Letak Jabatan (2)

Datu Luwu XL, H. La Maradang Mackulau, SH Opu To Bau'. (foto: ist/palontaraq)
Datu Luwu XL, H. La Maradang Mackulau, SH Opu To Bau’. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Tulisan sebelumnya:  Letak Jabatan (1)

PALONTARAQ.ID – Petta La Manussa Toakkarangeng adalah seorang RAJA selaku mahkamah elite yang menjatuhkan vonis hukuman denda 4 ekor kerbau terhadap dirinya selaku PRIBADI.

Bahwa DATU SOPPENG-lah yang menjatuhkan vonis denda kepada LA MANUSSA TOAKKARANGENG, padahal Datu Soppeng masa itu adalah La Manussa’ sendiri. Kiranya peristiwa unik seperti ini “jarang” terjadi dalam sejarah kehidupan manusia di muka bumi.

Ini bukanlah mitos ataupun legenda belaka, melainkan sejarah faktual yang ditulis dan dituturkan dari masa ke masa sebagai nasehat keteladanan sepeninggalnya. Siapakah sesungguhnya manusia arif bernama La Manussa ini ?.

Beliau Puetta adalah Datu Soppeng ke-9 (1534 – 1556). Sulur galuhnya (De upomabusung RampE-rampEi), yakni terlahir dari seorang ibu bernama We Tenriwiri dan ayahnya adalah Puetta La Pasampoi TosonrompaliE Datu Soppeng ke-8.

Dari garis sulur ayahandanya ini, La Mannussa adalah turunan ke-9 Petta ManurungngE ri Sekkanyili Datu Soppeng ke-1.

Puatta yang tertulis dengan nama/gelar lengkap La Mannussa Toakkarangeng Petta MatinroE ri Tanana Datu SoppEng ke-9 (1534 -1556), adalah tokoh yang diberkati ikhtiar hidup yang berkomitmen jujur, adil dan bermartabat ilmu pengetahuan.

Sederet keutamaan ini tertulis pada sejarah kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan, hal mana sesungguhnya karena beliau adalah leluhur para tokoh sejarah setelah eranya. Antara lain dari sekian banyak turunannya itu, adalah Puetta La Tenritatta Daeng SErang Petta MalampE’E Gemme’na bersaudara yang merupakan turunan ke-5-nya.

Otomatis Puetta La Patau Matanna Tikka WalinonoE Petta MatinroE ri Nagauleng adalah turunan ke-6-nya. Melalui penebaran cicitnya ini, anak turunannya menebar hampir keseluruh kerajaan di wilayah Indonesia bagian timur.

Pada sisi lain, melalui cicitnya (turunan ke-4) bernama La Saliu Arung Ujumpulu (merangkap Arung Ganra) yang menikahi We AbEng Petta PatipuangngE Arung Tellulatte’ SidEnrEng, melahirkan Puetta La MalEwai Addatuang SidEnrEng ke-7 dan La TenrisEmpe TosaburoE Addatuang SidEnrEng ke-8.

Melalui garis inilah yang menebarkan turunanannya secara kait mengait pada raja-raja SidEnrEng, Pammana, TanEtE, Berru, Gilireng, Rappeng, BElawa, Suppa’, Sawitto, AkkotEngeng hingga beberapa Arung Matoa Wajo.

Syahdan tatkala beliau Puetta hendak dinobatkan selaku Datu SoppEng sebagaimana dikronikkan Lontara Luwu, SoppEng serta SidEnrEng, Puetta ini menolak untuk dilantik sebelum ke Luwu untuk belajar Ilmu Kearifan Pemerintahan pada To Ciung, philosuf kerajaan Luwu.

Hal ini mengisyaratkan dengan jelas, bahwa seorang raja (pemimpin) tidaklah cukup jika hanya berdarah bangsawan termurni semata, melainkan haruslah dibekali dengan ilmu pengetahuan yang mumpuni.

Sedemikian tingginya penghargaan beliau terhadap keutamaan ilmu pengetahuan, sehingga memanggil gurunya (Tociung) : “nEnEku” (kakekku).

Meskipun telah menduduki tahta sebagai Datu SoppEng, tidak serta merta melupakan guru yang disebutnya “kakek” itu. Beliau salahs eorang murid Tociung yang paling rajin menuliskan petuah-petuah gurunya dengan senantiasa menyebut pada setiap permulaan kalimat dalam narasinya:

“Napasengnga’ nEnEku Totongeng MaccaE ri Luwu, makkedaE : ….”

Artinya:

Bahwa aku diwasiatkan oleh kakekku yang benar-benar pintar di Luwu, dikatakannya bahwa : ….). Kemudian pada kalimat selanjutnya, Sang Guru yang mengajar itu dituliskan bentuk sapaannya terhadap muridnya Sang Pangeran itu : “Ee.. Baso'” (wahai.. Pangeran).

Sungguh suatu illustrasi yang indah, menggambarkan etiket seorang pangeran dengan gurunya yang sesungguhnya berasal dari kalangan masyarakat biasa.

Bahwa sesungguhnya Tociung yang bijaksana disebut sebagian kalangan adalah seorang Tionghoa yang datang dari perkampungan Tionghoa bernama Ciung (cung) di wilayah Tosora, Wajo.

Berikhtiar di Tana Luwu sebelum dinobatkan menjadi Datu di Soppeng adalah titik point penyempurnaan takdir turunannya kelak yang tidak diketahuinya setelah wafatnya.

Suratan takdir kemudian tercatat pada Lontara Panguriseng Luwu (daftar silsilah Luwu), bahwa darah turunannya tercurah pada seluruh Datu Luwu sejak Datu Luwu ke-23 hingga Datu Luwu ke-40 sekarang ini.

Melalui jalinan pertanian silsilah pada garis keturunannya di kerajaan Soppeng, BonE, Wajo, SidEnrEng, TanEtE dan lainnya hingga tibalah di Luwu pada Abad 17, melalui kedua turunan ke-6-nya, yaitu: La Patau’ Matanna Tikka ArumponE.

Arumpone ini  mempersunting We Ummung Arung Larompong Petta MakkunraiyyE BonE dan We PattEkke’tana Datu TanEtE Opu Datu Luwu yang dipersunting OPTP La Onro Topalaguna Datu Luwu ke-21.

Kedua pasangan itu melahirkan generasi penerus Datu Luwu setelahnya, antaralain We PattEkke’tana melahirkan OPT We Batari Tungke’ Petta MatinroE Pattiro Datu Luwu ke-23 yang tentu saja Datu Luwu ini merupakan turunan ke-7 Puetta La Mannussa Toakkarangeng.

Memasuki gerbang abad 18, turunan ke-9 Puetta La Mannussa dari Soppeng, yakni La Mappaselli Arung Pattojo tiba di Luwu, mempersunting OPT. We TenrilElEang Sultanah Aisyah Yahyiddin Datu/Pajung Luwu ke-24/26 (turunan ke-8 La Mannussa), puteri OPT.

We Batari Tungke’ Datu Luwu ke-23 dengan Puetta La Rumpangmegga TosappEile’ Cenning Luwu MatinroE ri Suppa’. Merunut garis ini secara berkesinambungan, didapati anak turunannya lah di SoppEng dan di Luwu yang menjalin pernikahan untuk menjaga kemurnian darah trah kebangsawanan kedua negeri.

Hingga kemudian mencapai puncaknya tatkala Puetta La MappapolEonro Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng (cucu We TenrilElEang dengan La Mappaselli) mempersunting OPTP we Tenriawaru Petta MatinroE ri Tengngana Luwu Datu/Pajung Luwu 28 (Datu Soppeng setelah suaminya mangkat).

Pernikahan kedua turunan La Mannussa ini melahirkan 15 putera puteri yang di Luwu dikenal sebagai “Datu SeppuloElima”, yang menduduki tahta di Luwu dan Soppeng secara berkesinambungan sampai sekarang ini.

Antara lain sehubungan uraian ini, OPTPT Andi Djemma Datu/Pajung Luwu ke-35 adalah turunan Puetta La Mannussa Toakkarangeng ke-14, sehingga dari garis ini maka OPT La Maradang Mackulau Datu Luwu ke-40 adalah turunan ke-16.

Penguraian diatas menampakkan dengan jelas, bahwa takdir yang tergurat pada dinding sejarah ini, kemungkinan tidak disangka oleh Puatta La Manussa Toakkarangeng semasa hidupnya.

Bahwa berkat kejernihan pandangannya yang meletakkan secara benar antara “jabatan” dan “pribadi” dengan didasari kejujuran hati yang tawadlu, justru Diridloi Allah melalui nasib dan takdir baik anak turunannya.

Mereka para anak turunannya “tidak menduduki” jabatan, melainkan “didudukkan” pada jabatan. Hal mana karena mereka diwariskan kemurnian darah kebangsawanan yang dibungkus dengan kain emas bernama : ahlaqul qarimah.

Dalam suatu Lontara SoppEng (LSAWR) yang sarat menuliskan wasiat Puetta La Mannussa Toakkarangeng, antara lain beliau mewasiatkan : “Naiyya DatuE tekkEwija, otti manurungngemi kEwija-wija” (sesungguhnya Raja tidak berketurunan, melainkan pisang kepok lah yang beranak pinak).

Kalimat ini mirip dengan statement murid Tociung yang lainnya, yaitu La Pagala NEnE Allomo PamulaiyyE DEcEng ri SidEnrEng, dikatakannya ; “Naiyya atorengngE, temmakkEana’ temmakkEappo” (sesungguhnya aturan perundang-undangan itu tak beranak dan tak bercucu).

Kedua murid To Ciung ini menyatakan dengan tegas, bahwa : Raja dan Aturan tidak mengenal pewarisan yang didasari hubungan kekerabatan. Bahkan sesungguhnya “raja” dimata pangadereng bugis adalah produk aturan, serta aturan itu sendiri adalah budaya ( daya karsa manusia). Bahwa jabatan (raja, menteri dan lainnya) tidak melekat pada nazab.

Sama halnya dengan ibu Megawati SOEKARNO PUTERI yang TENTUNYA tidak dituliskan : Ibu Megawati PRESIDEN Soekarno. Terlebih lagi pada Sayyidah Siti Fatimah binti Muhammad, tidak ditulis atau disebut Sayyidah Siti Fatimah binti NABIYULLAH WARUSULILLAH Muhammad Shollallahu’alaihi Wasallam.

Maka predikat “Datu” sejatinya tidak diletakkan didepan nama pribadi, melainkan didepan Kerajaan dimana tahta dan istananya berada sebagai salahsatu bagian dalam suatu ranah sistem. Jabatan bukanlah mahluk hidup karena ia dicipta oleh mahluk hidup yang berketurunan.

Bahwa “Datu”, Presiden, Raja, Sultan atau apapun sebutannya, dipilih oleh majelis yang tersistematis, hal mana ini dibuat oleh manusia. Misalnya di Luwu, Datu dipilih oleh Majelis Ade’ 12 menurut kriteria tertentu sesuai amanat Pangadereng Luwu.

Demikian pula ArumponE / Petta Mangkau’E di Bone, dipilih oleh Majelis Ade’ 7 menurut kriteria tertentunya pula. Sombayya di Gowa juga dipilih oleh Majelis bernama BatE 9. Begitu pula pada semua kerajaan di Sulawesi Selatan.

Berbagai kriteria yang dipersyaratkan sebagai kandidat raja, antara lain kadar kemurnian darah kebangsawanan yang dimilikinya.

Adapun halnya “pohon pisang kepok”, ia beranak pinak sebagai halnya mahluk yang sama dengan manusia. Pada hal inilah terletak kadar darah kebangsawanan.

Predikat kebangsawanan sebagaimana Andi, Puang, KaraEng, Opu dan lainnya adalah bukan atas keputusan suatu majelis manusia. Predikat darah ini ada atas ketentuan Allah Azza Wajalla. Tak seorangpun dilahirkan dimuka bumi ini yang terlebih dahulu memilih kedua orang tuanya, ataupun sebaliknya.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

 

Bersambung  …..

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT