Menimbang Jurnalisme Kesehatan di Media Online

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Mar 9, 2019 | 64 views
Ilustrasi - Pelajari dan pahami informasi kesehatan yang disajikan media online. (foto: ist/palontaraq)

Ilustrasi – Pelajari dan pahami informasi kesehatan yang disajikan media online. (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

LIMA  tahun terakhir ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) demikian pesat.  Berbagai aplikasi digital yang menyentuh kehidupan sehari-hari bermunculan, dalam berbagai bidang.

Dalam bidang kesehatan dan pengobatan misalnya, ada kecenderungan orang mencari sendiri obat untuk keluhan sakitnya di smartphone nya dan tidak lagi buru-buru harus ke dokter atau rumah sakit.  Tinggal nyalakan smartphone lalu buka playstore aplikasi kesehatan.

Untuk mencari tahu segala macam penyakit, penyebab, diagnosa, obat dan peresepannya, dapat dijumpai dengan mudah di internet.  Berita dan artikel kesehatan berlimpah di internet, dari pengobatan tradisional, thibbun nabawi (pengobatan islami), bekam (hijamah), ruqyah syar’iyyah (pengobatan untuk penyakit kejiwaan), herba (pengobatan dengan tanaman obat tradisional), sampai pengobatan medis mutakhir dengan operasi, dan lain sebagainya, semuanya tersedia saat kita searching di google.

Pencari informasi tinggal harus memahami tingkat kredibilitas berita atau artikel yang disajikan, termasuk yang banyak beredar secara berantai di media sosial, khususnya tentang kesehatan manusia.

Karena jika informasinya salah, maka kemungkinan terburuk adalah nyawa  taruhannya.  Bagaimana kalau kita berada pada posisi pemberi informasi?  Disinilah pentingnya memahami Jurnalisme Kesehatan (Health Journalism).

Hoax-Vs-Fact-prihal-berita-kesehatan-157462159

Hoax Vs Fact perihal  berita kesehatan (foto: ist)

Lihat juga: Hari Kanker Sedunia 2019, WHO Serukan Lawan Kanker Serviks

Penulisnya, sekalipun dalam kapasitas sebagai jurnalis atau wartawan, sebaiknya memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, baik pendidikan formal kesehatan (dokter, perawat, bidan, ahli farmasi, dokter dan perawat gigi, analis kesehatan, apoteker, ahli gizi, fisioterapi, radiologi, perekam medis, epidemiolog, entomolog, sanitarian, ahli kesehatan lingkungan, ahli elektromedis, dan tenaga medis/paramedis lainnya) maupun ahli pengobatan tradisional yang mendapatkan pendidikan non formal dalam bidang kesehatan spesifik (pengobatan tradisional).

Hal ini sangat penting untuk memberikan pemahaman yang baik tentang kosa kata atau istilah-istilah kesehatan (kedokteran barat dan kedokteran timur) kepada pembaca, agar tidak bias informasi.

Ilustrasi - Penyampaian informasi hoax tentang kesehatan dan bahaya mengonsumsi makanan tertentu bagi kesehatan. (foto: ist)

Ilustrasi – Penyampaian informasi hoax tentang kesehatan dan bahaya mengonsumsi makanan tertentu bagi kesehatan. (foto: ist)

Jurnalisme kesehatan ialah medium penyebaran berita, artikel, dan pesan kesehatan.  Peran dari jurnalisme kesehatan ialah membantu Gerakan Kesehatan Masyarakat sehingga informasi yang dihasilkan dapat masuk dan dipahami dengan baik di ruang publik.

Munculnya keraguan atau konflik tentang kredibilitas  informasi dan berita kesehatan karena adanya anggapan bahwa jurnalisme kesehatan hanyalah sebuah lembaga/perkumpulan para jurnalis kesehatan yang tidak memiliki keahlian kesehatan, atau pekerja media semata.

Disisi lain, masyarakat juga perlu mendapatkan informasi dan pemahaman kesehatan secara menyeluruh, tentang adanya pengobatan di luar medis, lazim disebut disebut kedokteran timur, thibbun nabawi, pengobatan tradisional, natural healing, penyehat tradisional, akupunktur, hirudotherapi, dan lain sebagainya, yang juga diakui secara resmi keberadaannya oleh Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan.

Pegiat Pengobatan Tradisional lazim  disebut Tabib, Terapis, Akupunkturis, Healer, Herbalis, Ahli Bekam, Terapis Lintah, Penyehat Tradisional, dan lain sebagainya.

Tiap profesi layanan pengobatan tradisional ini, juga memiliki organisasi profesi dan keahlian tersendiri.  Hal ini harus dipahami dengan baik oleh jurnalis kesehatan, supaya tidak ada lagi pemberitaan bahwa pengobatan di luar dokter medis itu tidak sah dan ilegal.

Terapis Bekam. (foto: ist/palontaraq)

Terapis Bekam. (foto: ist/palontaraq)

Lihat juga:  Rubrik untuk Promosi Terapis

Seperti jurnalis pada umumnya, kemampuan mengemas berita dan informasi kesehatan diperlukan supaya layak muat dan layak baca. Disinilah pentingnya pemahaman tentang Jurnalisme kesehatan yang harusnya diarahkan untuk menstimulus pesan kesehatan dan semakin baiknya perilaku hidup sehat.

Masyarakat perlu mendapatkan sugesti, motivasi dan inspirasi untuk menimbang berbagai persoalan kesehatan yang ada. Peran jurnalisme kesehatan harus menyentuh aspek resiko, keuntungan,  dan karakteristik informasi kesehatan sehingga memberikan penyadaran  hidup sehat.

Masyarakat  harus dipahamkan  mengenai persoalan kesehatan mereka, cara mengatasi dan menjaga kesehatan, bukan hanya kesehatan personal, tetapi juga kesehatan lingkungan dan tindakan preventifnya.

Jurnalisme Kesehatan harusnya pula mengajak masyarakat menjaga sarana dan prasarana kesehatan publik, dan untuk kepentingan itu, para jurnalis dapat sekaligus mengangkat nama pegiat/pejuang kesehatan di berbagai layanan kesehatan masyarakat sebagai narasumber.

Informasi Kesehatan berlimpah di Web Search Google, Pelajari dan Teliti! (foto: ist/palontaraq)

Informasi Kesehatan berlimpah di Web Search Google, Pelajari dan Teliti! (foto: ist/palontaraq)

Istilah-istilah medis sedapat mungkin mendapatkan penjelasan yang proporsional, sehingga informasi, berita dan artikel yang disajikan tidak hanya dimengerti oleh dokter, perawat, dan kalangan medis lainnya, tapi juga dapat dipahami masyarakat umum.

Jurnalisme kesehatan (berita kesehatan) lebih memberikan referensi faktual bagi pembacanya, dengan banyak contoh kasus di masyarakat, ataupun menyangkut perkembangan medis dan riset kesehatan terbaru.

Tantangan para jurnalis peliput berita kesehatan adalah karena umumnya jurnalis bukan berasal dari kalangan berpendidikan kesehatan, karena itu mau tidak mau jurnalisnya harus belajar banyak istilah kesehatan.

Maksudnya agar sang jurnalis lebih mudah membahasakannya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Walapun ia bukan ahli medis, ia harus paham bagaimana menjelaskannya.  Caranya dengan banyak wawancara, dan secara khusus banyak bertanya tentang istilah-istilah medis yang kurang dipahaminya.

Wawancara disini pun diambil dengan dua sudut pandang yaitu: Pertama,  wawancara dengan narasumber di bidang medis, seperti dokter, perawat,  ahli farmasi,  ahli gizi, sanitarian, administrator rumah sakit atau dengan mereka yang berprofesi ahli tertentu dalam dunia kedokteran.

Setelah itu,  wartawan akan mencari tahu informasi lainnya terkait berita yang ingin diangkat, sehingga informasi yang dikumpulkan berasal dari banyak sumber dan berimbang.  Pelajari  berbagai detail permasalahan dengan bertukar pemikiran, tentang prosedur pengobatan atau melengkapi informasi dengan sumber dari organisasi profesi medis dan layanan kesehatan lainnya sebagai pembanding.

Bagi jurnalis kesehatan,  ide berita bisa saja awalnya muncul dari kegiatan lembaga masyarakat yang peduli kesehatan, seperti lembaga kanker, yayasan jantung sehat, atau tokoh tertentu yang sedang menjalani perawatan kesehatan, dan lain sebagainya.  Umumnya berita kesehatan yang cepat menyebar  di internet masih rancu dan bias, karena media online kadang mengandalkan kecepatan dan melupakan keakuratan informasi.

Hal ini terjadi beberapa waktu lalu saat media dan jurnalis ‘kurang teliti’ dalam pemberitaan penyakit yang diderita KH Arifin Ilham, Pimpinan Majelis Dzikir Ad-Dzikra.

Bagi jurnalis kesehatan, sebaiknya hal ini dihindari, karena kapan salah informasi maka nyawa taruhannya dan dapat menimbulkan keresahan publik apabila terkait dengan pengobatan tertentu untuk kasus yang spesifik, serta atas nama tokoh tertentu yang dikagumi dan memiliki banyak pengikut.

Informasi kesehatan atau berita penyakit tertentu biasanya bias jika menyangkut tokoh tertentu yang sakit. Karena kecepatan penyajian berita mengeyampingkan akurasi pemberitaan. (foto: ist/palontaraq)

KH Arifin Ilham dan Prabowo – Informasi kesehatan atau berita penyakit tertentu biasanya bias jika menyangkut tokoh tertentu yang sakit. Karena kecepatan penyajian berita mengeyampingkan akurasi pemberitaan. (foto: ist/palontaraq)

Jika itu terkait opini penulis kesehatan, maka harus didasarkan atau diperkuat dengan komentar  para ahli kesehatan, terkecuali jika penulisnya sendiri sudah tergolong ahli.  Sebagai contoh, media platform berita bidang kesehatan di internet yaitu alodokter.  Artikel atau opini yang termuat website ini  belum diketahui apakah kredibel atau tidak?

Misalnya, Alodokter mengklaim bahwa web mereka yang memiliki sumber terpercaya. Jika dilihat pada bagian akhir halaman terdapat pilihan tim editorial, di dalam memuat nama dokter yang menjadi editor. Untuk melihat lisensi dokterpun, kita dapat menggunakan KKI, yaitu aplikasi untuk seseorang benar-benar memiliki lisensi dokter.

Ada beberapa hal yang juga perlu diperhatikan pada era digital seperti ini dan tentunya kita dapat belajar dan menghindari berita bohong yang bertebaran.

Masalah kesehatan tentunya akan menjadi titik yang krusial, jika kita menerima berita secara mentah-mentah karena umumnya terkait “kegawat-daruratan”  kita terbiasa spontan, instan dan reaktif.  Misal, saat sakit perut yang tak berkesudahan,  maka kita cenderung  mencari informasi di internet, kemudian muncullah kemungkinan penyakit yang diderita seperti misal miom.

Jika kita langsung bereaksi secara spontan, instan dan reaktif, pasti akan muncul kekhawatiran dalam diri dan pada akhirnya melakukan tindakan tidak terarah. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response