Sejarah Singkat Dinasti Ayyubiyah

Perang Salib. (foto: ist/palontaraq)

Perang Salib. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Tulisan sebelumnya: Mengapa mesti Belajar Sejarah Kebudayaan Islam?

PALONTARAQ.ID – Kalau menyebut Dinasti Ayyubiyah, barangkali tak banyak pelajar dan mahasiswa muslim yang mengenalnya. Namun ketika disebut Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193), ingatan kita langsung menangkap sosok Panglima Perang Muslim yang berhasil merebut Kota Yerusalem dalam Perang Salib. Banyak yang mengenalnya, meski hanya lewat film.

Perang Salib itu tak hanya dikenal dalam Sejarah Islam, tetapi juga dalam Sejarah Peradaban Barat. Perang Salib adalah sebutan bagi Perang-perang di kawasan timur Laut Tengah yang bertujuan merebut kembali Tanah Suci dari kekuasaan Islam, namun sesungguhnya istilah “Perang Salib” juga digunakan sebagai sebutan bagi Perang-perang yang direstui Gereja di kawasan-kawasan lain.

Pendiri Dinasti Ayyubiyah, Salahuddin al-Ayyubi adalah sosok begitu memesona. Ia dikenal sebagai pemimpin yang dihormati kawan dan dikagumi lawan. Didirikan pada akhir 1169 M, Dinasti Ayyubiyah sejak awal hingga akhir, adalah dinasti penakluk dalam jihad.

Salahuddin al-Ayyubi berasal dari keturunan Kurdi dari Azerbaijan yang melakukan migrasi ke Irak. Ia lahir di Tikrit 532 H/1137 M dan meninggal 589 H/1193 M. Ayahnya Najmuddin Ayyub adalah Gubernur Tikrit yang kemudian pindah ke Moshul, lalu ke Damaskus.

Naiknya nama Salahuddin al-Ayyubi sebagai Panglima Perang dan kemudian menjadi penguasa Dinasti yang dibentuknya sendiri tak terlepas dari sejarah berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah. Berawal dari konflik internal antara khalifah Fatimiyah yang terakhir, al-Adid, dengan menterinya Sawar yang berhasil menjatuhkan kekuasaan al-Adid.

Tindakan ini membawa kebencian pihak lain yang juga mengincar kedudukan wazir. Dirgham bersama pendukungnya berhasil menjatuhkan Sawar. Dirgham menjadi wazir dan Sawar melarikan diri ke Syiria (557 H/1163 M).

Kepada Nuruddin Zangi, penguasa Saljuk di Syiria pada waktu itu, Sawar menawarkan kerjasama untuk merebut kedudukannya kembali. Ia berjanji jika usahanya berhasil, ia akan membayar upeti dan membagi hasil. Nuruddin kemudian memerintahkan panglima perangnya, Asaduddin Syirkuh untuk berangkat ke Mesir dan merebut kekuasaan Dirgham.

Dengan bantuan ini Sawar berhasil menjadi wazir. Setelah kedudukannya aman, ia berusaha menghianati perjanjiannya dengan Nuruddin dan mengadakan konspirasi baru dengan Meric dalam upaya mengusir Asaduddin Syirkuh dari Mesir dengan janji yang sama. Usahanya pun berhasil mengusir Syirkuh. Tindakan Sawar inilah yang membawa kehancuran bagi Dinasti Fatimiyah.

Kedatangan tentara salib menjarah Mesir turut mempercepat kehancuran Dinasti Fatimiyah. Nuruddin segera mengirim tentaranya ke Mesir dibawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin.

Pada akhirnya, terjadilah Perang untuk untuk membebaskan Mesir dari Pasukan Salib. Pada 564 H/1169 M, Asaduddin Syirkuh dan pasukannya dapat mengalahkan tentara Salib sekaligus dapat menguasai Mesir.

Asaduddin Syirkuh kemudian diangkat menjadi wazir, namun hanya menjabat selama dua bulan karena wafat. Jabatannya digantikan oleh keponakannya, tak lain adalah Salahuddin al-Ayyubi. Dengan demikian, ia menjadi menteri untuk Khalifah al-Adid yang menganut Syiah dan dan wakil dari Nuruddin Mahmud yang beraliran Sunni. (Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar Media, 2013, hlm. 295-296)

Salahuddin al-Ayyubi sebenarnya mulai menguasai Mesir pada tahun 564 H/1169 M, akan tetapi baru dapat menghapuskan kekuasaan Daulah Fatimiyah pada tahun 567 H/1171 M. Dalam masa tiga tahun itu, ia telah menjadi penguasa penuh, namun tetap tunduk kepada Nuruddin Zangi dan tetap mengakui kekhalifahan Daulah Fatimiyah.

Salahuddin al-Ayyubi memiliki dua ambisi besar dalam hidupnya, yaitu menggantikan Islam Syiah di Mesir dengan Sunni, serta memerangi Orang-orang Franka dalam “The Holy War”. (Philip K. Hitti, History Of The Arabs, Jakarta: 2008: 824).

Keberhasilannya Salahuddin al-Ayyubi dalam mendirikan Dinastinya sendiri, “Al-Ayyubiyah” tidak terlepas dari peran Dinasti Zangkiyah yang telah mendidik Salahuddin sampai menjadi seorang tokoh pejuang panji Islam di Timur tengah.

Sejak pemerintahan Salahuddin al-Ayyubi sampai penguasa Terakhirnya, Turansyah adalah Sultan-sultan yang sangat berperan mematahkan gempuran musuh dalam perang Salib. Andai saja tidak ada Dinasti Ayyubiyah yang menghalau gempuran Kristen-Eropa, Islam pasti sudah tercerabut dari bumi Syam, Jazirah, Mesir dan Afrika Utara.

Di masa keemasannya, Dinasti Ayyubiyah ini menguasai wilayah Mesir, Damaskus, Aleppo, Diyarbakr, serta Yaman. Para penguasa Dinasti Ayyubiyah memiliki perhatian yang sangat besar dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Tak heran jika seluruh kota dan daerah Islam dalam wilayah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah menjadi pusat intelektual. Beragam jenis madrasah dan perguruan tinggi dibangun, tak hanya sekadar untuk membangkitkan dunia pendidikan, tetapi juga memopulerkan pengetahuan tentang mazhab Sunni.

Ilustrasi-Salahuddin al-Ayyubi. (foto: ist/palontaraq)

Ilustrasi-Salahuddin al-Ayyubi. (foto: ist/palontaraq)

Pembebasan Damaskus

Wafatnya Nuruddin, menaikkan putranya yang masih belia ke puncak kekuasaan, Sultan Ismail Malik Syah. Periode ini disebut Periode Orang-orang Syiria (1174-1186). Lemahnya kepemimpinan Sultan Ismail Malik Syah membuat amir-amirnya saling berebut pengaruh yang menyebabkan timbulnya krisis politik internal.

Kondisi demikian ini memudahkan Pasukan Salib menyerang Damaskus dan menundukkannya. Setelah beberapa lama tampillah Salahuddin al-Ayyubi berjuang membebaskan Damaskus dari pendudukan Pasukan Salib.

Lantaran hasutan Gumusytag, sang sultan belia Malik Syah menaruh kemarahan terhadap sikap Salahuddin ini sehingga menimbulkan konflik antara keduanya.

Sultan Ismail Malik Syah menghasut masyarakat Alleppo berperang melawan Salahuddin, namun kekuatan perang Sulyan Ismail Malik Syah di Alleppo dikalahkan oleh Pasukan Salahuddin.

Merasa tidak ada pilihan lain, Sultan Ismail Malik Syah meminta bantuan Pasukan Salib. Semenjak kemenangan melawan Pasukan Salib di Alleppo ini, terbukalah jalan bagi tugas dan perjuangan Salahuddin di Masa-masa mendatang sehingga ia berhasil mencapai kedudukan Sultan dan mendirikan Dinasti sendiri. Semenjak tahun 578 H/1182 M, Kesultanan Saljuk di pusat mengakui kedudukan Salahuddin sebagai Sultan.

Ilustrasi-Salahuddin al-Ayyubi. (foto: ist/palontaraq)

Ilustrasi-Salauddin al-Ayyubi membebaskan Yerussalem  (foto: ist/palontaraq)

Membebaskan Yerussalem

Pada Sultan yang pertama sekaligus pendiri dinasti, tantangan yang dihadapi Salahuddin pasca menjadi Sultan adalah memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem, yang mana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan Salib-Kristen.

Setelah mendekati kota ini, Salahuddin al-Ayyubi segera menyampaikan perintah agar seluruh pasukan Salib di Yerussalem menyerah. Perintah Salahuddin al-Ayyubi sama sekali tidak dihiraukan, sehingga Salahuddin al-Ayyubi berjanji untuk membalas dendam atas pembantaian ribuan warga Muslim.

Setelah terjadi beberapa kali pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon damai dengan Salahuddin. Karena kemurahan hati sang sultan permintaan damai pun diterima. Akhirnya Yerussalem dapat direbut kembali dan warga muslim dan non muslim hidup berdampingan dengan damai.

Jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan kaum Muslimin, menimbulkan keprihatinan besar kalangan Tokoh-tokoh Kristen. Seluruh penguasa negeri Kristen di Eropa berusaha menggerakkan pasukan Salib lagi. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengembalikan kekuasaan mereka yang hilang. Seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.

Segera Salahuddin menyusun strategi untuk menghadapi pasukan Salib. Ia menetapkan strategi bertahan di dalam negeri dengan mengabaikan saran para amir dan mengambil sikap yang kurang tepat sehingga Salahuddin terdesak dan kepayahan oleh pasukan Salib dan akhirnya Salahuddin mengajukan tawaran damai. Namun sang raja yang tidak mempunyai balas budi ini menolak tawaran Salahuddin dan membantai pasukan muslim secara kejam.[9]

Setelah berhasil merebut Acre, pasukan Salib bergerak menuju Ascalon dipimpin oleh Jenderal Richard. Bersama dengan itu, Salahuddin sedang mengarahkan operasi pasukannya dan tiba di Ascalon lebih awal. Ketika tiba di Ascalon, Richard mendapatkan kota ini sudah dikuasai pasukan Salahuddin.

Merasa tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Salahuddin, atas kemurahan hati sang sultan tawaran damai tersebut diterima dengan kesepakatan bahwa antara pihak muslim dan pasukan Salib, wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan di atas mengakhiri perang Salib ketiga. Kemudian Salahuddin meninggal pada tahun 1193.

Ilustrasi-Salahuddin al-Ayyubi. (foto: ist/palontaraq)

Ilustrasi-Salahuddin al-Ayyubi membebaskan Yerussalem dari Pasukan Salib. (foto: ist/palontaraq)

Kelanjutan Dinasti Ayyubiyah

Sebelum wafat, Salahuddin memberikan berbagai bagian dari Dinasti Ayyubiyah kepada berbagai anggota keluarganya. Anaknya yang tertua, al-Malik al-Afdal, menguasai Damaskus dan Syam Selatan. Anaknya yang lain, al-Aziz, menguasai Mesir, dan al-Zahir menguasai Aleppo. Saudara Salahuddin, al-Adil, menguasai Irak dan Diyarbakr. Sementara itu keluarganya yang lain menguasai Hama, Balbek dan Yaman.

Setelah Salahuddin wafat, kendali Dinasti Ayyubiyah dipegang al-Aziz Imaduddin. Tetapi al-Aziz berkonflik melawan saudaranya, al-Afdal, penguasa Damaskus. Jabatan al-Afdal lalu diberikan kapada al-Adil Syaifuddin Mahmud (saudara Salahuddin).

Pada tahun 595 H, al-Aziz wafat, kemudian kekuasaan berpindah ke tangan putranya, al-Manshur. Al-Adil segera datang ke Mesir mengalahkan dan melengserkan al-Manshur ibn al-Aziz yang masih berusia belia dari kursi kesultanan dan menggantikannya sebagai sultan.

Pada tahun 615 H, Sultan al-Adil wafat dan digantikan oleh anaknya, Sultan al-Kamil. Pada masa awal kekuasaan al-Kamil, serangan Salib kelima dilancarkan guna memenuhi seruan Paus Innocent III.

Serangan diarahkan ke Mesir. Setelah mengalami pertempuran yang sengit, pasukan Salib bisa menguasai Dimyath dengan mengandalkan jumlah, pasukan Salib terus bergerak dan berniat menyerang Kairo pada 619 H.

Karena kesalahan mereka dalam mengambil rute, kapal-kapal perang pasukan Islam mengambil posisi di sungai Nil untuk menutup jalan mereka. Alhasil, pasukan Salib terkepung dan terpaksa mengajukan tawaran damai. Al-Kamil bersedia menerima, tapi dengan syarat mereka harus memberikan jaminan bahwa Dimyath kembali ke tangan umat Islam. Akhirnya kota Dimyath dapat direbut kembali.[12]

Pada 625 H, Federick II (Raja Jerman) mengiginkan kekuasaan atas Baitul Maqdis. Di lain tempat, Sultan al-Kamil terlibat konflik sengit dengan saudaranya, al-Asyraf, dan hampir berujung pada perang saudara.

Melihat posisinya yang semakin kritis, al-Kamil menekan perjanjian dengan melepaskan Baitul Maqdis, membersihkan jalan bagi kaum Kristen menuju Akkad dan Haifa, dan membebaskan seluruh kaum Franka yang ditawan.

Dengan gencatan senjata yang yang dibuatnya bersama Federick II, al-Kamil menyatukan kekuatan untuk menyingkirkan para penguasa daerah-daerah sekitar, al-Kamil berhasil. Tidak ada lagi keluarga Ayyub yang berani menentangnya dan tidak ada pasukan Salib yang memeranginya. Dinasti ini berkuasa selama 90 tahun, mempunyai sepuluh orang sultan:

1. Salahuddin Yusuf (1174-1193)

2. Al-Aziz ibn Salahuddin (1193-1198)

3. Mansur ibn al-Aziz (1198-1199)

4. Al-Adil I Ahmad ibn Ayyub (1199-1218)

5. Al-Kamil I (1218-1238)

6. Al-Adil II (1238-1240)

7. Malik al-Shalih Najmuddin (1240-1249)

8. Muazzam Tauransyah ibn Shalih (1249)

9. Syajarah al-Durr, istri Malik Saleh (1249)

10.Asyraf ibn Yusuf (1249-1250).

Peta Kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. (foto: ist/palontaraq)

Peta Kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. (foto: ist/palontaraq)

Kemajuan Peradaban Di Masa Kekuasaan Dinasti Ayyubiyah

Penguasa Ayyubiyyah telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan. Menurut Ibnu Jabir, di masa kepemimpinan Salahuddin al-Ayyubi, di Kota Damaskus berdiri sebanyak 20 sekolah, 100 tempat pemandian, dan sejumlah tempat berkumpulnya para sufi.

Meski Dinasti Ayyubiyah menganut mazhab fikih Syafi’i, mereka mendirikan madrasah yang mengajarkan keempat madzhab fikih. Yang terkenal diantaranya Madrasah al-Shauhiyyah yang dibangun pada Tahun 1239 M sebagai pusat pengajaran empat madzhab hukum.

Sebelum Ayyubiyah menguasai Suriah, di wilayah itu tak ditemukan sama sekali madrasah yang mengajarkan fikih madzhab Hanbali dan Maliki. Setelah Ayyubiyah berkuasa di kawasan itu, sejarawan Ibnu Shaddad menemukan 40 madrasah Syafi’i, 34 Hanafi, 10 Hanbali, dan tiga Maliki.

Bangunan madrasah juga didirikan di berbagai kota, seperti Aleppo, Yerusalem, Kairo, Alexandria, dan di berbagai kota lainnya di Hijaz. Sejumlah sekolah juga dibangun oleh para penerus takhta kerajaan Ayyubiyah. “Istri dan Anak Perempuan penguasa Ayyubiyah, komandan, dan orang terkemuka di dinasti itu mendirikan dan membiayai Lembaga Pendidikan,” ujar Abdul Ali dalam Islamic Dynasties of the Arab East: State and Civilization During the Later Medieval Times.

Salah satu madrasah yang dibangun pada era Dinasti Ayyubiyah adalah Madrasah Adiliyyah di Suriah. Madrasah ini terletak di Bab Al-Bareed, sebelah kanan sekolah Al-Zahiriyah di Damaskus, Suriah. Madrasah Adiliyyah berada di kawasan Pasar Hamidiyyah. Di kompleks itu, juga terdapat Madrasah Jaqmasiyyah dan Hammam (ruang mandi) Al-Malik Az-Zahir.

Madrasah Adiliyyah dibangun oleh Raja al-Adil Sayf al-Din Abu Bakar Muhammad bin Ayub atau Sultan al-Adil I pada 1215 M. Madrasah ini merupakan pengganti madrasah Nuriyah al Kubra yang dibangun, tetapi tak sempat diselesaikan. Selain sebagai tempat menuntut ilmu, madrasah Nuriyah juga dijadikan sebagai pemakaman oleh pendirinya, Nuruddin.

Pembangunan Madrasah Adiliyyah diselesaikan oleh putra Sultan al-Adil bernama al-Mu’azzam. “Madrasah ini merupakan salah satu contoh penting dari arsitektur Ayyubiyah di Suriah,’’ tulis laman arsitektur Archnet.

Di samping mendirikan sejumlah sekolah, Salahuddin juga membangun dua rumah sakit di Kairo. Sedangkan dalam bidang arsitektur dapat dilihat pada monumen bangsa Arab, bangunan masjid di Beirut yang mirip gereja, serta istana-istana yang dibangun menyerupai gereja.

Dalam Bidang Filsafat dan Keilmuan, Adelard Of Bath diterjemahkan, begitu pula karya-karya orang Arab tentang astronomi dan geometri, penerjemahan bidang kedokteran. Di bidang kedokteran telah didirikan sebuah rumah sakit bagi orang yang cacat pikiran.

Kemajuan di bidang Industri dibuktikan dengan pembangunan kincir angin yang lebih canggih dibanding buatan orang Barat. Juga didirikan pabrik karpet, pabrik kain, dan pabrik gelas.

Dalam Bidang Militer, selain diproduksi Alat-alat perang seperti pedang, panah, dan sebagainya, juga dibina kekuatan militer yang tangguh. Juga dibangun tembok kota sebagai benteng pertahanan di Kairo dan Bukit Muqattam. Pasukannya juga diperkuat oleh pasukan Barbar, Turki, dan Afrika.

Dalam Bidang ekonomi perdagangan, Penguasa Dinasti Ayyubiyah bekerjasama dengan penguasa muslim di wilayah lain menggalakkan perdagangan dan pertumbuhan daerah ekonomi baru di Laut Tengah, lautan Hindia serta menyempurnakan sistem perpajakan.

Dalam Bidang perdagangan, dinasti ini membawa pengaruh bagi Eropa dan negara-negara yang dikuasainya. Di Eropa terdapat perdagangan arikultur dan industri. Hal ini menimbulkan perdagangan internasional melalui jalur laut, sejak saat itu dunia ekonomi dan perdangan sudah menggunakan sistem kredit bank.

Kemunduran Dinasti Ayyubiyah

Setelah al-Kamil meninggal pada tahun 635 H/1238 M, Dinasti Ayyubiyah terkoyak oleh pertentangan internal. Serangan Salib keenam dapat diatasi dan pemimpinnya, Raja Perancis St Louis, ditangkap.

Namun segera setelah meninggalnya al-Salih, pasukan budak Bahri Turki merebut kekuasaan di Mesir dan menjadikan pemimpin mereka, Aybak, mula-mula sebagai Atabeg dan kemudian sebagai Sultan pada tahun 648 H/1250 M.[16]

Pada pemerintahan al-Malik al-Salih, lebih dari 100.000 orang pasukan Salib yang dipimpin Louis IX bertolak menuju Dimyath dan berhasil menguasainya. Saat itu, al-Malik al-Salih tengah sakit keras. Istrinya Syajarah al-Durr, mengirim surat kepada anaknya, (Turansyah) agar pulang ke Mesir.

Ketika al-Malik al-Salih wafat, Syajarah al-Durr merahasiakan dan menerbitkan sejumlah perintah resmi dengan memalsukan tanda tangan al-Malik. Ia lalu mengumpulkan semua petinggi militer, pemerintahan untuk segera membaiat Turansyah.

Setelah kokoh duduk di kursi kekuasaan, dan berhasil mengusir pasukan Salib, Turansyah memaksa ibunya untuk menyerahkan harta peninggalan al-Malik al-Salih. Turansyah juga mengancam eksistensi kaum Mamalik, ini membuat kaum Mamalik marah besar dan membunuhnya setelah tujuh tahun menjabat. Mereka lalu menunjuk Syajarah al-Durr sebagai pengganti Turansyah.

Kekuasaan Syajarah hanya berlangsung tiga bulan setelah ia mengudurkan diri secara suka rela. Kaum Mamalik sepakat mengangkat al-Asyraf Musa sebagai pengganti baru. Waktu itu al-Asyraf masih berumur delapan tahun.

Oleh karena itu, mereka menunjuk Izzudin Aybak al-Turkumani menjadi wakil al-Asyraf untuk menjalankan urusan pemerintahan. Di kemudian  kemudian hari, Izzudin Aybak menikahi Syajarah dan tak lama kemudian Izzudin Aybak menggulingkan al-Asyraf dan merebut kekuasaan pusat. Dengan demikian, berakhirlah era Dinasti Ayyubiyah di Mesir. Tak lama kemudian Dinasti Ayyubiyah di Syam juga tunduk di bawah kekuasaan kaum Mamalik.

Referensi/Bahan Bacaan

Abdullah, Taufik, dkk. Ensiklopedia Tematis Dunia Islam Jilid II. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Ali, K. Sejarah Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1996.

Al-Usairy, Ahmad. Sejarah Islam. Jakarta: Akbar Media, 2013.

Bosworth,C. E.Dinasti-Dinasti Islam.terj. Ilyas Hasan. Mizan: Bandung, 1993.

Hitti, Philip K. History of the Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2008.

Karim, M. Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Publiser.2009.

Ibrahim, Qasim dan Muhammad A. Saleh. Buku Pintar Sejarah Islam. Jakarta: Zaman, 2014.

Susanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik. Jakarta: Prenada Media, 2004.

M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta:Bagaskara, 2014).

 

Download

Download Buku Guru dan Buku Siswa SKI Kelas 8 MTs Kurikulum 2013 K13 pada link berikut ini.

Buku Guru SKI Kelas 8 MTs K13 (Download)
Buku Siswa SKI Kelas 8 MTs K13 (Download)

 

(*Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh/Pembina di Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Mengajar Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA)

Like it? Share it!

Leave A Response