Ibu Indonesiaku (Bukan Sepertimu)
Karya: Etta Adil
Ibu Indonesiaku (Bukan Sepertimu)
Pesona jiwa dan pengabdian ibuku luas dan dalam
Mengasuh patriot bangsa
Mendidik generasi pejuang
Memahamkan shalat dan membaca kalam Ilahi.
Yang kutahu kesederhanaan ibu indonesiaku membumi
Ibuku, ibu yang membesarkan nama Tuhan
Ibuku, ibu yang melahirkan para pejuang suci
Ibuku, ibu yang mengajarkan ketabahan dan cinta tanah air
Ibuku, ibu pertiwi yang membesarkan generasi merdeka
Ibu Indonesiaku (Bukan Sepertimu)
Kecantikannya terjaga dari surau dan mesjid
Keindahannya tercermin dari budi bahasa dan tutur katanya
Kesucian dan akhlaknya membangun jati diri anak negeri.
Kecerdasannya mengajarkan agama sebagai bekal hidup di akherat nanti.
Yang kutahu pandangan anak negerilah yang asing melihatmu
Yang tak menemukan sosok ibu dalam puisimu tentang Ibu Indonesia
Tak ada yang bisa dibanggakan dari dirimu
Yang tak bijak memahami sejarah dan melupakan tenggang rasa
Engkau hanya berlindung dibalik kebesaran nama ayahmu.
Ibu Indonesiaku (Bukan Sepertimu)
Ibuku, Ibu yang menularkan pemahaman syariat lebih dari sekadar pesona budaya
Entah engkau berpuisi mewakili budaya yang mana, Adat yang mana, Cipta rasa yang mana?
Bagiku, engkau tak cantik, tak sehat, tak berbudi. Pun tak kreatif.
Yang mengecilkan peran dan tanggung jawab ibu sebatas suara kidung, gerak tari, canting, tenun, dan damar.
Ibu Indonesiaku (Bukan Sepertimu)
Pengajaran ibuku sangatlah elok
Dari didikannya lahir patriot pejuang berhati suci yang memerdekakan Indonesia
Memberi nafas agama pada perjuangan para pendiri bangsa
Mengajarkan pekikan lantang Allahu Akbar mengusir penjajah.
Yang kutahu Ibuku tak peduli tampilan sari konde
Tulus pengorbanan ibuku tak berbatas, mengajarkan tentang Tuhan yang harus disembah, Gotong royong dan tenggang rasa yang harus dirawat, serta persatuan yang harus dijaga.
Ibu Indonesiaku menularkan semangat kerakyatan dan mendorong musyawarah agar generasinya berhikmah kebijaksanaan.
Ibu Indonesiaku (Bukan Sepertimu)
Engkau yang merasa diri paling pancasila, tapi menista agama
Jika tak tahu syariat Islam, diamlah
Jangan seperti nenek peot yang ingin terlihat cantik dengan berpuisi
Tiada isi, tiada makna, dan tiada malu.
Menyebut diri budayawan, tapi sungguh tak beradab
Membandingkan sesuatu dari sesuatu yang tak sebanding.
Yang kutahu engkau tak paham agama
Keyakinanmu tak jelas. Entah engkau menuhankan siapa?
Jika panggilan adzan tak engkau sukai, bukankah lebih baik engkau menutup telinga
Sebagaimana engkau telah menutup hatimu untuk menerima kebenaran
Ibu Indonesiaku mengajarkan kebenaran dan memberi pencerdasan
Bukan merangkai kata-kata kosong tak bermakna.
Aku, Etta Adil
Hamba Allah yang lahir dari Rahim Ibu Indonesia
Minasatene, 3 April 2018.


