berlebih-lebihan dalam melakukan suatu mubah. Yaitu dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan serta yang lainnya. Hal yang demikian ini membuatnya malas untuk melakukan ibadah dan lebih berkeinginan untuk istirahat dan tidur.

    4.
    . عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ”حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إذَا لَقِيْتــَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاك

    فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَك فَانْصَحْهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَ إِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذاَ ماَتَ

    فاتـْبَعْهُ”. (رَواهُ مُسلمٌ، بَابُ مِنْ حَقِّ الْمُسْلِمِ لِلْمُسْلِمِ رَدُّ السَّلَامِ برقم 2162)

    Artinya:
    Dari Abu Hurairah r a. berkata Bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam perkara: Apabila engkau berjumpa dengannya, sampaikanlah salam; apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya; apabila ia minta nasihat, berilah ia nasihat; apabila ia bersin dan mengucapkan “al-Hamdulillah”, ‘ maka jawablah dengan “Yarhamukallah”, apabila ia sakit, maka jenguklah; dan apabila ia mati, antarkanjenazahnya.” (HR. Muslim)

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:

    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.

    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.

    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah

    6. Seperti yang kita ketahui wabah covid-19 ini adalah virus yang penyebarannya sangat cepat. Salah satu pencegahan agar terputusnya rantai penyebaran covid ialah dengan menjaga jarak. Dengan demikian pemerintah menghimbau untuk beribadah di rumah saja. Hal ini juga disetujui beberapa ulama. Dari Surat Al Maidah ayat 32, Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan besarnya pahala menjaga nyawa manusia.

    وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

    Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

    Dengan ini dapat disimpulkan bahwa shalat di rumah saja selama pandemi ini adalah salah satu alternatif agar terhindarnya dari wabah covid-19 ini.

    7. Menurut saya berdasarkan pandangan para ulama Mazhab Syafi’i, sebagai amalan masyarakat rumpun Melayu, shalat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, mushala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan. Hal ini menurut Ustaz Alnof sering juga ditemukan pada kebanyakan jamaah di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. Mereka umumnya adalah jamaah yang masbuk dan shalat di halaman masjid, jalan-jalan menuju masjid, pelataran hotel dan mal yang menyambung ke halaman masjid.

    “Maka shalat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus corona dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah. Seperti pada hadis

    هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).

    Berdasarkan penjelasan ini, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  32. 1)lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta senantiasa untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ
    أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya :
    “Wahai orang² yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat² yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
    2).l tetujuan allaah swt menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribada kepadanya sebagaimana di dalam firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.
    Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah (kepada Ku)”. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
    3).adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya
    4).
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)
    5).Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6).menurut saya itu sah-sah saja karena ini juga menyangkut kepentingan bersama dan tidak ada musibah apapun yang menimpa kita kecuali apa yang sudah allah swt taqdirkan,jadi dimana pun dan apapun yang terjadi pasti allah swt memahami kita karena ini sudah menjadi kehendaknya.
    قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى
    اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
      Artinya: Katakanlah Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS at-Taubah : 51)
    7).
    ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  33. Alyah Ayswarahayu
    XI.IPS

    1)lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta senantiasa untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ
    أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya :
    “Wahai orang² yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat² yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
    2).l tetujuan allaah swt menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribada kepadanya sebagaimana di dalam firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.
    Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah (kepada Ku)”. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
    3).adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya
    4).
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)
    5).Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6).menurut saya itu sah-sah saja karena ini juga menyangkut kepentingan bersama dan tidak ada musibah apapun yang menimpa kita kecuali apa yang sudah allah swt taqdirkan,jadi dimana pun dan apapun yang terjadi pasti allah swt memahami kita karena ini sudah menjadi kehendaknya.
    قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى
    اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
      Artinya: Katakanlah Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS at-Taubah : 51)
    7).
    ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  34. Alyah Ayswarahayu
    XI.IPS
    1• lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta senantiasa untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ
    أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    Artinya :
    “Wahai orang² yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat² yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

    2• tetujuan allaah swt menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribada kepadanya sebagaimana di dalam firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.
    Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah (kepada Ku)”. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)

    3• adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya

    4•
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)

    5• Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6• menurut saya itu sah-sah saja karena ini juga menyangkut kepentingan bersama dan tidak ada musibah apapun yang menimpa kita kecuali apa yang sudah allah swt taqdirkan,jadi dimana pun dan apapun yang terjadi pasti allah swt memahami kita karena ini sudah menjadi kehendaknya.
    قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى
    اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
      Artinya: Katakanlah Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS at-Taubah : 51)

    7• ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  35. Nama:Nurul Fatmah Azzahra
    Kelas:XI IPS

    1)lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta senantiasa untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ
    أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya :
    “Wahai orang² yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat² yang kasar & keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
    2).l tetujuan allaah swt menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribada kepadanya sebagaimana di dalam firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ.
    Artinya: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah (kepada Ku)”. (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
    3).adanya godaan syetan yang menjadikan manusia malas dan enggan sholat, serta kurang kuatnya iman dan ilmu agamanya
    4).
    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟. قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ. (رواه مسلم)

    Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Hak seorang muslim kepada muslim lainnya ada enam.” Dikatakan, ‘Apa saja wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Apabila berjumpa dengannya, maka ucapkan salam, apabila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, apabila ia meminta nasihatmu, maka nasihatilah, apabila ia bersin lalu ia memuji Allah, maka doakanlah, apabila ia sakit, maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia, maka ikutlah ke pemakamannya.” (H.R. Muslim)
    5).Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.
    6).menurut saya itu sah-sah saja karena ini juga menyangkut kepentingan bersama dan tidak ada musibah apapun yang menimpa kita kecuali apa yang sudah allah swt taqdirkan,jadi dimana pun dan apapun yang terjadi pasti allah swt memahami kita karena ini sudah menjadi kehendaknya.
    قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى
    اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
      Artinya: Katakanlah Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS at-Taubah : 51)
    7).
    ‎هذا الحديث يدل أن إقامة الصفوف سنة مندوب إليها ، وليس بفرض ؛ لأنه لو كان فرضًا لم يقل ، عليه السلام ، فإن إقامة الصفوف من حسن الصلاة ؛ لأن حسن الشىء زيادة على تمامه ، وذلك زيادة على الوجوب

    “Hadis ini menunjukkan bahwa lurusnya shaf adalah sunnah (mandub), bukan fardhu. Sebab kalau seandainya fardhu, niscaya Rasulullah SAW tidak akan mengatakan lurusnya shaf adalah “termasuk bagusnya sholat” (min husni ash sholat). Karena bagusnya sesuatu itu berarti tambahan atas kesempurnaan sesuatu, yaitu suatu tambahan atas suatu kewajiban…” (Ibnu Bathal, Syarah Shahîh Al Bukhârî, 2/347).
    Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  36. nama:eka melani majid
    kelas:XI ipa

    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka ialah dengan taat kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kita dari api neraka. Selain itu, untuk terhindar dari api neraka yang harus kita lakukan antara lain adalah membekali keluarga dengan ilmu, membimbing keluarga agar memiliki akhlak yang mulia, mengajak keluarga agar senantiasa taat dan terhindar dari perbuatan maksiat.

    Penjelasan ini terkandung dalam Qs. At-Tahrim ayat 6
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Adz Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Yang menjadi keenganan manusia dalam melakukan sholat ialah karena bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat, tidak paham tentang urgensi ibadah, melupakan kematian, tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah serta godaan syaitan dan lemahnya iman.

    4. Hadis tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri

    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa

    2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan

    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu

    3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6.karna pandemi virus koroana ini sangat berbahaya, agama pasti tau mana yang baik dan tidak untuk masyarakatnya, dan sudah jelas itu sunnah, dilakukan mendapat pahala dan tidak dilalukan tidak mendapat dosa. Karena itu, agama pasti mempunyai pendapat menyangkut hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadist :
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa karena ketika melaksanakan sholat jumat berkumpul orang orang yang bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7. Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :

    وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها

    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).

  37. Muthmainnah Zainal
    XI IPA
    Al-Qur’an &Hadist

    1. Surah at tahrim
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    Yg dapat di lakukan adalah :
    1.bekali keluarga dengan ilmu
    2.membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3.mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat

    2. Tujuan utama penciptaan manusia dan jin
    1. Mengilmui Tentang Allah
    Allah Ta’ala berfirman
    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
    “Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).
    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    3. * Melupakan kematian
    * Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah
    * Tidak pahan tentang ugensi ibadah.

    4. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    *Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    *Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    *Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6. Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    ” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7. Menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690)
    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  38. Muthmainnah Zainal
    XI IPA
    Al-Qur’an &Hadist

    1). Surah at tahrim
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ
    وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    Yg dapat di lakukan adalah :
    1. Bekali keluarga dengan ilmu
    2. Membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3. Mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat

    2). Tujuan utama penciptaan manusia dan jin
    1. Mengilmui Tentang Allah
    Allah Ta’ala berfirman
    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
    “Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).
    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    3). * Melupakan kematian
    * Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah
    * Tidak pahan tentang ugensi ibadah.

    4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

    5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    *Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    *Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    *Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6). Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    ” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7). Menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  39. Muthmainnah Zainal
    XI IPA . Al-Qur’an &Hadist

    1). Surah at tahrim
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ
    وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
    Yg dapat di lakukan adalah :
    1. Bekali keluarga dengan ilmu
    2. Membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3. Mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat

    2). Tujuan utama penciptaan manusia dan jin
    1. Mengilmui Tentang Allah
    Allah Ta’ala berfirman
    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
    “Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).
    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    3). * Melupakan kematian
    * Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah
    * Tidak pahan tentang ugensi ibadah.

    4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

    5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    *Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    *Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    *Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6). Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    ” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7). Menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  40. Muthmainnah Zainal
    XI IPA . Al-Qur’an &Hadist

    1). Yg dapat di lakukan adalah :

    1. Bekali keluarga dengan ilmu
    2. Membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3. Mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat.

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ
    وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2). Tujuan utama penciptaan manusia dan jin.
    1. Mengilmui Tentang Allah
    Allah Ta’ala berfirman
    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

    “Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).
    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    3). * Melupakan kematian
    * Tidak paham tentang ugensi ibadah
    * Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah

    4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

    5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    *Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    *Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    *Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6). Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19
    ” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7). Menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat
    Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib
    Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.
    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih (lebih kuat), meluruskan dan merapatkan shaf dalam sholat berjamaah itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

  41. Muthmainnah Zainal
    XI IPA . Al-Qur’an &Hadist

    1). Yg dapat di lakukan adalah :

    1. Bekali keluarga dengan ilmu
    2. Membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia
    3. Mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat.

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ
    وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2). Tujuan utama penciptaan manusia dan jin.
    1. Mengilmui Tentang Allah
    Allah Ta’ala berfirman
    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

    “Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).
    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    3). * Melupakan kematian
    * Tidak paham tentang ugensi ibadah
    * Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah

    4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”
    (1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya;
    (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya;
    (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya;
    (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’);
    (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan
    (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

    5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    *Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram.
    *Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya.
    *Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6). Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh2 saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yg tdk terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yg awalnya sehat2 saja menjadi orang yg terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19.
    ” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang2 berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7). Menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat:
    *Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.
    *Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.

    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih atau lebih kuat, meluruskan serta merapatkan shaf dalam sholat berjamaah hukumnya ialah sunnah, tidak wajib.

  42. Muthmainnah Zainal
    XI IPA . Al-Qur’an &Hadist

    1). Yang dapat di lakukan adalah :

    1. Bekali keluarga dengan ilmu,
    2. Membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia dan
    3. Mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat.

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ
    وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2). Tujuan utama penciptaan manusia dan jin.
    1. Mengilmui Tentang Allah
    Allah Ta’ala berfirman:

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

    “Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).

    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    3). * Melupakan kematian
    * Tidak paham tentang ugensi ibadah
    * Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah

    4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”
    (1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya;
    (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya;
    (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya;
    (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’);
    (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan
    (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

    5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    * Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram,
    * Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya dan
    * Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6). Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh boleh saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yang tidak terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yang awalnya sehat sehat saja menjadi orang yang terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19.
    ” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang orang berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7). Menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat:
    *Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.
    *Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.

    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih atau lebih kuat, meluruskan serta merapatkan shaf dalam sholat berjamaah hukumnya ialah sunnah, tidak wajib.

  43. Muthmainnah Zainal
    XI IPA . Al-Qur’an &Hadist

    1). Yang dapat di lakukan adalah :
    1. Bekali keluarga dengan ilmu,
    2. Membimbing keluarga menjadi pribadi yg berakhlak mulia dan
    3. Mengajak keluarga selalu taat pada Allah dan jauh dari maksiat.

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ
    وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2). Tujuan utama penciptaan manusia dan jin:
    1. Mengilmui Tentang Allah
    Allah Ta’ala berfirman:

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

    “Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).

    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    3). * Melupakan kematian
    * Tidak paham tentang ugensi ibadah
    * Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah

    4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”
    (1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya;
    (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya;
    (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya;
    (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’);
    (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan
    (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)
    [HR. Muslim, no. 2162].

    5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    * Pertama: Golongan yang menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram,
    * Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya dan
    * Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah.

    6). Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh boleh saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yang tidak terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yang awalnya sehat sehat saja menjadi orang yang terinfeksi virus
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19.
    ” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang orang berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7). Menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat:
    *Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.
    *Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.

    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih atau lebih kuat, meluruskan serta merapatkan shaf dalam sholat berjamaah hukumnya ialah sunnah, tidak wajib.

  44. Muthmainnah Zainal
    XI IPA . Al-Qur’an &Hadist

    1). Yang dapat dilakukan ialah:
    1. Bekali keluarga dengan ilmu,
    2. Membimbing keluarga menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan
    3. Mengajak keluarga untuk selalu taat kepada Allah SWT dan jauh dari maksiat.

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ
    وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

    Artinya:
    Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2). Tujuan utama penciptaan manusia dan jin:
    1. Mengilmui tentang Allah SWT
    Allah SWT berfirman:

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

    “ Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).

    Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yg terluput dari ilmu & pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    3). * Mepupakan kematian,
    * Tidak paham tentang ugensi ibadah dan
    * Tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah.

    4). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”
    (1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya;
    (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya;
    (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya;
    (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’);
    (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan
    (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim).
    [HR. Muslim, no. 2162].

    5). Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    * Pertama: Golongan yg menzalimi diri sendiri, meninggalkan sebagian yang wajib dan meninggalkan sebagian yang haram,
    * Kedua: Golongan yang terkadang mengerjakan agama dan sekali-kali pernah meninggalkannya dan
    * Ketiga: Golongan yang dengan izin Allah mendahului orang lain dalam segala macam kebajikan, menunaikan segala kewajiban, segala yang sunnat, serta meninggalkan segala yang haram, segala yang makhruh, serta sebagian yang mubah. 😉

    6). Menurut saya pelarangan sholat jumat di masjid pada masa pandemi covid – 19 boleh boleh saja karena di takutkan akan menyebarkan virus kepada orang yang tidak terinfeksi dengan begitu bisa jadi kita mendzolimi orang lain yang awalnya sehat sehat saja menjadi orang yang terinfeksi virus.
    Maka di lakukan pelarangan itu untuk memutuskan rantai penyebaran virus COVID -19.
    ” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa ketika di laksanakan sholat jumat orang orang berkumpul sehingga bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.
    “3

    7). Menurut saya dalam shaf shalat ini ada 2 pendapat:
    *Pertama, pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah (mandûb), tidak wajib.
    *Kedua, pendapat sebagian ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya wajib.

    سووا صفوفكم، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

    “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf itu termasuk ke dalam tegaknya sholat.” (HR Bukhari, no. 690).

    Kesimpulannya, pertama, pendapat yang rajih atau lebih kuat, meluruskan serta merapatkan shaf dalam sholat berjamaah hukumnya ialah sunnah, tidak wajib. *>*

  45. Aisyah saleh
    XI(IPS)

    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka ialah dengan taat kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kita dari api neraka. Selain itu, untuk terhindar dari api neraka yang harus kita lakukan antara lain adalah membekali keluarga dengan ilmu, membimbing keluarga agar memiliki akhlak yang mulia, mengajak keluarga agar senantiasa taat dan terhindar dari perbuatan maksiat.

    Penjelasan ini terkandung dalam Qs. At-Tahrim ayat 6
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Adz Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Yang menjadi keenganan manusia dalam melakukan sholat ialah karena bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat, tidak paham tentang urgensi ibadah, melupakan kematian, tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah serta godaan syaitan dan lemahnya iman.

    4. Hadis tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri

    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa

    2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan

    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu

    3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6. Menurut saya, pelarangan sholat jumat di masjid selama pandemi ini diperbolehkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona karna dapat membahayakan jiwa manusia. Karena itu, agama pasti mempunyai pendapat menyangkut hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadist :
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa karena ketika melaksanakan sholat jumat berkumpul orang orang yang bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7. Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :

    وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها

    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).

    Hanya saja, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

    Adapun ketika ada ancaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maka hukum meluruskan dan merapatkan shaf secara syar’i adalah boleh, baik bagi jumhur ulama yang mensunnahkan maupun bagi sebagian ulama yang mewajibkan.

  46. Aisyah saleh
    XI(IPS)

    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka ialah dengan taat kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kita dari api neraka. Selain itu, untuk terhindar dari api neraka yang harus kita lakukan antara lain adalah membekali keluarga dengan ilmu, membimbing keluarga agar memiliki akhlak yang mulia, mengajak keluarga agar senantiasa taat dan terhindar dari perbuatan maksiat.

    Penjelasan ini terkandung dalam Qs. At-Tahrim ayat 6
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Adz Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Yang menjadi keenganan manusia dalam melakukan sholat ialah karena bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat, tidak paham tentang urgensi ibadah, melupakan kematian, tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah serta godaan syaitan dan lemahnya iman.

    4. Hadis tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri

    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa

    2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan

    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu

    3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6. Menurut saya, pelarangan sholat jumat di masjid selama pandemi ini diperbolehkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona karna dapat membahayakan jiwa manusia. Karena itu, agama pasti mempunyai pendapat menyangkut hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadist :
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa karena ketika melaksanakan sholat jumat berkumpul orang orang yang bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7. Berdasarkan penjelasan ini, kami lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :

    وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها

    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).

    Hanya saja, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

    Adapun ketika ada ancaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maka hukum meluruskan dan merapatkan shaf secara syar’i adalah boleh, baik bagi jumhur ulama yang mensunnahkan maupun bagi sebagian ulama yang mewajibkan.

  47. 1.a. Bekali keluarga dengan ilmu
    b. Membimbing keluarga menjadi pribadi yang berakhlak mulia
    c.mengajak keluarga selalu taat kepada allah
    d. Menjauhkan keluarga dari berbuat maksiat
    Ayat alqur’an dan terjemahannya mengenai menjauhkan diri dari api neraka
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
    (QS. AT-TAHRIM AYAT 6)

    2.TUJUANNYA:sebagai penyebah semata
    sebagaimana dalam (QS.adz-dzariyat ayat:56-58)
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ﴿٥٧﴾ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴿٥٨
    Artinya:56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
    57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.
    58. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

    3.a.bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat
    b. Tidak pernah pahamtentang urgensi ibadah
    c. Melupakan kematian
    d. Tidak tahu besarnya suatu pahala ibadah
    e. Berlebih-lebihan dengan yang mubah

    4عن ا بي ھرير ة رضي الله عنه قل ان ر سول الله قال حق المسلم ست قيل ماھن يارسول الله قل ادا لقشه فسلم عليه واذار عاك فا جبه واذا اشتصحك فانصح له واذا عطسر فعمر الله فسمته واذمرض فعده واذاھان فاتبعه

    5.-golongan yang menzalimi diri sendiri
    -golongan yang menghentikan agama
    -golongan yang mengizinkan allah.
    mendahului orang lain dalam segala hal
    kebijakan

    6.saya setuju dengan pemerintah sebab pemerintah memgambil kebijakan untuk kemaslatan umum yang tidak merugikannkita malah menguntungkan
    Sebagaimana pula dalam (QS. An-nisa:59)
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”maka kita harus mentaati pemerintah sebagaimana dalam surah tersebut

    7.boleh sebab kita sekarang dalam masa wabah dengan adanya social distancing kita dapat beribah sekaligus melepas rantai virus tersebut dan itu juga salah satu kebijakan pemerintah yang tidak merugikan kita dan ayatnya terdapat pada (QS. AN-NISA AYAT:59) Pada no6 dimana kita harus mentaati pemerintah selama itu benar

  48. 1.a. Bekali keluarga dengan ilmu
    b. Membimbing keluarga menjadi pribadi yang berakhlak mulia
    c.mengajak keluarga selalu taat kepada allah
    d. Menjauhkan keluarga dari berbuat maksiat
    Ayat alqur’an dan terjemahannya mengenai menjauhkan diri dari api neraka
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
    (QS. AT-TAHRIM AYAT 6)

    2.TUJUANNYA:sebagai penyebah semata
    sebagaimana dalam (QS.adz-dzariyat ayat:56-58)
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ﴿٥٧﴾ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴿٥٨
    Artinya:56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
    57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.
    58. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

    3.a.bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat
    b. Tidak pernah pahamtentang urgensi ibadah
    c. Melupakan kematian
    d. Tidak tahu besarnya suatu pahala ibadah
    e. Berlebih-lebihan dengan yang mubah

    4عن ا بي ھرير ة رضي الله عنه قل ان ر سول الله قال حق المسلم ست قيل ماھن يارسول الله قل ادا لقشه فسلم عليه واذار عاك فا جبه واذا اشتصحك فانصح له واذا عطسر فعمر الله فسمته واذمرض فعده واذاھان فاتبعه

    5.-golongan yang menzalimi diri sendiri
    -golongan yang menghentikan agama
    -golongan yang mengizinkan allah.
    mendahului orang lain dalam segala hal
    kebijakan

    6.saya setuju dengan pemerintah sebab pemerintah memgambil kebijakan untuk kemaslatan umum yang tidak merugikannkita malah menguntungkan
    Sebagaimana pula dalam (QS. An-nisa:59)
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”maka kita harus mentaati pemerintah sebagaimana dalam surah tersebut

    7.boleh sebab kita sekarang dalam masa wabah dengan adanya social distancing kita dapat beribah sekaligus melepas rantai virus tersebut dan itu juga salah satu kebijakan pemerintah yang tidak merugikan kita dan ayatnya terdapat pada (QS. AN-NISA AYAT:59) Pada no6 dimana kita harus mentaati pemerintah selama itu benar

  49. 1.a. Bekali keluarga dengan ilmu
    b. Membimbing keluarga menjadi pribadi
    yang berakhlak mulia
    c.mengajak keluarga selalu taat kepada
    allah
    d. Menjauhkan keluarga dari berbuat
    maksiat
    Ayat alqur’an dan terjemahannya mengenai menjauhkan diri dari api neraka
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
    (QS. AT-TAHRIM AYAT 6)

    2.TUJUANNYA:sebagai penyebah semata
    sebagaimana dalam (QS.adz-dzariyat ayat:56-58)
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ﴿٥٧﴾ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴿٥٨
    Artinya:56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
    57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.
    58. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

    3.a.bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat
    b. Tidak pernah pahamtentang urgensi ibadah
    c. Melupakan kematian
    d. Tidak tahu besarnya suatu pahala ibadah
    e. Berlebih-lebihan dengan yang mubah

    4عن ا بي ھرير ة رضي الله عنه قل ان ر سول الله قال حق المسلم ست قيل ماھن يارسول الله قل ادا لقشه فسلم عليه واذار عاك فا جبه واذا اشتصحك فانصح له واذا عطسر فعمر الله فسمته واذمرض فعده واذاھان فاتبعه

    5.-golongan yang menzalimi diri sendiri
    -golongan yang menghentikan agama
    -golongan yang mengizinkan allah.
    mendahului orang lain dalam segala hal
    kebijakan

    6.saya setuju dengan pemerintah sebab pemerintah memgambil kebijakan untuk kemaslatan umum yang tidak merugikannkita malah menguntungkan
    Sebagaimana pula dalam (QS. An-nisa:59)
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”maka kita harus mentaati pemerintah sebagaimana dalam surah tersebut

    7.boleh sebab kita sekarang dalam masa wabah dengan adanya social distancing kita dapat beribah sekaligus melepas rantai virus tersebut dan itu juga salah satu kebijakan pemerintah yang tidak merugikan kita dan ayatnya terdapat pada (QS. AN-NISA AYAT:59) Pada no6 dimana kita harus mentaati pemerintah selama itu benar

  50. 1.a. Bekali keluarga dengan ilmu
    b. Membimbing keluarga menjadi pribadi
    yang berakhlak mulia
    c.mengajak keluarga selalu taat kepada
    allah
    d. Menjauhkan keluarga dari berbuat
    maksiat
    Ayat alqur’an dan terjemahannya mengenai menjauhkan diri dari api neraka
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya
    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
    (QS. AT-TAHRIM AYAT 6)

    2.TUJUANNYA:sebagai penyebah semata
    sebagaimana dalam (QS.adz-dzariyat ayat:56-58)
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ﴿٥٧﴾ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴿٥٨
    Artinya:56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
    57. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.
    58. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

    3.a.bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat
    b. Tidak pernah pahamtentang urgensi ibadah
    c. Melupakan kematian
    d. Tidak tahu besarnya suatu pahala ibadah
    e. Berlebih-lebihan dengan yang mubah

    4عن ا بي ھرير ة رضي الله عنه قل ان ر سول الله قال حق المسلم ست قيل ماھن يارسول الله قل ادا لقشه فسلم عليه واذار عاك فا جبه واذا اشتصحك فانصح له واذا عطسر فعمر الله فسمته واذمرض فعده واذاھان فاتبعه

    5.-golongan yang menzalimi diri sendiri
    -golongan yang menghentikan agama
    -golongan yang mengizinkan allah.
    mendahului orang lain dalam segala hal
    kebijakan

    6.saya setuju dengan pemerintah sebab pemerintah memgambil kebijakan untuk kemaslatan umum yang tidak merugikannkita malah menguntungkan
    Sebagaimana pula dalam (QS. An-nisa:59)
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”maka kita harus mentaati pemerintah sebagaimana dalam surah tersebut

    7.boleh sebab kita sekarang dalam masa wabah dengan adanya social distancing kita dapat beribah sekaligus melepas rantai virus tersebut dan itu juga salah satu kebijakan pemerintah yang tidak merugikan kita dan ayatnya terdapat pada (QS. AN-NISA AYAT:59) Pada no6 dimana kita harus mentaati pemerintah selama itu benar

  51. Andi Berlian XI IPA ALQURAN HADIST
    1. Cara menjaga diri dan keluarga agar tidak masuk neraka ialah dengan taat kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kita dari api neraka. Selain itu, untuk terhindar dari api neraka yang harus kita lakukan antara lain adalah membekali keluarga dengan ilmu, membimbing keluarga agar memiliki akhlak yang mulia, mengajak keluarga agar senantiasa taat dan terhindar dari perbuatan maksiat.

    Penjelasan ini terkandung dalam Qs. At-Tahrim ayat 6
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    2. Allah menciptakan jin dengan tujuan yang sama seperti Allah menciptakan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Qs. Adz Dzariyaat ayat 56
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    Artinya : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

    3. Yang menjadi keenganan manusia dalam melakukan sholat ialah karena bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat, tidak paham tentang urgensi ibadah, melupakan kematian, tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah dan berlebih-lebihan dalam hal yang mubah serta godaan syaitan dan lemahnya iman.

    4. Hadis tentang kewajiban orang muslim terhadap sesama muslim

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]

    5. Allah telah membagikan umat atas 3 golongan:
    1) فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ → golongan yang menganiayah diri sendiri

    golongan yang lebih banyak berbuat dosa dari pada berbuat kebaikan, Zhalimu Linafsih artinya mendholimi diri sendiri atau menganiaya diri sendiri, maksud dari menganiaya disini bukan memukul diri sendiri namun berbuat dosa

    2) وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ → golongan pertengahan

    golongan yang dosa dan kebaikannya tengah” atau sama (seimbang), golongan ini kelak diahirat akan mengalami yaumul hisab terlebih dahulu

    3) وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ → golongan yang lebih mengutamakan berbuat kebaikan dibandingkan dengan berbuat dosa, sehingga golongan ini lebih banyak kebaikannya

    6. Menurut saya, pelarangan sholat jumat di masjid selama pandemi ini diperbolehkan dan harus kita patuhi untuk memutus rantai penyebaran virus corona karna dapat membahayakan jiwa manusia. Karena itu, agama pasti mempunyai pendapat menyangkut hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadist :
    “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. Al-Bukhari).
    Dari hadist diatas menjelaskan bahwa karena ketika melaksanakan sholat jumat berkumpul orang orang yang bisa memberi penularan terhadap orang lain, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam sholat jumat.

    7. Berdasarkan penjelasan ini, saya lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama, bahwa meluruskan dan merapatkan shaf itu hukumnya sunnah, tidak wajib.

    Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan :

    وقد أجمع العلماء على استحباب تعديل الصفوف والتراص فيها

    “Para ulama sungguh telah sepakat (ijmâ’) bahwa sunnah hukumnya meluruskan dan merapatkan shaf.” (Imam Nawawi, Syarah Shahîh Muslim, 5/103).

    Hanya saja, perlu dipahami bahwa penjelasan hukum meluruskan dan merapatkan shaf di atas, adalah jika kondisi kita normal-normal saja, yakni tidak ada pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

    Adapun ketika ada ancaman pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maka hukum meluruskan dan merapatkan shaf secara syar’i adalah boleh, baik bagi jumhur ulama yang mensunnahkan maupun bagi sebagian ulama yang mewajibkan. Tetapi ada baiknya jika kita beribadah di rumah saja dengan keluarga, jikapun harus keluar rumah, hendaklah memtuhi protokol kesehatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you